Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 20 Juni 2026, Bacaan I 2 Tawarikh 24:17-25, Bacaan Injil Matius 6:24-34

Fandy Gerungan • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:11 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Tawarikh 24:17-25

Sesudah Yoyada mati, pemimpin-pemimpin Yehuda datang menyembah kepada raja. Sejak itu raja mendengarkan mereka.

Mereka meninggalkan rumah TUHAN, Allah nenek moyang mereka, lalu beribadah kepada tiang-tiang berhala dan patung-patung berhala. Oleh karena kesalahan itu Yehuda dan Yerusalem tertimpa murka.

Namun TUHAN mengutus nabi-nabi kepada mereka, supaya mereka berbalik kepada-Nya. Nabi-nabi itu sungguh-sungguh memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya.

Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Iapun meninggalkan kamu!"

Tetapi mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah TUHAN.

Raja Yoas tidak mengingat kesetiaan yang ditunjukkan Yoyada, ayah Zakharia itu, terhadap dirinya. Ia membunuh anak Yoyada itu, yang pada saat kematiannya berseru: "Semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas!"

Pada pergantian tahun tentara Aram maju menyerang Yoas dan masuk ke Yehuda dan Yerusalem. Dari bangsa itu semua pemimpin habis dibunuh mereka dan segala jarahan dikirim mereka kepada raja negeri Damsyik.

Walaupun tentara Aram itu datang dengan sedikit orang, namun TUHAN menyerahkan tentara yang sangat besar kepada mereka, karena orang Yehuda telah meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka. Demikianlah orang Aram melakukan penghukuman kepada Yoas.

Ketika mereka pergi dari padanya, ?mereka meninggalkannya dengan luka-luka berat?pegawai-pegawainya mengadakan persepakatan terhadap dia karena darah anak imam Yoyada itu, lalu membunuhnya di atas tempat tidurnya. Ia mati dan dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di pekuburan raja-raja.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Tuhan

Mazmur 89:4-5.29-30.31-32.33-34

Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Sela

Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus.

Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit.

Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku,

jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku,

maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.

Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.

Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.

Bacaan Injil Matius 6:24-34

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam hidup manusia. Ketika sedang mengalami kesulitan, kita begitu dekat dengan Tuhan. Kita rajin berdoa, mengikuti kegiatan rohani, dan mengandalkan-Nya dalam setiap langkah. 

Namun ketika keadaan mulai membaik, perlahan-lahan perhatian kita bergeser. Kesibukan, ambisi, kenyamanan, bahkan kekhawatiran akan masa depan sering mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan.

Hal inilah yang tampak dalam bacaan hari ini. Raja Yoas pernah mengalami pertolongan besar melalui imam Yoyada. Selama Yoyada hidup, Yoas berjalan di jalan yang benar. 

Namun setelah Yoyada meninggal, Yoas mulai mendengarkan suara-suara yang menyesatkan. Ia melupakan kebaikan Tuhan dan kesetiaan orang-orang yang telah membimbingnya. 

Ketika Tuhan mengirimkan peringatan melalui para nabi, ia menutup telinga. Akibatnya, hidupnya berakhir dalam kehancuran. Kisah ini mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar dalam hidup bukanlah kesulitan, melainkan ketika hati mulai menjauh dari Tuhan tanpa kita sadari. 

Prosesnya sering terjadi perlahan. Mungkin bukan dengan meninggalkan iman secara terang-terangan, tetapi dengan mulai menempatkan hal-hal lain sebagai prioritas utama.

Injil hari ini berbicara tentang pilihan yang harus dibuat setiap orang. Hati manusia tidak dapat sepenuhnya mengabdi kepada dua pusat kehidupan sekaligus. 

Ketika uang, status, karier, popularitas, atau rasa aman duniawi menjadi yang utama, Tuhan perlahan tersingkir dari posisi-Nya.

Menariknya, Yesus menghubungkan hal ini dengan kekhawatiran. Banyak orang berpikir bahwa mereka mengejar uang dan keamanan karena ingin hidup tenang. 

Namun justru semakin seseorang menjadikan hal-hal duniawi sebagai sandaran utama, semakin banyak kekhawatiran yang muncul. Selalu ada ketakutan kehilangan, gagal, atau tidak memiliki cukup.

Sebaliknya, orang yang menempatkan Tuhan sebagai yang utama menemukan ketenangan yang berbeda. Bukan karena hidupnya bebas masalah, tetapi karena ia percaya bahwa hidupnya berada dalam tangan Bapa yang penuh kasih. 

Ia tetap bekerja keras, tetap bertanggung jawab, tetapi tidak membiarkan kecemasan menguasai hatinya. Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa tantangan. 

Namun Ia mengundang kita untuk memusatkan perhatian pada hal yang paling penting: hubungan dengan-Nya. Ketika Tuhan menjadi prioritas pertama, banyak hal lain akan menemukan tempat yang tepat dalam hidup kita.

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang paling menguasai pikiran dan hati saya akhir-akhir ini?. Apakah Tuhan masih menjadi pusat hidup saya, atau ada hal lain yang diam-diam mengambil takhta itu?. 

Semoga kita tidak mengulangi kesalahan Yoas yang melupakan Tuhan setelah menerima begitu banyak berkat. Sebaliknya, marilah kita terus mencari Tuhan setiap hari, percaya bahwa Dia mengetahui kebutuhan kita dan akan memimpin hidup kita seturut rencana-Nya yang terbaik. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan