Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Senin, 18 Mei 2026,  Wahyu 12:7-9  Diutus Menghadirkan Damai Sejahtera

Alfianne Lumantow • Kamis, 14 Mei 2026 | 13:47 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Wahyu 11:19
Tema: KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN

“Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu…” (ay.19)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di dunia yang tidak selalu mudah. Dunia yang kita jalani hari demi hari sering kali dipenuhi dengan pergumulan, tekanan, penderitaan, dan ketidakpastian. Kita menyaksikan ketidakadilan, mengalami kegagalan, menghadapi sakit penyakit, dan bergumul dalam relasi keluarga. 

Tidak jarang, dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: Di manakah kemuliaan Tuhan? Mengapa Tuhan seakan diam? Mengapa doa-doa kita belum dijawab? Mengapa pertolongan Tuhan terasa begitu jauh?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda kelemahan iman, melainkan bagian dari perjalanan iman itu sendiri. Bahkan orang-orang percaya sejak dahulu pun bergumul dengan hal yang sama. Namun melalui firman Tuhan hari ini, kita diajak untuk melihat satu kebenaran yang sangat penting: kemuliaan Tuhan tidak pernah hilang, bahkan justru dinyatakan di tengah kekacauan hidup manusia.

Dalam Wahyu 11:19, Yohanes melihat suatu penglihatan yang luar biasa: “terbukalah Bait Suci Allah di sorga.” Ini adalah gambaran yang penuh makna. Dalam tradisi Perjanjian Lama, Bait Suci adalah tempat yang sangat kudus. 

Tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Bahkan bagian terdalam, yaitu ruang maha kudus, hanya bisa dimasuki oleh imam besar setahun sekali. Ada batas, ada jarak antara manusia dan Tuhan.

Namun dalam penglihatan Yohanes, Bait Suci itu terbuka. Ini adalah tanda bahwa tidak ada lagi penghalang antara Tuhan dan umat-Nya. Tuhan tidak tersembunyi. Tuhan tidak jauh. Tuhan tidak menutup diri dari manusia. Justru sebaliknya, Ia menyatakan diri-Nya dengan terbuka.

Ini menjadi kabar pengharapan bagi kita semua. Ketika kita merasa Tuhan jauh, firman ini mengingatkan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah menjauh. Yang sering terjadi adalah kita yang merasa tertutup oleh situasi, oleh masalah, oleh ketakutan, sehingga kita tidak mampu melihat kehadiran-Nya.

Saudara-saudara, Selanjutnya dikatakan bahwa terlihatlah tabut perjanjian di dalam Bait Suci itu. Tabut perjanjian adalah simbol kehadiran Tuhan dan kesetiaan-Nya terhadap janji-Nya. Di dalam tabut itu tersimpan hukum Tuhan, tongkat Harun, dan manna—semua itu berbicara tentang pemeliharaan, pimpinan, dan kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya.

Ketika Yohanes melihat tabut perjanjian itu, ini menjadi tanda bahwa janji Tuhan tidak pernah berubah. Di tengah penderitaan, janji itu tetap ada. Di tengah kesulitan, janji itu tetap berlaku. Di tengah ketidakpastian hidup, Tuhan tetap setia.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang bergumul dengan masalah keluarga. Ada yang sedang menghadapi tekanan ekonomi. Ada yang berjuang melawan sakit penyakit. Ada yang merasa lelah karena doa-doanya seakan tidak dijawab. Firman Tuhan hari ini mengingatkan: perjanjian Tuhan tidak pernah dibatalkan oleh keadaan.

Tuhan tidak berkata bahwa hidup kita akan selalu mudah. Tetapi Tuhan berjanji bahwa Ia akan menyertai. Ia berjanji untuk memelihara. Ia berjanji untuk tidak meninggalkan umat-Nya.

Lebih lanjut, dalam ayat ini juga digambarkan adanya kilat, bunyi guruh, gempa bumi, dan hujan es. Semua ini adalah tanda-tanda kedahsyatan kuasa Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Tuhan bukanlah sesuatu yang lemah atau tersembunyi, tetapi sesuatu yang penuh kuasa dan nyata.

Sering kali kita mengharapkan kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam cara yang kita inginkan: doa langsung dijawab, masalah langsung selesai, sakit langsung sembuh. Namun Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Kadang-kadang Ia menyatakan kemuliaan-Nya bukan dengan menghilangkan masalah, tetapi dengan memberi kekuatan untuk melewati masalah itu.

Kemuliaan Tuhan dinyatakan bukan hanya dalam mujizat besar, tetapi juga dalam hal-hal sederhana:
•    ketika kita masih diberi kekuatan untuk bangkit setiap pagi, 
•    ketika kita masih memiliki harapan di tengah keputusasaan, 
•    ketika kita masih bisa mengasihi walaupun disakiti, 
•    ketika kita tetap percaya walaupun belum melihat. 

Saudara-saudara yang terkasih, Hari Minggu Pemuliaan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Raja yang mulia. Kemuliaan-Nya tidak tergantung pada keadaan dunia. Bahkan ketika Ia disalibkan, yang secara manusia tampak sebagai kekalahan, justru di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan secara sempurna.

Salib bukan akhir, tetapi awal dari kemenangan. Penderitaan bukan akhir cerita, tetapi bagian dari proses menuju kemuliaan.

Karena itu, kita dipanggil untuk memiliki iman yang teguh. Iman bukan berarti kita tidak pernah takut atau ragu, tetapi iman berarti kita tetap percaya di tengah ketakutan dan keraguan itu.

Iman berarti kita tetap melangkah walaupun jalan di depan belum jelas.
Iman berarti kita tetap berdoa walaupun belum melihat jawaban.
Iman berarti kita tetap memuliakan Tuhan walaupun keadaan belum berubah.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat hidup dari perspektif yang berbeda. Jangan hanya melihat apa yang tampak, tetapi percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar kehidupan kita.

Mungkin hari ini hidup kita terasa gelap. Namun ingatlah bahwa gelap tidak pernah bisa mengalahkan terang. Sekecil apa pun terang itu, ia tetap mengusir kegelapan.

Demikian juga dengan kasih Tuhan. Di tengah gelap hidup kita, selalu ada terang kasih Tuhan yang menyinari. Mungkin kita tidak selalu merasakannya, tetapi itu tidak berarti terang itu tidak ada.

Saudara-saudara, Apa yang harus kita lakukan sebagai respon terhadap firman Tuhan ini?
Pertama, jangan menyerah. Jangan biarkan keadaan membuat kita kehilangan pengharapan. Tuhan belum selesai bekerja dalam hidup kita.

Kedua, tetap percaya pada janji Tuhan. Pegang teguh firman-Nya. Jangan ukur kesetiaan Tuhan dari situasi, tetapi ukurlah dari firman-Nya yang tidak pernah berubah.

Ketiga, terus memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan bukan hanya saat kita diberkati, tetapi juga saat kita sedang berjuang. Bahkan dalam kesulitan, kita tetap bisa berkata: “Tuhan, Engkau tetap baik.”

Keempat, hidup sebagai saksi kemuliaan Tuhan. Biarlah orang lain melihat bahwa di tengah pergumulan, kita tetap memiliki damai sejahtera. Di tengah masalah, kita tetap memiliki pengharapan. Itulah kesaksian iman yang nyata.

Akhirnya, saudara-saudara, Percayalah bahwa kemuliaan Tuhan tidak pernah jauh dari hidup kita. Ia hadir, Ia bekerja, Ia menyatakan diri-Nya—bahkan di saat kita tidak menyadarinya.

Ketika Bait Suci terbuka, itu berarti Tuhan membuka diri-Nya bagi kita. Ketika tabut perjanjian terlihat, itu berarti Tuhan mengingat janji-Nya kepada kita.

Jadi, jangan takut. Jangan ragu. Jangan putus asa.
Tetaplah berjalan bersama Tuhan. Tetaplah percaya kepada-Nya. Tetaplah memuliakan nama-Nya.

Karena Dia adalah Raja yang mulia, yang memerintah untuk selama-lamanya. Dan kemuliaan-Nya akan terus dinyatakan—di dalam hidup kita, di dalam keluarga kita, dan di dalam dunia ini. Amin.


Doa : Tuhan yang penuh kemuliaan, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Teguhkan iman kami dalam setiap pergumulan. Ajarlah kami tetap percaya pada janji-Mu dan setia memuliakan nama-Mu. Sertai langkah hidup kami, kuatkan hati kami, dan nyatakan kemuliaan-Mu dalam hidup kami. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB