Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Kamis, 23 April 2026, Mazmur 119:61-64  Diikat Oleh Kesusahan Dilepas Oleh Tuhan

Alfianne Lumantow • Rabu, 22 April 2026 | 13:20 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

 

Pembacaan Alkitab: Mazmur 119:61-64
Tema: DIIKAT OLEH KESUSAHAN, DILEPAS OLEH TUHAN

“Tali-tali orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.” (ayat 61)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang kebal terhadap kesusahan. Bahkan, sering kali justru orang yang berusaha hidup benar di hadapan Tuhan harus menghadapi tekanan yang berat. 

Kesusahan itu bisa datang dalam bentuk masalah keluarga, tekanan ekonomi, sakit penyakit, konflik relasi, bahkan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang lain.

Pemazmur dalam bacaan kita hari ini tidak menyembunyikan pergumulannya. Ia dengan jujur mengatakan, “tali-tali orang fasik membelit aku.” Ini adalah gambaran yang sangat kuat. 

Tali yang membelit membuat seseorang tidak bebas bergerak, terikat, tertekan, bahkan bisa membuatnya jatuh. Ini bukan sekadar masalah kecil, tetapi kondisi yang membuat hidup terasa sesak dan sulit.

Namun yang menarik, di tengah kondisi seperti itu, pemazmur tidak berkata, “aku menyerah,” atau “aku meninggalkan Tuhan.” Sebaliknya, ia berkata, “tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.” Inilah inti dari iman yang sejati: tetap setia di tengah tekanan.

Saudara-saudara, Sering kali ketika kesusahan datang, justru iman kita diuji. Banyak orang mulai mempertanyakan Tuhan: “Mengapa aku mengalami ini?” “Di mana Tuhan saat aku menderita?” Bahkan ada yang mulai menjauh dari Tuhan karena merasa doa-doanya tidak dijawab.

Tetapi pemazmur memberi kita teladan yang berbeda. Ia tidak membiarkan kesusahan menjauhkan dirinya dari firman Tuhan. Sebaliknya, justru di tengah kesusahan, ia semakin berpegang pada firman itu.

Di sinilah kita belajar bahwa kesusahan tidak selalu menjadi tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Bisa jadi justru dalam kesusahan itu, Tuhan sedang membentuk iman kita menjadi lebih kuat dan lebih murni.

Pertama, kesusahan tidak boleh merampas firman Tuhan dalam hidup kita.
“Tali-tali orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.”
Firman Tuhan adalah jangkar kehidupan kita. Ketika badai datang, yang membuat kita tetap bertahan bukanlah keadaan yang tenang, tetapi pegangan yang kuat. Jika kita melepaskan firman Tuhan, maka kita akan mudah hanyut oleh keadaan.

Hari-hari ini, banyak orang lebih mudah mengingat masalah daripada mengingat firman Tuhan. Pikiran dipenuhi kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan. Akibatnya, iman menjadi lemah.

Namun pemazmur menunjukkan sikap yang berbeda. Ia memilih untuk mengingat firman Tuhan. Ini bukan hal yang otomatis, tetapi sebuah keputusan iman. Ia melatih dirinya untuk tetap melekat pada kebenaran Tuhan.

Saudara-saudara, Apa yang kita isi dalam pikiran kita di tengah kesusahan akan menentukan bagaimana kita bertahan. Jika kita hanya fokus pada masalah, kita akan tenggelam. Tetapi jika kita mengisi hati dengan firman Tuhan, kita akan dikuatkan.

Kedua, kesusahan adalah kesempatan untuk belajar bersyukur.
Ayat 62 berkata, “Pada tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu.”
Ini adalah pernyataan yang sangat luar biasa. Tengah malam adalah waktu yang identik dengan kegelapan, kesunyian, dan kegelisahan. Banyak orang justru sulit tidur karena memikirkan masalah. Tetapi pemazmur menggunakan waktu itu untuk bersyukur.

Ini bukan berarti hidupnya baik-baik saja. Ia tetap dalam kesusahan. Tetapi ia memilih untuk bersyukur.

Saudara-saudara, Bersyukur di saat senang itu mudah. Tetapi bersyukur di tengah penderitaan adalah tanda kedewasaan iman. Bersyukur bukan karena keadaan kita baik, tetapi karena kita percaya Tuhan tetap baik.

Ketika kita belajar bersyukur, perspektif kita berubah. Kita tidak lagi hanya melihat apa yang kurang, tetapi mulai melihat apa yang Tuhan sudah kerjakan. Kita menyadari bahwa di tengah kesusahan pun, Tuhan masih memelihara kita.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam “malam” kehidupan. Gelap, sunyi, dan penuh pergumulan. Tetapi firman Tuhan mengajar kita: justru di tengah malam itu, naikkan syukur kepada Tuhan.

Syukur membuka hati kita untuk melihat kehadiran Tuhan yang mungkin selama ini kita abaikan.

Ketiga, kita tidak dipanggil untuk berjalan sendiri.
Ayat 63 berkata, “Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada titah-titah-Mu.”

Pemazmur menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki komunitas, persekutuan orang percaya. Ini sangat penting.

Kesusahan sering kali membuat seseorang menarik diri. Ia merasa tidak ada yang mengerti dirinya. Ia memilih untuk menyendiri. Padahal, justru di saat seperti itu, kita membutuhkan orang lain.

Persekutuan bukan sekadar kumpul-kumpul, tetapi tempat di mana kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan akan janji Tuhan.

Saudara-saudara, Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup sendiri. Ia menempatkan kita dalam komunitas iman. Di dalam persekutuan, kita diingatkan bahwa kita tidak sendirian dalam pergumulan.

Ketika kita lemah, ada saudara seiman yang menguatkan. Ketika kita mulai goyah, ada yang mengingatkan kita kembali kepada firman Tuhan.

Jangan menjauh dari persekutuan ketika menghadapi kesusahan. Justru dekatkan diri. Di sanalah Tuhan sering kali bekerja melalui sesama kita.

Keempat, kasih setia Tuhan adalah dasar pengharapan kita.
Ayat 64 menutup dengan pernyataan yang penuh iman: “Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya TUHAN.”

Ini adalah pengakuan yang luar biasa. Di tengah kesusahan, pemazmur tetap melihat bahwa dunia ini penuh dengan kasih setia Tuhan. Ia tidak membiarkan penderitaan mengaburkan pandangannya tentang siapa Tuhan.

Saudara-saudara, Kasih setia Tuhan tidak pernah berubah. Situasi kita bisa berubah, tetapi kasih Tuhan tetap sama. Bahkan ketika kita merasa diikat oleh kesusahan, sebenarnya kita tetap berada dalam genggaman kasih Tuhan.

Kasih setia itulah yang pada akhirnya melepaskan kita. Mungkin tidak selalu dengan cara yang kita harapkan, tetapi selalu dengan cara yang terbaik menurut Tuhan.

Sering kali kita ingin dilepaskan segera dari masalah. Tetapi Tuhan lebih tertarik untuk membentuk kita melalui proses itu. Ia tidak hanya ingin mengubah keadaan kita, tetapi juga mengubah hati kita.

Dan ketika waktunya tiba, Tuhan akan melepaskan kita dari “tali-tali” yang membelit kita.

Saudara-saudara yang terkasih, Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita bahwa kesusahan bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin kita merasa diikat, terbelenggu, dan tidak berdaya. Tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Mari kita belajar dari pemazmur:
•    Tetap berpegang pada firman Tuhan 
•    Tetap bersyukur, bahkan di tengah malam kehidupan 
•    Tetap hidup dalam persekutuan 
•    Tetap percaya pada kasih setia Tuhan 

Ingatlah, kesusahan tidak memiliki kuasa terakhir atas hidup kita. Tuhanlah yang memiliki kuasa itu.

Mungkin hari ini kita sedang diikat oleh berbagai masalah. Tetapi percayalah, Tuhan yang sama yang memelihara pemazmur juga akan melepaskan kita.

Ia adalah Tuhan yang setia. Ia tidak pernah terlambat. Ia tidak pernah gagal.
Dan pada waktunya, kita akan melihat bahwa kesusahan yang kita alami justru menjadi jalan bagi kita untuk mengalami kasih dan kuasa Tuhan secara lebih dalam. Diikat oleh kesusahan, tetapi dilepaskan oleh Tuhan. Amin.

Doa : Tuhan yang setia, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Kuatkan kami saat menghadapi kesusahan, agar tetap setia dan tidak melupakan Engkau. Ajari kami bersyukur dalam segala keadaan dan hidup dalam persekutuan. Lepaskan kami dari segala beban, dan penuhi hati kami dengan damai dan pengharapan. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB