Pembacaan Alkitab : Yudas 1:3-4
TEMA : BERJUANG MEMPERTAHANKAN IMAN
Iman yang diperjuangkan dengan benar akan berbuahkan sukacita di hadapan Tuhan.
"...dan menasihati kamu supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus." (ay. 3)
Saudara-saudara pemuda yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di zaman yang sangat dinamis. Segala sesuatu bergerak cepat, informasi datang tanpa henti, dan pengaruh dunia masuk begitu mudah ke dalam kehidupan kita. Tanpa disadari, apa yang kita lihat, dengar, dan konsumsi setiap hari perlahan membentuk cara berpikir, nilai hidup, bahkan iman kita.
Dalam kehidupan jasmani, kita mengenal penyakit yang berkembang secara diam-diam. Awalnya tidak terasa, tidak menimbulkan gejala, tetapi ketika sudah terdeteksi, kondisinya bisa sangat parah.
Begitu pula dalam kehidupan rohani. Ada “penyakit rohani” yang tidak langsung terlihat, tetapi perlahan menggerogoti iman seseorang.
Itulah yang sedang terjadi dalam jemaat yang dilayani oleh Yudas. Surat ini ditulis bukan dalam situasi yang nyaman, tetapi dalam kondisi genting. Ada orang-orang yang menyusup ke dalam persekutuan jemaat.
Mereka bukan orang luar yang jelas terlihat berbeda, tetapi justru berada di dalam komunitas itu sendiri. Mereka tampak seperti bagian dari jemaat, bahkan ikut dalam perjamuan kasih, tetapi memiliki tujuan yang jahat.
Yudas menyebut mereka sebagai orang fasik. Mereka menyalahgunakan anugerah Allah dan menyangkal Yesus Kristus sebagai Tuhan. Mereka membawa ajaran yang menyesatkan, memutarbalikkan kebenaran, dan berusaha memecah belah persekutuan.
Saudara-saudara, ini sangat berbahaya. Karena musuh yang paling sulit dihadapi bukanlah yang datang dari luar, tetapi yang menyusup dari dalam.
Karena itu, Yudas tidak tinggal diam. Ia menasihati jemaat dengan sangat serius: “berjuang untuk mempertahankan iman.”
Perhatikan kata “berjuang”. Ini bukan kata yang ringan. Kata ini berbicara tentang usaha yang sungguh-sungguh, tentang pergumulan, tentang ketekunan, bahkan tentang perlawanan. Artinya, iman itu bukan sesuatu yang otomatis aman. Iman harus dijaga, dipelihara, dan diperjuangkan.
Mengapa iman harus diperjuangkan?
Pertama, karena iman bisa diserang.
Kita sering berpikir bahwa selama kita percaya kepada Tuhan, semuanya akan baik-baik saja. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa iman bisa dilemahkan, digoyahkan, bahkan disesatkan.
Pengaruh dunia, ajaran yang salah, gaya hidup yang tidak sesuai firman Tuhan—semua itu bisa menjadi ancaman bagi iman kita.
Hari ini, serangan terhadap iman tidak selalu datang dalam bentuk yang jelas. Justru sering dibungkus dengan sesuatu yang menarik. Misalnya, gaya hidup bebas yang dianggap normal, kompromi terhadap dosa yang dianggap wajar, atau pemikiran bahwa semua kebenaran itu relatif.
Tanpa kita sadari, jika kita terus menerima hal-hal seperti itu, iman kita bisa menjadi tumpul. Kita mulai kehilangan kepekaan terhadap dosa. Kita tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan hal yang salah. Dan pada akhirnya, kita bisa menjauh dari Tuhan.
Kedua, karena iman bisa diselewengkan.
Seperti yang terjadi dalam jemaat pada zaman Yudas, ada orang-orang yang menyalahgunakan anugerah Allah.
Mereka mengajarkan bahwa karena Allah itu kasih, maka manusia bebas hidup sesuka hati. Ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya.
Anugerah bukanlah alasan untuk hidup dalam dosa. Justru anugerah adalah kesempatan untuk hidup dalam kebenaran. Tetapi ketika kebenaran diputarbalikkan, banyak orang bisa tersesat.
Saudara-saudara, sebagai pemuda, kita harus berhati-hati. Tidak semua yang terlihat “rohani” itu benar. Tidak semua yang populer itu sesuai dengan firman Tuhan. Kita harus belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Ketiga, karena iman membutuhkan pertumbuhan.
Iman bukan sesuatu yang statis. Iman harus bertumbuh. Jika tidak bertumbuh, iman bisa menjadi lemah.
Seperti otot yang tidak pernah dilatih akan menjadi lemah, demikian juga iman yang tidak dipelihara akan menjadi rapuh.
Lalu, bagaimana kita bisa berjuang mempertahankan iman?
Pertama, semakin mengenal firman Tuhan.
Firman Tuhan adalah dasar iman kita. Tanpa firman, kita tidak memiliki standar yang jelas. Kita mudah terombang-ambing oleh berbagai ajaran dan pengaruh dunia.
Mazmur mengatakan bahwa firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Artinya, firman Tuhan menolong kita untuk melihat dengan jelas arah hidup kita.
Sebagai pemuda, kita harus membangun kebiasaan membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan. Jangan hanya mengandalkan apa yang kita dengar di gereja. Bangun hubungan pribadi dengan Tuhan melalui firman-Nya.
Kedua, hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
Mengetahui firman saja tidak cukup. Kita harus melakukannya. Iman yang sejati terlihat dari kehidupan yang berubah.
Dunia mungkin menawarkan banyak hal yang terlihat menyenangkan, tetapi tidak semuanya membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Kadang kita harus berani berkata “tidak” kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Berjuang mempertahankan iman berarti berani hidup berbeda. Mungkin kita akan dianggap aneh, tidak gaul, atau ketinggalan zaman. Tetapi ingat, kita hidup bukan untuk menyenangkan dunia, tetapi untuk menyenangkan Tuhan.
Ketiga, memiliki kepekaan rohani dan sikap kritis.
Di zaman sekarang, informasi begitu mudah diakses. Tetapi tidak semua informasi itu benar. Kita harus belajar untuk menyaring apa yang kita terima.
Kepekaan rohani membantu kita untuk mengenali mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang tidak. Sikap kritis menolong kita untuk tidak mudah percaya begitu saja.
Jangan telan mentah-mentah semua yang kita lihat di media sosial, dengar dari teman, atau bahkan dari orang yang terlihat rohani. Uji semuanya dengan firman Tuhan.
Keempat, hidup dalam komunitas yang sehat.
Iman tidak dirancang untuk dijalani sendirian. Kita membutuhkan komunitas yang saling membangun.
Persekutuan yang sehat akan menolong kita untuk tetap kuat dalam iman. Kita bisa saling mengingatkan, saling mendoakan, dan saling menguatkan.
Sebaliknya, lingkungan yang buruk bisa melemahkan iman kita. Karena itu, pilihlah pergaulan dengan bijak.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Berjuang mempertahankan iman memang tidak mudah. Ada tantangan, ada godaan, ada tekanan. Tetapi kita tidak berjuang sendirian. Tuhan menyertai kita. Roh Kudus menolong kita. Dan firman Tuhan menjadi kekuatan kita.
Ketika kita setia berjuang, ada sukacita yang Tuhan sediakan. Sukacita bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena kita hidup dalam kebenaran dan berkenan di hadapan Tuhan.
Di akhir hidup kita, yang terpenting bukanlah seberapa sukses kita di dunia ini, tetapi apakah kita tetap setia dalam iman.
Mari kita menjadi pemuda yang tidak mudah goyah. Pemuda yang berakar kuat dalam Kristus. Pemuda yang berani berdiri dalam kebenaran. Dan pemuda yang terus berjuang mempertahankan iman, apapun yang terjadi.
Biarlah hidup kita menjadi kesaksian. Ketika orang lain melihat kita, mereka melihat iman yang hidup. Mereka melihat komitmen yang nyata. Dan mereka terinspirasi untuk tetap bertahan dalam iman mereka.
Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk terus setia, terus bertumbuh, dan terus berjuang mempertahankan iman sampai akhir. Amin.
Doa : Tuhan yang setia, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Kuatkan kami sebagai pemuda agar tetap teguh mempertahankan iman di tengah tantangan zaman. Beri kami hikmat, keberanian, dan kesetiaan untuk hidup dalam kebenaran-Mu. Pakailah hidup kami menjadi berkat. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas