Pekan Paskah IV (Warna Liturgi Merah)
Bacaan I Kisah Para Rasul II:1-18
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.
Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.
Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."
Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:
"Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.
Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!
Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!
Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.
Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.
Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,
dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.
Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 42:2-3;43:3,4
Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!
Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!
Bacaan Injil Yohanes 10:11-18
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.
Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku
sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.
Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Salve Sahabat Muda Katolik!, kita sering dihadapkan pada berbagai perbedaan. Perbedaan pergaulan, cara berpikir, latar belakang, bahkan cara menjalani iman.
Tidak jarang, tanpa disadari, kita menjadi pribadi yang mudah menilai dan membatasi: merasa lebih nyaman dengan kelompok sendiri dan cenderung menjauh dari yang berbeda.
Melalui permenungan hari ini, kita diajak untuk menyadari bahwa kasih Allah tidak pernah dibatasi oleh cara pandang manusia. Ia menjangkau semua orang, termasuk mereka yang mungkin selama ini dianggap berbeda atau tidak sejalan.
Ketika manusia mulai memahami hal ini, hati yang semula sempit perlahan menjadi terbuka, dan sikap yang awalnya menolak berubah menjadi penerimaan.
Di sisi lain, kita juga diingatkan akan sosok gembala sejati. Ia bukan hanya hadir saat segala sesuatu berjalan baik, tetapi tetap setia ketika situasi menjadi sulit.
Ia tidak meninggalkan, tidak menghindar, melainkan bertahan dan menjaga dengan penuh tanggung jawab. Kasih yang ditunjukkan bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang rela berkorban.
Bagi orang muda, teladan ini menjadi sangat relevan. Di tengah dunia yang sering mengajarkan untuk mencari kenyamanan diri sendiri, kita justru dipanggil untuk memiliki hati yang peduli dan berani keluar dari zona nyaman.
Kita diajak untuk tidak mudah menghakimi, tetapi belajar memahami. Tidak menutup diri, tetapi berani merangkul. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan sesama.
Pertanyaannya bagi kita saat ini adalah: apakah kita sudah memiliki hati yang terbuka bagi semua orang?. Apakah kita mampu tetap setia berbuat baik, bahkan ketika itu tidak mudah?.
Menjadi orang muda Katolik berarti berani hidup dengan nilai yang berbeda. Bukan mengikuti arus yang memisahkan, tetapi menjadi pribadi yang menghadirkan persatuan. Bukan membangun tembok, tetapi menjadi jembatan bagi sesama.
Semoga melalui permenungan ini, kita semakin mampu menumbuhkan hati yang penuh kasih, setia dalam kebaikan, dan berani menjadi terang di tengah dunia. (*)
Editor : Fandy Gerungan