Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Pantekosta Selasa 19 Mei 2026, Wahyu Pasal 9-10 Tetap Teguh di Tengah Bunyi Sangkakala

Deiby Rotinsulu • Selasa, 19 Mei 2026 | 13:40 WIB
Gereja Pantekosta di Indonesia
Gereja Pantekosta di Indonesia

 

Pembacaan Firman Tuhan: Wahyu 9-10

Kitab Wahyu pasal 9 dan 10 membawa kita melihat penglihatan yang penuh dengan tanda-tanda penghakiman Allah, bunyi sangkakala, penderitaan manusia, dan juga pengharapan bagi umat Tuhan.

Di tengah suasana yang menegangkan, Tuhan tetap menunjukkan bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu dan masih memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat.

Dalam Wahyu pasal 9, Yohanes melihat sangkakala kelima dan keenam dibunyikan. Ketika sangkakala berbunyi, muncul berbagai malapetaka yang menggambarkan dahsyatnya akibat dosa manusia.

Namun yang sangat menyedihkan adalah bahwa sekalipun manusia mengalami penderitaan, banyak yang tetap tidak mau bertobat dari dosa-dosa mereka.

Firman Tuhan berkata:

“Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka-malapetaka ini, juga tidak bertobat dari perbuatan tangan mereka…”

Pasal ini mengingatkan kita bahwa hati manusia bisa menjadi keras ketika terus hidup jauh dari Tuhan. Mujizat, peringatan, bahkan penderitaan sekalipun tidak selalu membuat seseorang kembali kepada Allah jika hatinya tertutup.

Hari-hari Pentakosta mengingatkan kita tentang pekerjaan Roh Kudus yang melembutkan hati manusia. Roh Kudus datang bukan hanya untuk memberikan kuasa, tetapi juga untuk membawa pertobatan sejati. Karena itu, jangan biarkan hati kita menjadi keras terhadap suara Tuhan. Ketika Roh Kudus menegur, respons terbaik adalah taat dan berubah.

Kemudian dalam Wahyu pasal 10, Yohanes melihat malaikat kuat yang membawa kitab kecil. Yohanes diminta untuk memakan kitab itu. Saat dimakan, kitab itu terasa manis di mulut tetapi pahit di perut. Ini menggambarkan bahwa firman Tuhan memang membawa sukacita, tetapi juga tanggung jawab dan pergumulan dalam menjalankannya.

Sebagai orang percaya, kita senang mendengar janji Tuhan, berkat Tuhan, dan kasih Tuhan. Namun firman juga menuntut ketaatan, pengorbanan, kesabaran, bahkan keberanian untuk tetap setia di tengah dunia yang semakin gelap.

Pentakosta bukan hanya tentang menerima kuasa Roh Kudus, tetapi juga kesiapan untuk dipakai Tuhan menyampaikan kebenaran. Yohanes tetap diperintahkan bernubuat lagi kepada bangsa-bangsa dan banyak orang. Artinya, pekerjaan Tuhan harus terus berjalan sekalipun dunia penuh tantangan.

Hari ini Tuhan rindu agar kita:

  • Memiliki hati yang lembut terhadap teguran Roh Kudus.
  • Tetap setia meskipun dunia semakin sulit.
  • Menjadikan firman Tuhan sebagai pegangan hidup.
  • Berani menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Jangan menunggu sampai hidup diguncang baru mencari Tuhan. Selama masih ada kesempatan, datanglah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.

Doa

“Tuhan, lembutkan hati kami agar peka terhadap suara-Mu. Penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami tetap setia dan berani hidup dalam kebenaran-Mu. Mampukan kami menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang semakin jauh dari Tuhan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.” (*)

 
 
 
Editor : Deiby Rotinsulu
#Selasa 19 Mei 2026 #Wahyu Pasal 9-10 #Tetap Teguh di Tengah Bunyi Sangkakala #Renungan Pantekosta