Bacaan: Mazmur 92:1–16
Tema: “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, kehidupan kaum bapak pada masa kini tidak selalu mudah.
Banyak bapak bangun pagi dengan pikiran yang sudah penuh: pekerjaan yang harus diselesaikan, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, anak-anak yang harus diperhatikan, pelayanan yang menanti, tanggung jawab sosial dalam jemaat dan masyarakat, serta berbagai persoalan yang kadang tidak sempat diceritakan kepada siapa pun.
Pagi hari sering kali dimulai dengan terburu-buru, dengan telepon genggam, berita, pesan, pekerjaan, dan kekhawatiran, sehingga hati belum sempat berdiam di hadapan Tuhan tetapi pikiran sudah terlebih dahulu dikuasai oleh beban hidup.
Malam hari pun sering tidak lebih tenang. Setelah seharian bekerja, melayani, bertemu banyak orang, menghadapi tekanan, atau memikirkan kebutuhan rumah tangga, banyak bapak menutup hari dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang masih berjalan.
Baca Juga: Renungan Mazmur 92:1–16, Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam
Ada yang membawa pulang beban pekerjaan ke rumah. Ada yang merasa gagal menjadi suami atau ayah yang baik. Ada yang memendam kecemasan tentang masa depan keluarga. Ada yang lelah melayani tetapi tidak banyak bicara.
Ada yang tampak kuat di depan orang lain, tetapi sebenarnya hatinya penuh pergumulan. Dalam keadaan seperti itu, firman Tuhan melalui Mazmur 92 mengajak kita menata kembali irama hidup iman kita.
Tema “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam” sangat tepat untuk P/KB, karena kaum bapak dipanggil bukan hanya menjadi pencari nafkah, bukan hanya menjadi pemimpin keluarga secara lahiriah, dan bukan hanya menjadi anggota pelayanan gereja, tetapi juga menjadi pribadi yang hidupnya berakar dalam Tuhan.
Seorang bapak Kristen harus belajar memulai hari dengan mengingat kasih setia Tuhan dan menutup hari dengan mengakui kebenaran Tuhan.
Artinya, dari pagi sampai malam, dari awal sampai akhir hari, dari masa muda sampai masa tua, hidup kita harus menjadi kesaksian bahwa Tuhan itu setia, Tuhan itu benar, dan Tuhan layak dipuji.
Saudara-saudara, dunia modern sering membentuk kita menjadi manusia yang mudah mengeluh. Kita mengeluh karena pekerjaan berat, mengeluh karena ekonomi sulit, mengeluh karena anak-anak tidak sesuai harapan, mengeluh karena pelayanan tidak dihargai, mengeluh karena orang fasik tampak berhasil, dan mengeluh karena hidup tidak berjalan sesuai rencana. Namun Mazmur 92 mengajar kita untuk melawan budaya keluhan dengan spiritualitas syukur.
Orang percaya tidak menutup mata terhadap masalah, tetapi ia belajar melihat masalah dalam terang kasih setia Tuhan. Orang percaya tidak menganggap hidup selalu mudah, tetapi ia percaya bahwa Tuhan tetap benar dalam setiap musim kehidupan.
Karena itu, khotbah ini mengajak P/KB GMIM untuk membangun kembali kehidupan yang berakar pada pujian dan syukur. Pagi bukan hanya waktu untuk bekerja, tetapi juga waktu untuk mengakui kasih setia Tuhan. Malam bukan hanya waktu untuk beristirahat, tetapi juga waktu untuk merenung, mengevaluasi diri, bertobat, dan mengakui bahwa Tuhan tetap benar.
Seorang bapak yang hidup dalam irama rohani seperti ini akan menjadi berkat bagi keluarganya, menjadi teladan bagi anak-anaknya, menjadi kekuatan bagi jemaatnya, dan menjadi kesaksian bagi masyarakat.
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan,
Kitab Mazmur adalah kitab yang sangat dekat dengan kehidupan umat percaya karena di dalamnya kita menemukan berbagai ungkapan iman manusia kepada Allah. Ada pujian, ratapan, doa, pengakuan dosa, ucapan syukur, permohonan pertolongan, dan kesaksian tentang kebesaran Tuhan.
Dalam tradisi Ibrani, Kitab Mazmur dikenal dengan nama Tehillim, yang berarti puji-pujian, sedangkan dalam terjemahan Yunani Perjanjian Lama, yaitu Septuaginta, kitab ini dikenal dengan istilah Psalmoi, yang berhubungan dengan nyanyian yang diiringi alat musik. Dengan demikian, Mazmur bukan hanya teks untuk dibaca, tetapi juga nyanyian iman yang lahir dari pengalaman nyata umat Allah bersama Tuhan.
Mazmur 92 secara khusus diberi keterangan sebagai “Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat.” Ini berarti Mazmur 92 memiliki hubungan erat dengan kehidupan ibadah umat Allah pada hari Sabat.
Sabat adalah hari yang dikuduskan, hari berhenti dari kesibukan kerja, hari untuk mengingat Tuhan, hari untuk beribadah, hari untuk merenung, dan hari untuk menyadari kembali bahwa hidup manusia tidak ditentukan hanya oleh pekerjaan, produktivitas, atau pencapaian, melainkan oleh kasih setia Tuhan.
Bagi umat Israel, Sabat menjadi tanda bahwa mereka bukan lagi budak, melainkan umat Allah yang dipelihara oleh Tuhan. Mereka berhenti bekerja bukan karena tidak ada lagi yang harus dikerjakan, tetapi karena mereka percaya bahwa Tuhan tetap memegang hidup mereka.
Ini sangat relevan bagi kaum bapak. Banyak bapak merasa harga dirinya ditentukan oleh pekerjaan, penghasilan, jabatan, kemampuan memberi, atau pengakuan masyarakat.
Tentu bekerja adalah tanggung jawab yang penting, tetapi Mazmur 92 mengingatkan bahwa seorang laki-laki Kristen tidak boleh diperbudak oleh pekerjaan dan kekhawatiran. Pekerjaan penting, tetapi pekerjaan bukan Tuhan.
Uang penting untuk kebutuhan hidup, tetapi uang bukan dasar keselamatan. Tanggung jawab keluarga penting, tetapi semua itu harus dijalani dalam kesadaran bahwa Tuhanlah sumber kekuatan dan pemeliharaan.
Mazmur 92 termasuk mazmur madah atau mazmur pujian. Isi mazmur ini mengajak umat untuk bersyukur kepada Tuhan, menyanyikan pujian bagi nama Tuhan Yang Mahatinggi, memberitakan kasih setia dan kebenaran-Nya, merenungkan pekerjaan-Nya yang besar, serta melihat perbedaan antara orang fasik dan orang benar.
Orang fasik mungkin tampak berkembang untuk sementara, tetapi mereka akan binasa. Sebaliknya, orang benar yang tertanam di rumah Tuhan akan bertunas, bertumbuh, dan berbuah sampai masa tua.
Tema “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam” berasal dari Mazmur 92:3. Kasih setia Tuhan menunjuk pada kasih Allah yang teguh, kasih perjanjian, kasih yang tidak berubah, kasih yang terus memelihara umat-Nya sekalipun manusia sering lemah.
Dalam bahasa teologis Perjanjian Lama, gagasan ini dekat dengan kata hesed, yaitu kasih yang setia, kasih yang penuh kemurahan, dan kasih yang berpegang pada perjanjian.
Kebenaran Tuhan menunjuk pada keadilan, kesetiaan, keteguhan, dan keandalan Allah. Tuhan benar berarti Tuhan tidak curang, tidak berubah, tidak salah, tidak meninggalkan umat-Nya, dan tidak bertindak di luar kekudusan-Nya.
Pagi dan malam dalam tema ini menggambarkan keseluruhan hidup manusia. Pagi adalah awal hari, awal pekerjaan, awal pergumulan, awal harapan, dan awal langkah. Malam adalah waktu perenungan, evaluasi, penyerahan, dan istirahat.
Maka, memberitakan kasih setia Tuhan di waktu pagi berarti memulai hidup dengan iman kepada pemeliharaan Allah, sedangkan memberitakan kebenaran Tuhan di waktu malam berarti menutup hari dengan pengakuan bahwa Tuhan tetap benar dan setia dalam seluruh perjalanan hidup.
Bagi P/KB, ini adalah panggilan untuk menjadi laki-laki Kristen yang memiliki disiplin rohani, bukan hanya sibuk bekerja, tetapi juga setia berdoa; bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat dalam iman; bukan hanya memimpin keluarga secara lahiriah, tetapi membawa keluarga hidup dekat dengan Tuhan.
Pembahasan Ayat per Ayat
Pada ayat 1, tertulis, “Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat.” Keterangan ini menunjukkan bahwa Mazmur 92 ditempatkan dalam suasana ibadah dan perhentian kudus.
Sabat mengingatkan umat bahwa hidup tidak hanya berisi pekerjaan, tetapi juga penyembahan. Sabat mengajarkan bahwa manusia perlu berhenti untuk mengakui Tuhan sebagai pusat hidup.
Bagi P/KB, ayat ini sangat menegur, sebab banyak kaum bapak begitu sibuk bekerja, melayani, mengurus banyak hal, tetapi kehilangan waktu untuk diam di hadapan Tuhan.
Ada bapak yang sangat rajin mengejar kebutuhan jasmani keluarga, tetapi lupa membangun kehidupan rohani keluarga. Ada yang kuat bekerja dari pagi sampai malam, tetapi lemah dalam doa.
Mazmur ini mengingatkan bahwa hidup harus memiliki Sabat, yaitu ruang kudus untuk Tuhan, ruang untuk bersyukur, ruang untuk memeriksa hati, dan ruang untuk kembali menyadari bahwa Tuhanlah pemilik hidup.
Pada ayat 2, pemazmur berkata, “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi.” Kata “baik” berarti patut, benar, indah, dan sesuai dengan kehendak Allah. Bersyukur kepada Tuhan itu baik karena syukur menempatkan manusia pada posisi yang benar.
Ketika seorang bapak bersyukur, ia sedang mengakui bahwa hidupnya bukan semata-mata hasil kekuatan sendiri. Penghasilan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kesempatan hidup adalah anugerah Tuhan. Banyak bapak jatuh dalam kesombongan karena merasa semua yang dimiliki adalah hasil perjuangannya sendiri.
Namun pemazmur mengingatkan bahwa orang yang benar di hadapan Tuhan adalah orang yang tahu bersyukur. Syukur membuat hati tetap rendah, menjaga kita dari keluhan yang berlebihan, dan menolong kita melihat bahwa Tuhan Yang Mahatinggi berada di atas semua keadaan hidup.
Pada ayat 3, pemazmur berkata, “Untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kebenaran-Mu di waktu malam.” Inilah pusat tema khotbah kita. Pagi adalah waktu ketika kaum bapak mulai menjalankan tanggung jawab: bekerja, mengurus keluarga, mengambil keputusan, melayani, dan menghadapi berbagai persoalan.
Jika pagi dimulai tanpa Tuhan, maka hati mudah dikuasai kekhawatiran. Tetapi jika pagi dimulai dengan mengingat kasih setia Tuhan, maka langkah hari itu dimulai dengan iman.
Memberitakan kasih setia Tuhan di waktu pagi berarti berkata dalam hati, “Tuhan, hari ini aku hidup karena kemurahan-Mu; aku bekerja karena Engkau memberi kekuatan; aku memimpin keluarga bukan dengan kekuatanku sendiri, tetapi dengan pertolongan-Mu.”
Malam adalah waktu ketika seorang bapak menutup hari dengan segala kelelahan dan evaluasi. Ada hari ketika pekerjaan berhasil, tetapi ada juga hari ketika banyak hal mengecewakan. Ada hari ketika keluarga terasa hangat, tetapi ada juga hari ketika rumah penuh ketegangan.
Ada hari ketika pelayanan membawa sukacita, tetapi ada juga hari ketika pelayanan membuat hati lelah. Memberitakan kebenaran Tuhan di waktu malam berarti mengakui bahwa Tuhan tetap benar sekalipun hari yang kita jalani tidak sempurna.
Ini juga berarti seorang bapak perlu belajar mengevaluasi diri di hadapan Tuhan: apakah hari ini perkataanku membangun keluarga atau melukai mereka, apakah aku bekerja dengan jujur, apakah aku melayani dengan tulus, apakah aku memimpin keluarga dengan kasih, dan apakah aku sudah hidup sesuai firman Tuhan.
Pada ayat 4, pemazmur menyebut alat musik sepuluh tali, gambus, dan kecapi. Pujian kepada Tuhan dilakukan dengan kesungguhan, keindahan, dan keterlibatan seluruh kemampuan.
Alat musik dipakai untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk memamerkan manusia. Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa kaum bapak juga dipanggil untuk menjadi penyembah Tuhan.
Kadang dalam budaya tertentu, laki-laki merasa malu mengekspresikan pujian, malu bernyanyi dengan sungguh, atau merasa ibadah adalah urusan perempuan dan anak-anak. Tetapi firman Tuhan mengajar bahwa memuji Tuhan adalah panggilan semua umat, termasuk kaum bapak.
Seorang bapak yang memuji Tuhan dengan sungguh sedang memberi teladan kepada keluarga bahwa laki-laki yang takut akan Tuhan bukan laki-laki yang malu menyembah, tetapi laki-laki yang rendah hati di hadapan Allah.
Pada ayat 5, pemazmur berkata bahwa Tuhan telah membuatnya bersukacita karena pekerjaan-Nya, dan karena perbuatan tangan Tuhan ia bersorak-sorai.
Sukacita pemazmur bukan bergantung pada keadaan yang selalu mudah, tetapi pada kesadaran bahwa Tuhan bekerja. Ini sangat penting bagi P/KB, sebab banyak kaum bapak kehilangan sukacita karena terlalu fokus pada beban.
Beban ekonomi, beban pekerjaan, beban keluarga, beban pelayanan, dan beban sosial bisa membuat hati menjadi berat. Tetapi ayat ini mengajak kita melihat pekerjaan Tuhan di tengah hidup. Ketika kita masih diberi kekuatan untuk bekerja, itu pekerjaan Tuhan. Ketika keluarga masih dipelihara, itu pekerjaan Tuhan.
Ketika masih ada kesempatan beribadah, itu pekerjaan Tuhan. Ketika Tuhan memberi kesabaran dalam pergumulan, itu pekerjaan Tuhan. Sukacita iman lahir dari mata yang mampu melihat karya Tuhan.
Pada ayat 6, pemazmur berkata, “Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.” Ayat ini mengajak kita mengagumi kebesaran dan kedalaman rencana Allah. Pekerjaan Tuhan besar, tetapi rancangan-Nya juga dalam. Tidak semua jalan Tuhan langsung dapat dimengerti manusia.
Kadang seorang bapak berdoa untuk keluarganya, tetapi jawaban Tuhan tidak datang secepat yang diharapkan. Kadang seorang ayah berusaha mendidik anak dengan baik, tetapi anak masih berjalan dalam pergumulan. Kadang seseorang bekerja dengan jujur, tetapi hasilnya tidak langsung tampak.
Dalam keadaan seperti itu, firman ini mengingatkan bahwa rancangan Tuhan lebih dalam daripada pikiran manusia. Iman bukan berarti kita mengerti semua hal, tetapi percaya bahwa Tuhan tetap benar dalam rencana-Nya.
Pada ayat 7, pemazmur berkata bahwa orang bodoh tidak akan mengetahui dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu. Kebodohan yang dimaksud bukan terutama kurang pendidikan, tetapi tidak memiliki pengertian rohani.
Orang bisa pintar, kaya, berpengaruh, dan berhasil secara dunia, tetapi tetap bodoh secara rohani jika tidak mengenal Tuhan. Dalam konteks P/KB, ayat ini menegur kita agar tidak hanya mengejar kecerdasan, pengalaman, dan keberhasilan duniawi, tetapi juga hikmat rohani.
Seorang bapak dapat menjadi pekerja hebat, tetapi gagal menjadi pemimpin rohani keluarga jika tidak takut akan Tuhan. Seorang laki-laki dapat pandai mengatur usaha, tetapi tidak tahu mengatur hati. Hikmat sejati dimulai ketika manusia mengakui Tuhan dalam segala jalannya.
Pada ayat 8, pemazmur berkata bahwa orang fasik dapat bertunas seperti tumbuh-tumbuhan dan orang yang melakukan kejahatan dapat berkembang, tetapi mereka akan dipunahkan untuk selama-lamanya.
Ini menjawab pergumulan yang sering muncul dalam hidup: mengapa orang yang tidak takut Tuhan tampak berhasil? Mengapa orang yang curang cepat maju? Mengapa orang yang tidak jujur kadang terlihat lebih makmur?
Pemazmur tidak menyangkal bahwa orang fasik bisa tampak berkembang, tetapi ia menegaskan bahwa keberhasilan mereka sementara. Bagi P/KB, ini adalah peringatan agar jangan iri kepada keberhasilan yang dibangun dengan cara salah. Jangan mengorbankan kejujuran demi keuntungan cepat.
Jangan menjual integritas demi uang. Jangan memakai jalan fasik hanya karena tampaknya lebih mudah. Orang benar mungkin bertumbuh lebih perlahan, tetapi pertumbuhannya berakar dan bertahan.
Pada ayat 9, pemazmur berkata, “Tetapi Engkau di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya, ya TUHAN!” Di tengah kenyataan bahwa orang fasik tampak berkembang, pemazmur mengangkat pandangan kepada Tuhan.
Ini adalah sikap iman yang penting. Jika seorang bapak hanya melihat keadaan ekonomi, ia bisa takut. Jika hanya melihat keberhasilan orang lain, ia bisa iri. Jika hanya melihat masalah keluarga, ia bisa putus asa. Tetapi ketika ia melihat Tuhan yang Mahatinggi, hatinya diteguhkan. Tuhan tetap di tempat yang tinggi.
Tuhan tidak kehilangan kuasa. Tuhan tidak turun dari takhta-Nya hanya karena hidup kita sedang sulit. Karena itu, P/KB dipanggil untuk mengarahkan pandangan keluarga kepada Tuhan, bukan kepada ketakutan.
Pada ayat 10, pemazmur berkata bahwa musuh-musuh Tuhan akan binasa dan semua orang yang melakukan kejahatan akan tercerai-berai. Ini adalah pengakuan bahwa Allah adalah Hakim yang adil.
Kejahatan tidak akan menang selamanya. Ketidakjujuran tidak akan bertahan selamanya. Kefasikan tidak memiliki masa depan kekal. Dalam kondisi saat ini, ketika kita melihat ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan kebohongan, kita bisa merasa kebenaran kalah.
Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan melihat semuanya. Bagi P/KB, ayat ini mengajak kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi tetap hidup benar dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.
Pada ayat 11, pemazmur berkata bahwa Tuhan meninggikan tanduknya seperti tanduk banteng dan menuangkan minyak baru kepadanya. Tanduk melambangkan kekuatan, keberanian, dan kehormatan, sedangkan minyak baru melambangkan kesegaran, pemulihan, dan sukacita.
Ini sangat menyentuh kehidupan kaum bapak, karena banyak bapak membutuhkan kekuatan baru. Ada yang lelah menghadapi tekanan ekonomi, ada yang lelah menjaga keluarga, ada yang lelah melayani, ada yang lelah menghadapi konflik, dan ada yang lelah dengan dirinya sendiri.
Tuhan sanggup menuangkan minyak baru, yaitu kesegaran rohani yang memperbarui hati. Kekuatan dari Tuhan bukan membuat kita sombong, tetapi membuat kita mampu bertahan, bangkit, dan tetap setia.
Pada ayat 12, pemazmur berkata bahwa matanya memandangi orang-orang yang mengintainya dan telinganya mendengar tentang orang-orang jahat yang bangkit melawannya.
Ini menunjukkan bahwa hidup orang benar tidak bebas dari lawan. Ada tekanan, ancaman, dan pergumulan. Namun karena Tuhan memberi kekuatan, pemazmur tidak dikuasai ketakutan.
Dalam kehidupan P/KB, lawan tidak selalu berupa manusia. Lawan bisa berupa kemarahan, ego, kecemasan, kebiasaan buruk, godaan ketidakjujuran, hawa nafsu, kemalasan rohani, atau keinginan untuk menyerah.
Firman ini mengingatkan bahwa orang yang hidup dalam syukur tidak berarti tidak punya masalah, tetapi ia tidak membiarkan masalah menguasai hatinya.
Pada ayat 13, pemazmur berkata bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon. Pohon korma dikenal dapat bertahan di daerah panas dan menjadi sumber makanan, sedangkan pohon aras Libanon dikenal kuat, tinggi, kokoh, dan berumur panjang.
Ini adalah gambaran kehidupan orang benar yang berakar dalam Tuhan. Orang fasik digambarkan seperti rumput yang cepat tumbuh tetapi cepat binasa, sedangkan orang benar seperti pohon yang kuat dan tahan lama.
Bagi P/KB, ini adalah panggilan untuk menjadi laki-laki yang berakar, bukan laki-laki yang hanya tampak kuat di luar. Kekuatan sejati bukan hanya otot, suara keras, jabatan, atau uang, tetapi akar iman yang dalam kepada Tuhan.
Pada ayat 14, pemazmur berkata bahwa mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Rahasia pertumbuhan orang benar adalah tempat ia ditanam.
Orang benar bertumbuh karena tertanam dekat dengan Tuhan. Bait Tuhan melambangkan hadirat Allah, firman, ibadah, persekutuan, dan kehidupan yang berpusat pada Tuhan.
Bagi P/KB, ini adalah panggilan untuk tertanam dalam rumah Tuhan. Jangan hanya menjadi bapak yang datang ke gereja sesekali. Jangan hanya aktif ketika ada kegiatan besar. Jangan hanya hadir dalam persekutuan tanpa hati yang sungguh.
Tertanam berarti setia dalam firman, doa, ibadah, pelayanan, dan persekutuan. Seorang bapak yang tertanam di rumah Tuhan akan membawa dampak bagi keluarganya, sebab akar iman seorang ayah sering menjadi warisan rohani bagi anak-anaknya.
Pada ayat 15, pemazmur berkata bahwa pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. Ini adalah janji yang indah. Dalam Tuhan, masa tua bukan masa berhenti berbuah.
Seorang bapak yang hidup tertanam dalam Tuhan tetap dapat menjadi berkat sampai usia lanjut. Ia mungkin tidak sekuat dulu secara fisik, tetapi dapat berbuah melalui doa, hikmat, teladan, nasihat, kesaksian, dan kesetiaan. Ini penting bagi P/KB lintas generasi.
Bapak-bapak muda perlu belajar dari bapak-bapak yang lebih tua, dan bapak-bapak yang lebih tua tidak boleh merasa tidak berguna. Selama hidup tertanam dalam Tuhan, selalu ada buah yang dapat diberikan.
Pada ayat 16, pemazmur berkata bahwa mereka akan memberitakan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia adalah gunung batu, dan bahwa tidak ada kecurangan pada-Nya. Inilah puncak Mazmur 92.
Orang benar yang hidup dalam syukur, yang mengalami kasih setia Tuhan pagi dan malam, yang melihat pekerjaan Tuhan, yang tidak iri kepada orang fasik, yang tertanam di rumah Tuhan, dan yang tetap berbuah sampai tua, akhirnya menjadi saksi tentang karakter Allah.
Ia memberitakan bahwa Tuhan benar. Ia mengakui bahwa Tuhan adalah gunung batu. Ia bersaksi bahwa tidak ada kecurangan pada Tuhan. Inilah panggilan P/KB: hidup kita harus menjadi kesaksian bahwa Tuhan dapat dipercaya.
Penutup
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Mazmur 92:1–16, kita melihat bahwa tema “Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam” bukan hanya ajakan untuk bernyanyi, bukan hanya seruan untuk beribadah, dan bukan hanya nasihat untuk berdoa pada pagi dan malam hari.
Tema ini adalah panggilan untuk membangun seluruh hidup dalam kesadaran akan Allah. Pagi dan malam menggambarkan seluruh siklus hidup kita. Pagi menggambarkan awal langkah, malam menggambarkan akhir perjalanan hari.
Artinya, dari awal sampai akhir, dari pekerjaan sampai istirahat, dari rumah sampai gereja, dari masa muda sampai masa tua, hidup P/KB harus menjadi pemberitaan tentang kasih setia dan kebenaran Tuhan.
Sebagai kaum bapak, kita perlu menyadari bahwa keluarga tidak hanya membutuhkan kita sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pemimpin rohani.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan dan pendidikan, tetapi juga teladan iman. Istri tidak hanya membutuhkan pasangan yang bekerja keras, tetapi juga suami yang hidup dalam kasih, kerendahan hati, doa, dan takut akan Tuhan.
Jemaat tidak hanya membutuhkan P/KB yang aktif dalam kegiatan, tetapi P/KB yang hidupnya benar-benar tertanam di rumah Tuhan. Masyarakat tidak hanya membutuhkan laki-laki yang kuat secara sosial, tetapi laki-laki yang jujur, adil, bertanggung jawab, dan menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Tema ini mengingatkan kita bahwa pagi harus dimulai dengan kasih setia Tuhan. Sebelum kita memegang alat kerja, sebelum kita menghidupkan kendaraan, sebelum kita membuka telepon genggam, sebelum kita menghadapi orang lain, dan sebelum kita melangkah keluar rumah, kita perlu mengarahkan hati kepada Tuhan.
Katakan dalam doa, “Tuhan, terima kasih untuk kasih setia-Mu. Pimpin aku hari ini. Jaga keluargaku. Bentuk perkataanku. Kuduskan pikiranku. Tolong aku bekerja dengan jujur dan melayani dengan tulus.” Doa seperti ini sederhana, tetapi membentuk arah hidup. Seorang bapak yang memulai pagi dengan Tuhan akan lebih siap menghadapi hari dengan iman.
Tema ini juga mengingatkan bahwa malam harus ditutup dengan pengakuan akan kebenaran Tuhan. Malam adalah waktu yang baik untuk memeriksa hati.
Bapak-bapak perlu belajar bertanya di hadapan Tuhan: apakah hari ini aku sudah menjadi suami yang sabar? Apakah aku sudah menjadi ayah yang hadir? Apakah aku bekerja dengan jujur? Apakah ada kata-kataku yang melukai keluarga?
Apakah aku lebih banyak mengeluh daripada bersyukur? Apakah aku hidup sebagai orang benar atau mulai iri kepada jalan orang fasik? Dengan perenungan seperti ini, malam tidak hanya menjadi waktu tidur, tetapi menjadi waktu pemulihan rohani.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang dari firman ini. Pertama, bersyukur kepada Tuhan itu baik, sebab syukur menjaga hati dari kesombongan dan keluhan.
Kedua, kasih setia Tuhan harus diberitakan di pagi hari, sebab hidup yang baru adalah anugerah yang harus dimulai dengan iman.
Ketiga, kebenaran Tuhan harus diberitakan di malam hari, sebab setiap hari perlu ditutup dengan penyerahan dan evaluasi di hadapan Allah.
Keempat, jangan iri kepada orang fasik, sebab keberhasilan tanpa Tuhan hanya sementara.
Kelima, tertanamlah di rumah Tuhan, sebab hanya orang yang berakar dalam hadirat Allah yang dapat bertumbuh dan berbuah.
Keenam, tetaplah berbuah sampai masa tua, sebab dalam Tuhan tidak ada usia yang tidak berguna.
Ketujuh, jadikan hidup sebagai kesaksian bahwa Tuhan itu benar, Tuhan adalah gunung batu, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Implikasi firman ini sangat nyata bagi P/KB. Dalam keluarga, bangunlah mezbah doa. Jangan biarkan rumah hanya dipenuhi pembicaraan tentang kebutuhan, uang, pekerjaan, dan masalah, tetapi jadikan rumah sebagai tempat mengingat kebaikan Tuhan.
Dalam pekerjaan, jadilah bapak-bapak yang jujur dan dapat dipercaya. Jangan memilih jalan fasik hanya karena tampaknya lebih cepat menghasilkan. Dalam pelayanan, jadilah P/KB yang melayani dengan rendah hati, bukan mencari pujian atau kedudukan.
Dalam persekutuan jemaat, jadilah pribadi yang tertanam, bukan hanya hadir ketika ada kegiatan tertentu. Dalam masyarakat, jadilah saksi bahwa laki-laki Kristen hidup dengan integritas, tanggung jawab, dan kasih.
Saudara-saudara, marilah kita mengambil ajakan firman Tuhan ini dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan pagi kita dikuasai oleh kecemasan sebelum hati kita dikuatkan oleh kasih setia Tuhan. Jangan biarkan malam kita ditutup oleh keluhan sebelum jiwa kita mengakui kebenaran Tuhan.
Jangan biarkan pekerjaan menggantikan ibadah. Jangan biarkan kesibukan membunuh doa. Jangan biarkan keberhasilan orang fasik membuat kita meninggalkan jalan benar.
Jangan biarkan usia membuat kita berhenti berbuah. Jangan biarkan keluarga kita kehilangan teladan iman dari seorang bapak yang hidup dekat dengan Tuhan.
Mulailah dari hal-hal sederhana. Berdoalah setiap pagi, walaupun singkat, tetapi sungguh. Ucapkan syukur sebelum memulai pekerjaan. Doakan istri dan anak-anak. Baca dan renungkan firman Tuhan. Berhenti sejenak di malam hari untuk memeriksa hati.
Minta maaf jika ada perkataan yang salah. Bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan. Serahkan beban sebelum tidur. Jadilah bapak yang membawa keluarganya bukan hanya kepada keberhasilan dunia, tetapi kepada pengenalan akan Tuhan.
Akhirnya, biarlah P/KB GMIM menjadi persekutuan kaum bapak yang kuat bukan hanya dalam kegiatan, tetapi kuat dalam syukur; kuat bukan hanya dalam kerja, tetapi kuat dalam doa; kuat bukan hanya dalam suara, tetapi kuat dalam teladan; kuat bukan hanya dalam organisasi, tetapi kuat dalam kehidupan yang tertanam di rumah Tuhan. Kiranya dari hidup kita, keluarga kita dapat melihat bahwa Tuhan itu setia.
Kiranya dari perkataan dan perbuatan kita, jemaat dapat melihat bahwa Tuhan itu benar. Kiranya sampai masa tua pun kita tetap segar, tetap berbuah, dan tetap memberitakan bahwa Tuhan adalah gunung batu kita, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Amin.
Editor : Clavel Lukas