Perayaan Wajib St. Perawan Maria Bunda Gereja (Warna Liturgi Putih)
Bacaan I Kejadian 3:9-5,20
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"
Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."
Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 87:1-2,3,5,6-7
Mazmur bani Korah: suatu nyanyian. Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:
TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.
Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah. Sela
Tetapi tentang Sion dikatakan: "Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya," dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana." Sela
Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: "Segala mata airku ada di dalammu."
Bacaan Injil Yohanes 19:25-34
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia?supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci?:"Aku haus!"
Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib?sebab Sabat itu adalah hari yang besar?maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Salve Sahabat Muda Katolik! Di zaman sekarang, banyak orang muda hidup dengan tekanan yang tidak sedikit. Ada tuntutan untuk terlihat sempurna, harus selalu kuat, harus sukses lebih cepat, dan harus diterima oleh lingkungan.
Media sosial sering membuat seseorang merasa bahwa hidup orang lain tampak lebih bahagia dan lebih berhasil. Akibatnya, banyak anak muda mulai menyembunyikan luka, kegagalan, bahkan rasa takutnya sendiri.
Tanpa sadar, kita sering menjadi seperti manusia pertama yang memilih bersembunyi ketika jatuh dalam kesalahan. Kita takut dinilai buruk, takut tidak diterima, dan takut dianggap lemah.
Maka kita mulai memakai “topeng.” Di luar terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam hati penuh kecemasan dan kekosongan. Namun Tuhan tidak pernah berhenti mencari manusia. Tuhan tahu keadaan hati setiap orang muda.
Ketika kita merasa jauh, kecewa, atau tidak layak, Tuhan justru datang mendekat. Ia tidak mencari manusia untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan.
Hal yang menarik dari Injil hari ini adalah kehadiran Maria di bawah salib Yesus. Maria tidak menghindari penderitaan. Ia tetap berdiri, tetap setia, walaupun situasinya sangat menyakitkan.
Kesetiaan Maria menjadi contoh bagi orang muda Katolik zaman sekarang. Dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Ada kegagalan, penolakan, kehilangan, bahkan pengkhianatan dari orang yang dipercaya.
Tetapi iman mengajarkan bahwa bertahan bersama Tuhan jauh lebih penting daripada menyerah pada keadaan. Orang muda sering berpikir bahwa hidup bahagia berarti hidup tanpa masalah.
Padahal kenyataannya, kedewasaan iman justru lahir ketika seseorang tetap percaya di tengah kesulitan. Salib bukan akhir dari segalanya. Dari salib, lahir kasih, pengampunan, dan harapan baru.
Kadang Tuhan juga bekerja melalui luka hidup kita. Pengalaman gagal bisa membuat kita lebih rendah hati. Air mata bisa membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Dan perjuangan hidup dapat membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat.
Renungan ini mengajak orang muda Katolik untuk berhenti berlari dari Tuhan. Tidak perlu pura-pura sempurna di hadapan-Nya. Datanglah apa adanya, dengan segala kelemahan dan pergumulan yang dimiliki.
Tuhan tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam sekejap, tetapi Tuhan ingin kita tetap berjalan bersama-Nya setiap hari. Belajarlah dari Maria yang tetap setia berdiri dekat Yesus. Ketika hidup terasa berat, jangan menjauh dari Tuhan.
Justru di saat itulah kita paling membutuhkan-Nya. Sebab bersama Tuhan, luka tidak menjadi akhir cerita. Tuhan mampu mengubahnya menjadi jalan menuju pertumbuhan, kedewasaan, dan harapan baru. (*)
Editor : Fandy Gerungan