Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 19 Juni 2026, Bacaan I 2 Raja Raja 11:1-4.9-18.20, Bacaan Injiil Matius 6:19-23

Fandy Gerungan • Rabu, 17 Juni 2026 | 09:54 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Raja Raja 11:1-4.9-18.20

Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja.

Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh.

Maka tinggallah dia enam tahun lamanya bersama-sama perempuan itu dengan bersembunyi di rumah TUHAN, sementara Atalya memerintah negeri.

Dalam tahun yang ketujuh Yoyada mengundang para kepala pasukan seratus dari orang Kari dan dari pasukan bentara penunggu. Disuruhnyalah mereka datang kepadanya di rumah TUHAN, lalu diikatnya perjanjian dengan mereka dengan menyuruh mereka bersumpah di rumah TUHAN. Kemudian diperlihatkannyalah anak raja itu kepada mereka.

Para kepala pasukan seratus itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan imam Yoyada. Masing-masing mengambil orang-orangnya yang selesai bertugas pada hari Sabat bersama-sama dengan orang-orang yang masuk bertugas pada hari itu, lalu datanglah mereka kepada imam Yoyada.

Imam memberikan kepada para kepala pasukan seratus itu tombak-tombak dan perisai-perisai kepunyaan raja Daud yang ada di rumah TUHAN.

Kemudian para bentara itu, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, mengambil tempatnya di lambung kanan sampai ke lambung kiri rumah itu, dengan mengelilingi mezbah dan rumah itu untuk melindungi raja.

Sesudah itu Yoyada membawa anak raja itu ke luar, mengenakan jejamang kepadanya dan memberikan hukum Allah kepadanya. Mereka menobatkan dia menjadi raja serta mengurapinya, dan sambil bertepuk tangan berserulah mereka: "Hiduplah raja!"

Ketika Atalya mendengar suara bentara-bentara penunggu dan rakyat, pergilah ia mendapatkan rakyat itu ke dalam rumah TUHAN.

Lalu dilihatnyalah raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri. Maka Atalya mengoyakkan pakaiannya sambil berseru: "Khianat, khianat!"

Tetapi imam Yoyada memerintahkan para kepala pasukan seratus, yakni orang-orang yang mengepalai tentara, katanya kepada mereka: "Bawalah dia keluar dari barisan! Siapa yang memihak kepadanya bunuhlah dengan pedang!" Sebab tadinya imam itu telah berkata: "Janganlah ia dibunuh di rumah TUHAN!"

Lalu mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ.

Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara TUHAN dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat TUHAN; juga antara raja dengan rakyat.

Sesudah itu masuklah seluruh rakyat negeri ke rumah Baal, lalu merobohkannya; mereka memecahkan sama sekali mezbah-mezbahnya dan patung-patung dan membunuh Matan, imam Baal, di depan mezbah-mezbah itu. Kemudian imam Yoyada mengangkat penjaga-penjaga untuk rumah TUHAN.

Bersukarialah seluruh rakyat negeri dan amanlah kota itu, setelah Atalya mati dibunuh dengan pedang di istana raja.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 132:11.12.13-14.17-18

TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: "Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu;

jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu."

Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya:

"Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.

Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk bagi Daud, Aku akan menyediakan sebuah pelita bagi orang yang Kuurapi.

Musuh-musuhnya akan Kukenakan pakaian penuh malu, tetapi di atas kepalanya akan bersemarak mahkotanya."

Bacaan Injil Matius 6:19-23

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;

jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam hidup, sering kali kita tergoda untuk mengejar hal-hal yang terlihat besar, kuat, dan menjanjikan keamanan. Uang, jabatan, popularitas, pengaruh, atau pengakuan dari orang lain tampak seperti sesuatu yang mampu menjamin kebahagiaan. 

Namun kenyataannya, semua itu bisa berubah dalam sekejap. Apa yang hari ini kita banggakan, besok bisa hilang.

Bacaan pertama memperlihatkan sebuah masa yang penuh kekacauan. Kekuasaan menjadi begitu penting sehingga seseorang rela melakukan tindakan kejam demi mempertahankan tahtanya. 

Namun di tengah situasi yang gelap itu, Tuhan tetap bekerja secara diam-diam. Seorang anak kecil yang tampaknya tidak berdaya justru dipelihara dan dilindungi. Ketika waktunya tiba, kebenaran muncul dan rencana Tuhan terlaksana. 

Kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan dan ambisi tidak akan bertahan selamanya. Sebaliknya, apa yang berasal dari Tuhan akan menemukan jalannya.

Injil hari ini mengajak kita melihat lebih dalam ke dalam hati. Yesus mengingatkan bahwa arah hidup seseorang ditentukan oleh apa yang paling ia hargai. 

Harta yang sesungguhnya bukanlah apa yang tersimpan di rekening, lemari, atau gudang, melainkan apa yang tersimpan dalam hati dan dibawa menuju kehidupan kekal.

Sering kali kita mengira bahwa mata hanya berfungsi untuk melihat. Namun sebenarnya, cara kita memandang dunia akan menentukan cara kita hidup. 

Jika mata kita hanya tertuju pada materi, iri hati, gengsi, dan kesenangan sesaat, hati kita perlahan menjadi gelap. Sebaliknya, jika pandangan kita tertuju pada Tuhan, kasih, kebaikan, dan kebenaran, hidup kita akan dipenuhi terang.

Banyak orang mengalami kelelahan bukan karena kurang uang atau kurang kesempatan, melainkan karena hatinya terikat pada hal-hal yang tidak pernah benar-benar memuaskan. 

Semakin dikejar, semakin terasa kurang. Semakin dimiliki, semakin takut kehilangan. Akibatnya, damai sejahtera menjadi sesuatu yang sulit ditemukan.

Tuhan mengundang kita untuk bertanya dengan jujur: Apa yang paling memenuhi pikiranku setiap hari?. Apa yang paling aku takut kehilangan?. 

Apa yang paling kucari dalam hidup ini?., Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sering kali menunjukkan di mana "harta" kita sebenarnya berada.

Ketika hati berpusat pada Tuhan, kita tetap bisa bekerja keras, belajar, membangun karier, dan mengumpulkan rezeki. Namun semua itu tidak lagi menjadi tujuan utama. 

Kita melihatnya sebagai sarana untuk mengasihi, melayani, dan memuliakan Tuhan. Dengan demikian, saat keberhasilan datang kita tidak menjadi sombong, dan saat kehilangan terjadi kita tidak hancur.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk memeriksa kembali arah hati kita. Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan sesuatu yang tidak bisa kita bawa ke hadapan-Nya. 

Sebaliknya, marilah kita memperkaya diri dengan iman, kasih, kejujuran, pengampunan, dan perbuatan baik. Itulah harta yang tidak akan pernah rusak dan tidak dapat dicuri oleh siapa pun. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan