Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 21 April 2026, Bacaan I Kisah Para Rasul 7:51-8:1a, Bacaan Injil Yohanes 6:30-35

Fandy Gerungan • Kamis, 16 April 2026 | 09:25 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Paskah III (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kisah Para Rasul 7:51-8:1a

Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.

Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh.

Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya."

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."

Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.

Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku."

Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. (8-1b) Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 31:3cd-4,ab,7b,8a,17,21ab

Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.

Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.

Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN.

Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku,

dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.

TUHAN, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu; biarlah orang-orang fasik mendapat malu dan turun ke dunia orang mati dan bungkam.

Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!

Bacaan Injil Yohanes 6:30-35

Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."

Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i renungan hari ini membawa kita pada dua gambaran yang kontras, tetapi justru saling melengkapi. Di satu sisi, kita melihat kekerasan hati manusia yang menolak kebenaran. 

Di sisi lain, kita melihat kasih Allah yang tetap memberi hidup, bahkan kepada mereka yang sering meragukan-Nya.

Kisah tentang Stefanus adalah cermin yang cukup tajam. Ia bukan hanya menghadapi penolakan, tetapi juga kebencian yang begitu dalam. Orang-orang yang mendengarnya sebenarnya tersentuh, tetapi bukan untuk bertobat melainkan untuk marah. 

Hati yang tertutup sering kali tidak mampu menerima kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu begitu jelas. Ini jadi pengingat buat kita: kadang masalahnya bukan pada kurangnya bukti, tapi pada hati yang tidak mau terbuka.

Namun yang paling kuat dari kisah ini bukanlah kekerasan yang ia alami, melainkan sikapnya di tengah penderitaan. Dalam situasi yang sangat tidak manusiawi, ia tetap memilih percaya dan mengampuni. 

Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Justru di saat terakhir hidupnya, ia menunjukkan kasih yang begitu murni. Ini bukan sikap biasa ini adalah buah dari relasi yang sangat dalam dengan Tuhan.

Lalu Injil hari ini membawa kita pada pertanyaan yang sering kita ulangi dalam hidup: “Tuhan, berikan kami tanda.” Banyak orang waktu itu juga berpikir seperti kita mereka ingin bukti, ingin sesuatu yang bisa dilihat. Padahal Tuhan sudah hadir di tengah mereka. 

Kadang kita juga begitu. Kita minta kejelasan, minta mukjizat, minta jawaban cepat tapi kita lupa bahwa Tuhan sudah memberi sesuatu yang jauh lebih besar: diri-Nya sendiri sebagai sumber kehidupan.

Yesus tidak hanya memberi “sesuatu” untuk memenuhi kebutuhan kita. Ia memberi diri-Nya sebagai “roti hidup.” Artinya, yang kita butuhkan bukan sekadar solusi sementara. 

Tapi hubungan yang terus menghidupi kita dari dalam. Lapar dan haus dalam hidup sering kali bukan soal fisik, tapi soal hati yang kosong, arah hidup yang kabur, atau iman yang mulai goyah.

Dari dua bacaan ini, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: apakah hati kita terbuka, atau justru keras dan penuh penolakan?. Apakah kita sungguh mencari Tuhan, atau hanya mencari apa yang bisa Dia berikan?.

Karena pada akhirnya, iman bukan soal melihat tanda demi tanda, tapi soal percaya bahkan ketika situasi tidak sesuai harapan. Dan seperti Stefanus, orang yang sungguh “dipenuhi” oleh Tuhan akan tetap mampu berdiri teguh, bahkan di tengah tekanan, bahkan saat disalahpahami, bahkan saat disakiti.

Hari ini, mungkin kita tidak menghadapi penganiayaan seperti Stefanus. Tapi kita pasti menghadapi tantangan: kekecewaan, luka, ketidakpastian.

Di situlah kita diundang untuk datang kepada Tuhan, bukan hanya untuk meminta, tapi untuk tinggal bersama-Nya.

Karena hanya Dia yang bisa benar-benar mengenyangkan hati yang lapar dan menenangkan jiwa yang haus. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan