Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 25 Mei 2026, Bacaan I Kejadian 3:9-5,20, Bacaan Injil Yohanes 19:25-34

Fandy Gerungan • Jumat, 22 Mei 2026 | 10:40 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Perawan Maria Bunda Gereja (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kejadian 3:9-5,20

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"

Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"

Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 87:1-2,3,5,6-7

Mazmur bani Korah: suatu nyanyian. Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:

TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.

Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah. Sela

Tetapi tentang Sion dikatakan: "Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya," dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.

TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana." Sela

Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: "Segala mata airku ada di dalammu."

Bacaan Injil Yohanes 19:25-34

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia?supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci?:"Aku haus!"

Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib?sebab Sabat itu adalah hari yang besar?maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;

tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,

tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sering kali ketika manusia jatuh dalam kesalahan, hal pertama yang muncul bukanlah keberanian untuk mengakuinya, melainkan keinginan untuk bersembunyi. Kita takut diketahui, takut dihakimi, takut kehilangan harga diri. 

Akibatnya, kita mulai mencari alasan dan menyalahkan orang lain. Begitulah yang terjadi sejak awal kehidupan manusia. Dosa membuat manusia menjauh dari Allah, bahkan kehilangan damai di dalam dirinya sendiri.

Namun menariknya, Allah tidak berhenti mencari manusia. Allah datang dan memanggil. Pertanyaan Allah bukan sekadar ingin tahu di mana manusia berada secara fisik, tetapi lebih dalam. 

Di manakah hati manusia saat itu?. Apakah masih dekat dengan-Nya, atau sudah tersesat oleh rasa takut, ego, dan dosa?.

Di tengah kisah kejatuhan itu, Allah justru menanamkan harapan. Kejahatan memang ada, tetapi tidak akan menang selamanya. Akan ada keselamatan yang lahir melalui seorang perempuan yang taat kepada kehendak Allah. Harapan itu akhirnya menjadi nyata ketika Maria berdiri teguh di bawah salib Yesus.

Maria tidak lari dari penderitaan. Ia tetap berdiri, walaupun hatinya hancur melihat Putranya disalibkan. Kesetiaan Maria menjadi gambaran kasih yang tetap bertahan bahkan ketika situasi terasa gelap dan menyakitkan. Di saat banyak orang menjauh, Maria tetap hadir.

Dari kayu salib, Yesus memberikan ibu-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya. Itu bukan hanya tentang hubungan keluarga, tetapi juga tanda bahwa Maria diberikan kepada seluruh Gereja sebagai ibu rohani. Maria memahami luka, air mata, dan penderitaan manusia, sebab ia sendiri pernah mengalaminya.

Kadang kita juga seperti Adam dan Hawa. Saat gagal, kita memilih bersembunyi dari Tuhan. Kita merasa tidak layak datang kepada-Nya karena dosa dan kelemahan kita. 

Tetapi salib Kristus menunjukkan bahwa kasih Allah lebih besar daripada dosa manusia. Dari lambung Yesus yang tertikam mengalir darah dan air, tanda kasih dan kehidupan baru bagi dunia.

Renungan hari ini mengajak kita untuk berhenti lari dari Tuhan. Jangan terus hidup dalam rasa malu dan ketakutan. Tuhan tidak datang untuk menghancurkan kita, melainkan untuk memulihkan. 

Dan seperti Maria yang tetap setia berdiri dekat salib, kita pun diajak tetap percaya bahwa di balik penderitaan selalu ada harapan baru.

Dalam hidup ini mungkin ada luka yang belum sembuh, doa yang belum terjawab, atau kesalahan yang masih menghantui hati. Namun Tuhan tetap memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Ia tidak menunggu kita sempurna terlebih dahulu. Ia hanya ingin kita kembali dan membuka hati.

Semoga kita belajar dari Maria untuk tetap setia dalam keadaan apa pun, dan belajar dari kasih Kristus bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni ketika kita mau kembali kepada-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Paskah #Renungan