Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 22 Juni 2026, Bacaan I 2 Raja-Raja 17:5-8.13-15a.18, Bacaan Injil Matius 7:1-5

Fandy Gerungan • Jumat, 19 Juni 2026 | 12:36 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Raja-Raja 17:5-8.13-15a.18

Kemudian majulah raja Asyur menjelajah seluruh negeri itu, ia menyerang Samaria dan mengepungnya tiga tahun lamanya.

Dalam tahun kesembilan zaman Hosea maka raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur ke dalam pembuangan dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai.

Hal itu terjadi, karena orang Israel telah berdosa kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah menuntun mereka dari tanah Mesir dari kekuasaan Firaun, raja Mesir, dan karena mereka telah menyembah allah lain,

dan telah hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel, dan menurut ketetapan yang telah dibuat raja-raja Israel.

TUHAN telah memperingatkan kepada orang Israel dan kepada orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua tukang tilik: "Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi."

Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, melainkan mereka menegarkan tengkuknya seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada TUHAN, Allah mereka.

Mereka menolak ketetapan-Nya dan perjanjian-Nya, yang telah diadakan dengan nenek moyang mereka, juga peraturan-peraturan-Nya yang telah diperingatkan-Nya kepada mereka; mereka mengikuti dewa kesia-siaan, sehingga mereka mengikuti bangsa-bangsa yang di sekeliling mereka, walaupun TUHAN telah memerintahkan kepada mereka: janganlah berbuat seperti mereka itu.

Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja. ?

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 60:3.4-5.12-13

Engkau telah membuat umat-Mu mengalami penderitaan yang berat, Engkau telah memberi kami minum anggur yang memusingkan.

Kepada mereka yang takut kepada-Mu telah Kauberikan panji-panji, tanda untuk berlindung terhadap panah. Sela

Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai, berikanlah keselamatan dengan tangan kanan-Mu dan jawablah kami!

Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

Bacaan Injil Matius 7:1-5

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sebelum saya menuliskan renungan ini, mari kita jujur sejenak. Salah satu hal yang paling mudah dilakukan manusia adalah melihat kesalahan orang lain. 

Kita bisa dengan cepat menemukan kekurangan teman, pasangan, rekan kerja, atau bahkan sesama anggota komunitas. Namun ketika harus melihat kelemahan diri sendiri, sering kali kita menjadi buta.

Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan bahaya hati yang keras. Dalam bacaan pertama, bangsa Israel mengalami kehancuran bukan karena Tuhan berhenti mengasihi mereka, melainkan karena mereka terus-menerus menolak untuk mendengarkan. 

Berkali-kali mereka diingatkan, berkali-kali mereka diajak kembali ke jalan yang benar, tetapi mereka lebih memilih mengikuti keinginan sendiri dan meniru cara hidup yang menjauhkan mereka dari Tuhan.

Yang menarik, kejatuhan mereka tidak terjadi dalam semalam. Kehancuran itu diawali oleh serangkaian keputusan kecil untuk mengabaikan suara Tuhan. Sedikit demi sedikit hati mereka menjadi tumpul. 

Mereka merasa tidak ada yang salah dengan hidup mereka, padahal sebenarnya mereka sedang berjalan menjauh dari sumber kehidupan.

Bukankah hal yang sama juga bisa terjadi dalam hidup kita?. Kita mungkin tidak menyembah berhala seperti bangsa Israel dahulu, tetapi kita bisa menjadikan hal-hal lain sebagai pusat hidup kita. 

Popularitas, uang, gengsi, kenyamanan, atau pengakuan orang lain kadang mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Ketika itu terjadi, hati kita perlahan kehilangan arah.

.Injil hari ini menunjukkan salah satu tanda hati yang mulai kehilangan arah, yaitu kebiasaan menghakimi orang lain. Yesus mengingatkan bahwa sebelum sibuk memperbaiki orang lain, kita perlu berani memeriksa diri sendiri terlebih dahulu. 

Sebab sering kali kesalahan yang paling mudah kita lihat pada orang lain justru merupakan kelemahan yang juga ada dalam diri kita.

Menghakimi membuat kita merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, introspeksi membuat kita rendah hati. Menghakimi melahirkan jarak dan luka. Introspeksi melahirkan pertobatan dan kasih.

Bayangkan jika setiap kali kita tergoda mengkritik orang lain, kita berhenti sejenak dan bertanya, "Apakah aku juga memiliki kelemahan yang sama?". 

Mungkin suasana keluarga akan lebih damai. Persahabatan akan lebih sehat. Komunitas akan lebih penuh pengertian. Dan yang terpenting, hubungan kita dengan Tuhan akan semakin mendalam.

Tuhan tidak meminta kita menjadi orang yang sempurna sebelum membantu sesama. Namun Tuhan mengajak kita untuk memiliki hati yang rendah, hati yang mau dibentuk, dan hati yang selalu terbuka untuk dikoreksi. 

Orang yang sadar akan kelemahannya sendiri biasanya lebih mudah berbelas kasih kepada orang lain.

Hari ini, marilah kita memohon rahmat untuk berani melihat ke dalam diri sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Jangan sampai seperti bangsa Israel yang menolak setiap peringatan dan akhirnya mengalami akibat dari pilihan mereka sendiri. 

Sebaliknya, semoga kita memiliki hati yang lembut, yang mau mendengarkan Tuhan, bertobat setiap hari, dan bertumbuh dalam kasih.

Karena perubahan terbesar dalam hidup tidak dimulai ketika kita berhasil mengubah orang lain, melainkan ketika kita membiarkan Tuhan mengubah diri kita terlebih dahulu. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #omk #Renungan