Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 7 Mei 2026, Bacaan I Kisah Para Rasul 15:7-21, Bacaan Injil Yohanes 15:9-11

Fandy Gerungan • Rabu, 6 Mei 2026 | 15:11 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Paskah Ke V (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kisah Para Rasul 15:7-21

Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.

Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita,

dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.

Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?

Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."

Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain.

Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku:

Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya.

Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis:

Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,

supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,

yang telah diketahui dari sejak semula.

Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,

tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.

Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 96:1-2a.2b-3.10

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.

Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran."

Bacaan Injil Yohanes 15:9-11

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i renungan hari ini mengajak kita melihat satu hal yang sering terjadi dalam hidup beriman: perbedaan. Perbedaan cara berpikir, perbedaan kebiasaan, bahkan perbedaan latar belakang. 

Dalam kisah Gereja perdana, muncul perdebatan yang cukup serius. Ada yang ingin iman dijalani dengan aturan yang berat, ada juga yang melihat bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang lebih luas dan penuh kasih.

Di tengah situasi itu, para rasul mulai menyadari sesuatu yang sangat penting: Tuhan tidak melihat manusia berdasarkan label atau asal-usulnya, tetapi melihat hati. 

Tuhan berkarya dalam diri siapa saja yang membuka diri, tanpa membeda-bedakan. Ini menjadi titik balik besar bahwa iman bukan soal beban aturan, tetapi soal relasi dengan Tuhan yang hidup.

Sering kali, tanpa sadar kita juga seperti itu. Kita mudah menghakimi, memberi standar tinggi kepada orang lain, atau merasa diri lebih benar. Padahal, kita sendiri pun sering tidak mampu menjalani semuanya dengan sempurna. 

Tuhan justru datang bukan untuk menambah beban, tetapi untuk mengangkat dan memulihkan. Di sinilah Injil hari ini menjadi sangat dalam maknanya. Yesus mengajak kita untuk tinggal dalam kasih. 

Bukan sekadar memahami ajaran, tetapi hidup di dalam kasih itu sendiri. Kasih yang bukan menghakimi, tetapi menerima. Kasih yang bukan mempersulit, tetapi menguatkan.

Menariknya, ketika seseorang benar-benar hidup dalam kasih Tuhan, hasilnya bukan tekanan atau ketakutan, melainkan sukacita. Sukacita yang tidak tergantung pada keadaan, tetapi muncul dari dalam hati karena merasa dicintai dan diterima.

Bagi orang muda, ini adalah pesan yang sangat relevan. Di tengah dunia yang penuh tuntutan, standar sosial, dan tekanan untuk “terlihat sempurna”, Tuhan justru berkata: tinggallah dalam kasih-Ku. Artinya, jadilah dirimu yang bertumbuh dalam kasih, bukan dalam ketakutan atau pembuktian diri.

Iman bukan tentang siapa yang paling benar atau paling suci, tetapi tentang siapa yang mau terus belajar mengasihi lebih tulus, lebih rendah hati, dan lebih terbuka.

Hari ini kita diajak bertanya dalam hati, Apakah aku menjalani iman sebagai beban atau sebagai relasi kasih yang memberi sukacita?.

Semoga kita tidak menjadi orang yang mempersulit jalan orang lain untuk datang kepada Tuhan, tetapi justru menjadi jembatan kasih yang memudahkan siapa pun merasakan kehadiran-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan