PEMBACAAN ALKITAB: Mazmur 119:57-60
TEMA: TARIK TAMBANG DI HADAPAN TUHAN
Saudara-saudara pemuda yang dikasihi Tuhan, Pernahkah kita bermain tarik tambang? Sebuah permainan sederhana, tetapi penuh makna. Dalam permainan itu, ada dua tim yang saling menarik tali ke arah masing-masing. Semua anggota tim harus bekerja sama, mengerahkan tenaga, menjaga posisi, dan bertahan supaya tidak jatuh atau terseret.
Menariknya, dalam permainan itu, yang menjadi pusat bukanlah pemain, tetapi tali tambang. Tali itulah yang menghubungkan dua kekuatan yang saling berlawanan. Siapa yang lebih kuat menarik dan bertahan, dialah yang menang.
Gambaran ini sangat relevan dengan kehidupan iman kita sebagai pemuda. Setiap hari kita sedang berada dalam sebuah “tarik tambang rohani.” Di satu sisi, Tuhan menarik kita kepada kebenaran, kehidupan, dan kekudusan. Di sisi lain, dunia dengan segala godaan, dosa, dan kesenangannya menarik kita menjauh dari Tuhan.
Dan di tengah-tengah tarikan itu, ada satu hal penting yang menjadi penghubung kita dengan Tuhan, yaitu janji kita kepada Tuhan.
Firman Tuhan dalam Mazmur 119:57 berkata:
"Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu."
Saudara-saudara, Pemazmur menyatakan sesuatu yang sangat dalam: “Bagianku ialah Tuhan.” Ini bukan sekadar kata-kata indah, tetapi sebuah keputusan hidup. Ia memilih Tuhan sebagai bagian hidupnya yang paling utama. Ia tidak berkata bahwa Tuhan hanya bagian kecil dalam hidupnya, tetapi Tuhan adalah segalanya.
Dan dari pengakuan itu lahirlah sebuah komitmen: ia berjanji untuk berpegang pada firman Tuhan.
Di sinilah kita melihat bahwa iman bukan hanya soal perasaan, tetapi juga komitmen dan janji.
Sebagai pemuda, kita seringkali bersemangat dalam momen-momen tertentu—misalnya saat ibadah, retret, atau persekutuan. Kita bisa berkata, “Tuhan, saya mau hidup benar.
Saya mau setia.” Namun pertanyaannya adalah: apakah janji itu tetap kita pegang ketika kita kembali ke kehidupan sehari-hari? Karena di situlah tarik tambang itu benar-benar terjadi.
Saudara-saudara, Pemazmur sadar bahwa hidup tidak lepas dari godaan. Ia tahu bahwa akan ada “tarikan” yang berusaha menjauhkan dirinya dari Tuhan. Itulah sebabnya ia berkata dalam ayat 59-60 bahwa ia mempertimbangkan jalannya dan segera berbalik kepada peringatan-peringatan Tuhan, tanpa menunda.
Ini menunjukkan bahwa pemazmur tidak hanya berjanji, tetapi juga bertindak cepat ketika ia mulai menjauh.
Seringkali, kita jatuh bukan karena kita tidak tahu yang benar, tetapi karena kita menunda untuk kembali. Kita tahu itu salah, tetapi kita berkata, “Nanti saja berubahnya.” Kita tahu itu dosa, tetapi kita membiarkannya berlama-lama dalam hidup kita.
Padahal, dalam tarik tambang, satu langkah kecil saja bisa menentukan kemenangan atau kekalahan. Jika kita lengah sedikit, kita bisa langsung tertarik jatuh.
Demikian juga dalam kehidupan rohani. Ketika kita mulai memberi ruang bagi dosa, kita sedang melemahkan pegangan kita pada Tuhan.
Saudara-saudara pemuda, Mari kita jujur. Apa saja “tarikan” yang kita hadapi hari ini?
Mungkin itu godaan pergaulan yang tidak sehat. Mungkin itu kebiasaan dosa yang tersembunyi. Mungkin itu keinginan untuk diterima oleh teman-teman sehingga kita kompromi dengan nilai iman. Atau mungkin itu rasa malas untuk berdoa, membaca firman, dan hidup dekat dengan Tuhan.
Semua itu adalah “tarikan” yang nyata. Dan seringkali, tarikan dunia terasa lebih kuat karena terlihat menyenangkan, instan, dan mudah.
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kita tidak berdiri tanpa pegangan. Kita memiliki janji kepada Tuhan.
Janji itu bukan sekadar ucapan, tetapi menjadi kekuatan yang menahan kita agar tidak jatuh. Janji itu mengingatkan kita siapa kita sebenarnya: orang yang telah memilih Tuhan sebagai bagian hidup.
Saudara-saudara, Tarik tambang bukan hanya soal menarik, tetapi juga soal bertahan. Dalam iman, bertahan seringkali lebih sulit daripada memulai. Banyak orang bisa memulai dengan semangat, tetapi tidak semua bisa bertahan dengan setia.
Yesus sendiri berkata bahwa orang yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Ini menunjukkan bahwa iman adalah perjalanan, bukan sekadar momen.
Pemazmur memberi teladan bahwa ia tidak hanya berjanji, tetapi juga menjaga komitmennya dengan cara:
Pertama, mengingat firman Tuhan. Firman Tuhan menjadi dasar dan pegangan hidupnya. Tanpa firman, kita tidak punya arah yang jelas.
Kedua, mengevaluasi diri. Ia berkata bahwa ia mempertimbangkan jalan-jalannya. Artinya, ia mau melihat dirinya dengan jujur.
Ketiga, bertindak cepat untuk kembali kepada Tuhan. Ia tidak menunda. Ia segera berbalik.
Saudara-saudara, Sebagai pemuda, kita perlu belajar melakukan hal yang sama. Jangan hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman. Jangan hanya berjanji, tetapi juga setia menjalankan janji itu.
Mungkin ada di antara kita yang merasa sudah kalah dalam tarik tambang ini. Kita merasa sudah terlalu jauh ditarik oleh dunia. Kita merasa sudah jatuh terlalu dalam dalam dosa.
Namun kabar baiknya adalah: Tuhan tidak pernah melepaskan tali itu. Ia tetap menarik kita kembali kepada-Nya.
Kasih Tuhan lebih kuat daripada tarikan dunia. Yang penting adalah: apakah kita mau kembali menarik diri kepada Tuhan?
Mazmur 119:58 mengatakan bahwa pemazmur memohon belas kasihan Tuhan dengan segenap hati. Ini menunjukkan bahwa dalam pergumulan, kita tidak sendirian. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan.
Saudara-saudara pemuda yang dikasihi Tuhan, Hari ini kita diajak untuk melihat kembali posisi kita dalam “tarik tambang” ini. Apakah kita sedang semakin dekat kepada Tuhan, atau justru semakin jauh?
Apakah kita masih memegang kuat janji kita kepada Tuhan, atau sudah mulai melepaskannya?
Ingatlah bahwa janji kepada Tuhan adalah ikatan yang menjaga kita tetap setia. Janji itu bukan untuk membatasi kita, tetapi untuk melindungi kita dari kehancuran.
Dunia mungkin menawarkan banyak hal yang terlihat menyenangkan, tetapi tidak semuanya membawa kehidupan. Sebaliknya, firman Tuhan mungkin terasa menuntut, tetapi di dalamnya ada kehidupan yang sejati.
Akhirnya, saudara-saudara, Mari kita memperbarui komitmen kita hari ini. Katakan dalam hati kita: “Tuhan, Engkaulah bagianku. Aku mau berpegang pada firman-Mu.”
Dan ketika tarik tambang itu terjadi, jangan lepaskan pegangan kita. Tariklah diri kita kepada Tuhan dengan segenap hati. Bertahanlah dalam iman. Dan percayalah bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita.
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil mendapatkan semua yang dunia tawarkan, tetapi ketika kita tetap setia kepada Tuhan sampai akhir.
Kiranya firman Tuhan ini menguatkan kita untuk tetap teguh, setia, dan tidak menyerah dalam “tarik tambang” kehidupan iman kita. Amin.
Doa : Tuhan yang setia, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Kuatkan kami dalam pergumulan hidup agar tetap setia memegang janji kami kepada-Mu. Tolong kami menolak godaan dan hidup dalam kebenaran-Mu. Pimpin langkah kami setiap hari. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas