Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Obor GMIM Jumat 15 Mei 2026, 1 Korintus 1:26-31 Memilih Jalan Yang Susah

Aprilia Sahari • Jumat, 8 Mei 2026 | 12:38 WIB
Obor Pemuda GMIM
Obor Pemuda GMIM

Obor GMIM Jumat 15 Mei 2026

1 Korintus 1:26-31

(26) Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. 
(27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, 
(28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, 
(29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 
(30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. 
(31) Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."

Sobat Obor, Paulus sadar tentang konsekuensi mengikut Yesus dengan setia. 

Dalam bagian bacaan kita hari ini, ia dengan jelas mengatakan bahwa injil itu, injil yang benar itu, injil tentang salib Kristus itu, adalah kebodohan bagi yang satu dan batu sandungan bagi yang lain. 

Ia sadar bahwa memberitakan Yesus yang disalibkan tidaklah mudah. 

Sulit diterima oleh orang yang berlatar belakang Yahudi dan Yunani.

Akan lebih mudah memberitakan Yesus, Sang Tabib, atau Yesus, sang Raja dari pada memberitakan tentang Yesus yang tersalibkan.

Secara sosial, mati disalib adalah hinaan. 

Secara religius, mati disalib adalah kutukan.

Tapi mengapa Paulus tetap memilih jalan yang susah? 

Sobat obor, kita malah salah kalau kemudian kita memberitakan injil yang disukai orang, injil yang sesuai dengan selera penerima. 

Mari kita ambil contoh ibadah. 

Ibadah bukan tentang apa yang kita inginkan. 

Bukan mengenai selera kita. 

Tapi ibadah berkaitan dengan apa yang semestinya kita lakukan sebagai seorang yang menghamba. 

Bukan ibadah yang kita laksanakan harus menyesuaikan dengan selera kita, bukankah selera kita belum tentu sama dengan selera orang lain. 

Mari kita bayangkan ratusan orang beribadah dan semua orang itu ingin beribadah sesuai dengan selera masing-masing. 

Kitalah yang menyesuaikan dengan ibadah yang dilaksanakan. 

Bukankah ibadah berasal dari bahasa ibrani "abodah" yang berarti menghamba kepada Allah. 

Hidup kita adalah ibadah. 

Sebuah kebaikan berubah menjadi kebaktian dan sepanjang pekan tiap hari menjadi hari ibadah. 

Apalagi hari minggu; minggu berasal dari bahasa portugal "Dominggo" atau "Dominggus", artinya hari milik Tuhan. 

Kembali pada bahasan diawal berkaitan dengan pemberitaan injil. 

Bukan tentang kita, bukan untuk memegahkan diri. 

Bukan supaya kita tidak susah, gampang. 

Bukan supaya kita dipuji, tapi untuk Tuhan. 

Tapi semuanya tentang Tuhan dan apa yang dikehendaki-Nya.

Dunia melihat rupa dan latar belakang, tapi tidak dengan Tuhan Kita. ayat 26-31 memberikan gambaran tentang apa yang Allah lakukan seringkali berbeda dengan apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh dunia. Amin 

Baca Juga: Obor GMIM 10-16 Mei 2026, 1 Korintus 1:18-2:5 Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia, Tetapi Pada Kekuatan Allah

Baca Juga: MTPJ GMIM 10-16 Mei 2026, 1 Korintus 1:18-2:5 Iman Kamu Jangan Bergantung Pada Hikmat Manusia, Tetapi Pada Kekuatan Allah

Baca Juga: RHK GMIM Jumat 15 Mei 2026, 1 Korintus 1:28-31 Agar Tak Seorang Pun Memegahkan Diri

Editor : Aprilia Sahari
#Pemuda GMIM #Obor GMIM Jumat 15 Mei 2026 #Obor GMIM #GMIM #Renungan GMIM