Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Jumat, 17 April 2026, Yudas 1:20-21  Membangun Dan Memelihara

Alfianne Lumantow • Rabu, 15 April 2026 | 20:34 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

 

Pembacaan Alkitab : Yudas 1:20-21
TEMA : MEMBANGUN DAN MEMELIHARA

“...dengan membangun dirimu di atas dasar imanmu yang paling suci... peliharalah dirimu dalam kasih Allah....” (ay. 20-21)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kehidupan yang kita jalani hari ini adalah kehidupan yang penuh dengan dinamika dan tantangan. Dunia terus berubah dengan cepat. Nilai-nilai yang dulu dianggap benar, sekarang sering dipertanyakan. 

Bahkan, tidak jarang kebenaran itu menjadi kabur karena setiap orang merasa memiliki “versi kebenarannya” sendiri.

Di tengah kondisi seperti ini, kita sebagai orang percaya dihadapkan pada satu pertanyaan penting: bagaimana kita tetap hidup benar di hadapan Tuhan? Bagaimana kita menjaga iman kita agar tidak goyah, tidak luntur, dan tidak terseret arus dunia?

Melalui suratnya, Yudas memberikan nasihat yang sangat penting dan relevan bagi kehidupan kita saat ini. Ia berkata, “bangunlah dirimu di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus, peliharalah dirimu dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus.”

Ada dua kata kunci yang menjadi fokus kita hari ini, yaitu: membangun dan memelihara.
Kedua kata ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Kehidupan iman tidak cukup hanya dimulai, tetapi harus terus dibangun. Dan setelah dibangun, iman itu harus dipelihara agar tetap hidup dan bertumbuh.

Pertama, membangun iman di atas dasar yang benar.
Membangun berarti ada proses. Tidak ada bangunan yang berdiri kokoh dalam satu malam. Semua membutuhkan waktu, usaha, dan ketekunan. Demikian juga dengan iman kita.
Iman bukan sesuatu yang langsung kuat sejak awal. Iman harus dilatih, diasah, dan diperkuat dari waktu ke waktu. 

Yudas menekankan bahwa iman itu harus dibangun di atas dasar yang paling suci. Artinya, dasar iman kita harus benar, yaitu firman Tuhan.

Saudara-saudara, banyak orang membangun hidup di atas dasar yang salah. Ada yang membangun hidup di atas kekayaan, jabatan, popularitas, atau pengakuan manusia. Tetapi semua itu tidak kekal. Ketika badai kehidupan datang, semua yang dibangun di atas dasar yang salah akan runtuh.

Yesus sendiri pernah berkata bahwa orang bijaksana adalah orang yang membangun rumah di atas batu, bukan di atas pasir. Batu itu melambangkan dasar yang kokoh, yaitu firman Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita harus bertanya kepada diri sendiri: apakah iman kita dibangun di atas firman Tuhan? Ataukah hanya berdasarkan perasaan, kebiasaan, atau pengaruh lingkungan?

Membangun iman berarti kita menyediakan waktu untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Kita membaca firman Tuhan, merenungkannya, dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman.

Selain itu, Yudas juga menekankan pentingnya berdoa dalam Roh Kudus. Ini berarti kita membangun hubungan yang hidup dengan Tuhan. Doa bukan sekadar rutinitas, tetapi komunikasi yang intim dengan Allah. Dalam doa, kita dikuatkan, diarahkan, dan diperlengkapi untuk menghadapi kehidupan.

Kedua, memelihara iman dalam kasih Allah.
Setelah iman dibangun, langkah berikutnya adalah memeliharanya. Memelihara berarti menjaga, merawat, dan mempertahankan agar tetap hidup.

Saudara-saudara, seringkali kita semangat di awal, tetapi kurang setia dalam perjalanan. Kita rajin berdoa dan membaca firman di awal, tetapi lama-kelamaan menjadi kendor. Kita mulai sibuk dengan berbagai urusan, dan tanpa sadar kehidupan rohani kita menjadi kering.
Inilah sebabnya Yudas mengingatkan: “peliharalah dirimu dalam kasih Allah.”
    
Mengapa kasih Allah? Karena kasih adalah inti dari kehidupan Kristen. Ketika kita hidup dalam kasih Allah, kita tetap terhubung dengan sumber kehidupan itu sendiri.

Namun, memelihara iman dalam kasih Allah bukanlah hal yang mudah, terutama ketika kita menghadapi berbagai persoalan hidup.

Ketika kita disakiti, kita cenderung membalas.
Ketika kita dikhianati, kita menjadi pahit.
Ketika kita tidak dihargai, kita kecewa.

Semua itu adalah respons manusiawi. Tetapi firman Tuhan memanggil kita untuk hidup berbeda. Ketika kita memelihara iman dalam kasih Allah, kita dimampukan untuk tetap mengasihi, bahkan kepada mereka yang menyakiti kita.

Kasih Allah menolong kita untuk mengampuni. Kasih Allah memampukan kita untuk bertahan. Kasih Allah menjaga hati kita agar tidak dipenuhi oleh kebencian.

Saudara-saudara, kepahitan adalah salah satu “racun rohani” yang paling berbahaya. Jika tidak diatasi, kepahitan bisa merusak iman kita. Karena itu, kita harus menjaga hati kita tetap tinggal dalam kasih Allah.

Ketiga, menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus.
Yudas juga mengingatkan bahwa dalam proses membangun dan memelihara iman, kita hidup dalam pengharapan. Kita menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus.

Ini berarti kita tidak hanya fokus pada kehidupan sekarang, tetapi juga pada tujuan akhir kita. Hidup ini adalah perjalanan. Kita sedang menuju kepada perjumpaan dengan Tuhan.

Pengharapan ini memberi kita kekuatan untuk bertahan. Ketika kita lelah, kita diingatkan bahwa ada kemuliaan yang menanti. Ketika kita menghadapi kesulitan, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Mari kita melihat realitas kehidupan kita saat ini. Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, banyak orang mengalami kelelahan. Tekanan pekerjaan, tuntutan keluarga, masalah ekonomi, dan gaya hidup membuat kita sibuk luar biasa.

Kita berjuang untuk memenuhi kebutuhan jasmani, dan itu tidak salah. Tetapi seringkali, dalam kesibukan itu, kita melupakan kebutuhan rohani kita.

Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada berdoa.
Kita lebih sibuk mengejar pencapaian dunia daripada mencari Tuhan.
Kita lebih fokus pada penampilan luar daripada pertumbuhan batin.

Akibatnya, kualitas rohani kita menurun. Iman kita menjadi lemah. Kita mudah stres, mudah marah, mudah putus asa.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: bangun dan peliharalah iman kita.
Seperti tubuh membutuhkan makanan, iman juga membutuhkan asupan. Tanpa firman Tuhan, doa, dan persekutuan, iman kita akan menjadi lemah.

Karena itu, mari kita mengambil langkah-langkah praktis:
Luangkan waktu setiap hari untuk membaca firman Tuhan. Bangun kehidupan doa yang konsisten. Ikut dalam persekutuan yang membangun iman. Jaga hati kita tetap dalam kasih Allah.Dan tetaplah berpegang pada pengharapan dalam Kristus.

Saudara-saudara, Membangun dan memelihara iman adalah proses seumur hidup. Ini bukan sesuatu yang instan. Tetapi ketika kita setia melakukannya, kita akan melihat perubahan dalam hidup kita.

Kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kita tidak mudah goyah oleh keadaan.
Kita memiliki damai sejahtera di tengah badai.
Dan hidup kita menjadi berkat bagi orang lain.


Akhirnya, marilah kita mengingat bahwa kita tidak berjalan sendiri. Tuhan menyertai kita. Roh Kudus menolong kita. Dan kasih Allah menopang kita.

Kiranya kita semua dimampukan untuk terus membangun iman di atas dasar yang benar, memelihara iman dalam kasih Allah, dan hidup dalam pengharapan akan rahmat Yesus Kristus. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Tolong kami untuk setia membangun iman dan memeliharanya dalam kasih-Mu. Kuatkan kami dalam doa, pengharapan, dan kesetiaan. Mampukan kami hidup berkenan kepada-Mu setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB