Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 16 Juni 2026, Bacaan I 1 Raja-Raja 21:17-29, Bacaan Injil Matius 5:43-48

Fandy Gerungan • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:59 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 21:17-29

Tetapi datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya:

"Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu."

Kata Ahab kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Jawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.

Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel.

Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa.

Juga mengenai Izebel TUHAN telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel.

Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara."

Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya.

Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.

Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.

Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu:

"Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 51:3-4.5-6a.11.16

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

Bacaan Injil Matius 5:43-48

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam hidup, ada kalanya seseorang begitu larut dalam kesalahan hingga merasa dirinya tidak mungkin lagi berubah. Kesalahan demi kesalahan dilakukan, hati menjadi tumpul, dan suara hati yang dulu jelas perlahan menghilang. 

Namun bacaan hari ini menunjukkan bahwa selama seseorang masih mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, pintu belas kasih-Nya tetap terbuka.

Kisah raja Ahab memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat membuat seseorang kehilangan arah. Demi memenuhi keinginannya, ia membiarkan ketidakadilan terjadi dan merugikan orang lain. 

Akibat perbuatannya, ia harus menghadapi konsekuensi yang berat. Namun yang menarik adalah apa yang terjadi setelah ia menyadari kesalahannya. Ketika ia berhenti membela diri, berhenti mencari alasan, dan mulai merendahkan hatinya, Tuhan melihat perubahan itu. 

Hukuman yang seharusnya segera datang pun ditangguhkan. Kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak bergembira melihat manusia binasa. Ia selalu memberi kesempatan bagi pertobatan.

Di sisi lain, Yesus mengajak para pengikut-Nya melangkah lebih jauh. Bukan hanya meninggalkan kejahatan, tetapi juga belajar mengasihi orang-orang yang sulit dikasihi. 

Ini adalah tantangan yang tidak mudah. Mengasihi teman yang baik kepada kita terasa wajar, tetapi mendoakan orang yang menyakiti kita membutuhkan hati yang benar-benar diubah oleh Tuhan.

Sering kali kita ingin Tuhan mengampuni kesalahan kita, tetapi sulit mengampuni kesalahan orang lain. Kita berharap diberi kesempatan kedua, tetapi enggan memberi kesempatan yang sama kepada sesama. 

Padahal Tuhan memperlakukan manusia dengan kasih yang melampaui batas-batas yang biasa dipakai dunia. Kasih-Nya tidak hanya diberikan kepada mereka yang baik, tetapi juga kepada mereka yang sedang berjuang keluar dari kesalahan.

Bacaan hari ini mengingatkan bahwa pertobatan dan kasih tidak dapat dipisahkan. Pertobatan membuat kita rendah hati di hadapan Tuhan, sedangkan kasih membuat kita rendah hati di hadapan sesama. 

Orang yang sungguh mengalami belas kasih Tuhan akan belajar menjadi pribadi yang lebih mudah mengampuni, lebih sabar, dan lebih mampu mendoakan mereka yang pernah melukai hatinya.

Mungkin hari ini ada seseorang yang masih kita simpan dalam daftar "musuh" di hati kita. Mungkin ada luka yang belum sembuh atau kekecewaan yang belum terampuni. 

Tuhan tidak meminta kita melupakan rasa sakit itu seketika, tetapi Ia mengundang kita untuk mulai mendoakan orang tersebut. Dari doa yang sederhana itulah Tuhan perlahan menyembuhkan hati dan mengubah kebencian menjadi kasih.

Semoga hari ini kita memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan kita seperti Ahab yang akhirnya merendahkan diri, dan memiliki hati yang luas seperti yang diajarkan Yesus, sehingga kita semakin menyerupai Bapa yang penuh belas kasih dan kasih tanpa batas. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan