Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Kisah Para Rasul 2:29–40 Untuk P/KB, Roh Kudus Yang Dijanjikan Itu Dicurahkan-Nya

Clavel Lukas • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:17 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Kisah Para Rasul 2:29–40

Tema: “Roh Kudus Yang Dijanjikan Itu Dicurahkan-Nya”

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi dan diberkati Tuhan, sebagai kaum bapak, kita hidup dalam tanggung jawab yang besar. Kita memikul tanggung jawab sebagai suami, ayah, kepala keluarga, pekerja, pelayan Tuhan, anggota jemaat, dan juga bagian dari masyarakat.

Tidak sedikit dari kita yang setiap hari harus berpikir tentang kebutuhan keluarga, pendidikan anak-anak, pekerjaan, pelayanan, kesehatan, keamanan rumah tangga, serta masa depan yang sering kali tidak pasti. 

Banyak kaum bapak terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya menyimpan banyak pergumulan di dalam hati. Ada yang lelah, tetapi tidak banyak bicara. 

Ada yang takut, tetapi tetap berusaha tersenyum. Ada yang sedang bergumul, tetapi memilih diam karena merasa harus tampak kuat di hadapan keluarga.

Dalam keadaan seperti itu, firman Tuhan hari ini datang memberi penguatan yang sangat penting, yaitu bahwa Tuhan tidak membiarkan umat-Nya berjalan sendiri. Tuhan tahu kelemahan manusia.

 Tuhan tahu bahwa para murid tidak akan sanggup melanjutkan pelayanan hanya dengan kekuatan mereka sendiri. Karena itu, setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, Ia mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan.

Roh Kudus itulah yang mengubah orang-orang biasa menjadi saksi Kristus yang berani, mengubah ketakutan menjadi keberanian, mengubah kelemahan menjadi kekuatan, dan mengubah hidup yang lama menjadi hidup yang baru.

Tema kita, “Roh Kudus Yang Dijanjikan Itu Dicurahkan-Nya,” mengingatkan bahwa Allah bukan hanya memberi perintah kepada umat-Nya, tetapi juga memberi kuasa untuk menjalankan perintah itu.

Tuhan tidak hanya memanggil kita menjadi kepala keluarga yang baik, pelayan yang setia, dan saksi Kristus di tengah dunia, tetapi Tuhan juga memberi Roh Kudus supaya kita dimampukan untuk hidup dalam kehendak-Nya.

 Sebab tanpa Roh Kudus, kekuatan manusia akan cepat habis, semangat pelayanan bisa pudar, kehidupan keluarga bisa kehilangan arah, dan iman bisa menjadi rutinitas tanpa kuasa.

Baca Juga: Materi Khotbah Kisah Para Rasul 2:29–40, Roh Kudus Yang Dijanjikan Itu Dicurahkan-Nya

Baca Juga: Renungan Kisah Para Rasul 2:29–40, Roh Kudus Yang Dijanjikan Itu Dicurahkan-Nya

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi dan diberkati Tuhan,

Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas sebagai kelanjutan dari Injil Lukas. Dalam Injil Lukas, kita melihat karya Yesus Kristus ketika Ia hadir secara jasmani di dunia: mengajar, menyembuhkan, mengampuni dosa, memanggil murid-murid, mati di kayu salib, bangkit dari kematian, dan naik ke surga.

Sedangkan dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa setelah Yesus naik ke surga, pekerjaan Allah tidak berhenti. Tuhan Yesus melanjutkan karya-Nya melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam para rasul dan gereja mula-mula.

Bagian Kisah Para Rasul pasal 2 adalah bagian yang sangat penting dalam sejarah gereja, karena di sinilah peristiwa Pentakosta terjadi, yaitu ketika Roh Kudus dicurahkan kepada murid-murid Tuhan.

Sebelumnya, para murid adalah orang-orang yang takut dan belum berani tampil secara terbuka. Mereka pernah mengalami kekecewaan, kebingungan, dan ketakutan setelah Yesus ditangkap dan disalibkan. 

Tetapi setelah Roh Kudus dicurahkan, mereka mengalami perubahan besar. Mereka bukan lagi murid yang bersembunyi, melainkan saksi-saksi Kristus yang berdiri dengan berani di hadapan orang banyak.

Dalam bacaan kita, Rasul Petrus sedang berkhotbah kepada orang banyak di Yerusalem. Petrus menjelaskan bahwa peristiwa yang mereka lihat, yaitu murid-murid yang dipenuhi Roh Kudus dan berbicara dengan kuasa Allah, bukanlah kejadian biasa. Itu adalah penggenapan janji Allah.

Yesus yang telah disalibkan, dibangkitkan, dan dimuliakan di sebelah kanan Allah, kini mencurahkan Roh Kudus yang dijanjikan itu kepada umat-Nya.

Tema ini sangat penting bagi P/KB, karena kaum bapak tidak cukup hanya kuat secara fisik, tidak cukup hanya mampu bekerja, tidak cukup hanya memiliki pengalaman hidup, dan tidak cukup hanya menjadi kepala keluarga secara status.

 Kaum bapak Kristen membutuhkan Roh Kudus supaya memiliki hikmat, kesabaran, keberanian, kerendahan hati, integritas, dan kasih dalam menjalani panggilan hidup.

 Kekuatan sejati seorang bapak Kristen bukan hanya terletak pada kemampuan mencari nafkah, tetapi pada kesediaannya dipimpin Roh Kudus dalam seluruh aspek hidupnya.

Pembahasan Ayat per Ayat

Pada ayat 29, Petrus berkata kepada orang-orang Israel bahwa Daud telah mati dan dikuburkan, bahkan kuburnya masih ada di tengah mereka sampai saat itu.

Pernyataan ini kelihatannya sederhana, tetapi secara teologis sangat penting, karena Petrus sedang menunjukkan bahwa Daud, sehebat apa pun dia sebagai raja Israel, tetaplah manusia yang terbatas. 

Daud adalah raja besar, pemazmur, tokoh iman, dan pribadi yang sangat dihormati oleh bangsa Israel, tetapi ia tetap mengalami kematian. Kuburnya menjadi bukti bahwa Daud bukanlah penggenapan akhir dari janji Allah.

Dengan menyebut kematian Daud, Petrus mengarahkan perhatian pendengarnya kepada Yesus Kristus. Daud memang besar, tetapi Kristus lebih besar. Daud memang raja, tetapi Kristus adalah Raja kekal.

 Daud memang dipakai Tuhan, tetapi Kristus adalah Tuhan yang datang menyelamatkan manusia. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa manusia sehebat apa pun tetap terbatas.

Dalam kehidupan sekarang, kita bisa menghormati pemimpin, mengandalkan orang tua, mengasihi keluarga, menghargai pekerjaan, dan menghormati pengalaman hidup, tetapi pengharapan kita yang terdalam tidak boleh diletakkan pada manusia, karena manusia dapat berubah, melemah, gagal, dan mati. Hanya Kristus yang hidup dan memerintah untuk selama-lamanya.

Bagi P/KB, ayat ini menjadi peringatan agar kita tidak membangun hidup hanya di atas kekuatan manusia. Banyak kaum bapak merasa bahwa mereka harus menyelesaikan semuanya sendiri.

Ada yang berpikir bahwa selama masih bekerja dan menghasilkan uang, maka semua akan aman. Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa manusia tetap terbatas. 

Kita membutuhkan Kristus sebagai pusat hidup, karena hanya Dia yang mampu memberi keselamatan, kekuatan, dan arah hidup yang benar.

Pada ayat 30, Petrus menjelaskan bahwa Daud adalah seorang nabi yang mengetahui janji Allah, yaitu bahwa dari keturunannya akan bangkit seorang yang duduk di atas takhtanya.

 Ini menunjukkan bahwa rencana Allah bukan rencana yang tiba-tiba. Kebangkitan dan kemuliaan Kristus sudah termasuk dalam rencana keselamatan Allah sejak dahulu. Allah setia kepada janji-Nya, dan janji itu digenapi dalam Yesus Kristus.

Di sini kita belajar bahwa Allah bekerja dalam sejarah dengan setia dan terarah. Tuhan bukan Allah yang bekerja sembarangan. Apa yang Ia janjikan, Ia genapi pada waktu-Nya.

Ini menjadi kekuatan bagi kaum bapak yang sedang bergumul dengan masa depan. Mungkin ada doa yang belum terjawab, ada pergumulan keluarga yang belum selesai, ada pekerjaan yang belum stabil, atau ada anak-anak yang masih menjadi beban doa.

 Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan setia terhadap janji-Nya. Ia bekerja bukan menurut ketergesaan manusia, tetapi menurut rencana-Nya yang sempurna.

Pada ayat 31, Petrus berkata bahwa Daud melihat ke depan dan berbicara tentang kebangkitan Mesias, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati dan daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.

Artinya, nubuat Daud menunjuk kepada kebangkitan Yesus Kristus. Yesus mati, tetapi tidak tetap tinggal dalam kematian. Ia bangkit. Ia menang atas maut. Ia hidup untuk selama-lamanya.

Kebangkitan Yesus adalah dasar dari seluruh iman Kristen. Tanpa kebangkitan, salib hanya menjadi tragedi. Tanpa kebangkitan, murid-murid hanya menjadi pengikut guru yang mati.

 Tanpa kebangkitan, tidak ada pengharapan kekal. Tetapi karena Yesus bangkit, maka ada pengharapan baru bagi manusia. Kematian dikalahkan, dosa ditebus, dan hidup baru diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Dalam kehidupan kaum bapak, kebangkitan Kristus mengajarkan bahwa tidak ada keadaan yang terlalu mati untuk dihidupkan Tuhan kembali.

Mungkin ada keluarga yang hampir kehilangan kasih, ada relasi suami istri yang mulai dingin, ada kehidupan rohani yang mulai kering, ada pelayanan yang mulai melelahkan, atau ada harapan yang hampir padam. Tetapi Kristus yang bangkit sanggup memberi kehidupan baru. 

Roh Kudus dicurahkan bukan kepada manusia yang sempurna, tetapi kepada manusia yang membutuhkan kuasa kebangkitan Kristus dalam hidupnya.

Pada ayat 32, Petrus berkata, “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” Kalimat ini menunjukkan bahwa iman Kristen bukan dibangun di atas cerita kosong atau spekulasi manusia, tetapi di atas kesaksian para rasul tentang Kristus yang bangkit.

Para rasul melihat, mengalami, dan memberitakan bahwa Yesus hidup. Mereka tidak sedang menyampaikan pendapat pribadi, tetapi bersaksi tentang karya Allah yang nyata.

Bagi kita hari ini, kesaksian tentang kebangkitan Kristus harus terus hidup dalam kehidupan gereja. P/KB dipanggil bukan hanya menjadi kelompok organisasi gerejawi, tetapi menjadi persekutuan laki-laki Kristen yang bersaksi tentang Kristus yang hidup.

Kesaksian itu tidak selalu harus dimulai dari mimbar, tetapi dari rumah, dari tempat kerja, dari cara kita berbicara, dari cara kita mengambil keputusan, dari cara kita memperlakukan istri dan anak-anak, dari cara kita menjaga kejujuran, dan dari cara kita tetap setia kepada Tuhan di tengah tekanan hidup.

Pada ayat 33, Petrus berkata bahwa sesudah Yesus ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka Ia mencurahkan apa yang mereka lihat dan dengar. Inilah inti dari tema kita. Roh Kudus dicurahkan oleh Kristus yang telah dimuliakan.

 Artinya, pencurahan Roh Kudus bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari karya keselamatan Kristus. Yesus yang mati, bangkit, dan naik ke surga, kini mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya.

Secara teologis, ayat ini menunjukkan hubungan yang erat antara Kristologi dan pneumatologi, antara karya Kristus dan karya Roh Kudus. Roh Kudus tidak menggantikan Kristus, tetapi menyatakan kehadiran Kristus di tengah umat percaya.

 Roh Kudus tidak bekerja terpisah dari Injil, tetapi memampukan gereja untuk memahami, menghidupi, dan memberitakan Injil Kristus.

Karena itu, setiap pembicaraan tentang Roh Kudus harus selalu berpusat pada Kristus. Roh Kudus tidak membawa manusia menjauh dari Kristus, melainkan membawa manusia semakin mengenal, mengasihi, dan menaati Kristus.

Bagi P/KB, ini berarti bahwa hidup yang dipenuhi Roh Kudus bukan hanya hidup yang penuh semangat sesaat, tetapi hidup yang semakin menyerupai Kristus.

Roh Kudus menolong seorang bapak untuk menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih mengasihi keluarga, lebih bertanggung jawab, lebih kuat menghadapi pencobaan, dan lebih setia dalam pelayanan. 

Roh Kudus bukan hanya membuat seseorang berani berbicara tentang Tuhan, tetapi juga membuat hidupnya menjadi kesaksian yang dapat dilihat oleh orang lain.

Pada ayat 34 dan 35, Petrus mengutip Mazmur yang berkata, “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

Petrus menjelaskan bahwa Daud tidak naik ke surga seperti Kristus, tetapi Daud bernubuat tentang Mesias yang akan dimuliakan di sebelah kanan Allah.

 Duduk di sebelah kanan Allah berarti menerima otoritas tertinggi, kehormatan tertinggi, dan kuasa pemerintahan ilahi.

Ini berarti Yesus bukan hanya Juruselamat yang pernah mati, tetapi Tuhan yang sekarang memerintah. Ia bukan hanya tokoh masa lalu, tetapi Raja yang hidup dan berkuasa.

Ia memerintah atas gereja, atas sejarah, atas dunia, dan atas kehidupan pribadi setiap orang percaya. Bagi kaum bapak yang sering bergumul dengan rasa tidak pasti, ayat ini membawa penghiburan besar. 

Hidup kita tidak berada di bawah kuasa nasib, kebetulan, atau kekuatan dunia yang tidak jelas, tetapi berada di bawah pemerintahan Kristus yang hidup.

Dalam kondisi sekarang, banyak laki-laki kehilangan damai sejahtera karena merasa segala sesuatu tidak pasti. Pekerjaan bisa berubah, ekonomi bisa melemah, kesehatan bisa terganggu, dan keluarga bisa menghadapi tantangan.

Yesus yang duduk di sebelah kanan Allah mengingatkan bahwa Tuhan tetap memegang kendali. Karena itu, kaum bapak Kristen dipanggil untuk tidak hidup dalam kepanikan, melainkan dalam iman. 

Kita tetap bekerja, tetap berusaha, tetap bertanggung jawab, tetapi semua itu dilakukan dalam keyakinan bahwa Kristus memerintah.

Pada ayat 36, Petrus menyatakan dengan tegas, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ini adalah pernyataan yang sangat kuat. Orang-orang yang mendengar khotbah Petrus harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus yang mereka tolak dan salibkan adalah Tuhan dan Mesias yang ditetapkan Allah.

 Di sini firman Tuhan menyingkapkan dosa manusia dan memanggil manusia untuk melihat Kristus dengan benar.

Ayat ini juga berbicara kepada kita hari ini. Banyak orang mengaku Kristen, tetapi hidupnya belum sungguh menempatkan Yesus sebagai Tuhan.

Mereka mau Yesus memberkati, tetapi tidak mau Yesus memimpin. Mereka mau Yesus menolong, tetapi tidak mau taat kepada firman-Nya. Mereka mau menerima keselamatan, tetapi tidak mau meninggalkan dosa. 

Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk sungguh mengakui Yesus bukan hanya sebagai Penolong, tetapi sebagai Tuhan yang berhak memerintah seluruh hidup kita.

Bagi P/KB, mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti menyerahkan kepemimpinan hidup kepada-Nya. Seorang bapak Kristen tidak boleh hanya memimpin rumah tangga menurut emosi, ego, atau kebiasaan lama, tetapi harus memimpin keluarga menurut kehendak Tuhan.

Mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti membiarkan firman-Nya mengatur perkataan, sikap, keputusan, pekerjaan, pelayanan, dan relasi kita dengan sesama.

Pada ayat 37, orang-orang yang mendengar khotbah Petrus menjadi sangat terharu, atau dalam pengertian yang lebih dalam, hati mereka tertusuk.

Mereka berkata kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Ini adalah reaksi yang muncul ketika Roh Kudus bekerja melalui pemberitaan firman. 

Roh Kudus menyentuh hati manusia, membuka kesadaran akan dosa, dan membawa manusia kepada pertanyaan yang benar: apa yang harus kami lakukan?

Ini penting, karena tidak semua orang yang mendengar firman otomatis bertobat. Banyak orang mendengar firman, tetapi hatinya tetap keras. Banyak orang beribadah, tetapi tidak mau berubah.

Banyak orang tahu kebenaran, tetapi tetap hidup dalam kebiasaan lama. Karena itu kita membutuhkan Roh Kudus, sebab hanya Roh Kudus yang dapat menembus hati manusia dan membawa manusia kepada pertobatan sejati.

Sebagai kaum bapak, kita perlu memiliki kerendahan hati untuk bertanya seperti orang banyak itu: “Tuhan, apa yang harus saya perbuat?”

Pertanyaan ini penting dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Jangan hanya bertanya, “Apa yang saya mau?” tetapi bertanyalah, “Apa yang Tuhan kehendaki?” 

Jangan hanya bertanya, “Bagaimana saya bisa menang?” tetapi bertanyalah, “Bagaimana saya bisa taat?” Karena hidup yang dipimpin Roh Kudus adalah hidup yang mau dikoreksi oleh Tuhan.

Pada ayat 38, Petrus menjawab, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Jawaban Petrus sangat jelas. Respons yang benar terhadap Injil adalah pertobatan.

Pertobatan bukan hanya perasaan menyesal, tetapi perubahan arah hidup. Bertobat berarti berbalik dari dosa kepada Allah, dari hidup lama kepada hidup baru, dari mengandalkan diri sendiri kepada menyerahkan diri kepada Kristus.

Baptisan dalam nama Yesus Kristus menjadi tanda penerimaan dan pengakuan iman kepada Kristus. Pengampunan dosa diberikan karena karya Kristus, dan karunia Roh Kudus diterima sebagai bagian dari hidup baru di dalam Dia.

 Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus diberikan bukan untuk memperindah kehidupan rohani secara luar, tetapi untuk memimpin manusia dalam hidup yang telah ditebus dan diperbarui.

Bagi P/KB, pertobatan harus nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pertobatan bukan hanya terjadi di gereja, tetapi harus terlihat di rumah.

Seorang bapak yang bertobat akan belajar mengasihi keluarganya dengan lebih baik, meninggalkan kebiasaan buruk, menjaga perkataan, memperbaiki relasi yang rusak, hidup jujur dalam pekerjaan, dan bertanggung jawab dalam pelayanan. Roh Kudus tidak hanya memenuhi hati, tetapi juga mengubah karakter.

Pada ayat 39, Petrus berkata bahwa janji itu adalah bagi mereka, bagi anak-anak mereka, dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah.

 Ini menunjukkan bahwa janji Roh Kudus bersifat luas. Janji itu tidak hanya untuk satu generasi, tidak hanya untuk murid-murid pertama, dan tidak hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi bagi semua orang yang dipanggil Tuhan.

Bagi P/KB, ayat ini sangat penting karena menyebut anak-anak. Artinya, iman kita tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Kaum bapak dipanggil menjadi pewaris iman dalam keluarga.

Anak-anak membutuhkan teladan ayah yang hidup dipimpin Roh Kudus. Mereka membutuhkan ayah yang bukan hanya memberi nafkah, tetapi juga mendoakan, membimbing, mengajarkan firman, dan menunjukkan kasih Kristus melalui kehidupan nyata. 

Kalau Roh Kudus yang dijanjikan itu diberikan juga bagi anak-anak kita, maka tugas kita adalah membangun rumah tangga yang memberi ruang bagi pekerjaan Roh Kudus.

Pada ayat 40, Petrus terus memberi nasihat dan berkata, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” Ini adalah ajakan yang sangat relevan sampai hari ini.

Setiap zaman memiliki tantangan dan godaannya sendiri. Pada zaman kita sekarang, “angkatan yang jahat” dapat tampak dalam berbagai bentuk.

Budaya yang menjauhkan manusia dari Tuhan, kebiasaan hidup yang menganggap dosa sebagai hal biasa, godaan materialisme, pergaulan yang merusak, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakjujuran, kecanduan, kekerasan, egoisme, dan kehidupan rohani yang dingin.

Karena itu, orang percaya tidak boleh hidup mengikuti arus zaman begitu saja. Kaum bapak Kristen harus berani hidup berbeda.

Kalau dunia mengajarkan ego, kita belajar rendah hati. Kalau dunia mengajarkan kekerasan, kita menghadirkan kasih. Kalau dunia mengajarkan kebohongan demi keuntungan, kita memilih kejujuran.

 Kalau dunia mengajarkan hidup tanpa Tuhan, kita memilih hidup dipimpin Roh Kudus. Inilah panggilan P/KB dalam terang firman Tuhan hari ini.

Penutup

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan, tema “Roh Kudus Yang Dijanjikan Itu Dicurahkan-Nya” membawa kita kepada satu pengakuan iman yang sangat penting, yaitu bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya berjalan sendiri.

Sebab setelah Kristus bangkit dan ditinggikan di sebelah kanan Allah, Ia mencurahkan Roh Kudus sebagai penggenapan janji, sebagai tanda kehadiran Allah, dan sebagai kuasa yang memampukan gereja hidup sebagai saksi Kristus di tengah dunia.

Bagi kaum bapak, pesan ini sangat dalam, karena kehidupan kita tidak hanya berisi tanggung jawab lahiriah, tetapi juga tanggung jawab rohani.

Kita bukan hanya dipanggil untuk bekerja, tetapi juga untuk menjadi teladan iman. Kita bukan hanya dipanggil untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga membangun keluarga yang takut akan Tuhan. 

Kita bukan hanya dipanggil untuk aktif dalam kegiatan gereja, tetapi juga hidup dalam kuasa Roh Kudus supaya pelayanan kita tidak menjadi rutinitas kosong.

Roh Kudus yang dicurahkan itu mengingatkan bahwa kekuatan sejati seorang bapak Kristen bukan berasal dari ego, kekerasan, jabatan, uang, atau pengalaman hidup, melainkan dari kesediaan untuk hidup dipimpin Tuhan. Seorang laki-laki bisa terlihat kuat secara fisik, tetapi tanpa Roh Kudus ia mudah dikuasai amarah.

Seorang bapak bisa berhasil dalam pekerjaan, tetapi tanpa Roh Kudus ia bisa gagal membangun kasih dalam keluarga. Seorang pelayan bisa aktif dalam gereja, tetapi tanpa Roh Kudus pelayanannya bisa kehilangan kerendahan hati dan kasih.

Karena itu, implikasi firman Tuhan hari ini sangat nyata. Jika Roh Kudus yang dijanjikan itu telah dicurahkan, maka kita tidak boleh lagi hidup hanya dengan kekuatan sendiri.

Kita perlu belajar menyerahkan seluruh hidup kepada pimpinan Tuhan. Kita perlu meminta Roh Kudus menuntun perkataan kita, supaya mulut kita tidak melukai keluarga. 

Kita perlu meminta Roh Kudus menuntun hati kita, supaya kita tidak dikuasai ego dan kemarahan. Kita perlu meminta Roh Kudus menuntun pekerjaan kita, supaya kita tetap hidup jujur dan benar. 

Kita perlu meminta Roh Kudus menuntun pelayanan kita, supaya kita melayani bukan untuk dipuji, tetapi untuk memuliakan Tuhan.

Ada beberapa hal penting yang perlu kita bawa pulang dari firman Tuhan ini. Pertama, Roh Kudus adalah penggenapan janji Allah, sehingga kita dapat percaya bahwa Tuhan selalu setia kepada firman-Nya.

Kedua, Roh Kudus dicurahkan oleh Kristus yang bangkit dan dimuliakan, sehingga hidup kita harus selalu berpusat kepada Kristus. 

Ketiga, Roh Kudus membawa manusia kepada pertobatan, sehingga kita tidak boleh hanya puas menjadi orang Kristen secara nama, tetapi harus hidup berubah. 

Keempat, Roh Kudus memampukan kita menjadi saksi, sehingga kehidupan kita di rumah, di gereja, dan di masyarakat harus mencerminkan kasih dan kebenaran Tuhan. 

Kelima, janji Roh Kudus berlaku bagi generasi kita dan anak-anak kita, sehingga kaum bapak dipanggil menjadi teladan iman bagi keluarga.

Saudara-saudara P/KB, marilah kita mengambil komitmen yang sungguh di hadapan Tuhan. Jangan hanya menjadi laki-laki yang kuat bekerja, tetapi lemah berdoa.

Jangan hanya menjadi bapak yang menyediakan kebutuhan rumah, tetapi tidak hadir membimbing anak-anak dalam iman. Jangan hanya menjadi pelayan yang aktif di luar rumah, tetapi tidak membawa damai di dalam keluarga. 

Jangan hanya menjadi orang yang tahu tentang Roh Kudus, tetapi tidak memberi ruang bagi Roh Kudus memimpin hidup sehari-hari.

Marilah kita membuka hati bagi pekerjaan Roh Kudus. Bila ada dosa, bertobatlah. Bila ada hubungan yang rusak, carilah pemulihan. Bila ada amarah yang sering menguasai, mintalah Roh Kudus membentuk hati.

Bila ada pelayanan yang mulai hambar, mintalah Roh Kudus menyalakan kembali kasih kita kepada Tuhan. Bila ada keluarga yang sedang bergumul, bawalah keluarga itu dalam doa dan biarkan Roh Kudus bekerja memulihkan.

Ajakan firman Tuhan hari ini jelas: hiduplah dipimpin Roh Kudus. Jadilah P/KB yang berani bersaksi seperti Petrus, tetapi juga rendah hati untuk bertobat seperti orang-orang yang hatinya tersentuh oleh firman.

 Jadilah bapak-bapak yang kuat bukan karena keras hati, tetapi karena lembut di hadapan Tuhan. Jadilah suami yang mengasihi, ayah yang mendoakan, pekerja yang jujur, pelayan yang setia, dan anggota jemaat yang membawa damai.

Jika Roh Kudus yang dijanjikan itu telah dicurahkan, maka jangan biarkan hidup kita tetap sama. Biarlah Roh Kudus memperbarui hati kita, memperbaiki karakter kita, menguatkan iman kita, dan memakai hidup kita menjadi berkat bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.

Kiranya P/KB menjadi persekutuan kaum bapak yang tidak hanya kuat dalam kegiatan, tetapi kuat dalam doa; tidak hanya aktif dalam pelayanan, tetapi hidup dalam kekudusan.

Tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi menunjukkan iman dalam tindakan nyata; dan tidak hanya mengandalkan kemampuan manusia, tetapi sungguh hidup dalam kuasa Roh Kudus yang telah dicurahkan oleh Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#MTPJ #khotbah #P/KB #Renungan GMIM #Renungan