Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Selasa, 28 April 2026,  Roma 12:10  Membangun Respek Satu Sama Lain

Alfianne Lumantow • Jumat, 24 April 2026 | 12:37 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

 

Pembacaan Alkitab: Roma 12:10
Tema: MEMBANGUN RESPEK SATU SAMA LAIN

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan hari ini mengajak kita masuk ke dalam satu nilai yang sangat penting, tetapi sering kali terabaikan dalam kehidupan bersama, baik di gereja, keluarga, maupun masyarakat: yaitu respek atau saling menghormati.

Kita hidup di zaman di mana orang ingin dihargai, tetapi sering lupa untuk menghargai. Kita ingin didengar, tetapi enggan mendengar. Kita ingin diperlakukan dengan baik, tetapi kadang tidak sadar bagaimana kita memperlakukan orang lain. 

Di tengah kondisi seperti ini, firman Tuhan datang sebagai pengingat sekaligus panggilan: hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

1. Gereja Adalah Keluarga, Bukan Sekadar Komunitas
Seorang teolog terkenal, William Barclay, pernah mengatakan bahwa gereja bukan sekadar kumpulan kenalan atau sahabat, melainkan keluarga di dalam Allah.

Ini adalah konsep yang sangat dalam. Karena jika gereja hanya sekadar komunitas, maka relasi kita bisa dangkal. Kita bisa datang, beribadah, lalu pulang tanpa benar-benar terhubung satu sama lain. Tetapi jika gereja adalah keluarga, maka relasi kita menjadi lebih dalam, lebih personal, dan lebih bertanggung jawab.

Dalam keluarga, kita tidak hanya hadir, tetapi kita saling memperhatikan. Kita tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar. Kita tidak hanya menerima, tetapi juga memberi.

Namun, realitanya tidak selalu demikian. Bahkan dalam keluarga pun bisa terjadi konflik, kesalahpahaman, dan kurangnya penghargaan. Oleh karena itu, firman Tuhan hari ini menjadi sangat relevan: kita dipanggil bukan hanya untuk hidup bersama, tetapi untuk saling mengasihi dan saling menghormati.

2. Mengasihi sebagai Saudara
Paulus menggunakan istilah “mengasihi sebagai saudara.” Ini bukan kasih yang dangkal atau sementara, tetapi kasih yang lahir dari ikatan yang kuat.

Kasih persaudaraan berarti:
•    Menerima satu sama lain apa adanya 
•    Peduli terhadap kebutuhan sesama 
•    Rela berkorban demi kebaikan bersama 
•    Tidak mudah menyerah dalam relasi 
•    
Kasih seperti ini tidak selalu mudah. Ada perbedaan karakter, latar belakang, bahkan cara berpikir. Tetapi justru di situlah kasih diuji.

Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 13:34-35 bahwa dunia akan mengenal kita sebagai murid-murid-Nya melalui kasih kita satu sama lain. Artinya, kasih bukan hanya nilai internal, tetapi juga kesaksian eksternal.

Ketika kita mengasihi sebagai saudara, kita sedang menunjukkan kepada dunia siapa Tuhan kita.

3. Mendahului dalam Memberi Hormat
Bagian kedua dari ayat ini sangat menarik: saling mendahului dalam memberi hormat.
Biasanya, kita menunggu dihormati terlebih dahulu baru kita menghormati. Kita berpikir, “Kalau dia baik, saya juga baik.” Tetapi firman Tuhan membalik pola itu: kita diminta untuk mengambil inisiatif. Menghormati bukan reaksi, tetapi tindakan proaktif.

Apa arti “hormat”? Dalam pengertian sederhana, hormat adalah mengakui nilai seseorang. Ketika kita menghormati orang lain, kita sedang berkata, “Engkau berharga. Engkau penting.”

Menghormati bisa ditunjukkan melalui:
•    Perkataan yang membangun 
•    Sikap yang sopan 
•    Kesediaan mendengar 
•    Penghargaan terhadap perbedaan 

Dan yang menarik, Paulus tidak mengatakan “hormatilah orang yang layak dihormati,” tetapi “saling mendahului.” Artinya, semua orang layak dihormati, karena semua adalah ciptaan Tuhan.

4. Kebutuhan Dasar Manusia: Merasa Berharga
Seorang pakar kepemimpinan, John C. Maxwell, mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan untuk merasa dirinya berharga dan penting.

Ini adalah kebenaran yang sangat nyata. Setiap orang ingin dihargai. Tidak peduli usia, status, atau latar belakang, semua orang ingin merasa bahwa hidupnya berarti.

Sayangnya, banyak orang hidup dengan luka karena merasa tidak dihargai:
•    Anak yang tidak pernah dipuji orang tuanya 
•    Suami atau istri yang tidak diperhatikan pasangannya 
•    Anggota jemaat yang merasa diabaikan 

Dan sering kali, luka-luka ini bukan karena kekurangan materi, tetapi karena kekurangan penghargaan.

Di sinilah peran kita sebagai umat Tuhan menjadi sangat penting. Kita dipanggil untuk menjadi saluran penghargaan itu.

Kadang, hal sederhana seperti ucapan terima kasih, senyuman, atau perhatian kecil bisa mengubah hari seseorang.

5. Mengapa Kita Sulit Menghormati?
Jika menghormati begitu penting, mengapa kita sering gagal melakukannya?
Ada beberapa alasan:
•    Ego yang tinggi 
•    Perasaan lebih baik dari orang lain 
•    Luka masa lalu 
•    Kebiasaan meremehkan 

Kita mungkin tidak sadar, tetapi sikap-sikap ini bisa muncul dalam bentuk:
•    Mengkritik tanpa membangun 
•    Mengabaikan pendapat orang lain 
•    Tidak menghargai pelayanan orang lain 
•    Membanding-bandingkan 
Hal-hal ini perlahan merusak hubungan dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat.

6. Belajar dari Kristus
Jika kita ingin belajar tentang menghormati, kita harus melihat kepada Kristus. Yesus, yang adalah Tuhan, justru merendahkan diri-Nya. Ia melayani, bukan dilayani. Ia menghargai orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat.

Ia berbicara dengan penuh kasih, bahkan kepada orang berdosa. Ia tidak merendahkan, tetapi mengangkat.

Ini adalah teladan yang luar biasa. Jika Yesus saja menghormati manusia, bagaimana mungkin kita merendahkan sesama?

7. Membangun Budaya Respek
Saudara-saudari, gereja yang sehat adalah gereja yang penuh dengan respek.
Bayangkan sebuah komunitas di mana:
•    Setiap orang merasa diterima 
•    Setiap pelayanan dihargai 
•    Setiap suara didengar 
•    Setiap perbedaan dihormati 
Itulah gambaran gereja yang Tuhan kehendaki.

Budaya seperti ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ia harus dibangun, dimulai dari setiap individu.

Mulailah dari hal kecil:
•    Sapa orang dengan ramah 
•    Dengarkan dengan sungguh-sungguh 
•    Hargai usaha orang lain 
•    Jangan mudah menghakimi 
Ketika setiap orang melakukan ini, maka suasana akan berubah.

8. Dampak dari Saling Menghormati
Ketika kita saling menghormati, banyak hal baik akan terjadi:
•    Relasi menjadi lebih kuat 
•    Konflik berkurang 
•    Pelayanan menjadi lebih efektif 
•    Gereja menjadi tempat yang nyaman 
Lebih dari itu, kita menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia.

Dunia yang penuh dengan persaingan dan egoisme membutuhkan contoh nyata tentang kasih dan penghargaan. Dan gereja dipanggil untuk menjadi contoh itu.

9. Tantangan bagi Kita
Firman Tuhan hari ini bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dilakukan. Pertanyaannya:
•    Siapa yang perlu kita hargai hari ini? 
•    Siapa yang mungkin selama ini kita abaikan? 
•    Sikap apa yang perlu kita ubah? 


Mungkin ada orang di sekitar kita yang menunggu dihargai. Mungkin ada orang yang merasa tidak dianggap. Kita bisa menjadi jawaban bagi mereka.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, membangun respek bukanlah hal besar yang spektakuler, tetapi tindakan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Mengasihi sebagai saudara.
Mendahului dalam memberi hormat.
Menghargai setiap pribadi sebagai ciptaan Tuhan.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Jangan tunggu orang lain berubah. Jadilah orang pertama yang memberi hormat.

Karena ketika kita menghormati orang lain, kita sedang mencerminkan kasih Kristus. Dan di situlah gereja menjadi keluarga yang sejati—keluarga yang penuh kasih, penuh hormat, dan penuh kemuliaan Tuhan. Amin.


Doa : Tuhan yang penuh kasih, ajar kami saling mengasihi sebagai saudara dan mendahului dalam memberi hormat. Jauhkan kami dari kesombongan dan sikap meremehkan. Penuhi hati kami dengan kerendahan dan penghargaan bagi sesama. Pakailah kami membangun persekutuan yang hangat dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB