Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Kamis 25 Juni 2026, Bacaan I 2 Raja-Raja 24:8-17, Bacaan Injil Matius 7:21-29

Fandy Gerungan • Selasa, 23 Juni 2026 | 15:13 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Raja-Raja 24:8-17

Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Nehusta binti Elnatan, dari Yerusalem.

Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN tepat seperti yang dilakukan ayahnya.

Pada waktu itu majulah orang-orang Nebukadnezar, raja Babel, menyerang Yerusalem dan kota itu dikepung.

Juga Nebukadnezar, raja Babel, datang menyerang kota itu, sedang orang-orangnya mengepungnya.

Lalu keluarlah Yoyakhin, raja Yehuda, mendapatkan raja Babel, ia sendiri, ibunya, pegawai-pegawainya, para pembesarnya dan pegawai-pegawai istananya. Raja Babel menangkap dia pada tahun yang kedelapan dari pemerintahannya.

Ia mengeluarkan dari sana segala barang perbendaharaan rumah TUHAN dan barang-barang perbendaharaan istana raja; juga dikeratnya emas dari segala perkakas emas yang dibuat oleh Salomo, raja Israel, di bait TUHAN seperti yang telah difirmankan TUHAN.

Ia mengangkut seluruh penduduk Yerusalem ke dalam pembuangan, semua panglima dan semua pahlawan yang gagah perkasa, sepuluh ribu orang tawanan, juga semua tukang dan pandai besi; tidak ada yang ditinggalkan kecuali orang-orang lemah dari rakyat negeri.

Ia mengangkut Yoyakhin ke dalam pembuangan ke Babel, juga ibunda raja, isteri-isteri raja, pegawai-pegawai istananya dan orang-orang berkuasa di negeri itu dibawanya sebagai orang buangan dari Yerusalem ke Babel.

Semua orang yang gagah perkasa, tujuh ribu orang banyaknya, para tukang dan para pandai besi, seribu orang banyaknya, sekalian pahlawan yang sanggup berperang, dibawa oleh raja Babel sebagai orang buangan ke Babel.

Kemudian raja Babel mengangkat Matanya, paman Yoyakhin, menjadi raja menggantikan dia dan menukar namanya menjadi Zedekia.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 79:1-2.3-5.8.9

Mazmur Asaf. Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.

Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi.

Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan.

Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.

Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api?

Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami.

Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!

Bacaan Injil Matius 7:21-29

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,

sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve Sahabat Muda Katolik!, di zaman sekarang, kita sering dihadapkan pada banyak pilihan. Kita bisa memilih jurusan kuliah, pekerjaan, pergaulan, bahkan menentukan nilai-nilai apa yang ingin kita pegang dalam hidup. 

Namun ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: di atas apa kita sedang membangun hidup kita?. Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang dua orang yang membangun rumah. 

Sekilas rumah mereka tampak sama. Namun ketika badai datang, hasilnya berbeda. Rumah yang dibangun di atas batu tetap berdiri, sedangkan rumah yang dibangun di atas pasir hancur berantakan.

Bagi orang muda, "pasir" bisa berupa banyak hal. Bisa berupa pencarian popularitas, pengakuan dari orang lain, jumlah followers, hubungan yang tidak sehat, gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan sesaat, atau ambisi yang membuat kita melupakan Tuhan. 

Semua itu mungkin terlihat menarik dan menjanjikan, tetapi tidak cukup kuat untuk menopang hidup ketika masalah datang.

Sebaliknya, "batu" adalah Kristus dan nilai-nilai yang Dia ajarkan. Kejujuran, kasih, pengampunan, kerendahan hati, kesetiaan, dan kehidupan doa mungkin tidak selalu terlihat keren di mata dunia, tetapi justru itulah fondasi yang membuat hidup kita tetap kokoh.

Bacaan pertama menunjukkan bagaimana sebuah bangsa mengalami kehancuran karena menjauh dari Tuhan. Akibatnya, mereka kehilangan banyak hal yang berharga. 

Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Ketika kita terus-menerus mengabaikan suara Tuhan dan hanya mengikuti keinginan diri sendiri, lambat laun hidup kita juga bisa kehilangan arah.

Sebagai orang muda, kita sering berpikir bahwa kegagalan, patah hati, atau masalah keluarga adalah badai terbesar. Padahal badai yang lebih berbahaya adalah ketika kita mulai merasa tidak membutuhkan Tuhan. Saat itulah fondasi hidup mulai retak tanpa kita sadari.

Yesus tidak meminta kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kita untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Nya. Artinya, iman bukan hanya soal datang ke gereja atau mengunggah ayat rohani di media sosial. 

Iman adalah tentang bagaimana kita hidup setiap hari: bagaimana kita memperlakukan teman, menggunakan media sosial, belajar dengan jujur, menghormati orang tua, dan tetap memilih yang benar meskipun tidak populer.

Orang muda yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, tetapi mereka yang menjadikan Tuhan sebagai tempat berpijak setiap kali jatuh.

Jangan menunggu badai datang untuk memperkuat fondasi. Bangunlah hidupmu bersama Kristus mulai sekarang. Sebab masa depan yang kokoh tidak dibangun oleh bakat semata, melainkan oleh hati yang berakar kuat dalam Tuhan. (*)



 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan