Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 12 April 2026, PASKAH II (Minggu Kerahiman Ilahi)

Fandy Gerungan • Jumat, 3 April 2026 | 09:00 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Paskah II, Minggu Kerahiman Ilahi (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kisah Para Rasul 2:24-47

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.

Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,

dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 118:2-4,13-15,22-24

Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

Biarlah kaum Harun berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN menolong aku.

TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku.

Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan,

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.

Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

Bacaan II 1 Petrus 1:3-9

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu?. Yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api?. Sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,

karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Yohanes 20:19-31

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."

Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.

Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, kalau kita mendengarkan Sabda Tuhan hari ini dengan hati yang tenang, kita akan menemukan satu benang merah yang sangat kuat. 

Iman yang hidup selalu melahirkan perubahan nyata. Bukan hanya di dalam hati, tetapi juga dalam cara kita hidup setiap hari.

Gambaran Gereja perdana yang kita dengar tadi begitu indah. Mereka hidup dalam kebersamaan, saling peduli, saling berbagi, dan memiliki hati yang tulus. 

Iman bagi mereka bukan sekadar identitas, tetapi menjadi gaya hidup. Mereka tidak hanya datang berdoa, tetapi juga hadir satu sama lain, memperhatikan yang lemah, dan hidup dalam sukacita yang sederhana.

Saudara-saudari, ini menjadi pertanyaan penting bagi kita: apakah iman kita juga terlihat dalam hidup sehari-hari?. Atau jangan-jangan iman kita hanya berhenti di dalam gereja, tetapi tidak sampai menyentuh cara kita memperlakukan orang lain?.

Kemudian kita juga mendengar tentang iman yang diuji. Hidup beriman bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru sering kali, iman kita dimurnikan lewat kesulitan, lewat kekecewaan, lewat hal-hal yang tidak kita mengerti. 

Seperti emas yang dimurnikan dalam api, demikian pula iman kita dibentuk agar menjadi semakin kuat dan murni.

Dan Injil hari ini membawa kita pada pengalaman yang sangat manusiawi: ketakutan dan keraguan. Para murid berkumpul dalam keadaan tertutup, hati mereka dipenuhi rasa takut. 

Bahkan ketika kabar kebangkitan sudah didengar, tidak semua langsung percaya. Ada yang butuh bukti, ada yang masih ragu.

Saudara-saudari, bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita?. Kita percaya, tetapi kadang kita juga ragu. Kita berharap, tetapi kadang kita juga takut. Kita ingin dekat dengan Tuhan, tetapi hati kita masih tertutup oleh kekhawatiran dan luka.

Namun yang luar biasa, Tuhan tidak menunggu mereka menjadi sempurna. Ia datang justru di tengah ketakutan itu. Ia hadir di tengah pintu yang tertutup. Ia membawa damai, bukan penghakiman. Ia menguatkan, bukan menyalahkan.

Bahkan kepada mereka yang ragu, Tuhan tidak menolak. Ia justru mendekat dan memberi kesempatan untuk percaya. Ini menunjukkan bahwa keraguan bukan akhir dari iman, tetapi bisa menjadi jalan menuju iman yang lebih dalam, jika kita mau tetap terbuka.

Dan setelah itu, para murid tidak lagi hidup dalam ketakutan. Mereka berubah menjadi pribadi yang berani, penuh sukacita, dan siap diutus. Dari komunitas kecil yang tertutup, mereka menjadi Gereja yang hidup dan bertumbuh.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita diingatkan bahwa iman bukan hanya soal percaya, tetapi soal mengalami. Ketika kita sungguh mengalami Tuhan, kita akan berubah. 

Kita menjadi lebih berani, lebih peduli, lebih mampu mengampuni, dan lebih siap menjadi berkat bagi orang lain.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang masih merasa ragu, masih takut, atau masih tertutup. Jangan khawatir. Tuhan tetap datang. Tuhan tetap mengetuk. Dan Tuhan tetap menawarkan damai-Nya.

Yang Ia butuhkan hanyalah satu: hati yang mau terbuka. Karena dari hati yang terbuka itulah, lahir iman yang hidup. Dan dari iman yang hidup, lahirlah kehidupan yang penuh kasih, seperti yang ditunjukkan oleh Gereja perdana. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan