Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Upus Ni Mama GMIM 10-16 Mei 2026, 1 Korintus 1:18-2:5 Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia, Tetapi Pada Kekuatan Allah

Aprilia Sahari • Kamis, 7 Mei 2026 | 10:09 WIB
LOGO WKI GMIM
LOGO WKI GMIM

Upus Ni Mama GMIM 10-16 Mei 2026

Bacaan Alkitab: 1 Korintus 1:18-2:5
Tema: "Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia, Tetapi Pada Kekuatan Allah"

Wanita/Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 
Firman Tuhan hari ini membawa kita pada satu pertanyaan yang sangat mendasar: Di mana iman kita berdiri? 

Paulus berkata dalam 1 Korintus 2:5, "Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah." 

Itulah yang menjadi tema ibadah kita saat ini.

Tema yang diangkat berdasarkan bacaan Alkitab dalam I Korintus 1:18-2:5. 

Adapun kota Korintus pada zaman Paulus adalah kota yang maju, ramai, penuh perdagangan dan budaya. 

Orang-orang di sana bangga dengan kepintaran, retorika, dan filsafat. 

Mirip dengan keadaan kita sekarang. 

Ibu-ibu GMIM hari ini tersebar di desa-desa, di kota-kota yang semakin modern, bahkan di luar negeri.

Ada yang bekerja sebagai guru, dokter perawat, dosen atau pekerja rumah tangga.

Dunia berubah cepat. 

Media sosial, teknologi, gaya hidup, dan tekanan ekonomi membentuk cara berpikir manusia. 

Di tengah semua itu, pertanyaannya: Apakah sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan, atau kemampuan manusia?

Paulus berkata, "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." 

Salib bukan lambang kemenangan yang megah. 

Salib adalah lambang penderitaan, kelemahan, bahkan kehinaan.

Tetapi justru di situlah Allah bekerja. 

Wanita/ Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 
Banyak dari kita hidup dalam pergumulan yang tidak ringan. 

Ada yang bergumul dengan ekonomi keluarga. 

Ada yang suaminya jauh bekerja. 

Ada yang mendidik anak sendirian. 

Ada yang bekerja di negeri orang, menahan rindu, bahkan mungkin diperlakukan tidak adil. 

Dalam keadaan seperti itu, kadang kita bertanya: Tuhan, di mana Engkau? 

Firman ini mengingatkan: kuasa Allah tidak selalu tampil dalam kemegahan. 

Kuasa Allah sering bekerja dalam kelemahan. 

Paulus sendiri berkata dalam 2:3, "Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar." 

Bahkan rasul besar itu pun merasa lemah.

Tetapi Ia bersandar pada Roh Kudus. 

Wanita/ Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 
Dunia hari ini mengajarkan bahwa keberhasilan diukur dari: Jabatan, uang, popularitas, pendidikan tinggi.

Tidak salah untuk belajar dan bekerja keras. 

Tetapi kalau iman kita bergantung pada semua itu, iman kita akan goyah, bahkan ketika semua itu hilang.

Ketika ekonomi sulit, apakah iman kita runtuh? 

Ketika anak-anak tidak sesuai harapan, apakah kita kehilangan pengharapan? 

Ketika kesehatan terganggu, apakah kita mulai menyalahkan Tuhan?

Paulus menegaskan bahwa Allah memilih yang lemah, yang hina, yang tidak terpandang.

Mengapa? Supaya tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. 

Artinya, keselamatan dan kekuatan hidup kita bukan hasil kepintaran kita, tetapi anugerah Allah. 

Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, 
Dalam minggu ini kita juga mengingat terangkatnya Tuhan Yesus ke Sorga. 

Yesus yang disalibkan, yang tampak kalah, justru ditinggikan oleh Allah. 

Ini bukan tanda bahwa Ia meninggalkan kita, tetapi bahwa Ia berkuasa dan memerintah.

Yesus terangkat ke sorga bukan sebagai Raja yang jauh, tetapi sebagai Tuhan yang memerintah atas hidup kita.

Artinya: kehidupan ibu-ibu sekalian tidak pernah lepas dari pengawasan dan kuasa-Nya. 

Mungkin ibu merasa kecil. 

Mungkin ibu merasa tidak dihargai.

Mungkin ibu merasa hanya "ibu rumah tangga biasa."

Tetapi di mata Tuhan, ibu-ibu adalah bagian dari karya keselamatan-Nya.

Doa ibu, air mata ibu, kesetiaan ibu membesarkan anak-anak dalam takut akan Tuhan itu adalah pelayanan yang besar.

Dalam ayat 30 dikatakan bahwa oleh Allah kita berada dalam Kristus Yesus. 

Kristus menjadi hikmat, membenarkan, menguduskan, dan menebus kita. 

Iman yang bergantung pada hikmat manusia akan berkata: "Saya bisa kalau situasi mendukung." 

Iman yang bergantung pada kekuatan Allah berkata: "Sekalipun situasi sulit, Tuhan tetap sanggup." 

Wanita/ Kaum lbu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Di desa, mungkin tantangan adalah keterbatasan ekonomi. 

Di kota, tantangan adalah gaya hidup dan kompetisi. 

Di luar negeri, tantangan adalah kesepian dan tekanan kerja. 

Tetapi di semua tempat itu, kuasa Allah sama. 

Roh Kudus yang bekerja di Korintus juga bekerja di mana pun. 

Paulus tidak mengandalkan kata-kata yang meyakinkan secara manusia. 

Ia mengandalkan kuasa Roh (2:4).

Begitu juga kita. 

Jangan biarkan iman kita hanya merupakan warisan dan tradisi. 

Jangan biarkan iman kita hanya ikut-ikutan.

Iman yang sejati lahir dari perjumpaan dengan kuasa Allah.

Dan ketika Yesus naik ke sorga, Ia tidak meninggalkan murid-murid-Nya sendirian. 

Ia menjanjikan Roh Kudus. Itu berarti: ibu-ibu tidak pernah berjalan sendiri. 

Mungkin orang tidak melihat perjuangan ibu-ibu. 

Tetapi Tuhan melihat. 

Mungkin dunia tidak menghargai pengorbanan ibu-ibu. 

Tetapi Tuhan menghitung setiap air mata. 

Karena itu, mari kita periksa hati kita hari ini: Apakah iman saya bergantung pada Tuhan, atau pada situasi?

Apakah saya percaya Tuhan hanya ketika semuanya baik-baik saja? 

Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk berdiri teguh di atas satu dasar: kuasa Allah. 

Dan ketika iman kita berdiri di atas kuasa Allah, kita tidak mudah goyah. 

Kita tetap setia. 

Kita tetap berharap. 

Kita tetap melayani. 

Kiranya ibu-ibu, boleh berkata seperti Paulus: Iman kami tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Amin. 

Pertanyaan untuk Diskusi:
1. Dalam realitas hidup ibu-ibu saat ini, situasi apa yang paling sering membuat kita lebih mengandalkan kemampuan sendiri daripada bersandar pada kekuatan Allah? Bagaimana kita belajar menyerahkan pergumulan itu kepada Tuhan? 
2. Apa arti praktis dari "iman yang bergantung pada kekuatan Allah" dalam peran kita sebagai ibu — dalam mendidik anak, mendampingi suami, bekerja, atau menghadapi tekanan ekonomi dan sosial? Langkah konkret apa yang bisa kita lakukan minggu ini untuk memperkuat ketergantungan kita kepada Tuhan?

Baca Juga: MTPJ GMIM 10-16 Mei 2026, 1 Korintus 1:18-2:5 Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia, Tetapi Pada Kekuatan Allah

Editor : Aprilia Sahari
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #Renungan GMIM