Upus Ni Mama GMIM 12-18 April 2026
Bacaan Alkitab: 1 Petrus 1:3-12
Tema: "Percaya Kepada Dia Sekalipun Kamu Tidak Melihat-Nya"
Wanita/Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Tema renungan kita saat ini adalah "Percaya kepada Dia sekalipun kamu tidak melihat-Nya".
Sebuah tema yang sarat motivasi apalagi jika berada di tengah kondisi tidak kondusif.
Jemaat penerima surat 1 Petrus ini, adalah orang-orang pilihan dan yang dikuduskan sesuai dengan rencana Allah, sangat perlu diberi motivasi.
Mengapa? Karena mereka adalah kaum pendatang yang hidup dan tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia (lih.1:1-2).
Sebagai kaum pendatang, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan masyarakat, dan budayanya.
Hal ini bukanlah sebuah perkara gampang atau semudah membalikkan telapak tangan.
Culture shock atau (gegar budaya) menjadi benturan pertama yang dialami oleh komunitas pendatang.
Kondisi ini, menjadikan sang rasul prihatin, apalagi di ayat 6 tercatat bahwa keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja, mereka sedang mengalami tekanan dan penderitaan karena iman yang dimiliki.
Dengan banyak cobaan dan derita yang dialami, membuat mereka terus ada dalam dukacita.
Kondisi tidak kondusif ini, bagi penulis surat Petrus, dapat membuat umat Tuhan kehilangan pengharapan, dan kesehatan, serta kehidupan spiritualitas mereka bisa terganggu.
Penulis surat Petrus ini menyikapinya dengan tenang, tidak memprovokasi jemaat melalui surat yang dikirimnya, melainkan ia mengumandangkan pujian kepada Allah.
Ayat 3-4 mencatat kalimat pujian itu "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu".
Sebuah pujian pengharapan yang membangkitkan semangat hidup beriman.
Melalui suratnya jemaat diingatkan bahwa Allah yang telah memilih mereka (1:2) akan melindungi mereka sampai pada hari penghakiman ketika Yesus Kristus kembali (1:7).
Mereka akan mengalami keselamatan sesuai dengan rencana Allah (1:5).
Dengan kebangkitan Yesus, Allah menganugerahi umat-Nya hidup baru dan pengharapan, sehingga mampu bertahan menghadapi berbagai pencobaan.
Dengan kata lain, rasul Petrus hendak mengatakan bahwa mereka tak pernah sendiri, sebab Tuhan akan menolong mereka.
Mengikut Yesus, harus rela pikul salib, dan pemurnian iman akan terjadi melalui berbagai ujian dan pencobaan.
Rasul Petrus kemudian membandingkan kehidupan beriman dengan emas (ay.7).
Emas harus dibakar dalam api untuk membuang kotorannya sehingga menjadi murni.
Maka, demikian juga dengan iman seseorang perlu diuji dan dibakar melalui pencobaan dan penderitaan agar menjadi
murni dan kokoh.
Seseorang yang telah mengalami pemurnian, akan nampak dalam tindakannya.
Ia bergembira dan percaya bahwa Allah memberkatinya untuk memberkati orang lain.
Itu sebabnya ayat 8 mencatat "Sekalipun kamu belum pernah melihatNya, namun kamu mengasihi-Nya.... Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan".
Penulis surat Petrus memuji jemaat karena meskipun mereka tidak pernah melihat Yesus secara fisik (seperti yang dialami Petrus sendiri), mereka tetap mengasihi-Nya.
Percaya tanpa melihat adalah puncak dari iman yang dewasa.
Kita tidak meiihat Yesus berjalan di ruang tamu kita, tetapi kita merasakan kehadiran-Nya melalui kedamaian di tengah badai.
Inilah keagungan dari berita keselamatan.
Betapa beruntungnya kita bila memahami rahasia kasih karunia ini.
Wanita / Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Dari berita Firman Tuhan dalam perikop ini, kita belajar untuk bersyukur bahwasanya Allah hadir dan menolong kita dalam segala keadaan.
Iman yang kita miliki memberikan pengharapan yang hidup di tengah kesukaran.
Kita memiliki warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu.
Harta di dunia bisa habis, tetapi perlindungan Allah menjaga iman kita tetap utuh.
Sebagai perempuan dengan peran dalam keluarga, sering kali juga menghadapi "api" dalam rumah tangga: anak yang sulit diatur, sakit penyakit, atau hubungan yang renggang.
Ingat, Tuhan tidak bermaksud menghancurkan kita melalui masalah tersebut, melainkan sedang memurnikan iman kita agar lebih berharga daripada emas yang fana.
Ujian adalah cara Tuhan membuktikan bahwa iman kita sungguh asli.
Kadang dalam doa, kita juga merasa Tuhan "diam" atau "tidak terlihat" tangan-Nya bekerja.
Namun, bacaan ini menguatkan kita: kasih kita kepada-Nya tidak dibatasi oleh penglihatan mata, melainkan oleh keyakinan hati.
Sukacita kita bukan karena masalah sudah selesai, tetapi karena kita tahu akhir dari iman kita adalah keselamatan jiwa.
Wanita / Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Hidup ini sering kali memaksa kita untuk "melihat baru percaya" (melihat uang cukup baru tenang, melihat anak sukses baru bersyukur).
Namun, firman Tuhan saat ini mengajak kita berbalik: "Percayalah dahulu, maka Ibu akan melihat kemuliaan-Nya."
Jangan takut pada ujian, anggaplah itu sebagai proses "membersihkan emas" agar iman kita makin berkilau.
Cintailah Dia melalui Firman-Nya, walau kita tidak melihat Yesus secara fisik, tetapi kita menemui-Nya setiap kali kita membuka Alkitab dan berdoa.
Dan akhirnya miliki sukacita yang tak terkatakan.
Dunia bisa mengambil kenyamanan kita, tetapi dunia tidak bisa mengambil sukacita keselamatan kita. AMIN.
Pertanyaan Untuk Diskusi:
1. Apa pendapat ibu-ibu tentang percaya kepada Dia sekalipun tidak melihat-Nya menurut 1 Petrus 1:3-12?
2. Seorang ibu/istri, harus memiliki iman yang dewasa. Apa artinya?
3. Bagaimana tanggapan ibu-ibu, jika suatu waktu menghadapi masalah dalam keluarga, baik dalam hubungan dengan suami atau anak-anak yang sulit diatur, terkait perenungan saat ini?
Baca Juga: MTPJ GMIM 12-18 April 2026, 1 Petrus 1:3-12 Percaya Kepada Dia Sekalipun Kamu Tidak Melihat-Nya
Editor : Aprilia Sahari