Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik Hari Jumat 15 Mei 2026, Bacaan I  Kisah Para Rasul 18:9-18, Bacaan Injil Yohanes 16:20-23a

Fandy Gerungan • Rabu, 13 Mei 2026 | 15:28 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Paskah Ke VI (Warna Liturgi Putih)
 
Bacaan I Kisah Para Rasul 18:9-18

Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.”

Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka. Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan. Kata mereka: “Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.”

Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: “Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu, tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian.”

Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan. Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.

Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mzm. 47:2-3, 4-5, 6-7

Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita, Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya.

Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran!

Bacaan Injil Yohanes 16:20-23a

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada momen dalam hidup ketika kita ingin menyerah. Kita merasa sendiri, ditolak, bahkan mungkin disalahpahami saat berusaha melakukan yang benar. Situasi seperti inilah yang juga dialami oleh Paulus. 

Ia tidak hanya menghadapi penolakan, tetapi juga ancaman, tuduhan, dan tekanan dari banyak pihak. Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang membuatnya tetap berdiri: keyakinan bahwa Tuhan menyertainya.

Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan. Dan sering kali, itu sudah lebih dari cukup. Paulus tetap tinggal, tetap melayani, tetap setia bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia tahu ia tidak berjalan sendirian.

Injil hari ini membawa kita lebih dalam lagi. Yesus mengingatkan bahwa kesedihan itu nyata. Tangisan, kehilangan, kekecewaan semua itu bagian dari perjalanan hidup manusia. 

Tapi Ia juga memberi harapan yang sangat kuat: dukacita tidak akan menjadi akhir cerita. Akan ada titik balik. Akan ada sukacita yang lahir, bahkan dari rasa sakit yang paling dalam.

Yesus memberikan gambaran yang sangat manusiawi: seorang ibu yang harus melewati rasa sakit sebelum akhirnya mengalami sukacita saat melihat kehidupan baru. 

Ini bukan sekadar perumpamaan, tapi sebuah kebenaran hidup bahwa sering kali, pertumbuhan dan kebahagiaan lahir dari proses yang tidak nyaman.

Buat kita, khususnya orang muda, pesan ini sangat relevan. Kadang kita merasa gagal, tidak dihargai, atau tidak dimengerti. Kita berusaha jadi baik, tapi justru disalahartikan. 

Kita ingin maju, tapi terasa seperti selalu terhambat. Di titik itu, kita mulai bertanya: “Tuhan, di mana Engkau?”. Jawabannya sederhana, tapi dalam: Tuhan ada di sana, bahkan di saat kita tidak merasakannya. 

Ia bekerja dalam diam. Ia menguatkan dalam cara yang sering tidak kita sadari. Dan yang paling penting, Ia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang kita bayangkan.

Sukacita yang Tuhan janjikan bukan sukacita sementara. Itu bukan sekadar perasaan senang sesaat, tetapi damai yang dalam yang tidak bisa dirampas oleh keadaan, orang lain, atau kegagalan hidup.

Jadi hari ini, kalau kamu sedang berada dalam fase “dukacita”, jangan buru-buru menyerah. Mungkin kamu sedang berada di proses “melahirkan” sesuatu yang baru dalam hidupmu iman yang lebih kuat, karakter yang lebih matang, atau masa depan yang lebih indah.

Percayalah, cerita hidupmu belum selesai. Tuhan masih bekerja. Dan pada waktunya, kamu akan melihat bahwa semua air mata itu tidak sia-sia karena Tuhan mengubahnya menjadi sukacita yang tidak tergoyahkan. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan