Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Senin 8 Juni 2026, Bacaan I 1 Raja-Raja 17:1-6, Bacaan Injil Matius 5:1-12

Fandy Gerungan • Senin, 8 Juni 2026 | 09:55 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 17:1-6

Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan."

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya:

"Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.

Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana."

Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.

Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 121:1-2.3-4.5-6.7-8

Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?

Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.

Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.

Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.

Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.

TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.

TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Bacaan Injil Matius 5:1-12

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve Sahabat Muda Katolik, Pernahkah kamu merasa iri saat melihat teman-temanmu di media sosial?. Mereka tampak bahagia, punya banyak teman, prestasi keren, gadget terbaru, atau kehidupan yang terlihat sempurna.

Sementara itu, kamu mungkin sedang berjuang dengan tugas sekolah atau kuliah, masalah keluarga, pertemanan yang rumit, atau bahkan pergumulan tentang masa depan.

Di zaman sekarang, kebahagiaan sering diukur dari jumlah followers, nilai akademik, penampilan fisik, atau banyaknya uang yang dimiliki. Semakin banyak yang kita punya, semakin bahagia kita dianggap. Tetapi apakah benar demikian?

Bacaan Injil hari ini menghadirkan cara pandang yang sangat berbeda. Yesus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada apa yang kita miliki, melainkan pada siapa yang kita andalkan. 

Orang yang rendah hati, memiliki hati yang bersih, peduli pada sesama, memperjuangkan kebenaran, dan membawa damai justru disebut sebagai orang yang berbahagia.

Hal ini juga terlihat dalam kisah Elia. Secara manusiawi, situasinya jauh dari kata nyaman. Ia harus hidup di tempat yang terpencil dengan persediaan yang sangat terbatas. Namun di tengah ketidakpastian itu, Tuhan tetap memeliharanya. 

Elia belajar bahwa ketika manusia tidak lagi bisa mengandalkan kekuatannya sendiri, Tuhan mampu membuka jalan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sebagai orang muda, kita sering ingin semuanya berjalan cepat. Kita ingin doa langsung dijawab, cita-cita segera tercapai, dan masalah segera selesai. Ketika harapan tidak sesuai kenyataan, kita mulai ragu: "Apakah Tuhan masih peduli?". 

Padahal sering kali Tuhan sedang mengajar kita untuk bertumbuh dalam iman dan kepercayaan. Tuhan tidak selalu menghilangkan tantangan yang kita hadapi. 

Namun Tuhan selalu memberikan kekuatan agar kita mampu melewatinya. Kadang pertolongan-Nya datang melalui keluarga, sahabat, komunitas, atau kesempatan-kesempatan kecil yang sebelumnya tidak kita sadari.

Pesan untuk kita hari ini sederhana: jangan mengejar kebahagiaan yang hanya terlihat dari luar. Bangunlah hubungan yang dekat dengan Tuhan. Milikilah hati yang peduli kepada sesama. 

Jadilah pembawa damai di tengah lingkungan yang penuh konflik. Beranilah melakukan yang benar meskipun tidak populer. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah ketika hidup kita sempurna, melainkan ketika kita tahu bahwa Tuhan selalu berjalan bersama kita dalam setiap proses kehidupan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #omk #Renungan