Bacaan: Lukas 12:1–12
Tema: “Barangsiapa Menghujat Roh Kudus Tidak Akan Diampuni”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, firman Tuhan hari ini membawa kita kepada sebuah peringatan Yesus yang sangat serius, yaitu tentang dosa menghujat Roh Kudus yang tidak akan diampuni.
Ketika mendengar tema ini, mungkin hati kita langsung merasa gentar, sebab kalimat “tidak akan diampuni” bukanlah kalimat yang biasa.
Sebagai manusia, kita semua sadar bahwa kita sering lemah, sering salah, sering jatuh, dan sering tidak sempurna dalam menjalani hidup di hadapan Tuhan. Ada saat kita salah berbicara, salah bersikap, salah mengambil keputusan, bahkan ada saat kita mengabaikan suara Tuhan yang menegur hati kita.
Karena itu, tema ini perlu direnungkan dengan hati yang sungguh-sungguh, tetapi juga dengan pemahaman yang benar, supaya kita tidak jatuh dalam ketakutan yang keliru, melainkan semakin hidup dalam pertobatan, hormat kepada Allah, dan kepekaan terhadap pekerjaan Roh Kudus.
Baca Juga: Renungan Lukas 12:1–12, Barangsiapa Menghujat Roh Kudus Tidak Akan Diampuni
Baca Juga: Materi Khotbah Lukas 12:1–12, Barangsiapa Menghujat Roh Kudus Tidak Akan Diampuni
Sebagai W/KI, sebagai perempuan dan kaum ibu dalam gereja, kita menjalani kehidupan yang penuh tanggung jawab dan pergumulan.
Ada yang menjadi istri, ibu, oma, pekerja, pelayan gereja, pendoa bagi keluarga, penopang dalam rumah tangga, dan penguat bagi banyak orang di sekitar.
Tidak sedikit perempuan Kristen yang terlihat kuat di luar, tetapi menyimpan banyak pergumulan di dalam hati.
Ada yang mengkhawatirkan anak-anak, ada yang bergumul dengan kehidupan rumah tangga, ada yang menghadapi tekanan ekonomi, ada yang merasa lelah dalam pelayanan.
Ada yang menyimpan luka karena perkataan atau perlakuan orang lain, dan ada juga yang diam-diam merasa kehidupan rohaninya mulai kering karena terlalu banyak beban yang dipikul.
Dalam keadaan seperti itu, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa yang paling penting bukan hanya bagaimana kita terlihat di depan orang, tetapi bagaimana keadaan hati kita di hadapan Tuhan.
Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang kemunafikan, tentang rasa takut kepada manusia, tentang keberanian mengakui Kristus, dan tentang bahaya mengeraskan hati terhadap Roh Kudus.
Semua ini sangat relevan bagi kehidupan W/KI GMIM, sebab perempuan Kristen dipanggil bukan hanya menjadi pribadi yang rajin beribadah dan aktif melayani, tetapi juga menjadi pribadi yang hidup jujur di hadapan Allah, mau ditegur firman, mau bertobat, dan mau dipimpin oleh Roh Kudus dalam keluarga, gereja, serta masyarakat.
Tema “Barangsiapa Menghujat Roh Kudus Tidak Akan Diampuni” bukan hanya berbicara tentang dosa yang sangat berat, tetapi juga tentang kondisi hati manusia.
Menghujat Roh Kudus bukan sekadar kesalahan kata-kata sesaat yang kemudian disesali, bukan pikiran buruk yang muncul lalu membuat kita takut, dan bukan kegagalan orang percaya yang kemudian datang kepada Tuhan dengan hati hancur.
Menghujat Roh Kudus adalah sikap hati yang sadar, terus-menerus, dan keras menolak pekerjaan Roh Kudus yang menyaksikan Kristus, menegur dosa, dan memanggil manusia kepada pertobatan.
Karena itu, renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah hati kita masih lembut di hadapan Tuhan, apakah kita masih peka terhadap teguran Roh Kudus, dan apakah kita masih mau berubah ketika firman Tuhan menyatakan kesalahan kita?
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Injil Lukas ditulis oleh Lukas, seorang tabib dan rekan pelayanan Rasul Paulus. Lukas menulis Injil ini kepada Teofilus supaya ia mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan tentang Yesus Kristus adalah benar, teratur, dan dapat dipercaya.
Dalam Injilnya, Lukas menampilkan Yesus sebagai Juruselamat yang datang bagi semua orang, bukan hanya bagi orang yang dianggap kuat dan terhormat, tetapi juga bagi mereka yang lemah, miskin, berdosa, sakit, tersisih, dan sering tidak diperhitungkan oleh masyarakat.
Itulah sebabnya Injil Lukas sangat kuat menunjukkan belas kasihan Allah kepada manusia yang membutuhkan keselamatan.
Salah satu penekanan penting dalam Injil Lukas adalah karya Roh Kudus. Sejak awal Injil ini, Roh Kudus sudah tampak bekerja dalam peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis, dalam pemberitaan malaikat kepada Maria, dalam pujian Elisabet dan Zakharia, serta dalam pengurapan Yesus untuk pelayanan.
Lukas juga menulis Kitab Kisah Para Rasul, yang memperlihatkan bagaimana Roh Kudus bekerja melalui gereja mula-mula setelah Yesus naik ke surga.
Dengan demikian, bagi Lukas, Roh Kudus bukan hanya kuasa rohani yang bekerja sesaat, tetapi Pribadi Allah yang menuntun, menguatkan, menguduskan, dan memimpin umat Allah dalam rencana keselamatan.
Lukas 12:1–12 berada dalam konteks ketegangan yang semakin kuat antara Yesus dan para pemimpin agama, terutama orang Farisi dan ahli Taurat.
Pada pasal sebelumnya, Yesus mengecam kemunafikan mereka, sebab mereka terlihat saleh dari luar, tetapi hati mereka jauh dari Allah. Mereka memperhatikan aturan lahiriah, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah.
Mereka tahu banyak tentang hukum Taurat, tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran yang dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus.
Dalam konteks itulah Yesus memperingatkan murid-murid-Nya supaya waspada terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan.
Tema “Barangsiapa Menghujat Roh Kudus Tidak Akan Diampuni” harus dipahami dalam alur ini. Yesus tidak sedang menakut-nakuti orang yang lemah dan mau bertobat, melainkan memperingatkan bahaya hati yang keras.
Para pemimpin agama melihat pekerjaan Allah dalam pelayanan Yesus, tetapi mereka tetap menolak Dia. Mereka bukan hanya kurang mengerti, tetapi menolak untuk percaya. Mereka menyaksikan terang, tetapi tidak mau datang kepada terang itu.
Inilah bahaya besar yang Yesus peringatkan: ketika manusia terus-menerus menolak kesaksian Roh Kudus tentang Kristus, maka ia menolak jalan pengampunan yang Allah sediakan.
Bagi W/KI GMIM, makna tema ini sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan Kristen sering menjadi penjaga kehidupan rohani keluarga, pendoa bagi anak-anak, penopang pelayanan, dan pembawa damai dalam persekutuan.
Tetapi justru karena peran itu penting, hati kita harus terus dijaga supaya tidak menjadi keras, pahit, munafik, atau tertutup terhadap teguran Tuhan. Aktivitas pelayanan yang banyak tidak otomatis membuat hati tetap lembut di hadapan Allah.
Karena itu, firman Tuhan hari ini mengajak W/KI untuk tidak hanya aktif secara lahiriah, tetapi juga hidup dalam kejujuran, pertobatan, dan kepekaan terhadap Roh Kudus.
Pembahasan Ayat per Ayat
Pada ayat 1, Lukas mencatat bahwa ribuan orang berkerumun sampai berdesak-desakan, tetapi Yesus pertama-tama berkata kepada murid-murid-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”
Ini menarik, karena di tengah banyak orang yang datang, Yesus tidak langsung berbicara untuk menyenangkan massa, tetapi memberi peringatan rohani yang serius kepada murid-murid-Nya. Ragi adalah sesuatu yang kecil, tetapi dapat mempengaruhi seluruh adonan. Demikian juga kemunafikan.
Ia mungkin mulai dari hal kecil, seperti ingin dipuji, ingin terlihat baik, ingin dianggap rohani, ingin mempertahankan nama baik, atau ingin menyembunyikan kesalahan, tetapi bila dibiarkan, kemunafikan dapat merusak seluruh kehidupan iman.
Secara teologis, kemunafikan adalah bahaya besar karena membuat manusia hidup dalam kepalsuan di hadapan Allah.
Orang munafik lebih sibuk menjaga penampilan daripada memperbaiki hati. Ia ingin dilihat baik oleh manusia, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup benar di hadapan Tuhan.
Dalam kehidupan W/KI, kemunafikan bisa muncul ketika kita tampak aktif dalam ibadah tetapi hati penuh kepahitan, ketika kita melayani tetapi menyimpan iri hati.
Ketika kita berbicara tentang kasih tetapi sulit mengampuni, ketika kita terlihat kuat tetapi tidak mau jujur kepada Tuhan tentang luka dan dosa yang ada dalam hati.
Yesus memperingatkan supaya kita waspada, sebab kemunafikan yang kecil dapat berkembang menjadi kekerasan hati yang besar.
Pada ayat 2, Yesus berkata bahwa tidak ada sesuatu yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Ayat ini menegaskan bahwa di hadapan Allah tidak ada yang benar-benar tersembunyi. Manusia mungkin dapat menyembunyikan perasaan, dosa, motivasi, dan luka dari sesama, tetapi tidak dari Tuhan.
Allah melihat sampai ke dalam hati. Ia mengetahui apa yang kita katakan, pikirkan, simpan, dan perjuangkan.
Bagi W/KI, ayat ini menjadi panggilan untuk hidup jujur di hadapan Tuhan. Ada banyak perempuan yang terbiasa memendam banyak hal.
Ada luka yang disimpan, tangisan yang disembunyikan, kekecewaan yang tidak pernah diungkapkan, bahkan dosa yang ditutupi karena takut diketahui orang. Firman Tuhan berkata bahwa semua yang tersembunyi akan dibuka.
Namun ini bukan hanya ancaman, melainkan juga undangan untuk datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat.
Tuhan menghendaki kita datang dengan kejujuran, sebab pemulihan dimulai ketika kita berhenti bersembunyi di hadapan-Nya.
Pada ayat 3, Yesus melanjutkan bahwa apa yang dikatakan dalam gelap akan terdengar dalam terang, dan apa yang dibisikkan di kamar akan diberitakan dari atas rumah. Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan tersembunyi tidak akan selamanya tersembunyi.
Hal ini menjadi peringatan bagi orang yang hidup dalam kepalsuan, tetapi juga menjadi penghiburan bagi orang yang setia namun tidak dilihat manusia. Tuhan mengetahui doa-doa seorang ibu yang dipanjatkan diam-diam.
Tuhan mengetahui air mata seorang perempuan yang berjuang mempertahankan iman. Tuhan mengetahui pelayanan kecil yang tidak pernah dipuji orang.
Dalam kondisi saat ini, banyak orang hidup dalam budaya pencitraan. Orang ingin terlihat bahagia, kuat, rohani, dan berhasil, walaupun kenyataan batinnya berbeda.
Media sosial kadang membuat manusia sibuk menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, sementara hati tidak sungguh-sungguh dibereskan di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak hidup demi penampilan, melainkan hidup dalam kebenaran. Yang paling penting bukan bagaimana orang melihat kita, tetapi bagaimana Tuhan melihat hati kita.
Pada ayat 4, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”
Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai sahabat, sebuah sebutan yang penuh kasih dan kedekatan. Namun Yesus juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tekanan dari manusia.
Mengikut Kristus tidak selalu membawa kenyamanan menurut ukuran dunia. Ada saat orang percaya akan ditolak, disalahpahami, bahkan ditekan karena imannya.
Bagi W/KI, takut kepada manusia dapat muncul dalam banyak bentuk. Ada yang takut dinilai buruk oleh orang lain sehingga tidak berani jujur. Ada yang takut ditolak keluarga sehingga diam terhadap kebenaran.
Ada yang takut kehilangan penerimaan lingkungan sehingga ikut arus gosip, iri hati, atau kebiasaan yang tidak membangun. Ada juga yang takut terlihat lemah sehingga tidak mau meminta pertolongan rohani.
Yesus mengingatkan bahwa takut kepada manusia tidak boleh lebih besar daripada takut kepada Allah. Kita dipanggil hidup benar bukan karena semua orang setuju, tetapi karena Tuhan berkenan.
Pada ayat 5, Yesus berkata bahwa yang harus kita takuti adalah Dia yang setelah membunuh mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Ini adalah pengajaran tentang takut akan Allah.
Takut akan Allah bukan berarti ketakutan yang membuat kita lari dari Tuhan, tetapi rasa hormat yang kudus kepada Allah sebagai Tuhan yang berkuasa, benar, dan adil.
Yesus mengingatkan bahwa hidup manusia bukan hanya tentang tubuh dan keadaan sementara, tetapi juga tentang jiwa dan kehidupan kekal.
Secara teologis, ayat ini menegaskan bahwa Allah bukan hanya penuh kasih, tetapi juga kudus dan adil.
Banyak orang pada zaman sekarang ingin mendengar tentang berkat, penghiburan, dan kasih Tuhan, tetapi tidak mau mendengar tentang pertobatan, kekudusan, dan penghakiman. Padahal kasih Allah tidak pernah terpisah dari kekudusan-Nya.
Bagi W/KI, takut akan Allah berarti kita menjaga hidup, perkataan, relasi, pelayanan, dan keluarga dalam terang firman Tuhan. Kita tidak hidup hanya untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk berkenan kepada Allah.
Pada ayat 6, Yesus berkata bahwa lima ekor burung pipit dijual dua duit, namun seekor pun tidak dilupakan Allah.
Setelah berbicara tentang takut akan Allah, Yesus langsung berbicara tentang pemeliharaan Allah. Ini menunjukkan keseimbangan yang indah.
Allah yang harus kita hormati adalah juga Allah yang memperhatikan hidup kita dengan penuh kasih. Burung pipit adalah makhluk kecil yang dianggap murah, tetapi Allah tidak melupakannya.
Ayat ini sangat menghibur bagi banyak perempuan yang merasa tidak dilihat dan tidak dihargai. Mungkin ada ibu yang merasa pengorbanannya dalam keluarga tidak diperhatikan.
Mungkin ada pelayan Tuhan yang merasa pelayanannya tidak dihargai. Mungkin ada perempuan yang merasa kesetiaannya tidak diketahui orang.
Firman Tuhan berkata bahwa Allah tidak melupakan yang kecil sekalipun. Jika burung pipit saja diingat Allah, apalagi hidup kita yang berharga di hadapan-Nya.
Pada ayat 7, Yesus berkata bahwa rambut kepala kita pun terhitung semuanya, sebab itu jangan takut, karena kita lebih berharga daripada banyak burung pipit.
Ini adalah penghiburan yang sangat pribadi. Tuhan mengetahui hal-hal kecil dalam hidup kita. Ia tahu beban yang tidak mampu kita ceritakan kepada orang lain.
Ia tahu doa-doa yang belum terjawab. Ia tahu ketakutan tentang masa depan anak-anak. Ia tahu air mata yang jatuh ketika tidak ada orang melihat.
Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian manusia, status, keberhasilan, penampilan, atau pengakuan orang lain. Nilai hidup kita ditentukan oleh Allah yang mengenal dan mengasihi kita.
Karena itu, kita tidak perlu mencari harga diri melalui pujian manusia. Kita dapat hidup tenang dalam kasih Tuhan dan berani hidup benar karena kita tahu bahwa Tuhan memperhatikan hidup kita.
Pada ayat 8, Yesus berkata bahwa setiap orang yang mengakui Dia di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui orang itu di depan malaikat-malaikat Allah.
Mengakui Kristus bukan hanya mengucapkan bahwa kita percaya kepada Yesus, tetapi hidup sebagai murid-Nya dalam tindakan nyata.
Mengakui Kristus berarti tidak malu terhadap iman, tidak menyembunyikan kebenaran, dan tidak hidup menurut nilai dunia yang bertentangan dengan firman Tuhan.
Dalam kehidupan W/KI, mengakui Kristus dapat tampak dalam hal-hal sederhana tetapi bermakna. Seorang perempuan mengakui Kristus ketika ia memilih mengampuni daripada membalas, ketika ia menjaga perkataan supaya tidak merusak orang lain.
Ketika ia setia berdoa bagi keluarga, ketika ia hidup jujur dalam pekerjaan, ketika ia menjadi pembawa damai dalam persekutuan, dan ketika ia tetap berpegang kepada Tuhan sekalipun keadaan tidak mudah.
Kesaksian W/KI tidak hanya terdengar dari kata-kata, tetapi terlihat dari karakter yang dipimpin Kristus.
Pada ayat 9, Yesus berkata bahwa siapa yang menyangkal Dia di depan manusia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Ini adalah peringatan yang serius.
Menyangkal Kristus bukan hanya berarti berkata “saya tidak percaya kepada Yesus,” tetapi juga bisa berarti hidup seolah-olah Yesus tidak berkuasa atas hidup kita.
Orang bisa mengaku Kristen, tetapi menyangkal Kristus melalui kebencian, iri hati, kepalsuan, ketidaktaatan, dan kehidupan yang tidak mau dipimpin firman Tuhan.
Namun ayat ini juga harus dipahami dengan hati yang benar. Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali, tetapi ia bertobat dan dipulihkan.
Jadi yang diperingatkan Yesus bukan kegagalan sesaat yang disesali, melainkan sikap hidup yang terus-menerus menolak Kristus dan tidak mau kembali kepada-Nya. Ini menjadi peringatan sekaligus penghiburan.
Jika kita pernah gagal, jangan putus asa. Datanglah kepada Tuhan dengan pertobatan. Tetapi jangan terus hidup dalam penyangkalan dan ketidaktaatan.
Pada ayat 10, Yesus berkata, “Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Inilah inti tema renungan. Ayat ini harus dipahami dengan hati-hati dan mendalam.
Pada masa pelayanan Yesus, ada orang yang belum memahami sepenuhnya siapa Yesus karena Ia hadir dalam kerendahan sebagai Anak Manusia. Ada yang salah mengerti, ragu, bahkan menolak karena ketidaktahuan.
Namun Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang menyaksikan kebenaran tentang Kristus, menyadarkan manusia akan dosa, dan memanggil manusia kepada pertobatan.
Jika seseorang terus-menerus menolak kesaksian Roh Kudus dengan hati yang keras, maka ia menolak jalan keselamatan itu sendiri.
Menghujat Roh Kudus berarti menolak secara sadar dan terus-menerus pekerjaan Roh Kudus. Ini bukan sekadar pernah berkata salah lalu menyesal.
Ini bukan sekadar pikiran buruk yang membuat kita takut. Ini bukan dosa orang percaya yang jatuh lalu datang kepada Tuhan dengan hati hancur.
Menghujat Roh Kudus adalah hati yang melihat kebenaran tetapi menolak, mendengar teguran tetapi melawan, menyaksikan pekerjaan Allah tetapi menyebutnya jahat, dan terus mengeraskan diri tanpa mau bertobat.
Dosa ini tidak diampuni bukan karena kasih Allah kurang besar, tetapi karena orang itu menolak pengampunan yang Allah sediakan.
Jika Roh Kudus adalah yang membawa manusia kepada Kristus, maka menolak Roh Kudus berarti menolak Kristus. Karena itu, bagi W/KI, firman ini menjadi peringatan agar jangan mengeraskan hati.
Ketika Roh Kudus menegur tentang kepahitan, jangan pelihara. Ketika firman Tuhan menegur tentang gosip, iri hati, kesombongan, atau kemunafikan, jangan membenarkan diri.
Ketika Tuhan memanggil untuk mengampuni, jangan menunda. Jangan biarkan hati menjadi keras karena terlalu sering menolak suara Tuhan.
Pada ayat 11, Yesus berkata bahwa apabila murid-murid dihadapkan kepada majelis, pemerintah, dan penguasa, mereka tidak perlu khawatir bagaimana dan apa yang harus mereka katakan dalam pembelaan diri.
Yesus mengetahui bahwa murid-murid akan menghadapi tekanan karena iman mereka. Tetapi Ia berkata agar mereka tidak dikuasai kekhawatiran. Ini bukan berarti mereka tidak perlu bijaksana, tetapi bahwa mereka harus percaya kepada penyertaan Allah.
Bagi W/KI, kekhawatiran sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak ibu khawatir tentang anak-anak, keluarga, kesehatan, pekerjaan, ekonomi, dan masa depan.
Namun Yesus mengingatkan bahwa dalam situasi yang sulit pun, Tuhan tidak meninggalkan kita. Kekhawatiran tidak boleh menguasai hati lebih besar daripada iman kepada Tuhan.
Kita dipanggil untuk membawa setiap kekhawatiran kepada Allah dan percaya bahwa Roh Kudus menolong kita dalam kelemahan.
Pada ayat 12, Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengajar mereka pada saat itu juga apa yang harus mereka katakan. Ayat ini menutup bagian ini dengan penghiburan yang besar.
Roh Kudus bukan hanya Pribadi yang tidak boleh dihujat, tetapi juga Penolong yang mengajar, menguatkan, membimbing, dan memberi hikmat kepada orang percaya. Roh Kudus menolong kita berkata benar, bersikap benar, dan tetap setia di tengah tekanan.
Bagi W/KI, ini sangat relevan. Kita membutuhkan Roh Kudus dalam berbicara kepada keluarga, supaya perkataan kita membangun dan tidak melukai.
Kita membutuhkan Roh Kudus dalam menghadapi konflik, supaya kita tidak dikuasai emosi. Kita membutuhkan Roh Kudus dalam pelayanan, supaya kita melayani dengan kasih dan kerendahan hati.
Kita membutuhkan Roh Kudus dalam mendidik anak-anak, supaya kita memiliki hikmat dan kesabaran. Karena itu, hormatilah Roh Kudus, dengarkan tuntunan-Nya, dan jangan abaikan teguran-Nya.
Penutup
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan,
Setelah merenungkan Lukas 12:1–12, kita melihat bahwa tema “Barangsiapa Menghujat Roh Kudus Tidak Akan Diampuni” bukanlah tema yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari pengajaran Yesus tentang kehidupan rohani yang jujur, takut akan Allah, berani mengakui Kristus, dan peka terhadap pekerjaan Roh Kudus.
Yesus memperingatkan tentang ragi kemunafikan, karena kemunafikan membuat manusia lebih sibuk menjaga penampilan daripada membenahi hati.
Yesus mengingatkan bahwa semua yang tersembunyi akan dibuka, karena Allah melihat seluruh hidup kita. Yesus mengajar supaya kita lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia, tetapi juga menghibur kita bahwa hidup kita berharga di mata Tuhan.
Lalu Yesus memanggil kita untuk mengakui Kristus di hadapan manusia dan tidak mengeraskan hati terhadap Roh Kudus.
Tema ini sangat penting bagi W/KI karena perempuan Kristen sering memiliki peran yang sangat besar dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
Banyak ibu menjadi pendoa bagi anak-anak, penopang bagi suami, penghibur bagi keluarga, pelayan dalam gereja, dan pembawa damai dalam persekutuan.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa pelayanan dan peran yang besar harus disertai hati yang lembut di hadapan Allah. Jangan sampai kita aktif melayani tetapi tidak mau ditegur Tuhan.
Jangan sampai kita rajin beribadah tetapi menyimpan kepahitan. Jangan sampai kita berbicara tentang kasih tetapi tidak mau mengampuni. Jangan sampai kita menjaga penampilan rohani tetapi hati kita jauh dari Tuhan.
Peringatan tentang menghujat Roh Kudus mengajak kita untuk sangat serius menjaga hati. Roh Kudus bekerja menyadarkan kita akan dosa, memanggil kita kepada pertobatan, menuntun kita kepada Kristus, dan memampukan kita hidup dalam kebenaran.
Karena itu, jangan meremehkan teguran Roh Kudus. Jangan menunda pertobatan. Jangan membiasakan diri membenarkan dosa.
Jangan berkata, “nanti saya berubah,” sementara hati semakin keras. Setiap kali firman Tuhan menegur, itu adalah anugerah.
Setiap kali hati kita merasa tertusuk oleh kebenaran, itu adalah kesempatan untuk kembali. Setiap kali Roh Kudus mengingatkan kesalahan kita, itu adalah tanda kasih Allah yang tidak ingin kita binasa dalam dosa.
Namun firman ini juga membawa penghiburan. Jika hari ini kita merasa ditegur, jika kita masih menyesal karena dosa, jika kita masih ingin kembali kepada Tuhan, jika kita masih rindu dipulihkan, maka jangan putus asa.
Itu adalah tanda bahwa Roh Kudus masih bekerja dalam hati kita. Tuhan tidak menolak orang yang datang dengan hati hancur dan rendah hati. Petrus pernah menyangkal Tuhan, tetapi ia dipulihkan.
Demikian juga kita, bila mau bertobat, Tuhan sanggup memulihkan hidup kita, keluarga kita, pelayanan kita, dan hati kita.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang dari firman ini. Pertama, jagalah hati dari kemunafikan, sebab Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi melihat hati.
Kedua, hiduplah jujur di hadapan Allah, sebab tidak ada yang tersembunyi dari hadapan-Nya.
Ketiga, takutlah akan Tuhan lebih daripada manusia, supaya hidup kita tidak dikendalikan oleh pencitraan, tekanan sosial, atau keinginan diterima orang lain.
Keempat, percayalah bahwa hidup kita berharga di mata Allah, sehingga kita tidak perlu mencari nilai diri dari pujian manusia.
Kelima, akuilah Kristus melalui kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, maupun persekutuan.
Keenam, hormatilah Roh Kudus dengan hati yang mau ditegur, mau bertobat, dan mau dipimpin.
Implikasi firman ini sangat nyata bagi kehidupan W/KI GMIM. Dalam keluarga, kita dipanggil menjadi perempuan yang menghadirkan kasih, doa, kesabaran, dan pengampunan, bukan kepahitan dan kemarahan yang terus dipelihara.
Dalam pelayanan, kita dipanggil melayani dengan hati tulus, bukan demi pujian, kedudukan, atau pengakuan.
Dalam persekutuan, kita dipanggil menjaga perkataan, supaya mulut kita menjadi alat berkat dan bukan alat yang melukai.
Dalam kehidupan pribadi, kita dipanggil menjaga hati tetap lembut, tidak membiarkan dosa kecil bertumbuh menjadi kebiasaan, dan tidak mengabaikan suara Roh Kudus yang menegur.
Karena itu, marilah kita sebagai W/KI GMIM mengambil komitmen di hadapan Tuhan. Jangan hanya menjadi perempuan yang kuat memikul beban, tetapi juga menjadi perempuan yang kuat berdoa.
Jangan hanya menjadi ibu yang memikirkan kebutuhan jasmani keluarga, tetapi juga menjadi ibu yang membangun kehidupan iman keluarga.
Jangan hanya aktif dalam kegiatan gereja, tetapi biarlah hati kita sungguh dekat dengan Tuhan. Jangan hanya berbicara tentang kasih, tetapi hiduplah dalam kasih.
Jangan hanya mengetahui firman, tetapi taatilah firman. Jangan hanya mengaku percaya kepada Kristus, tetapi akuilah Dia melalui hidup yang benar.
Jika ada dosa yang selama ini kita sembunyikan, marilah kita akui di hadapan Tuhan. Jika ada kepahitan yang masih kita pelihara, marilah kita serahkan kepada Tuhan.
Jika ada perkataan yang sering melukai orang lain, marilah kita minta Roh Kudus mengubah lidah dan hati kita. Jika ada kemunafikan yang kita pertahankan, marilah kita tinggalkan.
Jika ada teguran Roh Kudus yang selama ini kita abaikan, marilah kita dengarkan kembali dengan rendah hati.
Saudari-saudari yang dikasihi Tuhan, jangan keraskan hati ketika Roh Kudus menegur. Jangan tunda pertobatan ketika firman Tuhan berbicara.
Jangan lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah. Jangan malu mengakui Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah W/KI yang hidup dalam kejujuran, kelembutan, keberanian iman, dan kekudusan.
Jadilah perempuan yang membawa damai dalam keluarga, menjadi teladan iman bagi anak-anak dan cucu, menjadi pendoa yang setia, menjadi pelayan yang rendah hati, dan menjadi saksi Kristus yang hidupnya memuliakan Tuhan.
Kiranya melalui firman Tuhan hari ini, W/KI GMIM semakin dibentuk menjadi persekutuan perempuan yang tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi hidup dalam pertobatan; tidak hanya kuat secara lahiriah, tetapi lembut di hadapan Tuhan;
Tidak hanya tahu tentang Roh Kudus, tetapi sungguh menghormati dan menaati pimpinan-Nya; dan tidak hanya mengaku Kristus dengan mulut, tetapi mengakui Dia melalui seluruh kehidupan.
Amin
Editor : Clavel Lukas