Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Kamis, 7 Mei 2026, Kidung Agung 8:1-2  Kebangkitan Yesus Mengajak Berbagi Kebaikan

Alfianne Lumantow • Kamis, 7 Mei 2026 | 19:21 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Kidung Agung 8:1-2
TEMA : KEBANGKITAN YESUS MENGAJAK BERBAGI KEBAIKAN

"Akan kutuntun engkau dan kubawa ke rumah ibuku, ia yang telah mengajar aku. Akan kuberi engkau minum anggur yang harum, sari buah delimaku" (ay.2)

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Seorang ilmuwan besar dunia, Albert Einstein, pernah berkata, “Nilai seseorang dilihat dari apa yang dia berikan, bukan dari apa yang dia terima.” Pernyataan ini sederhana, tetapi sangat dalam. 

Nilai hidup seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ia mengumpulkan, melainkan dari seberapa besar ia membagikan dirinya bagi orang lain. Dalam terang iman Kristen, hal ini sejalan dengan panggilan kita sebagai orang percaya: hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi menjadi berkat.

Nas dari Kidung Agung 8:1-2 yang kita baca hari ini memang sering dipahami sebagai ungkapan cinta antara dua insan. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada makna spiritual yang sangat kaya. 

Mempelai perempuan dalam teks ini mengungkapkan kerinduannya yang mendalam untuk bertemu dengan kekasihnya. Ia berkata, “Seandainya…” – sebuah kata yang menggambarkan kerinduan yang belum terpenuhi, tetapi sangat kuat dan nyata dalam hati.

Kerinduan ini bukan sekadar perasaan emosional biasa. Ini adalah gambaran dari relasi yang intim, relasi yang penuh kasih, relasi yang mendorong seseorang untuk memberi yang terbaik. 

Ketika ia membayangkan perjumpaan itu, ia tidak berpikir tentang apa yang akan ia terima, tetapi tentang apa yang akan ia berikan: anggur yang harum, sari buah delimanya. Ini adalah simbol dari pemberian yang terbaik, yang lahir dari kasih yang tulus.

Saudara-saudari, Di sinilah kita melihat bahwa kasih sejati selalu mendorong seseorang untuk memberi. Kasih yang dewasa tidak egois, tidak berpusat pada diri sendiri. Kasih yang dewasa justru mencari cara untuk memberkati orang lain. Dan kasih seperti ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari proses, dari pembelajaran, dari pengalaman hidup bersama Tuhan.

Dalam ayat 2 dikatakan bahwa sang perempuan membawa kekasihnya ke rumah ibunya, “ia yang telah mengajar aku.” Ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengasihi dan memberi tidak datang secara instan. 

Ada peran keluarga, ada peran pendidikan, ada proses pembentukan karakter. Sang ibu menjadi simbol dari tempat di mana nilai-nilai kehidupan ditanamkan: kasih, pengorbanan, ketulusan.

Artinya, tindakan berbagi kebaikan bukan sekadar tindakan spontan, tetapi merupakan buah dari karakter yang telah dibentuk. Dan dalam kehidupan iman kita, pembentukan karakter itu terjadi melalui relasi yang intim dengan Allah.

Saudara-saudari, Di sinilah tema kita hari ini menjadi sangat penting: Kebangkitan Yesus mengajak kita berbagi kebaikan.
Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya peristiwa sejarah. Kebangkitan adalah sumber kehidupan baru. 

Kebangkitan adalah bukti bahwa kasih Allah mengalahkan dosa dan maut. Kebangkitan adalah dasar dari iman kita, tetapi lebih dari itu, kebangkitan adalah kekuatan yang menggerakkan kita untuk hidup berbeda.

Orang yang sungguh-sungguh mengalami kuasa kebangkitan tidak akan hidup egois. Ia tidak akan hanya memikirkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia akan terdorong untuk membagikan kasih yang telah ia terima.

Rasul Paulus dalam 2 Korintus 9:9 mengingatkan bahwa orang benar adalah orang yang memberi dengan murah hati. Bahkan dalam 1 Timotius 6:18, kita diajak untuk “berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” Ini bukan sekadar perintah moral, tetapi respons iman terhadap kasih Allah yang telah kita terima.

Saudara-saudari, Sering kali kita berpikir bahwa berbagi kebaikan harus dimulai dari hal-hal besar. Kita menunggu punya banyak uang, punya waktu luang, atau punya posisi tertentu. Padahal, berbagi kebaikan dimulai dari hal-hal kecil, dari hati yang mau.

Berbagi kebaikan bisa dimulai dari keluarga:
•    Mendengarkan dengan tulus 
•    Mengampuni tanpa syarat 
•    Menolong tanpa diminta 

Berbagi kebaikan juga terjadi di dalam gereja:
•    Melayani dengan setia 
•    Menguatkan yang lemah 
•    Mendoakan satu sama lain 

Dan tentu saja, di tengah masyarakat:
•    Peduli pada yang membutuhkan 
•    Menjadi pembawa damai 
•    Menjadi terang di tengah kegelapan 
Semua ini adalah wujud nyata dari iman kita. Iman yang tidak hanya diucapkan, tetapi dilakukan.

Saudara-saudari, Kidung Agung mengajarkan kepada kita bahwa kasih yang sejati selalu menghasilkan tindakan. Mempelai perempuan itu tidak hanya merasakan cinta, tetapi ia juga ingin mengekspresikannya dalam bentuk pemberian. 

Demikian juga kita, jika kita sungguh mengasihi Tuhan, maka kasih itu harus nyata dalam hidup kita sehari-hari.

Namun, kita perlu berhati-hati. Berbagi kebaikan yang sejati tidak boleh dilakukan untuk mencari pujian atau pengakuan. Yesus sendiri mengajarkan agar tangan kiri tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan. Artinya, kebaikan yang kita lakukan harus lahir dari ketulusan, bukan dari keinginan untuk dilihat orang.

Di sinilah pentingnya relasi intim dengan Allah. Tanpa relasi yang dekat dengan Tuhan, tindakan kita bisa kehilangan makna. Kita bisa saja melakukan banyak hal baik, tetapi tanpa kasih yang sejati, semuanya menjadi kosong.

Saudara-saudari, Mari kita kembali pada kebangkitan Kristus. Kebangkitan adalah bukti bahwa Allah lebih dulu mengasihi kita. Ia memberikan yang terbaik, bahkan Anak-Nya sendiri, untuk keselamatan kita. 

Jika Allah sudah memberi begitu besar kepada kita, bagaimana mungkin kita menahan diri untuk tidak memberi kepada sesama?

Kita memberi bukan karena kita mampu, tetapi karena kita telah menerima. Kita berbagi bukan karena kita kaya, tetapi karena kita telah diperkaya oleh kasih Tuhan. Inilah inti dari kehidupan Kristen: menerima kasih, lalu membagikannya.

Saudara-saudari, Hari ini kita diajak untuk merenung:
•    Apakah hidup kita sudah menjadi berkat bagi orang lain? 
•    Apakah kita masih hidup berpusat pada diri sendiri? 
•    Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengalami kuasa kebangkitan Kristus? 
Jika belum, inilah saatnya kita berubah.

Mari kita belajar dari mempelai perempuan dalam Kidung Agung:
•    Memiliki kerinduan yang dalam akan relasi 
•    Menghargai proses pembentukan hidup 
•    Mengekspresikan kasih dalam tindakan nyata 

Dan yang terpenting, mari kita hidup dalam relasi yang intim dengan Allah. Karena dari situlah sumber segala kebaikan mengalir.

Saudara-saudari yang terkasih, Dunia saat ini sangat membutuhkan orang-orang yang mau berbagi kebaikan. Dunia penuh dengan egoisme, kebencian, dan kepedulian yang semakin menipis. 

Tetapi kita dipanggil untuk menjadi berbeda. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Kita dipanggil untuk menunjukkan kasih Kristus melalui hidup kita.

Jangan tunggu waktu yang sempurna. Jangan tunggu kondisi yang ideal. Mulailah hari ini. Mulailah dari hal kecil. Mulailah dari diri sendiri.

Karena setiap tindakan kebaikan, sekecil apa pun, adalah kesaksian tentang kasih Tuhan yang hidup di dalam kita.

Akhirnya, marilah kita mengingat bahwa hidup kita memiliki nilai bukan dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan. Dan ketika kita memberi, kita sedang mencerminkan Kristus yang telah lebih dulu memberi hidup-Nya bagi kita.

Kiranya melalui kebangkitan-Nya, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih, bertumbuh dalam iman, dan setia berbagi kebaikan kepada semua orang. Amin.

Doa : Tuhan Yesus yang bangkit, terima kasih atas kasih-Mu yang memulihkan hidup kami. Mampukan kami hidup dalam relasi yang intim dengan-Mu dan setia berbagi kebaikan kepada sesama. Jadikan kami alat kasih-Mu di keluarga, gereja, dan masyarakat. Dalam nama-Mu kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB