Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Minggu, 10 Mei 2026, Wahyu 1:1-8  Aku Dan Alam Disayang Tuhan

Alfianne Lumantow • Kamis, 7 Mei 2026 | 19:30 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Wahyu 1:1-8
TEMA: AKU DAN ALAM DISAYANG TUHAN
“Tuhan menjaga kehidupan kita dan kita pun menjaga ciptaan-Nya”

Sobat muda yang terkasih dalam Tuhan, Kita hidup di zaman yang penuh dengan kemajuan. Teknologi berkembang pesat, informasi begitu cepat, dan gaya hidup semakin modern. 

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: kondisi alam yang semakin rusak. Hutan ditebang, laut tercemar, udara tidak lagi bersih, dan bumi perlahan-lahan kehilangan keindahannya.

Pertanyaannya sederhana: di mana posisi kita sebagai orang muda Kristen dalam situasi ini? Apakah kita hanya menjadi penonton?
Ataukah kita mengambil bagian sebagai penjaga ciptaan Tuhan?

Firman Tuhan hari ini dalam Wahyu 1:1-8 mengingatkan kita tentang siapa Tuhan itu, dan siapa kita di hadapan-Nya. Yohanes membuka kitab ini dengan sebuah kesaksian tentang Yesus Kristus—Dia yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa oleh darah-Nya. Ini adalah dasar dari iman kita: kasih.

Sobat muda, Kasih Tuhan itu bukan hanya untuk menyelamatkan manusia, tetapi juga untuk memulihkan seluruh ciptaan. Kebangkitan Yesus yang kita rayakan dalam Paskah bukan hanya kemenangan atas maut, tetapi juga tanda bahwa Tuhan sedang memperbarui segala sesuatu—termasuk alam semesta.

Seringkali kita memahami keselamatan hanya secara pribadi: “Yesus menyelamatkan saya.” Itu benar, tetapi belum lengkap. Keselamatan dalam Kristus juga bersifat kosmik—menjangkau seluruh ciptaan. Artinya, hubungan kita dengan alam juga dipulihkan oleh kasih Tuhan.

Dalam ayat 8, Tuhan berkata: “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”

Ini adalah pernyataan yang sangat kuat. Tuhan adalah awal dan akhir dari segala sesuatu. Dunia ini bukan milik manusia. Alam ini bukan milik kita. Semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Kalau begitu, siapa kita? Kita adalah pengelola, bukan pemilik. Kita adalah penjaga, bukan penguasa. 

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, Di sinilah kita perlu jujur melihat diri kita. Banyak dari kita menikmati alam, tetapi tidak semua dari kita menjaganya. 

Kita suka pergi ke pantai, gunung, atau tempat wisata alam, tetapi seringkali meninggalkan sampah. Kita menikmati udara segar, tetapi tidak peduli dengan polusi yang kita hasilkan.

Kadang kita berpikir, “Ah, itu bukan tanggung jawab saya.”
Atau, “Saya cuma satu orang, apa pengaruhnya?”

Tetapi justru di situlah masalahnya. Ketika semua orang berpikir seperti itu, maka tidak ada yang benar-benar peduli.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kasih kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab terhadap ciptaan-Nya. Jika kita mengasihi Tuhan, maka kita juga harus mengasihi apa yang Tuhan ciptakan.

Sobat muda, Mari kita lihat kembali ayat 5:
“Bagi Dia, yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.”

Kasih ini bukan kasih biasa. Ini adalah kasih yang berkorban. Yesus memberikan diri-Nya untuk kita. Ia tidak hanya berkata “Aku mengasihi kamu,” tetapi Ia membuktikannya melalui tindakan.

Pertanyaannya: bagaimana kita merespons kasih itu?
Apakah kita hanya menikmatinya?
Ataukah kita juga mengambil bagian dalam karya kasih itu?
Salah satu bentuk nyata dari respons kita adalah dengan menjaga ciptaan Tuhan.

Mengapa ini penting?
Karena kerusakan alam bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah iman. Ketika kita merusak alam, kita sedang merusak apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Ketika kita tidak peduli, kita sedang mengabaikan tanggung jawab yang Tuhan berikan.

Sobat muda yang terkasih, Sebagai generasi muda, kita memiliki peran yang sangat penting. Kita adalah generasi yang akan mewarisi bumi ini. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan bagaimana kondisi dunia di masa depan.

Karena itu, kita dipanggil untuk menjadi generasi yang berbeda—generasi yang peduli, generasi yang bertanggung jawab, dan generasi yang berani bersuara.

Bagaimana caranya?
Pertama, mulai dari hal kecil.
Jangan remehkan hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, atau menjaga kebersihan lingkungan. Hal kecil yang dilakukan dengan konsisten bisa membawa perubahan besar.

Kedua, hidup dengan kesadaran.
Setiap tindakan kita berdampak pada lingkungan. Cara kita menggunakan air, listrik, dan sumber daya lainnya mencerminkan apakah kita menghargai ciptaan Tuhan atau tidak.

Ketiga, berani menjadi contoh.
Jangan takut untuk berbeda. Ketika orang lain tidak peduli, kita tetap peduli. Ketika orang lain merusak, kita memilih menjaga. Hidup kita bisa menjadi kesaksian yang nyata.

Keempat, menyuarakan keadilan ekologis.
Sebagai orang muda, kita punya suara. Gunakan itu untuk hal yang benar. Ajak teman, keluarga, dan komunitas untuk peduli terhadap lingkungan. Jangan diam ketika melihat kerusakan.

Sobat muda, Menjadi Kristen bukan hanya soal ibadah di gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup setiap hari. Iman kita harus terlihat dalam tindakan nyata, termasuk dalam cara kita memperlakukan alam.

Bayangkan jika setiap pemuda Kristen benar-benar peduli terhadap lingkungan. Bayangkan jika kita semua hidup dengan kesadaran bahwa bumi ini adalah titipan Tuhan. Dunia ini pasti akan menjadi tempat yang lebih baik.

Saudara-saudari, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mengasihi. Ia mengasihi kita, dan Ia juga mengasihi ciptaan-Nya. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari kasih itu—menjaga, merawat, dan memulihkan.

Jangan tunggu sampai semuanya terlambat. Jangan tunggu sampai kerusakan semakin parah. Mulailah dari sekarang.

Mulailah dari diri sendiri.
Mulailah dari hal kecil.
Mulailah dengan kesadaran bahwa kita dikasihi Tuhan—dan karena itu, kita juga mengasihi ciptaan-Nya.

Akhirnya, sobat muda, Ingatlah bahwa kita tidak berjalan sendiri. Tuhan yang adalah Alfa dan Omega menyertai kita. Ia memberi kita kekuatan, hikmat, dan keberanian untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Mari kita menjadi pemuda/i yang bukan hanya percaya kepada Tuhan, tetapi juga bertanggung jawab atas ciptaan-Nya.

Karena ketika Tuhan menjaga kehidupan kita,
maka kita pun dipanggil untuk menjaga ciptaan-Nya. Amin.

Doa : Tuhan Pencipta yang penuh kasih, kami bersyukur atas hidup dan alam yang Engkau percayakan. Ajarlah kami menjadi pemuda yang peduli, menjaga, dan merawat ciptaan-Mu dengan setia. Bangkitkan kesadaran dan tanggung jawab dalam diri kami, agar hidup kami memuliakan-Mu melalui tindakan nyata. Sertai langkah kami selalu. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB