Pembacaan Alkitab: Yudas 1:17-19
Tema: IMAN YANG BERTAHAN MENJELANG AKHIR ZAMAN
“...menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.” (Ay. 18)
Saudara-saudari pemuda yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di zaman yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Hari-hari kita dipenuhi dengan teknologi, media sosial, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti.
Dalam satu hari saja, kita bisa melihat ratusan bahkan ribuan konten—video, gambar, tulisan—yang semuanya berlomba-lomba menarik perhatian kita.
Di antara semua itu, ada juga konten rohani. Ada renungan singkat, kutipan ayat Alkitab, video khotbah, bahkan konten lucu bertema iman. Sekilas, semua itu tampak baik. Namun jika kita tidak berhati-hati, ada bahaya yang tersembunyi: iman bisa direduksi menjadi sekadar hiburan.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa situasi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Yudas menulis kepada jemaat untuk mengingatkan bahwa menjelang akhir zaman akan muncul pengejek-pengejek—orang-orang yang hidup menurut hawa nafsu dan merendahkan kebenaran.
Saudara-saudari, Siapakah pengejek-pengejek ini? Mereka bukan hanya orang yang secara terang-terangan menolak Tuhan. Yang lebih berbahaya, mereka bisa muncul dari dalam komunitas orang percaya sendiri. Mereka tampak rohani, berbicara tentang Tuhan, bahkan mungkin memiliki pengaruh. Tetapi hidup mereka tidak dipimpin oleh Roh Kudus.
Yudas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang “hidup tanpa Roh”. Artinya, apa yang mereka lakukan tidak berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, melainkan dari keinginan diri sendiri.
Ini menjadi peringatan bagi kita, khususnya sebagai pemuda. Kita tidak boleh menilai segala sesuatu hanya dari tampilan luar. Tidak semua yang viral itu benar.
Tidak semua yang rohani itu berasal dari Tuhan. Karena itu, kita perlu memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih.
Saudara-saudari pemuda, Di zaman digital ini, salah satu medan pertempuran iman terbesar adalah pikiran kita. Apa yang kita lihat setiap hari akan mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita merasa, dan akhirnya cara kita hidup.
Jika kita terus-menerus mengonsumsi konten yang dangkal, penuh candaan yang merendahkan iman, atau bahkan yang bertentangan dengan firman Tuhan, maka tanpa kita sadari, iman kita akan melemah.
Sebaliknya, jika kita mengisi hidup kita dengan firman Tuhan, dengan konten yang membangun, dengan persekutuan yang sehat, maka iman kita akan bertumbuh dan menjadi kuat.
Itulah sebabnya tema kita hari ini sangat penting: iman yang bertahan lahir dari hati yang berakar di dalam Tuhan.
Saudara-saudari, Apa artinya berakar di dalam Tuhan? Bayangkan sebuah pohon. Pohon yang besar dan kuat tidak hanya terlihat indah di atas, tetapi juga memiliki akar yang dalam di bawah tanah. Akar itulah yang membuat pohon tetap berdiri meskipun diterpa angin kencang.
Demikian juga dengan iman kita. Akar iman adalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Bukan sekadar ikut-ikutan, bukan sekadar rutinitas, tetapi hubungan yang nyata—melalui doa, firman, dan ketaatan.
Pemuda yang tidak berakar dalam Tuhan akan mudah goyah. Ketika ada masalah, ia langsung menyerah. Ketika ada godaan, ia langsung jatuh. Ketika ada ajaran baru, ia langsung percaya.
Tetapi pemuda yang berakar dalam Tuhan akan tetap berdiri. Ia mungkin goyah, tetapi tidak tumbang. Ia mungkin lemah, tetapi tidak hancur.
Saudara-saudari, Yudas juga mengingatkan bahwa para pengejek ini “menimbulkan perpecahan”. Ini berarti mereka tidak membangun, tetapi merusak. Mereka tidak mempersatukan, tetapi memecah-belah.
Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang benar.
Persekutuan yang sehat adalah tempat di mana kita saling membangun, bukan saling menjatuhkan. Tempat di mana kita saling menguatkan, bukan saling menghakimi. Tempat di mana kita bertumbuh bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Sebagai pemuda, kita membutuhkan komunitas yang benar. Kita tidak bisa bertahan sendirian di tengah dunia yang penuh tantangan ini.
Carilah teman-teman yang bisa membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya. Bangun relasi yang saling mendukung dalam iman.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Mari kita jujur pada diri sendiri. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk media sosial dibandingkan dengan waktu kita bersama Tuhan?
Berapa banyak konten yang kita tonton yang benar-benar membangun iman kita? Apakah kita lebih mengenal tren terbaru daripada firman Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan kita.
Jika kita ingin memiliki iman yang bertahan, kita harus membuat keputusan yang tegas. Kita harus berani berkata “cukup” pada hal-hal yang merusak iman kita, dan berkata “ya” pada hal-hal yang membangun iman kita.
Saudara-saudari, Iman yang bertahan juga berarti iman yang tetap setia di tengah ejekan. Dunia mungkin menertawakan kita karena kita memilih hidup benar. Dunia mungkin menganggap kita aneh karena kita tidak mengikuti arus.
Tetapi ingat, kita tidak hidup untuk menyenangkan dunia. Kita hidup untuk menyenangkan Tuhan. Lebih baik kita dianggap berbeda oleh dunia, daripada kehilangan arah di hadapan Tuhan.
Saudara-saudari pemuda, Kabar baiknya adalah kita tidak berjalan sendiri. Tuhan memberikan kita Roh Kudus sebagai penolong. Roh Kudus yang menguatkan kita, yang mengingatkan kita akan kebenaran, dan yang menuntun kita dalam setiap langkah hidup kita.
Ketika kita merasa lemah, Roh Kudus menguatkan.
Ketika kita bingung, Roh Kudus menuntun.
Ketika kita jatuh, Roh Kudus mengangkat kita kembali.
Karena itu, penting bagi kita untuk hidup peka terhadap suara Roh Kudus. Jangan mengeraskan hati. Jangan mengabaikan teguran-Nya.
Saudara-saudari, Menjelang akhir zaman, tantangan iman akan semakin besar. Tetapi firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak takut, melainkan untuk bersiap.
Bersiap dengan iman yang kuat.
Bersiap dengan hati yang berakar dalam Tuhan.
Bersiap dengan kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Akhirnya, marilah kita menjadi pemuda yang memiliki iman yang bertahan—iman yang tidak mudah goyah oleh arus dunia, iman yang tidak runtuh oleh ejekan, iman yang tetap setia sampai akhir.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus bertumbuh, tetap waspada, dan hidup dalam kebenaran-Nya setiap hari. Amin.
Doa : Tuhan yang setia, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan iman kami. Tolong kami sebagai pemuda agar tetap berakar di dalam Engkau, tidak mudah goyah oleh dunia, dan bijak dalam setiap pilihan. Pimpin kami oleh Roh Kudus agar setia sampai akhir. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas