Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Jumat, 1 Mei 2026,  Kolose 3:12-13  Mengampuni Seperti Kristus

Alfianne Lumantow • Kamis, 30 April 2026 | 16:48 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Kolose 3:12-13
TEMA: MENGAMPUNI SEPERTI KRISTUS

“…dan ampunilah seorang akan yang lain…, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian.” (ay.13)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Salah satu hal tersulit dalam kehidupan manusia adalah mengampuni. Tidak sedikit orang yang mampu tersenyum di luar, tetapi di dalam hatinya menyimpan luka yang belum sembuh.

Ada kepahitan yang dipendam, ada kekecewaan yang tidak pernah dilepaskan, bahkan ada dendam yang terus dipelihara. Luka itu mungkin berasal dari kata-kata yang menyakitkan, pengkhianatan, ketidakadilan, atau perlakuan yang tidak pantas.
Dalam kondisi seperti itu, mengampuni sering terasa tidak masuk akal. Mengapa kita harus mengampuni orang yang jelas-jelas bersalah? 

Mengapa kita harus melepaskan sesuatu yang begitu menyakitkan? Bukankah lebih mudah membalas atau setidaknya menyimpan rasa sakit itu sebagai bentuk “keadilan”?

Namun firman Tuhan hari ini membawa kita kepada standar yang berbeda. Paulus berkata: “Ampunilah seorang akan yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu.” Ini bukan sekadar nasihat, tetapi sebuah panggilan hidup bagi setiap orang percaya.

Saudara-saudari, Dalam KBBI, kata “mengampuni” berarti memberi ampun, memaafkan kesalahan orang lain, atau membebaskan dari hukuman atau tuntutan. 

Secara rohani, mengampuni berarti melepaskan hak kita untuk membalas dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. 

Ini bukan berarti kita melupakan begitu saja apa yang terjadi, tetapi kita memilih untuk tidak membiarkan luka itu menguasai hidup kita.

Mengampuni adalah tindakan yang lahir dari keputusan, bukan dari perasaan. Perasaan kita mungkin masih terluka, tetapi kita memilih untuk taat kepada Tuhan.

Yesus sendiri memberi teladan yang luar biasa. Ketika Ia disalibkan, dalam penderitaan yang luar biasa, Ia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Di saat orang lain mungkin akan mengutuk, Yesus justru mengampuni. Di situlah standar Kristus.

Saudara-saudari, Melalui bacaan kita, Paulus menegaskan bahwa mengampuni merupakan bagian dari identitas orang percaya. Ia memulai dengan mengatakan bahwa kita adalah “orang-orang pilihan Allah, yang dikuduskan dan dikasihi.” Artinya, kita mengampuni bukan supaya kita dikasihi Tuhan, tetapi karena kita sudah lebih dahulu dikasihi.

Kita mengampuni bukan untuk mendapatkan keselamatan, tetapi karena kita sudah menerima keselamatan.
    
Seringkali kita lupa satu hal penting: kita sendiri adalah orang-orang yang telah diampuni. Dosa kita di hadapan Tuhan jauh lebih besar daripada kesalahan orang lain terhadap kita. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita seturut dosa kita. Ia mengampuni, memulihkan, dan memberikan hidup yang baru.

Ketika kita menyadari betapa besar pengampunan Tuhan dalam hidup kita, seharusnya hati kita digerakkan untuk mengampuni orang lain.

Paulus berkata: “Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Ini adalah ukuran pengampunan kita.

Saudara-saudari, Masalahnya, kita sering mengampuni dengan syarat. Kita berkata: “Saya akan mengampuni kalau dia minta maaf.” Atau: “Saya akan mengampuni kalau dia berubah.” Bahkan ada yang berkata: “Saya tidak bisa mengampuni karena dia terlalu menyakiti saya.”

Namun firman Tuhan tidak mengatakan demikian. Firman Tuhan tidak berkata: “Ampunilah kalau dia layak.” Tetapi: “Ampunilah seperti Tuhan telah mengampuni kamu.” Tuhan mengampuni kita bukan karena kita layak, tetapi karena kasih-Nya. Inilah tantangan terbesar dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Saudara-saudari, Mengampuni tidak berarti menyangkal rasa sakit. Tuhan tidak pernah meminta kita untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Luka tetap luka. Rasa sakit tetap nyata. Tetapi mengampuni berarti kita tidak membiarkan luka itu berubah menjadi akar kepahitan.

Jika kita tidak mengampuni, luka itu akan terus hidup dalam diri kita. Ia akan mempengaruhi pikiran kita, emosi kita, bahkan hubungan kita dengan orang lain. Kita menjadi mudah marah, sulit percaya, dan kehilangan damai sejahtera.

Sebaliknya, ketika kita mengampuni, kita sedang membuka pintu bagi pemulihan. Mengampuni adalah jalan menuju kebebasan.

Saudara-saudari, Paulus juga menekankan bahwa kita harus mengampuni dengan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.” Ini adalah karakter Kristus yang harus kita kenakan.

Mengampuni tanpa belas kasihan akan terasa berat. Mengampuni tanpa kesabaran akan mudah gagal. Mengampuni tanpa kerendahan hati akan selalu disertai keinginan untuk membenarkan diri.

Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus. Kita tidak bisa mengampuni dengan kekuatan sendiri. Hanya dengan anugerah Tuhan, kita dimampukan untuk melakukan hal yang tampaknya mustahil ini.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Mari kita melihat lebih dalam: mengapa kita harus mengampuni? 

Pertama, karena itu adalah perintah Tuhan. Mengampuni bukan pilihan, tetapi kewajiban rohani.

Kedua, karena kita sendiri telah diampuni. Tidak ada alasan bagi kita untuk menahan pengampunan jika kita telah menerima pengampunan yang begitu besar dari Tuhan.

Ketiga, karena pengampunan membawa pemulihan. Ketika kita mengampuni, hati kita dipulihkan, relasi disembuhkan, dan damai sejahtera Kristus memenuhi hidup kita.

Keempat, karena pengampunan memuliakan Tuhan. Dunia mungkin mengajarkan balas dendam, tetapi ketika kita mengampuni, kita menunjukkan kasih Kristus kepada dunia.

Saudara-saudari, Namun kita juga harus jujur bahwa mengampuni adalah proses. Ada luka yang dalam yang tidak bisa sembuh dalam satu hari. Ada pengalaman pahit yang membutuhkan waktu untuk dipulihkan.

Tidak apa-apa jika proses itu memakan waktu. Yang penting adalah kita memiliki hati yang mau mengampuni.

Mulailah dengan doa. Bawalah luka itu kepada Tuhan. Katakan kepada Tuhan apa yang kita rasakan. Minta kekuatan untuk mengampuni. Dan perlahan-lahan, biarkan Tuhan bekerja dalam hati kita.

Jangan menunggu perasaan kita berubah baru kita mengampuni. Justru dengan mengampuni, perasaan kita akan dipulihkan.

Saudara-saudari, Seringkali kita berpikir bahwa dengan tidak mengampuni, kita sedang menghukum orang lain. Padahal sebenarnya, kita sedang menghukum diri sendiri. Kita terikat oleh kepahitan, kita kehilangan sukacita, dan kita menjauh dari damai sejahtera Tuhan.

Pengampunan bukan terutama untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri. Ketika kita mengampuni, kita dibebaskan.

Saudara-saudari yang terkasih, Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melakukan evaluasi diri. Apakah ada orang dalam hidup kita yang belum kita ampuni? Apakah ada luka yang masih kita simpan?

Mungkin itu orang tua, pasangan, teman, rekan kerja, atau bahkan seseorang dari masa lalu. Nama itu mungkin langsung muncul dalam pikiran kita saat ini.

Firman Tuhan berkata: ampunilah. Bukan karena mereka layak, tetapi karena kita telah lebih dahulu diampuni. Bukan karena mudah, tetapi karena itu benar. Bukan karena kita kuat, tetapi karena Tuhan memberi kekuatan.

Saudara-saudari, Bayangkan jika setiap kita hidup dalam pengampunan. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi kepahitan, tidak ada lagi luka yang disimpan. Betapa indahnya kehidupan bersama yang dipenuhi kasih dan damai sejahtera. Inilah kehidupan yang Tuhan kehendaki bagi kita.

Kiranya kita semua belajar untuk mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita. Biarlah kasih-Nya mengalir dalam hidup kita, sehingga kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Mari kita mengenakan belas kasihan, kesabaran, dan pengampunan dalam setiap aspek hidup kita. Dan biarlah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami. Lembutkan hati kami, hilangkan kepahitan, dan penuhi dengan kasih-Mu. Mampukan kami hidup dalam damai dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB