Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Sabtu, 25 April 2026, Ratapan 3:23-24  Memilih Tuhan Sebagai Harapan

Alfianne Lumantow • Jumat, 24 April 2026 | 12:29 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

 

Pembacaan Alkitab: Ratapan 3:23-24
Tema: MEMILIH TUHAN SEBAGAI HARAPAN

“TUHANlah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. (ayat 24)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Bacaan firman Tuhan pada malam hari ini membawa kita masuk ke dalam sebuah pengakuan iman yang sangat dalam. Kitab Ratapan bukanlah kitab yang penuh sukacita, melainkan kitab yang lahir dari penderitaan, kehancuran, dan kesedihan yang mendalam. Yerusalem hancur, umat Tuhan mengalami penderitaan, dan harapan manusia secara jasmani seakan-akan hilang.

Namun justru di tengah suasana yang gelap itu, muncul sebuah pengakuan iman yang terang: “Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu! TUHANlah bagianku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”

Saudara-saudara, Ini mengajarkan kepada kita bahwa harapan sejati tidak lahir dari keadaan yang baik, tetapi dari hati yang memilih untuk percaya kepada Tuhan. Harapan bukan sekadar perasaan optimis, tetapi sebuah keputusan iman.

Pertama, harapan yang sejati lahir dari kesadaran akan kasih setia Tuhan.
Ayat 23 mengatakan, “Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu.”
Setiap pagi adalah bukti bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidup kita. Nafas yang kita hirup, kesempatan yang kita miliki, semua adalah tanda bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berhenti.

Sering kali kita terlalu fokus pada masalah yang tidak kunjung selesai. Kita melihat hidup seperti lingkaran yang sama: masalah datang, pergi, lalu datang lagi. Akibatnya, kita merasa lelah, putus asa, dan kehilangan semangat.

Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di tengah segala pengulangan itu, ada sesuatu yang tidak pernah berubah: kesetiaan Tuhan.

Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada keadaan kita. Ia tetap setia ketika kita berhasil, dan Ia tetap setia ketika kita gagal. Ia tetap setia ketika kita kuat, dan Ia tetap setia ketika kita lemah.

Saudara-saudara, Jika setiap pagi Tuhan memberikan yang baru, itu berarti kita tidak pernah menjalani hari dengan kekuatan yang lama. Tuhan selalu menyediakan kekuatan yang baru, pengharapan yang baru, dan kasih karunia yang baru.

Oleh karena itu, jangan biarkan kegagalan kemarin merusak harapan hari ini. Jangan biarkan luka masa lalu menutup mata kita terhadap karya Tuhan yang baru.

Kedua, memilih Tuhan sebagai bagian hidup adalah keputusan iman.
Ayat 24 berkata, “TUHANlah bagianku,” kata jiwaku.
Ini adalah pernyataan yang sangat pribadi dan sangat kuat. “Bagian” di sini berarti sesuatu yang menjadi milik kita yang paling utama, sesuatu yang kita andalkan, sesuatu yang kita anggap paling berharga.

Dalam kehidupan, setiap orang pasti memiliki “bagian” yang diandalkan. Ada yang mengandalkan harta, ada yang mengandalkan jabatan, ada yang mengandalkan relasi, bahkan ada yang mengandalkan diri sendiri.

Namun semua itu memiliki keterbatasan. Harta bisa habis, jabatan bisa hilang, relasi bisa berubah, dan kekuatan diri bisa melemah.

Penulis Ratapan menyadari hal ini. Di tengah kehancuran, ia melihat bahwa satu-satunya yang tidak berubah adalah Tuhan. Oleh karena itu, ia mengambil keputusan: “TUHANlah bagianku.”

Saudara-saudara,  Ini bukan sekadar ucapan, tetapi sebuah pilihan hidup. Memilih Tuhan sebagai bagian berarti menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita.

Artinya, kita tidak lagi menggantungkan hidup pada hal-hal yang fana, tetapi pada Tuhan yang kekal. Kita tidak lagi menjadikan dunia sebagai sumber utama harapan, tetapi Tuhan sebagai satu-satunya sandaran.

Ketiga, harapan adalah buah dari hubungan yang benar dengan Tuhan.
Ayat 24 melanjutkan, “oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”
Perhatikan kata “oleh sebab itu.” Ini menunjukkan hubungan sebab-akibat. Karena Tuhan adalah bagiannya, maka ia memiliki harapan.

Saudara-saudara, Banyak orang ingin memiliki harapan, tetapi tidak semua orang memiliki dasar yang benar untuk berharap. Harapan tanpa dasar yang kuat akan mudah runtuh.

Tetapi ketika Tuhan menjadi bagian hidup kita, maka harapan kita menjadi kuat. Harapan kita tidak lagi bergantung pada situasi, tetapi pada pribadi Tuhan yang setia.

Harapan seperti ini tidak mudah goyah. Meskipun keadaan belum berubah, kita tetap memiliki keyakinan bahwa Tuhan bekerja. Meskipun jawaban doa belum terlihat, kita tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Keempat, harapan dalam Tuhan menguatkan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudara, Hidup ini tidak selalu mudah. Ada hari-hari di mana kita merasa lelah, kecewa, dan kehilangan arah. Ada saat-saat di mana doa terasa tidak dijawab, usaha terasa sia-sia, dan harapan terasa menjauh.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: harapan dalam Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hidup dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita di tengah masalah.

Ketika kita memilih Tuhan sebagai harapan, kita tidak lagi berjalan sendiri. Kita berjalan bersama Tuhan yang setia.

Setiap langkah kita dipimpin oleh-Nya. Setiap beban kita ditopang oleh-Nya. Setiap air mata kita diperhatikan oleh-Nya.

Dan ketika kita jatuh, Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia mengangkat kita kembali dan memberikan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.

Kelima, memilih Tuhan sebagai harapan juga berdampak pada kehidupan persekutuan.

Saudara-saudara, Sebagai umat Tuhan, kita tidak hidup sendiri. Kita hidup dalam persekutuan. Ketika setiap anggota persekutuan memilih Tuhan sebagai harapan, maka persekutuan itu akan menjadi kuat.

Dalam persekutuan, kita saling menguatkan. Ketika satu orang lemah, yang lain menopang. Ketika satu orang jatuh, yang lain mengangkat.

Kita menjadi saksi hidup dari kesetiaan Tuhan. Kita tidak hanya mendengar firman, tetapi kita melihatnya bekerja dalam kehidupan sesama.

Pelayanan kita pun akan dipenuhi dengan semangat yang benar. Kita tidak melayani karena kewajiban, tetapi karena pengharapan dalam Tuhan. Kita percaya bahwa pelayanan kita tidak sia-sia, karena Tuhan yang kita layani adalah Tuhan yang setia.

Keenam, memilih Tuhan sebagai harapan menolong kita menghadapi masa depan dengan iman.

Saudara-saudara, Masa depan sering kali penuh ketidakpastian. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hal ini bisa menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan.

Namun ketika Tuhan adalah bagian kita, kita tidak perlu takut menghadapi masa depan. Kita tahu bahwa masa depan kita ada di tangan Tuhan.

Harapan kita tidak lagi bergantung pada apa yang akan terjadi, tetapi pada siapa yang memegang hidup kita.

Dan kita tahu bahwa Tuhan yang memegang hidup kita adalah Tuhan yang baik, Tuhan yang setia, dan Tuhan yang penuh kasih.

Saudara-saudara yang terkasih, Firman Tuhan malam ini mengajak kita untuk merenungkan kembali: kepada siapa kita menggantungkan harapan?

Apakah kita masih mengandalkan hal-hal duniawi yang sementara? Ataukah kita sudah sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai bagian hidup kita?

Mari kita belajar dari penulis Ratapan:
•    Menyadari bahwa kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi 
•    Memilih Tuhan sebagai bagian hidup kita 
•    Menjadikan Tuhan sebagai dasar pengharapan 
•    Hidup dalam iman, meskipun keadaan belum berubah 
Ingatlah, harapan dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Mungkin jalannya tidak selalu mudah, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Ketika kita memilih Tuhan sebagai harapan, kita sedang menempatkan hidup kita di tangan yang tepat. Dan di tangan Tuhan, selalu ada masa depan yang penuh pengharapan. “TUHANlah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. Amin.

Doa : Tuhan yang setia, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajari kami memilih Engkau sebagai satu-satunya harapan dalam hidup kami. Kuatkan iman kami di tengah pergumulan, dan mampukan kami percaya pada kesetiaan-Mu yang selalu baru setiap pagi. Pimpin langkah kami agar tetap bersandar hanya kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB