Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 24 April 2026, Bacaan I Kisah Para Rasul 9:1-20, Bacaan Injil Yohanes 6:52-59

Fandy Gerungan • Rabu, 22 April 2026 | 15:14 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Paskah III (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kisah Para Rasul 9:1-20

Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"

Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."

Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuhan!"

Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi."

Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu."

Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."

Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus."

Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.

Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 117:1,2

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!

Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!

Bacaan Injil Yohanes 6:52-59

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."

Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu hal yang sering kita lupa: perubahan besar dalam hidup kadang justru dimulai dari titik paling gelap. Kisah hari ini menunjukkan bahwa seseorang yang berjalan dalam arah yang salah pun tetap bisa disentuh dan diubah. 

Bahkan ketika hatinya penuh penolakan, Tuhan tidak menjauh justru mendekat dengan cara yang tidak terduga.

Saulus mengalami momen di mana seluruh hidupnya seperti dihentikan secara paksa. Ia kehilangan arah, kehilangan penglihatan, dan dipaksa diam dalam ketidakpastian. 

Dalam hidup kita, mungkin bentuknya berbeda. Bisa berupa kegagalan, kekecewaan, atau situasi yang membuat kita tidak berdaya. Namun di balik itu, bisa jadi ada proses pembentukan yang sedang terjadi.

Perubahan itu tidak terjadi seketika menjadi nyaman. Ada proses hening, ada masa menunggu, ada kebingungan. Tapi justru di situlah hati mulai terbuka. 

Saat semua pegangan lama dilepaskan, seseorang mulai belajar bersandar pada sesuatu yang lebih dalam daripada dirinya sendiri.

Di sisi lain, ada Ananias yang harus menghadapi ketakutannya sendiri. Ia diminta untuk mendekati orang yang selama ini dikenal berbahaya. Tidak mudah untuk percaya dalam situasi seperti itu. 

Namun keberanian untuk taat membuka jalan bagi pemulihan orang lain. Kadang kita juga dipanggil untuk melakukan hal serupa melangkah dalam iman, bahkan ketika hati masih ragu.

Injil hari ini mengajak kita masuk lebih dalam lagi. Hidup sejati tidak cukup hanya dari luar, tapi dari relasi yang benar-benar menyatu. Ini bukan soal rutinitas atau kebiasaan, melainkan tentang membiarkan Tuhan menjadi sumber kehidupan itu sendiri. 

Ketika seseorang hidup dari sumber yang benar, arah hidupnya pun perlahan berubah.

Akhirnya, renungan ini mengajak kita melihat diri sendiri. Mungkin kita pernah seperti Saulus, berjalan dengan keyakinan sendiri tanpa menyadari arah yang keliru. Atau mungkin kita seperti Ananias, ragu untuk melangkah karena takut. Apa pun posisi kita, selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Karena hidup yang diubah bukanlah hidup yang langsung sempurna, tetapi hidup yang mau dibentuk sedikit demi sedikit. Dan seringkali, dari proses itulah lahir pribadi yang baru, yang lebih kuat, dan lebih hidup. (*)



 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan