Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 1:12-14
Tema: SEHATI DALAM DOA
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama, dengan beberapa perempuan serta Maria ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus.” (Kisah Para Rasul 1:14)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga adalah salah satu peristiwa penting dalam iman Kristen. Kenaikan-Nya bukan sekadar perpisahan antara Yesus dan murid-murid-Nya, tetapi merupakan tanda bahwa karya keselamatan telah diselesaikan dengan sempurna. Tuhan Yesus datang ke dunia, hidup, mati, bangkit, dan naik ke surga untuk menyatakan kasih Allah yang sempurna bagi manusia.
Kenaikan Tuhan Yesus juga memberikan pengharapan bagi kita. Ia sendiri berkata bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal, dan Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Ini berarti hidup kita tidak berhenti di dunia ini. Ada kehidupan kekal yang disediakan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Namun, di balik peristiwa besar itu, ada satu hal penting yang sering kali kita lewatkan, yaitu respons para murid setelah Yesus naik ke surga.
Alkitab mencatat bahwa setelah menyaksikan kenaikan Tuhan, para murid kembali ke Yerusalem. Mereka tidak langsung menyebar untuk melakukan pelayanan. Mereka tidak langsung membuat rencana besar. Mereka tidak bertindak sendiri-sendiri. Yang mereka lakukan adalah berkumpul bersama.
Mereka masuk ke sebuah ruangan di bagian atas rumah, dan di sanalah mereka bertekun dengan sehati dalam doa.
Saudara-saudara, Inilah gambaran gereja mula-mula. Sebelum mereka menjadi saksi yang luar biasa, sebelum mereka memberitakan Injil ke berbagai tempat, sebelum mujizat terjadi, mereka terlebih dahulu membangun persekutuan dalam doa.
Mereka berdoa bersama. Mereka bertekun. Mereka sehati. Kata “sehati” menunjukkan adanya kesatuan. Mereka tidak terpecah. Mereka tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka tidak membawa kepentingan pribadi masing-masing.
Mereka datang dengan satu tujuan, satu hati, satu kerinduan: menantikan janji Tuhan. Janji itu adalah turunnya Roh Kudus yang akan memberi mereka kuasa.
Saudara-saudara yang terkasih, Dalam kehidupan iman kita hari ini, sering kali kita ingin langsung melihat hasil. Kita ingin pelayanan berkembang. Kita ingin masalah cepat selesai. Kita ingin perubahan terjadi dengan segera.
Tetapi kita sering lupa bahwa kekuatan sejati dalam pelayanan berasal dari Tuhan. Dan salah satu cara utama untuk menerima kekuatan itu adalah melalui doa.
Doa bukan sekadar kewajiban rohani. Doa adalah hubungan dengan Tuhan. Doa adalah tempat kita bersandar, berharap, dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya.
Para murid memahami bahwa tanpa Tuhan, mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka tidak mengandalkan kemampuan sendiri. Mereka tidak mengandalkan pengalaman bersama Yesus saja. Mereka tahu bahwa mereka membutuhkan kuasa dari atas. Karena itu, mereka bertekun dalam doa.
Saudara-saudara, Ada dua hal penting yang dapat kita pelajari dari sikap para murid.
Pertama, ketekunan dalam doa.
Alkitab tidak mengatakan bahwa mereka berdoa sekali saja. Mereka bertekun. Artinya mereka terus-menerus berdoa, tidak menyerah, tidak bosan, tidak putus asa.
Ketekunan dalam doa menunjukkan kesungguhan hati. Kadang kita berdoa hanya ketika butuh. Kadang kita berdoa sebentar saja. Kadang kita mudah menyerah ketika doa belum dijawab.
Namun firman Tuhan mengajarkan kita untuk setia dalam doa.
Doa bukan hanya tentang meminta, tetapi tentang membangun hubungan dengan Tuhan. Semakin kita berdoa, semakin kita mengenal hati Tuhan. Semakin kita berdoa, semakin kita belajar percaya kepada rencana-Nya.
Kedua, kesehatian dalam doa. Para murid tidak hanya berdoa sendiri-sendiri. Mereka berdoa bersama. Mereka sehati. Ini menunjukkan pentingnya persekutuan dalam kehidupan iman.
Iman Kristen bukan iman yang berjalan sendiri. Kita dipanggil untuk hidup dalam kebersamaan. Dalam keluarga, dalam gereja, dalam komunitas, kita saling menguatkan, saling mendukung, dan saling mendoakan.
Ketika kita berdoa bersama, ada kekuatan yang luar biasa. Ada kesatuan hati. Ada kerinduan bersama untuk melihat kehendak Tuhan terjadi.
Saudara-saudara, Kesehatian dalam doa juga berarti kita belajar melepaskan ego pribadi. Dalam kebersamaan, tidak selalu semua keinginan kita terpenuhi. Tidak semua pendapat kita diikuti. Tetapi kita belajar untuk mencari kehendak Tuhan, bukan kehendak diri sendiri.
Di sinilah Roh Kudus bekerja. Ketika ada kesatuan hati, Roh Kudus memiliki ruang untuk memimpin. Ketika ada kebersamaan, Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa.
Itulah sebabnya gereja yang kuat adalah gereja yang berdoa bersama.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa persekutuan doa dimulai dari hal yang sederhana.
Para murid berkumpul di sebuah ruangan. Mereka tidak memiliki gedung besar. Mereka tidak memiliki fasilitas mewah. Tetapi mereka memiliki hati yang rindu kepada Tuhan.
Hari ini, kita sering memiliki banyak fasilitas, tetapi kehilangan semangat untuk berdoa. Kita sibuk dengan aktivitas, tetapi kurang waktu untuk bersekutu dengan Tuhan.
Padahal kekuatan gereja tidak terletak pada besar kecilnya gedung, tetapi pada kehidupan doa umatnya. Demikian juga dalam keluarga. Keluarga adalah tempat pertama di mana persekutuan doa harus dibangun.
Ketika keluarga berdoa bersama, ada kehadiran Tuhan di dalamnya. Ada damai, ada kekuatan, ada pengharapan. Orang tua dan anak-anak yang berdoa bersama akan mengalami pertumbuhan iman yang nyata.
Saudara-saudara, Sebagai gereja Tuhan, kita dipanggil untuk melanjutkan pelayanan di dunia. Kita dipanggil menjadi saksi Kristus. Kita dipanggil menghadirkan kasih Tuhan di tengah masyarakat. Namun semua itu tidak dapat dilakukan dengan kekuatan sendiri.
Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus. Dan untuk itu, kita perlu membangun kehidupan doa yang sungguh-sungguh. Bukan hanya doa pribadi, tetapi juga doa bersama. Doa dalam keluarga. Doa dalam persekutuan. Doa dalam gereja.
Sebab di dalam doa, kita dipersatukan. Di dalam doa, kita dikuatkan. Di dalam doa, kita dipimpin oleh Tuhan.
Saudara-saudara yang terkasih, Kehidupan saat ini penuh dengan tantangan. Perbedaan sering menimbulkan perpecahan. Kepentingan pribadi sering mengalahkan kebersamaan. Ego sering merusak hubungan.
Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk kembali kepada dasar yang benar: hidup dalam kesehatian dan doa.
Ketika kita sehati, kita dapat berjalan bersama. Ketika kita berdoa, kita melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kita. Dan ketika kita hidup dalam kesehatian dan doa, Roh Kudus akan bekerja memimpin kita melakukan kehendak Tuhan.
Akhirnya, marilah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah memiliki kehidupan doa yang tekun? Apakah kita membangun persekutuan dalam doa bersama keluarga dan gereja?
Apakah kita mau merendahkan hati untuk hidup dalam kesehatian dengan sesama?
Kiranya firman Tuhan hari ini menggerakkan hati kita untuk kembali membangun kehidupan doa yang sungguh-sungguh. Menjadi umat yang tidak hanya sibuk dalam aktivitas, tetapi juga setia dalam doa.
Sebab melalui doa, Tuhan bekerja.
Melalui doa, Tuhan menguatkan.
Melalui doa, Tuhan memimpin kehidupan kita.
Kiranya kita menjadi umat yang sehati dalam doa, sehingga Roh Kudus memimpin kita untuk terus setia dalam panggilan sebagai anak-anak Tuhan. Amin.
Doa : Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami hidup sehati dalam doa, setia membangun persekutuan dalam keluarga dan gereja. Mampukan kami merendahkan hati, menjaga kesatuan, dan memberi ruang bagi Roh Kudus bekerja dalam hidup kami, agar kami setia melakukan kehendak-Mu. Amin.
Editor : Clavel Lukas