Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Kamis 10 Juni 2026, Bacaan I 1 Raja-Raja 18:20-39, Bacaan Injil Matius 5:17-19

Fandy Gerungan • Selasa, 9 Juni 2026 | 10:49 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 18:20-39

Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel.

Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.

Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.

Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api.

Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!"

Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."

Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.

Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."

Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka.

Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.

Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.

Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. ?Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel." ?

Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih.

Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu.

Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya,

sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.

Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.

Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali."

Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 16:1-2a.4.5.8.11

Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"

Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.

Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Bacaan Injil Matius 5:17-19

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve Sahabat Muda Katolik! Menjadi orang muda di zaman sekarang ibarat berdiri di tengah persimpangan yang penuh dengan papan petunjuk. Ada begitu banyak suara yang mencoba memengaruhi kita. Media sosial mengatakan bahwa nilai diri ditentukan oleh jumlah pengikut dan likes. 

Lingkungan pergaulan kadang mengajarkan bahwa yang penting adalah diterima oleh kelompok. Dunia menawarkan kesuksesan, popularitas, dan kesenangan sebagai tujuan utama hidup.

Di tengah semua suara itu, Tuhan mengajukan satu pertanyaan penting: siapakah yang sebenarnya menjadi pusat hidupmu?.

Dalam bacaan hari ini, bangsa Israel mengalami kebingungan hati. Mereka mengenal Tuhan, tetapi mereka juga tergoda untuk mencari sandaran lain. 

Mereka ingin tetap dekat dengan Tuhan, tetapi tidak ingin melepaskan hal-hal yang membuat mereka merasa aman dan nyaman. Akibatnya, mereka hidup dengan hati yang terbagi.

Bukankah hal yang sama juga bisa terjadi pada kita?. Kita mungkin masih datang ke gereja, mengikuti kegiatan OMK, atau berdoa sebelum tidur. Namun, terkadang keputusan sehari-hari lebih banyak dipengaruhi oleh tren, tekanan teman sebaya. 

Atau keinginan untuk terlihat keren daripada oleh nilai-nilai Injil. Kita tahu apa yang benar, tetapi tidak selalu berani melakukannya.

Nabi Elia menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia berdiri sendirian menghadapi ratusan orang yang berpikir berbeda. Secara manusiawi, ia tampak kalah. Namun, ia percaya bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mendukungnya.

Sebagai orang muda Katolik, ada saatnya kita juga dipanggil untuk memiliki keberanian seperti itu. Berani berkata tidak pada perundungan ketika teman-teman lain ikut menertawakan seseorang. 

Berani jujur ketika orang lain memilih jalan pintas. Berani menjaga kesucian dan integritas ketika dunia menganggapnya kuno. Berani tetap berdoa dan beriman meskipun tidak semua orang memahami pilihan kita.

Hal menarik lainnya adalah sebelum Tuhan menunjukkan kuasa-Nya, Elia terlebih dahulu memperbaiki mezbah yang telah rusak. Ini menjadi simbol bahwa sebelum terjadi perubahan besar dalam hidup, hati kita perlu diperbaiki terlebih dahulu.

Mungkin ada "mezbah hati" yang mulai rusak dalam diri kita. Mungkin hubungan dengan Tuhan mulai renggang karena terlalu sibuk dengan gadget. Mungkin doa mulai ditinggalkan. 

Mungkin ada kebiasaan buruk yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan. Kabar baiknya, Tuhan selalu memberi kesempatan untuk membangun kembali apa yang telah runtuh.

Dalam Injil, Yesus mengingatkan bahwa mengikuti Tuhan bukan hanya soal mengetahui ajaran-Nya, tetapi juga melaksanakannya. Kesetiaan kepada Tuhan dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. 

Menjadi pribadi yang jujur, menghormati orang tua, menjaga perkataan, membantu teman yang kesulitan, dan setia dalam doa adalah cara-cara sederhana untuk menunjukkan bahwa Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita.

Orang muda yang hebat bukanlah mereka yang selalu mengikuti arus, tetapi mereka yang tahu arah hidupnya. Dunia mungkin berubah setiap saat, tren bisa datang dan pergi, tetapi Tuhan tetap sama. 

Ketika kita memilih untuk berjalan bersama-Nya, kita menemukan pegangan yang tidak mudah goyah oleh perubahan zaman. Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk membuat pilihan yang jelas. 

Bukan memilih antara menjadi populer atau tidak, kaya atau miskin, sukses atau gagal. Pilihan yang paling penting adalah apakah kita sungguh menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita atau hanya salah satu bagian kecil dari hidup kita.

Jika Tuhan menjadi pusat hidup kita, maka keputusan-keputusan lain akan menemukan arah yang benar. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan