Bacaan: Kejadian 9:1–17
Tema: “Inilah Tanda Perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan Segala Makhluk yang Ada di Bumi”
Saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan, manusia hidup karena bergantung pada ciptaan Tuhan. Kita membutuhkan udara untuk bernapas, air untuk minum, tanah untuk menanam, tumbuhan dan hewan untuk makanan, serta hutan, danau, sungai, dan laut untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Namun dalam kenyataannya, manusia sering memperlakukan alam hanya sebagai barang yang dapat digunakan untuk memenuhi keinginan sendiri. Alam diambil hasilnya, tetapi tidak dipelihara. Hutan ditebang, tetapi tidak dipulihkan. Sungai dipakai, tetapi juga dijadikan tempat pembuangan. Tanah digali, tetapi kerusakannya ditinggalkan. Manusia ingin menikmati berkat ciptaan, tetapi tidak selalu bersedia memikul tanggung jawab sebagai pemelihara ciptaan.
Bagaimana mungkin kita memuji Tuhan atas keindahan alam, tetapi membuang sampah sembarangan, mencemari air, atau mengambil hasil bumi tanpa memikirkan generasi berikutnya? Bagaimana mungkin gereja berbicara tentang keselamatan, tetapi tidak peduli terhadap penderitaan manusia dan makhluk hidup yang timbul akibat kerusakan lingkungan?
Bacaan Kejadian 9:1–17 membawa kita kepada kehidupan sesudah air bah. Dunia lama yang penuh kekerasan dan kejahatan telah mengalami penghakiman. Nuh, keluarganya, dan berbagai makhluk hidup telah diselamatkan di dalam bahtera. Ketika air surut dan mereka keluar, Tuhan tidak membiarkan mereka hidup dalam ketakutan tanpa arah. Tuhan memberkati mereka, memberikan aturan untuk menghargai kehidupan, lalu mengadakan perjanjian bukan hanya dengan manusia, tetapi juga dengan segala makhluk hidup dan dengan bumi.
Tema khotbah kita berkata: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.” Tema ini menyatakan bahwa Allah tidak pernah memandang bumi sebagai sesuatu yang tidak penting. Manusia, hewan, dan seluruh dunia ciptaan berada dalam perhatian-Nya.
Allah mengikatkan janji pemeliharaan kepada ciptaan-Nya dan memberikan pelangi sebagai tanda perjanjian. Oleh karena itu, orang percaya yang hidup di dalam kasih Allah tidak boleh menjadi perusak bumi, melainkan harus menjadi pemelihara kehidupan.
Firman ini juga berbicara tentang pengharapan. Air bah menggambarkan kehancuran, tetapi pelangi menyatakan bahwa kehancuran bukanlah kata terakhir. Awan dapat tetap ada, hujan dapat turun, dan badai dapat datang, tetapi Tuhan meletakkan tanda perjanjian di tengah awan.
Artinya, di tengah ancaman dan pergumulan kehidupan, kesetiaan Allah tetap hadir. Tuhan adalah Allah yang menghakimi dosa, tetapi juga memberi kesempatan baru. Tuhan menolak kekerasan, tetapi mengaruniakan perdamaian. Tuhan melihat kerusakan dunia, tetapi tetap berinisiatif memelihara dan memulihkan ciptaan.
Saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Kitab Kejadian adalah kitab pertama dalam Pentateukh, yaitu lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Kitab ini berbicara tentang permulaan: permulaan langit dan bumi, manusia, keluarga, dosa, konflik, bangsa-bangsa, serta perjalanan rencana keselamatan Allah.
Alkitab tidak menyebutkan nama penulis Kitab Kejadian secara langsung. Tradisi Yahudi dan Kristen menghubungkan Pentateukh dengan Musa, sementara kajian Alkitab modern memahami bahwa bentuk akhirnya lahir melalui proses penyusunan dan penerusan tradisi yang panjang.
Secara garis besar, Kejadian 1–11 sering disebut sejarah permulaan, karena bagian ini berbicara tentang penciptaan, kejatuhan manusia, Kain dan Habel, perkembangan dosa dan kekerasan, air bah, serta menara Babel.
Kejadian 12–50 kemudian berbicara tentang para leluhur Israel: Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf. Dengan susunan tersebut, Kitab Kejadian menunjukkan bahwa rencana keselamatan Allah bagi satu keluarga dan satu bangsa tidak pernah terpisah dari perhatian-Nya terhadap seluruh manusia dan seluruh ciptaan.
Kejadian 9 merupakan kelanjutan dari kisah Nuh yang dimulai dalam Kejadian 6. Sebelum air bah, bumi digambarkan telah rusak dan penuh kekerasan. Kejahatan manusia bukan hanya mengganggu hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga merusak hubungan manusia dengan sesama dan dengan bumi. Dosa selalu memiliki dampak yang luas. Ketamakan, kekerasan, dan kesombongan tidak pernah berhenti dalam hati pribadi; semuanya merusak keluarga, masyarakat, dan alam.
Perjanjian dalam Kejadian 9 sering disebut perjanjian Nuh atau perjanjian kosmik, sebab jangkauannya meliputi manusia, hewan, segala makhluk hidup, dan bumi. Perjanjian ini bukan hanya janji pribadi kepada Nuh, bukan hanya perjanjian untuk satu suku atau satu bangsa, tetapi janji pemeliharaan Allah kepada seluruh tatanan ciptaan.
Perjanjian ini berbeda dari sebuah perjanjian biasa antara dua pihak yang memiliki kedudukan setara. Allah sendiri yang mengambil inisiatif. Allah tidak menunggu Nuh mengajukan syarat. Allah tidak berkata bahwa janji itu baru berlaku jika manusia sudah sempurna. Allah menetapkan perjanjian berdasarkan kasih setia dan kehendak-Nya sendiri. Dalam bahasa teologi, hal ini memperlihatkan anugerah pemeliharaan Allah: dunia tetap berlangsung bukan karena manusia selalu benar, tetapi karena Tuhan setia.
Dalam terang Perjanjian Baru, perjanjian Nuh bukanlah sama dengan Perjanjian Baru di dalam darah Kristus. Perjanjian Nuh memelihara dunia dan kehidupan, sehingga sejarah keselamatan dapat terus berlangsung menuju kedatangan Kristus. Di dalam Yesus Kristus, Allah bukan hanya menyatakan janji pemeliharaan, tetapi mengerjakan pendamaian melalui salib.
Pendamaian Kristus memiliki cakupan yang luas: manusia didamaikan dengan Allah, dan seluruh ciptaan diarahkan kepada pembaruan yang Tuhan genapi. Karena itu, kepedulian gereja terhadap ciptaan bukan pengganti Injil, melainkan salah satu buah dari Injil.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Ayat 1:
“Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.’”
Sesudah air bah, kata pertama yang dinyatakan Allah kepada Nuh dan keluarganya adalah berkat. Ini sangat penting. Dunia telah mengalami kehancuran, tetapi Allah tidak memulai kehidupan yang baru dengan keputusasaan. Ia memberkati mereka dan mengulangi mandat untuk beranak cucu, bertambah banyak, serta memenuhi bumi.
Ayat ini mengingatkan Kejadian 1:28. Nuh dan keluarganya seperti umat manusia yang diberi kesempatan memulai kembali. Namun awal yang baru itu bukan berarti masa lalu boleh dilupakan tanpa pelajaran. Dunia lama hancur karena dosa dan kekerasan. Karena itu, kehidupan yang baru harus dibangun dalam ketaatan, penghormatan terhadap kehidupan, dan ketergantungan kepada Tuhan.
Firman ini berbicara kepada orang yang pernah mengalami kegagalan, kehilangan, bencana, atau kehancuran. Tuhan dapat memberikan awal yang baru. Keluarga yang pernah retak dapat dibangun kembali. Jemaat yang pernah mengalami konflik dapat dipulihkan. Orang yang jatuh dalam dosa dapat bertobat dan menjalani hidup yang baru. Akan tetapi, awal yang baru bukan kesempatan untuk mengulangi dosa lama. Pemulihan harus menghasilkan kehidupan yang lebih taat.
Perintah untuk beranak cucu juga memiliki makna tanggung jawab generasi. Gereja tidak hanya dipanggil menambah jumlah anggota, tetapi membentuk generasi yang mengenal Tuhan dan bertanggung jawab terhadap ciptaan. Orang tua tidak hanya bertugas melahirkan dan membesarkan anak, tetapi juga mendidik mereka mencintai Tuhan, sesama, dan bumi.
Ayat 2:
Tuhan menyatakan bahwa takut dan gentar terhadap manusia akan ada pada segala binatang di bumi, burung di udara, segala yang bergerak di tanah, dan ikan di laut. Semua itu diserahkan ke dalam tangan manusia.
Ayat ini menggambarkan perubahan besar dalam relasi manusia dengan makhluk lain. Dalam penciptaan mula-mula, manusia dipanggil menguasai dan memelihara ciptaan sebagai wakil Allah. Setelah dosa dan air bah, relasi itu telah diwarnai ketakutan dan ketegangan. Kekuasaan manusia tetap ada, tetapi kekuasaan tersebut kini berada dalam dunia yang sudah terluka oleh dosa.
“Diserahkan ke dalam tanganmu” tidak berarti manusia boleh memperlakukan alam tanpa batas. Kuasa yang berasal dari Allah harus dijalankan menurut karakter Allah. Jika Allah memelihara ciptaan-Nya, maka kuasa manusia harus berbentuk pemeliharaan. Jika Allah memperhatikan makhluk hidup, manusia tidak boleh menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan tanpa tanggung jawab.
Banyak kerusakan alam berawal dari kesalahpahaman tentang kuasa. Manusia mengira bahwa karena ia mampu menebang, menggali, membangun, dan mengambil, maka semuanya boleh dilakukan. Padahal kemampuan tidak selalu berarti izin moral. Kekuasaan harus dibatasi oleh kasih, keadilan, dan tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang.
Ayat 3:
“Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.”
Allah memberikan hewan sebagai makanan bagi manusia, sebagaimana sebelumnya tumbuhan diberikan. Ini menunjukkan kemurahan Allah yang memelihara kehidupan. Manusia boleh menerima hasil ciptaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Alkitab tidak mengajarkan bahwa menggunakan ciptaan untuk kebutuhan manusia selalu salah.
Namun izin tersebut bukan pembenaran bagi kerakusan. Manusia menerima ciptaan sebagai pemberian, bukan sebagai pemilik mutlak. Ada perbedaan antara menggunakan dan mengeksploitasi. Menggunakan dengan rasa syukur berarti mengambil secukupnya, tidak membuang, menjaga keberlanjutan, dan menghormati sumber kehidupan. Mengeksploitasi berarti mengambil tanpa batas dan tanpa memikirkan akibatnya.
Ayat ini mengajar kita melihat makanan dengan rasa syukur. Nasi, ikan, sayur, buah, dan semua yang tersedia di meja bukan hanya hasil uang kita, tetapi hasil dari kemurahan Tuhan melalui tanah, hujan, matahari, petani, nelayan, pedagang, dan banyak pihak. Karena itu, membuang makanan dengan sembarangan dan hidup dalam kerakusan tidak sesuai dengan semangat orang yang menerima ciptaan sebagai anugerah.
Ayat 4:
“Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.”
Dalam pemahaman Alkitab, darah memiliki hubungan erat dengan kehidupan. Larangan memakan daging bersama darahnya mengingatkan manusia bahwa hidup bukan miliknya. Manusia boleh menerima makanan dari ciptaan, tetapi tidak boleh melupakan bahwa nyawa berasal dari Allah.
Batas ini sangat penting. Allah memberi, tetapi Ia juga membatasi. Kebebasan manusia bukan kebebasan tanpa aturan. Tuhan mengizinkan manusia menggunakan ciptaan, tetapi kehidupan harus tetap dihormati. Manusia tidak boleh menjadikan makhluk hidup sebagai objek kekejaman dan pemuasan nafsu tanpa batas.
Secara rohani, ayat ini mengajar bahwa penghormatan kepada kehidupan merupakan bagian dari ibadah. Ibadah tidak hanya terjadi ketika kita bernyanyi, berdoa, atau berada di gedung gereja. Cara kita makan, memakai sumber daya, memperlakukan hewan, dan menjaga alam juga menunjukkan apakah kita sungguh menghormati Tuhan sebagai Pemberi hidup.
Ayat 5:
Tuhan berkata bahwa Ia akan menuntut pertanggungjawaban atas darah manusia, baik dari binatang maupun dari sesama manusia.
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak bersikap netral terhadap kekerasan. Sebelum air bah, bumi dipenuhi kekerasan. Setelah air bah, Tuhan menegaskan bahwa kehidupan tidak boleh dirampas tanpa pertanggungjawaban. Allah mendengar jeritan korban dan melihat darah yang ditumpahkan.
Kekerasan pada masa kini tidak hanya berbentuk pembunuhan secara fisik. Kekerasan dapat terjadi dalam rumah tangga melalui pukulan, ancaman, penghinaan, pengabaian, dan kata-kata yang merusak harga diri. Kekerasan juga dapat terjadi melalui perundungan, perdagangan manusia, eksploitasi pekerja, ujaran kebencian, serta kebijakan yang mengorbankan masyarakat kecil demi keuntungan pihak tertentu.
Gereja harus menjadi tempat aman bagi korban, bukan tempat yang menutupi kekerasan demi menjaga nama baik. Kasih Kristen bukan berarti membiarkan pelaku terus melakukan kekerasan. Kasih harus berjalan bersama kebenaran, perlindungan terhadap korban, pertobatan, dan pertanggungjawaban.
Ayat 6:
“Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”
Ayat ini memberikan dasar teologis tentang nilai kehidupan manusia. Manusia berharga bukan karena ia kaya, kuat, berpendidikan tinggi, memiliki jabatan, atau berasal dari kelompok tertentu. Manusia berharga karena diciptakan menurut gambar Allah.
Ungkapan ini tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk balas dendam pribadi. Inti perintahnya adalah bahwa pembunuhan dan kekerasan merupakan pelanggaran serius karena menyerang manusia yang memantulkan gambar Sang Pencipta. Kehidupan harus dilindungi, dan kejahatan harus dipertanggungjawabkan secara adil.
Karena setiap manusia adalah gambar Allah, gereja harus menolak rasisme, diskriminasi, penghinaan terhadap kaum miskin, kekerasan terhadap perempuan dan anak, perendahan terhadap penyandang disabilitas, serta sikap yang menganggap orang lain kurang bernilai. Menghina manusia berarti gagal menghormati Allah yang gambarnya ada pada manusia itu.
Hal ini juga berlaku dalam komunikasi sehari-hari. Kata-kata yang merendahkan, mempermalukan, dan menghancurkan martabat orang lain tidak sesuai dengan iman kepada Allah Pencipta. Orang percaya dipanggil memakai lidah untuk membangun, menegur dengan kasih, dan memulihkan, bukan untuk menghancurkan.
Ayat 7:
Tuhan kembali memerintahkan Nuh dan keluarganya untuk beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi.
Pengulangan ini menegaskan bahwa Allah berpihak pada kehidupan. Dunia sesudah air bah tidak boleh dikuasai oleh ketakutan terhadap kematian. Nuh dan keluarganya harus membangun masa depan. Mereka harus hidup, berkembang, bekerja, dan menjalankan mandat di bumi.
Namun menambah jumlah manusia tanpa membentuk kehidupan yang benar tidak cukup. Generasi baru harus dididik untuk tidak mengulangi kekerasan generasi sebelum air bah. Inilah pentingnya pendidikan Kristen. Anak-anak harus diajar bahwa bumi adalah milik Tuhan, bahwa manusia lain harus dihormati, dan bahwa kekuatan harus dipakai untuk melindungi, bukan menindas.
Bagi GMIM, pertumbuhan gereja bukan hanya persoalan statistik. Gereja yang bertumbuh harus bertambah dalam kedewasaan, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab ekologis. Iman harus menghasilkan generasi yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjaga lingkungan dan membela kehidupan.
Ayat 8:
“Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia.”
Allah tidak hanya berbicara kepada Nuh sebagai pribadi, tetapi juga kepada anak-anaknya. Perjanjian memiliki dimensi keluarga dan generasi. Apa yang dinyatakan Tuhan harus diteruskan kepada anak cucu.
Iman Kristen tidak boleh berhenti pada satu generasi. Orang tua, opa, oma, pelayan khusus, guru agama, dan seluruh jemaat memiliki tanggung jawab mengajarkan iman. Anak-anak harus mendengar bukan hanya bahwa Tuhan memberkati, tetapi juga bahwa Tuhan memanggil manusia bertanggung jawab. Mereka harus melihat teladan orang dewasa dalam menjaga lingkungan, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghormati setiap kehidupan.
Anak akan sulit belajar mencintai alam jika orang dewasa hanya memberi perintah, tetapi hidupnya bertentangan. Pendidikan iman membutuhkan teladan. Meja makan, halaman rumah, kebun, pantai, sungai, dan tempat pembuangan sampah dapat menjadi ruang pendidikan teologi ciptaan.
Ayat 9:
“Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu.”
Subjek utama ayat ini adalah Allah. Allah berkata, “Aku mengadakan.” Perjanjian berawal dari kehendak dan inisiatif Allah. Nuh bukan pihak yang merancangnya. Manusia tidak memaksa Allah membuat janji. Tuhan sendiri datang dengan anugerah-Nya.
Hal ini mengajarkan bahwa dasar pengharapan kita bukan kemampuan manusia menjaga perjanjian dengan sempurna, tetapi kesetiaan Allah. Dunia tetap ada bukan karena manusia selalu baik, tetapi karena Tuhan panjang sabar. Hari baru diberikan bukan karena kita selalu layak, tetapi karena rahmat Tuhan.
Namun anugerah bukan alasan untuk hidup sembarangan. Justru karena Tuhan setia, kita dipanggil hidup dalam kesetiaan. Orang yang menerima anugerah harus menunjukkan rasa syukur melalui ketaatan. Perjanjian Allah melahirkan tanggung jawab umat perjanjian.
Ayat 10:
Allah menyebut burung, ternak, binatang liar, dan segala makhluk yang keluar dari bahtera. Mereka semua termasuk dalam perjanjian.
Inilah salah satu bagian paling kuat dalam bacaan ini. Tuhan tidak hanya berbicara tentang manusia. Ia menyebut makhluk lain satu per satu. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan memiliki nilai di hadapan-Nya. Manusia mempunyai kedudukan unik sebagai gambar Allah, tetapi manusia bukan satu-satunya makhluk yang diperhatikan Allah.
Karena itu, perhatian terhadap lingkungan bukan tambahan yang tidak penting dalam iman Kristen. Ketika suatu spesies hilang karena keserakahan manusia, ketika habitat dihancurkan, ketika laut dipenuhi sampah, dan ketika sungai diracuni, hal itu menyangkut makhluk yang berada dalam perhatian Sang Pencipta.
Gereja dipanggil mengembangkan spiritualitas yang melihat alam sebagai sesama ciptaan, bukan hanya sebagai barang ekonomi. Kita tidak menyembah alam, tetapi menghormatinya karena alam adalah karya Allah. Menghormati ciptaan adalah salah satu bentuk menghormati Penciptanya.
Ayat 11:
Allah berjanji bahwa segala makhluk tidak akan lagi dilenyapkan oleh air bah dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.
Janji ini tidak berarti tidak akan pernah ada banjir, badai, atau bencana lokal. Janji tersebut secara khusus menyatakan bahwa Allah tidak akan mengulangi penghancuran seluruh bumi melalui air bah seperti dalam kisah Nuh. Tuhan berkomitmen memelihara tatanan kehidupan.
Janji tersebut memberikan kestabilan bagi kehidupan manusia. Kita dapat menanam, membangun rumah, membentuk keluarga, dan merencanakan masa depan karena Allah menopang dunia. Ini adalah anugerah pemeliharaan yang sering tidak kita sadari.
Namun janji Tuhan tidak membebaskan manusia dari akibat tindakannya. Jika manusia menebang hutan, menutup daerah resapan, mencemari sungai, dan membangun tanpa memperhatikan tata ruang, maka banjir dan longsor dapat menjadi akibat nyata dari tindakan tersebut. Jangan memakai janji Allah untuk membenarkan kelalaian manusia. Iman kepada pemeliharaan Tuhan harus berjalan bersama tanggung jawab.
Ayat 12:
Allah menyatakan bahwa tanda perjanjian itu diberikan antara Dia, manusia, dan segala makhluk hidup untuk generasi yang akan datang.
Manusia mudah lupa. Ketika hidup berjalan baik, manusia lupa bersyukur. Ketika masalah datang, manusia lupa percaya. Karena itu, Allah memberikan tanda yang dapat dilihat. Tanda itu membantu umat mengingat firman dan kesetiaan-Nya.
Tanda tidak memiliki kuasa terpisah dari Allah. Pelangi bukan jimat dan bukan benda magis. Nilainya terletak pada janji Allah yang ditunjukkannya. Demikian juga tanda-tanda dalam kehidupan gereja harus selalu menunjuk kepada firman dan karya Tuhan, bukan menjadi tujuan pada dirinya sendiri.
Ayat ini juga menegaskan tanggung jawab antargenerasi. Generasi sekarang menerima bumi bukan untuk dihabiskan, melainkan untuk diteruskan dalam keadaan layak kepada generasi berikutnya. Kita tidak mempunyai hak moral memakai semua sumber daya sehingga anak cucu hanya menerima kerusakan.
Ayat 13:
“Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.”
Kata Ibrani qeshet dapat berarti busur sebagai senjata maupun pelangi. Karena itu, banyak penafsir melihat gambaran yang sangat kuat: Allah menggantungkan busur-Nya di langit sebagai tanda damai. Busur yang biasanya dipakai untuk peperangan sekarang menjadi tanda bahwa Allah berjanji tidak lagi menghancurkan bumi dengan air bah. Ini adalah gambaran teologis tentang senjata yang diletakkan dan perdamaian yang dinyatakan.
Pelangi adalah tanda perjanjian antara Allah dan bumi. Perhatikan bahwa ayat ini menyebut “bumi”, bukan hanya manusia. Allah memperhatikan tanah, air, udara, tumbuhan, hewan, dan seluruh tatanan kehidupan.
Pelangi muncul ketika cahaya bertemu dengan butiran air. Dalam pengalaman manusia, ia terlihat setelah atau di tengah hujan. Secara rohani, pelangi mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan dapat dinyatakan di tengah awan kehidupan. Tuhan tidak selalu menghilangkan awan dengan segera, tetapi Ia memberikan tanda bahwa awan tidak membatalkan janji-Nya.
Ayat 14:
Tuhan berkata bahwa ketika Ia mendatangkan awan di atas bumi, busur itu akan terlihat di awan.
Awan dapat membuat manusia takut karena awan membawa kemungkinan hujan dan badai. Namun justru di dalam awan, Tuhan menaruh tanda perjanjian. Ini menunjukkan bahwa pengharapan iman bukanlah penyangkalan terhadap kenyataan sulit. Orang percaya tidak berkata bahwa tidak ada awan. Orang percaya melihat awan, tetapi juga melihat tanda kasih setia Tuhan.
Dalam kehidupan keluarga, awan dapat berupa penyakit, konflik, masalah ekonomi, kehilangan, atau ketidakpastian. Dalam kehidupan gereja, awan dapat berupa perpecahan, kelelahan pelayanan, dan tantangan generasi.
Dalam kehidupan masyarakat, awan dapat berupa bencana, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan. Firman ini tidak menjanjikan kehidupan tanpa awan, tetapi meneguhkan bahwa kesetiaan Tuhan tetap hadir di dalamnya.
Ayat 15:
Allah berkata bahwa Ia akan mengingat perjanjian-Nya dengan manusia dan segala makhluk hidup.
Kata “mengingat” tidak berarti Allah dapat lupa seperti manusia. Dalam bahasa Alkitab, ketika Allah mengingat, artinya Ia bertindak sesuai dengan perjanjian-Nya. Allah mengingat Nuh berarti Allah memelihara. Allah mengingat umat-Nya berarti Ia hadir dan bertindak dalam kesetiaan.
Ini memberi penghiburan besar. Ketika manusia merasa dilupakan, Tuhan tetap mengingat. Ketika doa terasa belum dijawab, Tuhan tidak kehilangan perhatian. Ketika dunia tampak kacau, perjanjian Allah belum dibatalkan.
Namun bila Allah mengingat perjanjian-Nya, manusia juga harus mengingat panggilannya. Kita harus mengingat bahwa hidup adalah pemberian. Kita harus mengingat bahwa bumi bukan milik kita. Kita harus mengingat bahwa sesama manusia adalah gambar Allah. Kita harus mengingat bahwa kekuasaan selalu mengandung tanggung jawab.
Ayat 16:
Tuhan berkata bahwa busur itu akan ada di awan dan Ia akan melihatnya untuk mengingat perjanjian yang kekal antara Allah dan segala makhluk hidup di bumi.
Perjanjian ini disebut kekal dalam arti bahwa janji pemeliharaan tersebut berlaku bagi seluruh generasi selama tatanan dunia ini berlangsung. Allah setia menopang kehidupan dan tidak menyerahkan ciptaan kepada kehancuran tanpa tujuan.
Ayat ini membentuk pemahaman bahwa keselamatan Allah tidak bersifat sempit. Tuhan memperhatikan manusia, tetapi juga dunia tempat manusia hidup. Karena itu, iman Kristen tidak boleh hanya berbicara tentang pergi ke surga sambil mengabaikan bumi. Orang yang mengharapkan pembaruan ciptaan harus mulai hidup sebagai tanda pembaruan itu sekarang.
Kita tidak menyelamatkan bumi menggantikan Allah. Tuhan tetap Pencipta dan Penebus. Namun sebagai umat-Nya, kita dipanggil mengambil bagian dalam pemeliharaan dan pemulihan, seperti menanam kembali, membersihkan lingkungan, menjaga mata air, mengurangi sampah, menghindari konsumsi berlebihan, dan mendukung kebijakan yang melindungi kehidupan. Upaya pemulihan ekosistem juga diakui secara luas sebagai kebutuhan untuk menghentikan dan membalikkan kerusakan alam.
Ayat 17:
“Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”
Allah mengakhiri bagian ini dengan mengulangi inti janji-Nya. Pengulangan tersebut menegaskan bahwa perjanjian ini tidak boleh dilupakan. Pelangi menjadi khotbah visual tentang Allah yang setia, damai yang Ia tawarkan, dan kehidupan yang Ia pelihara.
Namun tanda ini juga menjadi cermin bagi manusia. Ketika kita melihat pelangi, kita diingatkan bukan hanya bahwa Tuhan setia, tetapi juga bahwa manusia pernah memenuhi bumi dengan kekerasan. Kita dipanggil tidak mengulangi jalan dunia sebelum air bah. Tanda anugerah harus menghasilkan pertobatan.
Pelangi bukan alasan untuk menjadi sentimental tanpa perubahan. Pelangi memanggil kita menjadi umat yang menghormati kehidupan, menolak kekerasan, memelihara bumi, dan hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Kejadian 9:1–17, kita melihat bahwa tema “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi” membawa kita kepada pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan yang setia, Tuhan yang memelihara, Tuhan yang menghargai kehidupan, dan Tuhan yang tidak meninggalkan dunia ciptaan-Nya.
Setelah air bah, Tuhan tidak memberikan pelangi sebagai hiasan langit tanpa makna. Pelangi adalah tanda perjanjian. Ia menyatakan bahwa penghakiman bukan kata terakhir, bahwa kemurahan Allah masih terbuka, dan bahwa dunia tetap berada dalam pemeliharaan-Nya. Awan masih dapat datang, tetapi janji Tuhan tidak hilang. Hujan masih dapat turun, tetapi kasih setia-Nya tetap berlaku. Dunia masih menyimpan luka dosa, tetapi Allah belum berhenti bekerja.
Tema ini menegaskan bahwa perjanjian Allah tidak hanya menyentuh manusia. Tuhan berulang kali menyebut segala makhluk hidup dan bumi. Karena itu, kita tidak boleh menjalani iman secara egois, seolah-olah keselamatan hanya menyangkut hubungan pribadi antara “saya dan Tuhan” tanpa kaitan dengan sesama dan ciptaan. Hubungan yang dipulihkan dengan Allah harus memulihkan cara kita memperlakukan manusia dan alam.
Jika Allah menghargai kehidupan manusia karena manusia adalah gambar-Nya, maka gereja harus menjadi tempat yang melindungi martabat manusia. Jangan ada kekerasan yang dibenarkan atas nama kepala keluarga, adat, kekuasaan, atau agama. Jangan ada anak yang direndahkan, perempuan yang disakiti, orang tua yang diabaikan, orang miskin yang dianggap tidak penting, atau orang lemah yang diperlakukan sebagai beban. Umat perjanjian harus menjaga kehidupan.
Jika Allah memasukkan hewan dan seluruh makhluk ke dalam perjanjian-Nya, maka gereja harus menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan. Kita tidak boleh menganggap urusan sampah, sungai, hutan, dan laut sebagai masalah orang lain. Semua itu adalah bagian dari rumah bersama yang Tuhan percayakan kepada manusia. Merawat ciptaan bukan tren dunia, melainkan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Jika Allah memberi kesempatan baru kepada Nuh, maka orang percaya juga harus menjadi pembawa pemulihan. Jangan hanya menunjuk kesalahan masa lalu. Bangunlah masa depan yang baru. Keluarga yang pernah terluka dapat belajar berdamai. Jemaat yang pernah berkonflik dapat belajar mengampuni. Masyarakat yang lingkungannya rusak dapat mulai melakukan pemulihan. Selama Tuhan memberi kesempatan, umat-Nya tidak boleh menyerah.
Ada beberapa kebenaran penting yang harus kita bawa pulang dari firman ini:
- Allah adalah sumber kehidupan dan Pemilik seluruh ciptaan. Karena itu, manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan pengelola yang harus mempertanggungjawabkan tindakannya.
- Manusia memiliki martabat khusus sebagai gambar Allah. Karena itu, segala bentuk pembunuhan, kekerasan, penghinaan, eksploitasi, dan perendahan martabat harus ditolak.
- Segala makhluk hidup berada dalam perhatian Allah. Karena itu, kepedulian kepada hewan, tumbuhan, tanah, air, dan udara merupakan bagian dari tanggung jawab iman.
- Perjanjian dimulai oleh anugerah Allah. Kita hidup bukan karena kelayakan kita, tetapi karena kesetiaan Tuhan; anugerah tersebut harus dijawab dengan ketaatan.
- Pelangi adalah tanda damai dan pengharapan. Di tengah awan kehidupan, Tuhan tetap mengingat janji-Nya dan memanggil kita untuk hidup dalam iman.
- Pemulihan harus bersifat menyeluruh. Tuhan tidak hanya memulihkan manusia secara pribadi, tetapi mengarahkan hubungan manusia dengan sesama dan ciptaan kepada perdamaian.
Implikasi pertama bagi kita adalah membangun keluarga yang menghormati kehidupan. Orang tua harus mendidik anak bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan disiplin yang sehat. Suami dan istri harus saling menghormati sebagai gambar Allah. Anak-anak harus diajar menghargai orang tua, sesama, dan makhluk hidup. Rumah Kristen harus menjadi tempat kehidupan bertumbuh, bukan tempat ketakutan.
Implikasi kedua adalah membentuk pola hidup sederhana atau ugahari. Kita perlu bertanya apakah semua yang kita beli benar-benar diperlukan, apakah cara kita memakai air dan listrik bertanggung jawab, apakah kita menghasilkan terlalu banyak sampah, dan apakah kenyamanan kita dibayar dengan kerusakan yang ditanggung orang lain. Hidup sederhana bukan berarti menolak berkat, tetapi memakai berkat secara bijaksana dan tidak diperbudak keinginan.
Implikasi ketiga adalah mengubah kebiasaan kecil yang merusak. Jangan membuang sampah ke selokan, sungai, dan pantai. Kurangi plastik sekali pakai. Pisahkan sampah yang dapat didaur ulang. Jangan membakar sampah sembarangan. Tanamlah pohon dan rawatlah, bukan hanya berfoto pada waktu penanaman. Jagalah sumber air. Gunakan makanan secukupnya dan jangan membuangnya.
Implikasi keempat adalah mendorong gereja mengambil peran publik. Gereja dapat memberikan pendidikan ekologis dalam khotbah, katekisasi, sekolah minggu, persekutuan kolom, dan BIPRA. Jemaat dapat melakukan pembersihan lingkungan secara teratur, mengelola sampah gereja, menanam pohon, menjaga sumber air, dan bekerja sama dengan pemerintah serta masyarakat. Gereja juga harus berani menyuarakan kebenaran ketika alam dirusak oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab.
Implikasi kelima adalah menolong korban kerusakan dan bencana. Kepedulian ekologis bukan hanya berbicara tentang pohon dan sungai, tetapi juga tentang manusia yang paling dahulu menderita ketika lingkungan rusak. Orang miskin sering tinggal di wilayah paling rentan, memiliki perlindungan paling sedikit, dan paling sulit pulih setelah bencana. Karena itu, keadilan ekologis harus berjalan bersama kasih kepada kaum lemah.
Saudara-saudara, marilah kita belajar melihat pelangi dengan mata iman. Ketika pelangi tampak, jangan hanya mengagumi warnanya. Ingatlah bahwa Tuhan adalah Allah perjanjian. Ingatlah bahwa bumi ini dikasihi-Nya. Ingatlah bahwa kehidupan berharga. Ingatlah bahwa kekerasan dan keserakahan bukan jalan Tuhan. Ingatlah bahwa anugerah selalu memanggil kepada tanggung jawab.
Ketika awan gelap muncul dalam keluarga, ingatlah pelangi perjanjian dan pilihlah jalan damai. Ketika ada godaan mengambil keuntungan dengan merusak alam, ingatlah bahwa bumi ada di dalam perhatian Tuhan. Ketika melihat sampah, pencemaran, dan kerusakan, jangan hanya mengeluh; ambillah bagian dalam pemulihan. Ketika melihat manusia yang terluka dan direndahkan, ingatlah bahwa ia adalah gambar Allah.
Ajakan firman Tuhan hari ini jelas: hiduplah sebagai umat perjanjian. Jangan menjadi perusak, tetapi pemelihara. Jangan hanya mengambil, tetapi juga memulihkan. Jangan hanya menikmati berkat bumi, tetapi menjaga sumber berkat itu bagi generasi berikutnya. Jangan hanya menyebut Tuhan sebagai Pencipta, tetapi tunjukkan iman melalui cara kita memperlakukan ciptaan-Nya.
Marilah kita menyerahkan diri kepada Tuhan dan berkata: “Tuhan, ampuni kami karena sering memakai bumi tanpa memeliharanya. Ampuni kami karena tidak menghormati kehidupan. Bentuklah kami menjadi umat yang setia kepada perjanjian-Mu, menjaga sesama, memelihara alam, dan menghadirkan damai di bumi.”
Kiranya GMIM menjadi gereja yang bukan hanya berbicara tentang kasih Allah, tetapi menghadirkan kasih itu melalui perlindungan terhadap manusia dan ciptaan. Kiranya keluarga-keluarga kita menjadi tempat kehidupan dihormati.
Kiranya generasi muda belajar dari teladan kita bahwa bumi adalah titipan Tuhan. Dan setiap kali busur perjanjian tampak di awan, kiranya kita kembali mengingat bahwa Allah setia, bumi berada dalam perhatian-Nya, dan kita dipanggil menjadi rekan sekerja-Nya dalam memelihara kehidupan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas