Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Mazmur 92:1–16 Untuk W/KI, Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam

Clavel Lukas • Jumat, 5 Juni 2026 | 11:39 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Mazmur 92:1–16

Tema: “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam”

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, kehidupan perempuan Kristen pada masa kini tidak selalu mudah, sebab di dalam satu hari saja ada begitu banyak tanggung jawab yang harus dipikirkan, dikerjakan, dan dipikul.

 Ada yang bangun pagi langsung memikirkan keluarga, makanan, pekerjaan rumah, pelayanan, anak-anak, cucu, suami, kesehatan orang tua, pekerjaan di luar rumah, ekonomi keluarga, dan berbagai urusan lain yang seolah tidak pernah selesai. Banyak perempuan terlihat kuat, tersenyum, dan tetap melayani, tetapi di dalam hati ada rasa lelah, kekhawatiran, bahkan kadang air mata yang tidak selalu diketahui orang lain.

Pagi hari sering dimulai dengan terburu-buru, dengan telepon genggam, pesan, pekerjaan, dan kebutuhan yang menunggu, sehingga hati belum sempat berdiam di hadapan Tuhan tetapi pikiran sudah dipenuhi oleh banyak beban. 

Baca Juga: Materi Khotbah Mazmur 92:1–16, Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam

Baca Juga: Renungan Mazmur 92:1–16, Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam

Malam hari pun sering ditutup dengan tubuh yang lelah, pikiran yang belum tenang, dan hati yang masih menyimpan banyak hal: kecewa, marah, sedih, takut, atau cemas tentang hari esok.

Dalam keadaan seperti itu, Mazmur 92 hadir sebagai firman yang menata kembali irama hidup rohani kita. Pemazmur berkata bahwa adalah baik untuk bersyukur kepada Tuhan, menyanyikan mazmur bagi nama-Nya, memberitakan kasih setia-Nya di waktu pagi, dan kebenaran-Nya di waktu malam.

 Ini berarti hidup orang percaya tidak boleh hanya diisi oleh rutinitas, kesibukan, tuntutan, dan keluhan, tetapi harus dipenuhi dengan syukur, pujian, perenungan, dan kesaksian tentang Tuhan.

Tema “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam” bukan hanya mengajak kita berdoa pada dua waktu tertentu, tetapi mengajak kita membangun seluruh hidup dalam kesadaran bahwa Tuhan hadir dalam setiap waktu, Tuhan memelihara sejak pagi, Tuhan tetap benar sampai malam, dan Tuhan layak dipuji dalam seluruh perjalanan hidup.

Saudari-saudari, dunia sekarang sering membentuk manusia menjadi pribadi yang mudah mengeluh dan sulit bersyukur. Kita mudah membandingkan hidup dengan orang lain, mudah merasa kurang, mudah kecewa ketika harapan belum terwujud, mudah iri melihat orang lain berhasil, dan mudah lupa bahwa setiap hari yang kita jalani sebenarnya adalah anugerah Tuhan.

Banyak orang baru mencari Tuhan ketika menghadapi krisis, baru berdoa sungguh-sungguh ketika masalah datang, baru bersyukur ketika menerima sesuatu yang besar, dan baru mengingat Tuhan ketika hidup terasa berat. 

Tetapi Mazmur 92 mengajar kita bahwa relasi dengan Tuhan seharusnya menjadi relasi setiap waktu, bukan hanya saat krisis, bukan hanya saat ibadah hari Minggu, dan bukan hanya ketika kita membutuhkan pertolongan.

Bagi W/KI GMIM, tema ini sangat bermakna karena perempuan Kristen sering menjadi penjaga suasana rohani dalam keluarga dan persekutuan.

Banyak ibu menjadi pendoa bagi anak-anak, banyak oma menjadi sumber nasihat bagi cucu-cucu, banyak perempuan menjadi penopang pelayanan, dan banyak W/KI menjadi pembawa damai di tengah jemaat. Namun semua itu hanya dapat dijalani dengan kuat jika hidup kita sendiri tertanam dalam Tuhan. 

Karena itu, firman hari ini mengajak kita untuk memulai pagi dengan mengingat kasih setia Tuhan, menutup malam dengan mengakui kebenaran Tuhan, dan menjalani seluruh hari sebagai kesaksian bahwa Tuhan itu baik, benar, setia, dan tidak pernah curang dalam hidup umat-Nya.

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,

Kitab Mazmur adalah salah satu kitab yang paling dekat dengan kehidupan umat percaya, karena di dalamnya kita menemukan berbagai ungkapan hati manusia di hadapan Allah: pujian, doa, ratapan, ucapan syukur, permohonan pertolongan, pengakuan dosa, dan kesaksian iman.

 Dalam tradisi Ibrani, Kitab Mazmur dikenal sebagai Tehillim, yang berarti puji-pujian, sedangkan dalam tradisi Yunani dikenal sebagai Psalmoi, yang berkaitan dengan nyanyian yang diiringi alat musik. 

 Mazmur berhubungan dengan nyanyian pujian, baik dalam istilah Ibrani maupun Yunani, sehingga kitab ini bukan hanya teks untuk dibaca, melainkan ungkapan iman yang dinyanyikan, didoakan, dan dihidupi oleh umat Allah.

Mazmur 92 secara khusus diberi judul “Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat.” Sabat adalah hari yang dikuduskan bagi Tuhan, hari ketika umat berhenti dari kesibukan kerja untuk memuji, menyembah, dan mengingat pemeliharaan Allah.

Sabat mengajar manusia bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja, menghasilkan, mengurus, mengejar, dan menyelesaikan banyak hal, tetapi juga tentang berhenti di hadapan Tuhan, mengakui Dia sebagai sumber hidup, dan menyadari bahwa kita tidak ditopang oleh kekuatan sendiri. 

Bagi W/KI, ini sangat penting, sebab banyak perempuan terbiasa terus memberi, terus mengurus, terus memikirkan orang lain, dan terus memikul beban, sampai lupa bahwa dirinya sendiri perlu berhenti, berdoa, dan menerima kesegaran dari Tuhan.

Mazmur 92 digolongkan sebagai mazmur madah atau mazmur pujian, karena isinya mengajak umat untuk menyanyikan syukur, memberitakan kasih setia Tuhan, bersukacita karena pekerjaan-Nya, melihat keadilan-Nya terhadap orang fasik, dan mengakui berkat bagi orang benar yang tertanam di rumah Tuhan.

Mazmur 92 bercirikan kegembiraan yang mendalam terhadap Tuhan Allah yang adil dan murah hati, serta mengajak umat menyanyikan pujian dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati kepada Tuhan Yang Mahatinggi.

Tema “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam” berasal dari Mazmur 92:3. Kasih setia Tuhan menunjuk pada kasih Allah yang teguh, kasih perjanjian, kasih yang tidak mudah berubah oleh keadaan, kasih yang tetap memelihara sekalipun manusia lemah.

Kebenaran Tuhan menunjuk pada kesetiaan, keandalan, keadilan, dan keteguhan Allah. Tuhan benar berarti Tuhan tidak curang, tidak salah, tidak meninggalkan umat-Nya, dan tidak pernah bekerja di luar kekudusan-Nya. Pagi dan malam menggambarkan seluruh siklus hidup. 

Pagi adalah awal hari, awal perjuangan, awal harapan, dan awal langkah; sedangkan malam adalah waktu perenungan, evaluasi, istirahat, dan penyerahan. Maka, tema ini mengajar bahwa seluruh waktu hidup kita harus menjadi ruang untuk mengingat dan memberitakan Tuhan.

Bagi W/KI GMIM, makna tema ini sangat konkret. Pagi hari bukan hanya waktu untuk menyiapkan kebutuhan keluarga atau memulai pekerjaan, tetapi waktu untuk berkata, “Tuhan, terima kasih untuk kasih setia-Mu yang masih baru hari ini.”

Malam hari bukan hanya waktu untuk melepas lelah, tetapi waktu untuk melihat kembali perjalanan hari dan berkata, “Tuhan, Engkau benar dalam semua jalan-Mu, ampuni kekuranganku, terima syukurku, dan jagalah aku serta keluargaku.”

 Dengan demikian, hidup perempuan Kristen menjadi hidup yang tidak dikuasai keluhan, tetapi dipimpin oleh syukur; tidak dikuasai kecemasan, tetapi dipenuhi iman; tidak dikuasai rutinitas, tetapi berakar dalam relasi dengan Tuhan.

Pembahasan Ayat per Ayat

Pada ayat 1, tertulis, “Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat.” Judul ini mengingatkan bahwa Mazmur 92 lahir dalam suasana ibadah dan perhentian kudus. Sabat bukan hanya berhenti dari kerja jasmani, tetapi berhenti untuk mengakui bahwa Tuhan adalah pusat hidup.

Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan bahwa perempuan Kristen juga membutuhkan waktu kudus bersama Tuhan. Banyak perempuan begitu terbiasa mengurus semua orang sampai lupa mengurus kehidupan rohaninya sendiri.

 Ada yang memastikan keluarga makan, anak-anak siap, pelayanan berjalan, rumah tertata, tetapi hatinya sendiri tidak sempat tenang di hadapan Tuhan. Firman ini mengajak W/KI untuk memiliki “Sabat” dalam hidup, yaitu ruang untuk berhenti, berdoa, mendengar firman, mengucap syukur, dan dipulihkan oleh Tuhan.

Pada ayat 2, pemazmur berkata, “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi.” Kata “baik” bukan hanya berarti menyenangkan, tetapi juga patut, benar, indah, dan sesuai dengan kehendak Allah.

 Bersyukur itu baik karena syukur menempatkan manusia pada posisi yang benar di hadapan Tuhan. Ketika kita bersyukur, kita mengakui bahwa hidup bukan milik kita sendiri dan bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah.

Bagi W/KI, syukur adalah kekuatan rohani yang menolong hati tidak tenggelam dalam keluhan. Seorang ibu yang bersyukur tidak berarti hidupnya tanpa masalah, tetapi ia memilih melihat bahwa di tengah masalah pun Tuhan masih memelihara. 

Seorang perempuan yang bersyukur tidak berarti semua doanya sudah terjawab, tetapi ia percaya bahwa Tuhan Yang Mahatinggi tetap bekerja dalam hidupnya.

Pada ayat 3, pemazmur berkata, “Untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kebenaran-Mu di waktu malam.” Inilah pusat tema khotbah ini. Pagi hari sering menjadi waktu paling sibuk bagi banyak perempuan.

Ada yang harus menyiapkan rumah, ada yang harus berangkat bekerja, ada yang mengurus anak atau cucu, ada yang memulai pelayanan, dan ada yang langsung menghadapi berbagai tanggung jawab.

Firman Tuhan mengajak supaya pagi tidak dimulai hanya dengan kesibukan, tetapi dengan pengakuan iman bahwa kasih setia Tuhan mendahului semua aktivitas kita. 

Sebelum kita memikirkan masalah, Tuhan sudah memelihara. Sebelum kita melangkah, Tuhan sudah memberi hidup. Sebelum kita bekerja, Tuhan sudah memberikan anugerah.

Malam hari adalah waktu ketika kita membawa semua pengalaman hari itu kepada Tuhan. Mungkin ada sukacita, tetapi mungkin juga ada kelelahan. Mungkin ada keberhasilan, tetapi mungkin juga ada kegagalan.

Mungkin ada damai, tetapi mungkin juga ada luka karena perkataan orang lain. Memberitakan kebenaran Tuhan di waktu malam berarti mengakui bahwa sekalipun hari ini tidak sempurna, Tuhan tetap benar. 

Ini juga berarti kita menutup hari dengan evaluasi rohani: apakah hari ini perkataanku membangun atau melukai, apakah aku lebih banyak bersyukur atau mengeluh, apakah aku memberi ruang bagi kasih Tuhan dalam keluarga, apakah aku membawa damai atau justru menambah konflik. Dengan demikian, pagi menjadi waktu penyerahan dan malam menjadi waktu pemulihan.

Pada ayat 4, pemazmur menyebut alat musik sepuluh tali, gambus, dan kecapi. Ini menunjukkan bahwa pujian kepada Tuhan dilakukan dengan kesungguhan, keindahan, dan keterlibatan seluruh kemampuan.

Pujian bukan sekadar suara, tetapi sikap hati. Dalam kehidupan W/KI, pujian tidak hanya terjadi ketika menyanyi di ibadah, tetapi juga ketika hidup kita menjadi nyanyian bagi Tuhan. 

Perempuan Kristen memuji Tuhan ketika ia mengasihi keluarganya dengan sabar, ketika ia tetap jujur dalam pekerjaan, ketika ia menguatkan orang lain, ketika ia berdoa dalam kesunyian, dan ketika ia melayani tanpa mencari pujian. Musik yang indah penting, tetapi hati yang tulus jauh lebih penting di hadapan Tuhan.

Pada ayat 5, pemazmur berkata bahwa Tuhan telah membuatnya bersukacita karena pekerjaan-Nya, dan karena perbuatan tangan Tuhan ia bersorak-sorai. Sukacita pemazmur bukan berasal dari keadaan yang selalu baik, tetapi dari kesadaran bahwa Tuhan bekerja.

Ini sangat relevan bagi W/KI, karena banyak perempuan kehilangan sukacita bukan karena Tuhan berhenti bekerja, tetapi karena hati terlalu penuh dengan beban sehingga tidak lagi melihat pekerjaan Tuhan.

Kita mudah mengingat hal yang belum selesai, tetapi lupa mensyukuri hal yang Tuhan sudah lakukan. Kita mudah melihat kekurangan keluarga, tetapi lupa melihat pemeliharaan Tuhan. 

Ayat ini mengajak kita melatih mata iman untuk melihat karya Tuhan dalam hal-hal sederhana: napas baru, makanan hari ini, kekuatan untuk melayani, kesempatan mendoakan keluarga, dan penghiburan kecil yang Tuhan berikan di tengah lelah.

Pada ayat 6, pemazmur berkata, “Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.” Ayat ini membawa kita kepada kekaguman akan kebesaran Tuhan. Pekerjaan Tuhan besar, tetapi rancangan-Nya juga dalam. Tidak semua yang Tuhan kerjakan langsung kita pahami.

Kadang seorang ibu berdoa bertahun-tahun untuk anaknya, tetapi perubahan belum terlihat. Kadang seorang istri berdoa bagi keluarganya, tetapi pergumulan masih berlangsung. Kadang seorang pelayan Tuhan setia bekerja, tetapi hasilnya belum tampak. 

Firman ini mengingatkan bahwa rancangan Tuhan lebih dalam dari pengertian manusia. Kita mungkin belum mengerti sekarang, tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan benar, setia, dan tidak pernah bekerja tanpa tujuan.

Pada ayat 7, pemazmur berkata bahwa orang bodoh tidak akan mengetahui dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu. Kebodohan yang dimaksud bukan sekadar kurang pendidikan, tetapi ketidakpekaan rohani. Orang dapat memiliki pengetahuan, uang, jabatan, dan pengalaman, tetapi tetap tidak mengenal Tuhan.

Dalam kehidupan sekarang, banyak orang memiliki informasi yang melimpah, tetapi tidak memiliki hikmat. Banyak yang tahu banyak hal dari media sosial, tetapi tidak tahu bagaimana bersyukur. Banyak yang pandai berbicara, tetapi tidak peka terhadap suara Tuhan. 

Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita mencari hikmat rohani, bukan hanya pengetahuan dunia. Perempuan yang berhikmat bukan hanya pandai mengurus rumah atau pelayanan, tetapi hidupnya takut akan Tuhan dan peka terhadap kehendak-Nya.

Pada ayat 8, pemazmur berkata bahwa orang fasik dapat bertunas seperti tumbuh-tumbuhan dan orang yang melakukan kejahatan dapat berkembang, tetapi mereka akan dipunahkan untuk selama-lamanya.

Ayat ini menjawab pergumulan yang sering terjadi: mengapa orang yang tidak takut Tuhan tampak berhasil, sedangkan orang benar masih bergumul? Pemazmur tidak menyangkal bahwa orang fasik kadang tampak bertunas dan berkembang, tetapi ia menegaskan bahwa keberhasilan mereka sementara. Bagi W/KI, ini menjadi peringatan agar jangan iri kepada keberhasilan yang dibangun di atas jalan yang salah. 

Jangan merasa bahwa hidup benar sia-sia hanya karena orang yang curang tampak lebih cepat maju. Jangan tinggalkan nilai-nilai Tuhan hanya karena dunia menawarkan jalan pintas. Keberhasilan tanpa Tuhan mungkin terlihat menarik, tetapi tidak memiliki akar kekal.

Pada ayat 9, pemazmur berkata, “Tetapi Engkau di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya, ya TUHAN!” Di tengah kenyataan bahwa orang fasik tampak berkembang, pemazmur mengangkat pandangannya kepada Tuhan.

Ini adalah tindakan iman yang penting. Ketika kita hanya melihat masalah, hati mudah takut. Ketika kita hanya melihat hidup orang lain, hati mudah iri. Ketika kita hanya melihat kekurangan diri, hati mudah kecewa. 

Tetapi ketika kita melihat Tuhan yang Mahatinggi, hati diteguhkan. Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita mengarahkan keluarga dan persekutuan kepada Tuhan, bukan kepada keluhan. Tuhan tetap tinggi, tetap berdaulat, tetap benar, dan tetap memegang hidup kita.

Pada ayat 10, pemazmur berkata bahwa musuh-musuh Tuhan akan binasa dan semua orang yang melakukan kejahatan akan tercerai-berai. Ini adalah pengakuan bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Kejahatan tidak akan menang untuk selama-lamanya.

Dalam kehidupan sekarang, kita melihat banyak ketidakadilan, kebohongan, kekerasan, dan sikap yang merusak. Kadang orang benar merasa lelah karena kebenaran seolah kalah. Namun firman ini mengingatkan bahwa Tuhan melihat semuanya. 

Bagi W/KI, ini berarti kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak perlu membalas luka dengan gosip, tidak perlu membalas hinaan dengan kebencian. Kita dipanggil hidup benar dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Pada ayat 11, pemazmur berkata bahwa Tuhan meninggikan tanduknya seperti tanduk banteng dan menuangkan minyak baru kepadanya. Tanduk melambangkan kekuatan dan keberanian, sedangkan minyak baru melambangkan kesegaran, sukacita, dan pemulihan.

Ayat ini sangat menyentuh kehidupan perempuan Kristen yang sering merasa lelah. Ada lelah fisik karena pekerjaan, lelah batin karena relasi, lelah rohani karena pelayanan, dan lelah hati karena doa yang belum terjawab. Tuhan sanggup menuangkan minyak baru. 

Ia sanggup memberi kesegaran rohani, memulihkan hati yang letih, dan memberi keberanian untuk tetap setia. MTPJ juga menegaskan bahwa minyak baru menjadi tanda kesegaran dan kebahagiaan yang dialami pemazmur karena kasih setia Tuhan.

Pada ayat 12, pemazmur berkata bahwa matanya memandangi orang-orang yang mengintainya dan telinganya mendengar tentang orang-orang jahat yang bangkit melawannya.

Ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur tetap menghadapi lawan dan ancaman. Iman tidak membuat hidup bebas dari masalah, tetapi iman membuat kita tidak dikuasai masalah. Bagi W/KI, lawan dalam hidup tidak selalu berupa orang yang menyerang secara langsung.

 Lawan bisa berupa ketakutan, kepahitan, iri hati, rasa rendah diri, tekanan keluarga, kecemasan, atau godaan untuk menyerah. Firman ini mengingatkan bahwa Tuhan memberi kekuatan untuk menghadapi semua itu.

Pada ayat 13, pemazmur berkata bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.

Pohon korma dikenal kuat dan dapat bertumbuh di daerah panas, sedangkan pohon aras Libanon dikenal tinggi, kokoh, agung, dan berumur panjang. MTPJ menjelaskan bahwa kedua pohon ini menggambarkan kekuatan, panjang umur, kebahagiaan, keagungan, dan kehidupan yang diberkati. 

Bagi W/KI, gambaran ini sangat indah. Perempuan benar bukan berarti perempuan tanpa pergumulan, tetapi perempuan yang tetap bertumbuh karena akarnya kuat dalam Tuhan. Seperti pohon korma yang tetap memberi buah di tempat panas, W/KI dipanggil tetap menjadi berkat sekalipun hidup tidak selalu mudah.

Pada ayat 14, pemazmur berkata bahwa mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Rahasia orang benar bukan hanya karena ia kuat, tetapi karena ia ditanam di tempat yang benar.

 Ditaman di bait Tuhan berarti hidup dekat dengan Tuhan, berakar dalam hadirat-Nya, firman-Nya, ibadah-Nya, dan persekutuan umat-Nya. Bagi W/KI, ini adalah panggilan untuk tidak hanya aktif dalam kegiatan gereja, tetapi sungguh tertanam dalam Tuhan.

Orang bisa aktif, tetapi belum tentu berakar. Orang bisa sibuk melayani, tetapi hatinya bisa kering jika tidak tinggal dekat dengan Tuhan. Karena itu, W/KI perlu terus membangun kehidupan doa, firman, ibadah, dan persekutuan yang sehat.

Pada ayat 15, pemazmur berkata bahwa pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. Ini adalah janji dan penghiburan yang sangat kuat.

 Dalam Tuhan, usia tidak menghilangkan makna hidup. Perempuan yang tertanam dalam Tuhan tetap dapat berbuah sampai masa tua melalui doa, hikmat, kesaksian, nasihat, teladan, kesabaran, dan kasih.

Banyak oma dalam jemaat mungkin tidak lagi kuat berjalan jauh atau bekerja berat, tetapi doa dan kesaksian mereka menjadi kekuatan bagi keluarga dan gereja. Banyak ibu yang sudah melewati banyak pergumulan dapat menjadi sumber hikmat bagi generasi muda. Dalam Tuhan, setiap usia memiliki buahnya.

Pada ayat 16, pemazmur berkata bahwa mereka akan memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia adalah gunung batu, dan tidak ada kecurangan pada-Nya. Inilah puncak Mazmur 92.

 Orang benar yang mengalami kasih setia Tuhan pagi dan malam akhirnya menjadi saksi tentang karakter Allah. Ia bukan hanya berkata Tuhan baik ketika hidup mudah, tetapi juga menyatakan Tuhan benar setelah melewati banyak musim kehidupan.

Bagi W/KI, inilah panggilan kesaksian: hidup kita harus memberitakan bahwa Tuhan adalah gunung batu, tempat perlindungan yang teguh, Allah yang adil, dan Allah yang tidak curang. Kesaksian itu bukan hanya keluar dari mulut, tetapi tampak dalam cara kita hidup, mengampuni, bersyukur, melayani, dan tetap percaya.

Penutup

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Mazmur 92:1–16, kita melihat bahwa tema “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam” bukan hanya sebuah kalimat indah, tetapi panggilan untuk membangun cara hidup yang penuh syukur, penuh pujian, dan penuh kesadaran akan kehadiran Tuhan.

Pagi dan malam menggambarkan seluruh waktu hidup kita. Pagi adalah saat memulai langkah, malam adalah saat menutup hari. 

Artinya, dari awal sampai akhir, dari masa muda sampai masa tua, dari rumah sampai gereja, dari pelayanan sampai pekerjaan, seluruh hidup W/KI dipanggil menjadi kesaksian tentang kasih setia dan kebenaran Tuhan.

Khotbah ini mengingatkan bahwa syukur bukan hanya ucapan ketika keadaan baik, tetapi sikap iman yang mengakui bahwa Tuhan tetap memelihara dalam setiap keadaan.

Bersyukur kepada Tuhan itu baik karena syukur menyembuhkan hati dari keluhan, iri hati, kesombongan, dan rasa tidak cukup. Ketika kita bersyukur, kita belajar melihat hidup bukan hanya dari masalah yang ada, tetapi dari Tuhan yang terus bekerja. 

Ketika kita memuji Tuhan, kita mengangkat pandangan dari beban kepada Allah Yang Mahatinggi. Ketika kita memberitakan kasih setia Tuhan di waktu pagi, kita memulai hari dengan iman. Ketika kita memberitakan kebenaran Tuhan di waktu malam, kita menutup hari dengan penyerahan.

Bagi W/KI, firman ini memiliki implikasi yang sangat nyata. Dalam keluarga, W/KI dipanggil menjadi pembawa suasana syukur, bukan hanya suara keluhan. Rumah tangga memang memiliki banyak kebutuhan dan pergumulan, tetapi keluarga yang terus belajar bersyukur akan memiliki kekuatan rohani untuk bertahan.

Dalam pelayanan, W/KI dipanggil melayani dengan hati yang segar, bukan hati yang pahit. Pelayanan tidak boleh menjadi tempat persaingan, pencarian pujian, atau sumber konflik, tetapi menjadi ruang untuk menyatakan kasih setia Tuhan. 

Dalam persekutuan, W/KI dipanggil menjaga perkataan, sebab lidah dapat menjadi alat pujian tetapi juga dapat menjadi alat yang melukai. Dalam kehidupan pribadi, W/KI dipanggil membangun waktu dengan Tuhan, supaya jiwa tidak kering di tengah banyaknya tanggung jawab.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang dari firman ini. Pertama, syukur harus menjadi gaya hidup, bukan hanya reaksi ketika menerima berkat besar.

Kedua, pagi harus dimulai dengan mengingat kasih setia Tuhan, supaya hati tidak langsung dikuasai oleh kekhawatiran. 

Ketiga, malam harus ditutup dengan mengakui kebenaran Tuhan, supaya kita tidak tidur dengan hati yang penuh keluhan, amarah, atau kecemasan. 

Keempat, jangan iri kepada keberhasilan orang fasik, sebab keberhasilan tanpa Tuhan hanya sementara. 

Kelima, tertanamlah di rumah Tuhan, karena orang yang dekat dengan Tuhan akan bertumbuh dan berbuah. 

Keenam, tetaplah berbuah sampai masa tua, sebab dalam Tuhan tidak ada usia yang tidak berguna. 

Ketujuh, jadikan hidup sebagai kesaksian bahwa Tuhan itu benar, Ia adalah gunung batu kita, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Karena itu, marilah kita mulai membangun kebiasaan rohani yang sederhana tetapi mendalam. Ketika bangun pagi, jangan langsung menyerahkan hati kepada telepon genggam, berita, pekerjaan, dan kekhawatiran.

Berhentilah sejenak dan katakan, “Tuhan, terima kasih untuk kasih setia-Mu pagi ini. Pimpin aku menjalani hari ini. Jadikan perkataanku berkat. Jadikan tanganku alat kebaikan. Jadikan hatiku tempat kasih-Mu bekerja.” Ketika malam tiba, jangan hanya menutup hari dengan kelelahan. 

Datanglah kepada Tuhan dan katakan, “Tuhan, terima kasih untuk penyertaan-Mu hari ini. Ampuni jika aku salah berbicara, salah bersikap, atau kurang bersyukur. Aku percaya Engkau benar dan setia. Aku serahkan keluargaku dan hidupku dalam tangan-Mu.”

Saudari-saudari, marilah kita juga belajar seperti Hana, nabi perempuan yang tetap tinggal dalam doa dan ibadah sampai masa tua. Jangan merasa bahwa doa yang sunyi tidak berarti.

Jangan merasa pelayanan kecil tidak berharga. Jangan merasa kesetiaan yang tidak dilihat orang sia-sia. Tuhan melihat perempuan yang setia. 

Tuhan memakai W/KI yang tertanam dalam hadirat-Nya. Tuhan menjadikan hidup yang penuh syukur sebagai kesaksian bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat.

Akhirnya, biarlah W/KI GMIM menjadi persekutuan perempuan yang tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi sungguh berakar dalam Tuhan; tidak hanya kuat mengurus banyak hal, tetapi kuat dalam doa; tidak hanya pandai berbicara, tetapi bijaksana dalam perkataan; tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi membawa pulang semangat syukur ke dalam keluarga.

 Biarlah dari hidup kita, orang lain melihat bahwa kasih setia Tuhan nyata di waktu pagi dan kebenaran-Nya tetap teguh di waktu malam.

Kiranya Tuhan menolong kita menjadi perempuan-perempuan yang selalu bersyukur, selalu memuji, tetap bertumbuh, tetap segar, tetap berbuah, dan tetap memberitakan sepanjang hidup bahwa Tuhan itu benar, Dialah gunung batu kita, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#MTPJ #khotbah #Renungan GMIM #W/KI GMIM #Renungan