MANADOPOST.ID-- Perayaan Sannipata Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 di Sulawesi Utara tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Puncak perayaan Sannipata Waisak 2026 yang digelar di Lobby Mantos 3 Manado, Sabtu (13/6), berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Ketua Panitia, Reynold Gosama, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, perayaan tahun ini sengaja difokuskan pada kegiatan sosial sebagai implementasi nilai-nilai Buddhis dalam kehidupan bermasyarakat.
“Puji syukur seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik. Tahun ini kami memfokuskan kegiatan pada aksi sosial yang manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat,” ujarnya.
Berbagai kegiatan sosial yang dilaksanakan antara lain penyaluran sekitar seribu paket sembako melalui program pasar murah, bakti sosial di wilayah kepulauan Manado Tua dan Bunaken, hingga pembangunan tiga unit penampungan air bersih yang melayani kebutuhan masyarakat di Manado Tua I dan Manado Tua II.
Selain itu, pada 27 Mei lalu panitia juga melaksanakan rangkaian bakti sosial dan pelayanan di panti werdha di Tondano serta sejumlah kegiatan kemanusiaan lainnya.
Pada puncak perayaan, panitia turut melaksanakan pelayanan kesehatan dan penyaluran bantuan kebutuhan pokok yang langsung menyentuh masyarakat.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara, Ulyas Taha, menyampaikan apresiasi atas semangat berbagi yang ditunjukkan umat Buddha.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi contoh nyata bagaimana agama hadir untuk membawa manfaat bagi kehidupan sosial.
“Setelah melihat tayangan bakti sosial yang dilakukan panitia, saya sangat terinspirasi. Ini menunjukkan kepada dunia dan masyarakat bagaimana seharusnya kita beragama, yakni berbagi, peduli, dan memahami kehidupan bersama,” kata Taha.
Ia juga mengingatkan seluruh pemimpin agama di Sulawesi Utara agar terus membimbing umat menjaga kerukunan dan tidak mudah terpengaruh oleh dinamika yang terjadi di luar daerah.
“Peristiwa yang terjadi di luar daerah jangan sampai memicu terganggunya kerukunan umat beragama di Sulawesi Utara. Kita harus menjaga daerah ini tetap damai dan harmonis,” pesannya.
Mewakili Gubernur Sulawesi Utara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulut turut mengapresiasi pelaksanaan Waisak yang berlangsung penuh makna.
Dalam sambutannya disampaikan bahwa Waisak menjadi momentum untuk kembali menyelami nilai-nilai kebijaksanaan, kasih sayang, dan toleransi yang diajarkan Buddha.
“Seluruh elemen umat beragama, termasuk umat Buddha, memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Sulawesi Utara. Melalui momentum ini diharapkan umat Buddha terus menjadi pelopor moderasi beragama dan menjaga stabilitas daerah,” katanya.
Di sisi lain, pesan mendalam disampaikan oleh Fandy Kalensang yang mengajak umat memaknai Waisak bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan praktik nyata kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Satu kebajikan yang dilakukan dengan tulus dapat mengubah kehidupan seseorang untuk selamanya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa nilai Waisak hadir dalam tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih.
“Ketika seseorang lapar lalu kita memberinya makanan, itulah Waisak. Ketika seseorang sedih lalu kita memberikan penghiburan, itulah Waisak. Ketika kita menahan amarah dan memilih memaafkan, itulah Waisak. Ketika kita membantu tanpa membedakan suku, agama, ras maupun status sosial, itulah Waisak,” tuturnya.
Menurut Kalensang, ajaran Sang Buddha tetap hidup hingga lebih dari 2.500 tahun bukan karena kemegahan ataupun kekuasaan.
“Sang Buddha tidak dikenal karena memiliki istana yang megah dan tidak dihormati karena kekuasaan yang dimiliki, tetapi karena belas kasih yang tanpa batas dan pengorbanannya untuk menolong makhluk hidup keluar dari penderitaan,” kuncinya.
Puncak Sannipata Waisak 2026 berlangsung semakin khidmat melalui prosesi penyalaan lilin panca warna dan penampilan seni budaya Buddhis yang menambah kekayaan makna dalam perayaan tersebut.
Kegiatan ini dihadiri Walikota Manado Andrei Angouw dan istri, hadir pula tokoh agama, unsur pemerintah, serta umat Buddha dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. (Asyer Rokot)
Editor : Asyer Rokot