Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 27 April 2026, Bacaan I Kisah Para Rasul II:1-18,  Bacaan Injil Yohanes 10:11-18

Fandy Gerungan • Jumat, 24 April 2026 | 14:43 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Paskah IV (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I Kisah Para Rasul II:1-18

Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.

Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.

Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."

Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:

"Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.

Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.

Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!

Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.

Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!

Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.

Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.

Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,

dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.

Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.

Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.

Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.

Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 42:2-3;43:3,4

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"

Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!

Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!

Bacaan Injil Yohanes 10:11-18

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari yang terkasih, dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita secara tidak sadar membangun batas-batas terhadap orang lain. Perbedaan latar belakang, kebiasaan, atau cara pandang membuat kita mudah menilai dan mengelompokkan. 

Siapa yang kita terima dan siapa yang kita jauhi. Sikap ini kerap muncul bukan karena kebencian, melainkan karena kebiasaan dan rasa nyaman terhadap yang serupa dengan kita.

Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk melihat bahwa karya Allah tidak dibatasi oleh cara pandang manusia. Apa yang selama ini dianggap tidak layak, justru diterima oleh Allah. 

Ia menunjukkan bahwa kasih-Nya melampaui batas-batas yang dibuat oleh manusia. Ketika hal ini disadari, hati yang semula tertutup perlahan menjadi terbuka, dan penolakan berubah menjadi pujian kepada Allah.

Dalam Injil, kita diperlihatkan gambaran tentang seorang gembala yang sungguh peduli terhadap domba-dombanya. Ia tidak meninggalkan mereka dalam bahaya, melainkan tetap setia menjaga, bahkan rela berkorban. 

Gembala ini tidak hanya memperhatikan satu kelompok saja, tetapi juga merangkul domba-domba lain agar menjadi satu kesatuan. Di sini tampak jelas bahwa kasih Allah bersifat menyatukan, bukan memisahkan.

Dari permenungan ini, kita diajak untuk merefleksikan sikap hidup kita. Apakah kita masih membatasi kasih hanya kepada orang-orang tertentu?. Apakah kita masih menyimpan prasangka terhadap mereka yang berbeda dari kita?.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani kasih yang terbuka dan tanpa syarat. Kita diajak untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman, menerima sesama tanpa membeda-bedakan, serta menghadirkan damai dalam perbedaan.

Semoga kita semakin mampu melihat sesama dengan cara pandang Allah, yaitu dengan kasih yang tulus dan hati yang terbuka. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi bagian dari kawanan-Nya, tetapi juga turut ambil bagian dalam menghadirkan kasih-Nya di tengah dunia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan