Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Minggu, 3 Mei 2026, Kidung Agung 5:2-6  Penyesalan Saat Terlambat Menyambut Kristus

Alfianne Lumantow • Kamis, 30 April 2026 | 17:06 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Kidung Agung 5:2-6
TEMA: PENYESALAN SAAT TERLAMBAT MENYAMBUT KRISTUS

“Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.” (ay.6d)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada satu kenyataan hidup yang tidak bisa kita hindari: waktu tidak pernah kembali. Apa yang sudah lewat tidak bisa diulang. Kesempatan yang terlewat tidak selalu datang kembali dengan cara yang sama.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Benjamin Franklin, “Waktu yang hilang tidak akan pernah ditemukan kembali.” Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung kebenaran yang sangat dalam.

Seringkali kita baru menyadari nilai sebuah kesempatan ketika kesempatan itu sudah lewat. Kita menyesal, tetapi penyesalan tidak mampu mengubah keadaan. Kita ingin memperbaiki, tetapi waktu tidak bisa diputar kembali.

Saudara-saudari, Teks Kidung Agung 5:2-6 menggambarkan sebuah kisah yang sederhana namun penuh makna rohani. Di dalamnya kita melihat seorang mempelai perempuan yang mendengar ketukan kekasihnya di pintu. Kekasihnya datang, memanggil dengan penuh kasih, ingin berjumpa dan membangun relasi. Namun respons dari mempelai perempuan itu justru lambat.

Ia tidak langsung membuka pintu. Ia menunda. Ia mempertimbangkan kenyamanan dirinya. Ia berkata dalam hatinya, “Aku telah menanggalkan pakaianku, bagaimana aku akan memakainya lagi? Aku telah membasuh kakiku, bagaimana aku akan mengotorkannya lagi?” (ay.3).

Alasan yang diberikan tampak masuk akal. Ia sedang beristirahat. Ia sudah nyaman. Ia tidak ingin direpotkan.

Namun di balik alasan itu, ada satu sikap hati yang keliru: mengutamakan kenyamanan diri daripada relasi.

Saudara-saudari, Berapa sering kita seperti mempelai perempuan itu? Tuhan mengetuk pintu hati kita—melalui firman-Nya, melalui suara hati, melalui keadaan hidup, bahkan melalui orang lain—tetapi kita menunda untuk merespons.

Bukan karena kita menolak Tuhan secara terang-terangan, tetapi karena kita merasa belum saatnya. Kita berkata, “Nanti saja.”
“Nanti kalau saya sudah tidak sibuk.”
“Nanti kalau keadaan saya sudah lebih baik.”
“Nanti kalau saya sudah siap.”
Kita tidak berkata “tidak” kepada Tuhan, tetapi kita menunda berkata “ya.”

Saudara-saudari, Penundaan seringkali terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Dalam kisah ini, ketika akhirnya mempelai perempuan itu sadar dan bangkit untuk membuka pintu, sudah terlambat. Kekasihnya telah pergi.

Ia mulai mencari, tetapi tidak menemukan. Ia memanggil, tetapi tidak mendapat jawaban. Inilah gambaran penyesalan. Bukan karena tidak ada kesempatan sama sekali, tetapi karena kesempatan itu tidak dimanfaatkan pada waktunya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kisah ini mengingatkan kita pada perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan bodoh dalam Injil Matius 25:1-13. Ada yang siap menyambut mempelai laki-laki, tetapi ada juga yang tidak siap. Ketika saat itu tiba, pintu tertutup, dan kesempatan tidak lagi terbuka.

Ini bukan sekadar cerita, tetapi peringatan rohani bagi kita semua. Tuhan adalah Pribadi yang aktif. Ia tidak diam. Ia datang, mengetuk, dan memanggil. Ia ingin membangun relasi dengan kita. Ia ingin kita hidup dekat dengan-Nya.

Kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa Tuhan tidak pasif. Ia mencari kita, bahkan ketika kita menjauh. Ia mengetuk pintu hati kita, bahkan ketika kita sibuk dengan dunia kita sendiri. Namun pertanyaannya: apakah kita merespons?

Saudara-saudari, Seringkali kita terlalu sibuk dengan urusan pribadi. Kita terjebak dalam rutinitas. Kita mengejar pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan berbagai hal lainnya. Semua itu tidak salah, tetapi bisa menjadi penghalang jika kita tidak berhati-hati.

Kita menjadi lelah secara rohani. Kita kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan. Kita tidak lagi peka ketika Tuhan mengetuk. Yang lebih berbahaya, kita merasa nyaman dengan kondisi itu.

Kita tidak merasa sedang menjauh dari Tuhan, tetapi sebenarnya kita sedang mengabaikan-Nya secara halus.

Saudara-saudari, Mengabaikan Tuhan tidak selalu berarti menolak-Nya secara terang-terangan. Kadang itu terjadi dalam bentuk yang lebih halus: kita tidak berdoa, kita tidak membaca firman, kita tidak melayani, kita menunda pertobatan, kita menunda melakukan kebaikan.

Semua itu tampak kecil, tetapi jika terus dilakukan, hati kita menjadi tumpul. Dan ketika kita akhirnya sadar, kita bisa mengalami penyesalan.

Saudara-saudari yang terkasih, Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: jangan menunda merespons panggilan Tuhan.

Ketika Tuhan memanggil kita untuk bertobat, lakukanlah sekarang.
Ketika Tuhan mendorong kita untuk mengampuni, lakukanlah sekarang.
Ketika Tuhan memberi kesempatan untuk melayani, lakukanlah sekarang.
Ketika Tuhan menggerakkan hati kita untuk berubah, jangan ditunda.

Mengapa? Karena kita tidak tahu sampai kapan kesempatan itu ada. Hati yang lambat merespons kasih Allah akan menanggung penyesalan.

Saudara-saudari, Ada banyak orang yang berkata, “Nanti saya akan sungguh-sungguh ikut Tuhan.” Tetapi “nanti” seringkali tidak pernah menjadi “sekarang.”

Ada yang berkata, “Nanti saya akan memperbaiki hidup saya.” Tetapi waktu terus berjalan. Ada yang berkata, “Nanti saya akan berdamai.” Tetapi kesempatan itu bisa hilang.

Saudara-saudari, Kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan adalah anugerah. Kesempatan untuk merespons kasih-Nya adalah karunia. Jangan sia-siakan.

Tuhan tidak pernah memaksa, tetapi Ia mengundang. Ia mengetuk, tetapi Ia menunggu respons kita. Jika kita terus menunda, kita berisiko kehilangan momen berharga dalam hidup rohani kita.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Namun ada kabar baik. Selama kita masih hidup, selama kita masih mendengar firman Tuhan hari ini, itu berarti kesempatan masih ada. Tuhan masih mengetuk. Tuhan masih memanggil. Tuhan masih memberi kesempatan. Pertanyaannya: apakah kita mau membuka pintu?

Saudara-saudari, Menyambut Kristus bukan hanya berarti menerima-Nya sebagai Juruselamat, tetapi juga menjadikan-Nya sebagai pusat hidup kita. Ia bukan hanya bagian dari hidup kita, tetapi harus menjadi yang utama. Ia bukan hanya hadir saat kita butuh, tetapi harus memimpin setiap aspek hidup kita.

Ketika Kristus menjadi pusat hidup kita, kita akan lebih peka terhadap suara-Nya. Kita tidak akan menunda ketika Ia memanggil. Kita akan belajar untuk berkata, “Ya Tuhan, sekarang.”

Saudara-saudari, Mari kita belajar dari kesalahan mempelai perempuan dalam teks ini. Jangan menunggu sampai terlambat. Jangan menunggu sampai penyesalan datang. 

Bukalah pintu hati kita sekarang. Sambutlah Kristus dengan segera. Hiduplah dalam relasi yang dekat dengan-Nya.

Saudara-saudari yang terkasih, Hari ini Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita. Mungkin melalui firman ini, Tuhan sedang berbicara secara pribadi kepada kita.

Mungkin ada hal yang Tuhan ingin kita ubah.
Mungkin ada dosa yang harus kita tinggalkan.
Mungkin ada hubungan yang harus kita perbaiki.
Mungkin ada pelayanan yang harus kita jalani.

Jangan tunda. Karena waktu tidak menunggu. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Dan penyesalan tidak pernah menyenangkan.

Saudara-saudari, Mari kita merespons Tuhan dengan segera. Katakan dalam hati kita: “Tuhan, aku membuka pintu hatiku. Aku tidak mau menunda lagi.” Biarlah hidup kita menjadi hidup yang peka, tanggap, dan siap menyambut kehadiran Tuhan setiap saat. 

Kiranya kita tidak menjadi orang yang menyesal karena terlambat, tetapi menjadi orang yang bersukacita karena setia merespons panggilan Tuhan tepat pada waktunya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ampuni kami yang sering menunda merespons panggilan-Mu. Lembutkan hati kami agar peka dan taat tanpa menunda. Mampukan kami membuka hati dan hidup dekat dengan-Mu setiap waktu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan bersyukur. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB