Bacaan Alkitab: Kejadian 36–37
Perjalanan iman umat Tuhan dalam kitab Kejadian membawa kita melihat bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah manusia. Melalui Kejadian pasal 36 dan 37, kita belajar bahwa di tengah silsilah, persaingan, kebencian, dan penderitaan, Tuhan sedang menggenapi rencana-Nya yang besar.
Kejadian 36: Allah Setia Memelihara Setiap Generasi
Pasal 36 berisi daftar keturunan Esau, yang kemudian menjadi bangsa Edom. Sekilas, pasal ini mungkin tampak hanya sebagai catatan nama-nama, tetapi sebenarnya menunjukkan bahwa Allah tetap setia kepada janji-Nya. Walaupun Esau bukan penerus perjanjian yang diberikan kepada Abraham, Tuhan tetap memberkati dan menjadikan keturunannya bangsa yang besar.
Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah Tuhan yang setia. Tidak ada satu pun firman-Nya yang gagal. Bahkan terhadap Esau, Tuhan tetap menunjukkan kasih karunia dan pemeliharaan-Nya.
Pelajaran yang dapat dipetik:
- Allah setia kepada janji-Nya.
- Tidak ada kehidupan yang berada di luar perhatian Tuhan.
- Tuhan bekerja melalui sejarah dan generasi demi generasi.
Mazmur 100:5 berkata:
“Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”
Sebagai orang percaya yang hidup dalam masa Pantekosta, kita diingatkan bahwa Roh Kudus yang bekerja pada masa gereja mula-mula adalah Roh yang sama yang terus memimpin kehidupan kita sampai hari ini.
Kejadian 37: Mimpi Yusuf dan Awal Rencana Allah
Pasal 37 memperkenalkan Yusuf, anak Yakub yang sangat dikasihi. Yakub memberikan jubah maha indah kepada Yusuf, sehingga saudara-saudaranya menjadi iri hati. Keadaan semakin memburuk ketika Yusuf menceritakan mimpi yang diberikan Tuhan kepadanya, yang menggambarkan bahwa suatu hari ia akan memiliki kedudukan yang tinggi.
Karena iri hati dan kebencian, saudara-saudara Yusuf merencanakan untuk membunuhnya. Namun akhirnya mereka menjual Yusuf kepada para pedagang yang membawanya ke Mesir.
Dari sudut pandang manusia, hidup Yusuf tampaknya hancur. Mimpi yang diberikan Tuhan seolah-olah berakhir dalam penderitaan. Namun sebenarnya, justru di sinilah Allah mulai mengerjakan rencana-Nya yang besar.
Apa yang dianggap kejahatan oleh manusia, dipakai Tuhan untuk mendatangkan keselamatan bagi banyak orang.
Pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jangan membiarkan iri hati menguasai hati kita
Iri hati membuat saudara-saudara Yusuf kehilangan kasih dan persaudaraan. Hati yang dipenuhi kecemburuan dapat membawa seseorang melakukan dosa yang lebih besar.
Roh Kudus memanggil kita untuk hidup dalam kasih, sukacita, dan damai sejahtera, bukan dalam iri hati dan perselisihan.
2. Tuhan tetap bekerja di tengah penderitaan
Yusuf tidak memahami mengapa ia harus dijual sebagai budak. Namun Allah melihat masa depan yang tidak dapat dilihat manusia.
Sering kali kita pun tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan masalah terjadi. Tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Ia sedang membentuk, mempersiapkan, dan membawa kita kepada tujuan-Nya yang indah.
Roma 8:28 berkata:
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
3. Mimpi dan panggilan Tuhan tidak dapat digagalkan
Saudara-saudara Yusuf berusaha menghancurkan mimpi yang Tuhan berikan. Namun tidak ada manusia yang dapat menggagalkan rencana Allah.
Ketika Tuhan mempunyai tujuan atas hidup seseorang, Ia sanggup membuka jalan, bahkan melalui keadaan yang paling sulit sekalipun.
Sebagai orang-orang Pantekosta, kita percaya bahwa Roh Kudus memimpin dan memperlengkapi setiap orang percaya untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, jangan menyerah ketika menghadapi tantangan. Tetaplah setia, sebab Tuhan sedang bekerja sekalipun kita belum melihat hasilnya.
Renungan Hari Ini
Mungkin saat ini kita sedang berada dalam keadaan yang tidak kita mengerti. Ada doa yang belum terjawab, ada kesulitan yang membuat kita bertanya-tanya, atau ada perlakuan tidak adil yang kita alami.
Kisah Yusuf mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah salah dalam mengatur kehidupan anak-anak-Nya. Apa yang hari ini tampak sebagai penderitaan, dapat menjadi jalan menuju penggenapan rencana-Nya.
Karena itu, tetaplah percaya, berjalan bersama Roh Kudus, dan peganglah janji Tuhan. Sebab Dia yang memulai pekerjaan yang baik akan menyelesaikannya pada waktunya.
Doa
Bapa di dalam surga, terima kasih atas kesetiaan-Mu yang tidak pernah berubah. Ajarlah kami untuk percaya kepada rencana-Mu sekalipun kami belum memahami jalan yang sedang kami lalui. Jauhkan kami dari iri hati dan kebencian, dan penuhilah hati kami dengan kasih serta tuntunan Roh Kudus. Tolong kami untuk tetap setia dan percaya bahwa Engkau sedang bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin (*)
Ayat Pegangan
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Roma 8:28
Editor : Deiby Rotinsulu