Bacaan: Efesus 6:1–9
Tema: “Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, keluarga adalah tempat pertama manusia belajar mengenal kasih, hormat, tanggung jawab, disiplin, dan iman. Sebelum seseorang belajar di sekolah, bekerja di kantor, melayani di gereja, atau hidup di tengah masyarakat, ia lebih dahulu dibentuk di dalam keluarga.
Di rumah, seorang anak belajar bagaimana berbicara, bagaimana menghormati orang lain, bagaimana menghadapi masalah, bagaimana meminta maaf, bagaimana mengampuni, dan bagaimana mengenal Tuhan. Karena itu, keluarga bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat pembentukan iman dan karakter.
Namun kita harus jujur bahwa kehidupan keluarga masa kini tidak selalu mudah. Banyak orang tua sibuk bekerja sehingga waktu bersama anak-anak menjadi sedikit. Banyak anak bertumbuh dengan pengaruh media sosial, gawai, pergaulan, dan budaya yang sering kali lebih kuat daripada nasihat orang tua.
Ada keluarga yang tinggal serumah tetapi jarang berbicara dari hati ke hati. Ada orang tua yang memberi banyak fasilitas, tetapi kurang memberi teladan iman. Ada anak yang pintar secara akademik, tetapi kurang terbentuk dalam karakter. Ada rumah yang cukup secara materi, tetapi miskin dalam doa, firman, dan kasih.
Baca Juga: Materi Khotbah Efesus 6:1–9, Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan
Di tengah keadaan seperti ini, firman Tuhan dari Efesus 6:1–9 datang sebagai panggilan yang sangat penting. Rasul Paulus berbicara tentang hubungan dalam rumah tangga: anak-anak dan orang tua, hamba dan tuan.
Namun di balik hubungan-hubungan itu, ada pesan yang lebih dalam, yaitu bahwa setiap relasi manusia harus dijalani “di dalam Tuhan.” Artinya, keluarga Kristen tidak boleh dibangun hanya berdasarkan kebiasaan, emosi, budaya, atau kuasa manusia, tetapi harus dibangun berdasarkan kehendak Kristus.
Tema kita, “Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan,” terutama diambil dari Efesus 6:4, ketika Paulus menasihati para bapa agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak, tetapi mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Ini berarti pendidikan anak bukan hanya soal memberi makan, membiayai sekolah, menyediakan rumah, atau memenuhi kebutuhan jasmani. Pendidikan anak juga berarti membentuk hati, iman, karakter, dan cara hidup mereka di hadapan Tuhan.
Renungan ini mengajak kita melihat kembali tanggung jawab keluarga Kristen. Anak-anak dipanggil untuk taat dan menghormati orang tua. Orang tua dipanggil untuk mendidik tanpa melukai. Para pekerja dipanggil untuk bekerja dengan tulus seperti untuk Tuhan.
Para pemimpin dipanggil untuk memperlakukan orang lain dengan adil, karena Tuhan tidak memandang muka. Semua ini menunjukkan bahwa Injil Kristus harus nyata bukan hanya di gedung gereja, tetapi juga di rumah, di tempat kerja, dan dalam setiap hubungan manusia.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus dan juga kemungkinan kepada jemaat-jemaat lain di wilayah Asia Kecil. Efesus adalah kota besar yang penting pada masa itu, pusat perdagangan, budaya, dan keagamaan. Kota ini terkenal dengan kuil Artemis dan kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan serta nilai-nilai dunia Romawi. Di tengah masyarakat seperti itu, orang percaya dipanggil hidup berbeda sebagai umat yang telah ditebus oleh Kristus.
Surat Efesus secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama, pasal 1–3, berbicara tentang karya keselamatan Allah di dalam Kristus. Paulus menjelaskan bahwa orang percaya dipilih, ditebus, diampuni, dipersatukan dalam Kristus, dan menjadi bagian dari tubuh Kristus, yaitu gereja.
Bagian kedua, pasal 4–6, berbicara tentang bagaimana orang yang sudah diselamatkan harus hidup. Jadi, dalam Surat Efesus, ajaran iman selalu diikuti oleh kehidupan nyata. Teologi tidak berhenti di kepala, tetapi harus terlihat dalam perilaku.
Sebelum sampai pada Efesus 6:1–9, Paulus sudah menasihati jemaat untuk hidup sebagai anak-anak terang, meninggalkan cara hidup lama, hidup dalam kasih, dan penuh dengan Roh Kudus. Dalam Efesus 5:18, Paulus berkata supaya orang percaya penuh dengan Roh.
Setelah itu ia menjelaskan bagaimana kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus terlihat dalam relasi sehari-hari: suami dan istri, anak dan orang tua, hamba dan tuan. Ini penting, karena kepenuhan Roh Kudus bukan hanya terlihat dalam ibadah yang penuh semangat, tetapi dalam relasi yang diubahkan.
Pada zaman Paulus, struktur rumah tangga Romawi berbeda dari zaman kita. Seorang kepala keluarga memiliki kuasa besar atas istri, anak, dan hamba. Namun Paulus membawa nilai Injil ke dalam struktur itu.
Ia tidak hanya berbicara kepada pihak yang berada di bawah, seperti anak-anak dan hamba, tetapi juga menegur pihak yang memiliki otoritas, seperti para bapa dan tuan. Dengan demikian, Injil tidak membiarkan kuasa digunakan secara sewenang-wenang. Kuasa harus tunduk kepada Kristus.
Tema “Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan” mengandung makna yang sangat luas. Kata “didiklah” menunjukkan proses yang terus-menerus. Pendidikan iman tidak terjadi sekali saja, bukan hanya dalam satu nasihat, satu ibadah, atau satu hukuman. Pendidikan iman adalah proses harian yang melibatkan teladan, pengajaran, disiplin, doa, kasih, dan kesabaran. Orang tua tidak hanya memberi perintah, tetapi juga membentuk kehidupan.
“Ajaran Tuhan” berarti anak-anak harus dikenalkan kepada firman Tuhan, nilai-nilai kerajaan Allah, kasih Kristus, kebenaran, kekudusan, dan pengharapan Injil. “Nasihat Tuhan” berarti teguran, arahan, dan pembentukan yang diberikan bukan berdasarkan emosi, tetapi berdasarkan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, orang tua dipanggil mendidik anak bukan hanya supaya sukses menurut dunia, tetapi supaya takut akan Tuhan dan hidup dalam kebenaran.
Tema ini juga berbicara kepada gereja. Pendidikan iman bukan hanya tugas orang tua di rumah, tetapi juga tugas jemaat. Sekolah Minggu, remaja, pemuda, katekisasi, BIPRA, kolom, dan seluruh pelayanan gereja harus mendukung keluarga dalam membentuk generasi yang mengenal Tuhan. Namun gereja tidak boleh menggantikan keluarga. Keluarga tetap menjadi tempat pertama dan utama bagi pendidikan iman.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 1, Paulus berkata, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.” Nasihat ini diberikan langsung kepada anak-anak. Ini menarik, karena dalam dunia kuno anak-anak sering tidak dianggap sebagai pihak yang perlu diajak bicara secara langsung.
Namun Paulus memandang anak-anak sebagai bagian dari jemaat, sebagai pribadi yang juga bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Mereka bukan hanya objek pendidikan, tetapi juga subjek yang dipanggil untuk taat kepada Tuhan.
Ketaatan anak kepada orang tua disebut “di dalam Tuhan.” Ini berarti ketaatan bukan hanya karena takut dihukum, bukan hanya karena budaya, dan bukan hanya karena orang tua lebih tua. Ketaatan anak kepada orang tua adalah bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Anak belajar menghormati otoritas Allah melalui ketaatan kepada orang tua yang mendidik mereka dalam kehendak Tuhan.
Namun frasa “di dalam Tuhan” juga memberi batas. Ketaatan kepada orang tua tidak boleh dipahami sebagai ketaatan buta terhadap perintah yang jelas-jelas melawan kehendak Tuhan. Jika ada orang tua menyuruh anak berdosa, berbohong, mencuri, melakukan kekerasan, atau meninggalkan iman, maka anak harus lebih taat kepada Tuhan. Jadi, ketaatan Kristen adalah ketaatan yang berada di bawah pemerintahan Kristus.
Dalam kehidupan sekarang, ayat ini menegur anak-anak yang mulai kehilangan rasa hormat kepada orang tua. Ada anak yang berbicara kasar, melawan, mengabaikan nasihat, atau merasa lebih tahu karena pendidikan dan teknologi.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa menghormati orang tua tetap merupakan bagian dari hidup beriman. Pada saat yang sama, ayat ini juga mengingatkan orang tua agar hidup mereka layak dihormati, bukan karena menuntut hormat dengan kekerasan, tetapi karena memberi teladan yang benar.
Pada ayat 2, Paulus mengutip hukum Taurat: “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Ia menyebut ini sebagai suatu perintah yang penting. Menghormati orang tua lebih dalam daripada sekadar taat ketika masih kecil.
Ketaatan lebih berhubungan dengan masa anak-anak dalam rumah, sedangkan penghormatan berlangsung sepanjang hidup. Seorang anak yang sudah dewasa mungkin tidak lagi berada di bawah perintah harian orang tua, tetapi ia tetap dipanggil menghormati mereka.
Menghormati orang tua berarti menghargai mereka, mendengarkan nasihat yang benar, tidak merendahkan mereka, tidak mempermalukan mereka, dan merawat mereka ketika mereka tua. Dalam budaya kita, penghormatan kepada orang tua sering dianggap penting, tetapi kadang hanya berbentuk adat luar. Firman Tuhan menghendaki penghormatan yang lahir dari hati yang takut akan Tuhan.
Dalam konteks masa kini, banyak orang tua lanjut usia merasa kesepian, diabaikan, atau dianggap beban. Anak-anak sibuk dengan keluarga, pekerjaan, dan urusan sendiri. Firman ini mengingatkan bahwa merawat orang tua adalah bagian dari iman. Menghormati ayah dan ibu bukan hanya mengucapkan kata-kata sopan, tetapi juga hadir, memperhatikan, mendoakan, dan membantu mereka sesuai kemampuan.
Namun orang tua juga perlu menyadari bahwa penghormatan tidak boleh dipakai untuk memanipulasi anak. Ada orang tua yang menuntut hormat tetapi tidak mau menghormati kehidupan anak yang sudah dewasa. Relasi yang sehat dibangun dalam kasih, bukan tekanan. Firman Tuhan memanggil anak menghormati orang tua, tetapi juga memanggil orang tua hidup bijaksana.
Pada ayat 3, Paulus menyebut janji dari perintah itu: “Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” Dalam Perjanjian Lama, janji ini berkaitan dengan kehidupan umat Israel di tanah perjanjian.
Dalam Efesus, Paulus mengutipnya untuk menunjukkan bahwa hidup yang menghormati orang tua membawa berkat dalam tatanan kehidupan. Keluarga yang dibangun dengan hormat, kasih, dan ketaatan akan memiliki dasar yang lebih sehat.
Janji ini tidak boleh dipahami secara mekanis, seolah setiap anak yang menghormati orang tua pasti tidak akan pernah mengalami penderitaan atau pasti berumur panjang secara harfiah. Alkitab tidak mengajar seperti itu.
Namun prinsipnya jelas: penghormatan kepada orang tua membentuk kehidupan yang lebih tertata, penuh hikmat, dan diberkati dalam relasi. Anak yang belajar menghormati orang tua biasanya lebih siap menghormati Tuhan, sesama, guru, pemimpin, dan aturan yang benar.
Dalam kehidupan sosial, kerusakan dalam keluarga sering berdampak luas. Anak yang dibesarkan tanpa kasih, tanpa disiplin, atau dalam kekerasan dapat membawa luka ke dalam masyarakat. Sebaliknya, anak yang dibentuk dalam kasih dan nasihat Tuhan dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Karena itu, pendidikan iman dalam keluarga memiliki dampak sosial. Keluarga yang sehat ikut membangun gereja dan bangsa yang sehat.
Pada ayat 4, Paulus berkata, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Ayat ini menjadi pusat tema kita.
Paulus tidak hanya menuntut anak-anak taat. Ia juga menegur para bapa. Pada zaman Romawi, seorang ayah memiliki kuasa besar dalam keluarga. Namun Paulus berkata bahwa ayah tidak boleh memakai kuasanya secara kasar dan sewenang-wenang.
“Janganlah bangkitkan amarah” berarti orang tua tidak boleh mendidik dengan cara yang membuat anak menjadi pahit, terluka, kecewa, atau kehilangan hati. Anak bisa marah bukan hanya karena ditegur, tetapi karena diperlakukan tidak adil.
Anak bisa pahit karena orang tua terlalu keras, membanding-bandingkan, tidak pernah memuji, hanya melihat kesalahan, memberi hukuman tanpa kasih, atau tidak pernah hadir dalam hidup mereka.
Anak juga bisa terluka ketika orang tua berkata kasar, mempermalukan mereka di depan orang lain, atau menuntut terlalu banyak tanpa mendengar pergumulan mereka.
Paulus tidak berkata bahwa orang tua tidak boleh mendisiplin anak. Justru ia berkata, “Didiklah mereka.” Namun disiplin Kristen berbeda dari kekerasan. Disiplin bertujuan membentuk, bukan menghancurkan. Teguran bertujuan memulihkan, bukan mempermalukan. Ajaran Tuhan harus disertai kasih Tuhan. Nasihat Tuhan harus disampaikan dengan roh Kristus.
Bagi orang tua masa kini, ayat ini sangat penting. Banyak orang tua ingin anak sukses, tetapi lupa mendidik anak takut akan Tuhan. Ada yang hanya menuntut nilai sekolah, prestasi, dan pekerjaan baik, tetapi tidak membentuk karakter.
Ada yang memberikan gawai, uang, dan fasilitas, tetapi jarang memberikan waktu, doa, dan teladan. Ada yang marah ketika anak salah, tetapi tidak pernah duduk berbicara dari hati ke hati.
Mendidik dalam ajaran dan nasihat Tuhan berarti membawa anak mengenal firman, mengajak mereka berdoa, memberi teladan dalam ibadah, mengajarkan kejujuran, menegur dengan kasih, membiasakan permintaan maaf, mengajar mereka melayani, dan memperkenalkan bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan. Orang tua tidak sempurna, tetapi orang tua harus mau dibentuk oleh Tuhan supaya dapat membentuk anak-anaknya.
Pada ayat 5, Paulus berkata, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus.” Bagian ini berbicara dalam konteks dunia kuno yang mengenal sistem perhambaan.
Kita harus menegaskan bahwa Alkitab tidak boleh dipakai untuk membenarkan perbudakan, penindasan, atau eksploitasi manusia. Dalam terang keseluruhan Alkitab, setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan di dalam Kristus martabat manusia diteguhkan.
Namun dalam konteks jemaat Efesus, banyak orang percaya hidup dalam struktur sosial yang sudah ada. Paulus memberi nasihat agar mereka yang berada dalam posisi hamba tetap hidup sebagai murid Kristus, sekalipun situasi mereka tidak ideal. Ketaatan mereka bukan didasarkan pada takut manusia semata, tetapi pada kesadaran bahwa hidup mereka ada di hadapan Kristus.
Dalam konteks masa kini, prinsip ini dapat diterapkan dalam dunia kerja. Orang percaya dipanggil bekerja dengan tulus, hormat, dan bertanggung jawab. Pekerjaan bukan hanya tempat mencari uang, tetapi juga tempat menyatakan iman.
Seorang pekerja Kristen harus jujur, rajin, dapat dipercaya, dan tidak bekerja hanya ketika diawasi. Ia bekerja bukan hanya untuk menyenangkan atasan, tetapi sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan.
Pada ayat 6, Paulus menegaskan supaya hamba-hamba tidak bekerja hanya di hadapan tuannya untuk menyenangkan manusia, tetapi sebagai hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah dengan segenap hati.
Ayat ini menegur mentalitas bekerja hanya ketika dilihat. Ada orang yang rajin saat atasan hadir, tetapi malas ketika tidak diawasi. Ada yang terlihat baik di depan, tetapi tidak jujur di belakang. Paulus berkata bahwa orang percaya bekerja di hadapan Tuhan.
Ini sangat relevan dengan keadaan sekarang. Di tempat kerja, di sekolah, di pelayanan, bahkan dalam rumah, banyak orang tergoda melakukan sesuatu hanya demi pujian. Firman Tuhan mengajar bahwa motivasi kita harus berubah.
Kita bekerja karena Tuhan melihat. Kita melayani karena Tuhan memanggil. Kita bertanggung jawab bukan hanya supaya dinilai baik manusia, tetapi karena kita ingin melakukan kehendak Allah.
Bagi orang tua, ayat ini juga menjadi teladan bagi anak-anak. Anak-anak belajar etos kerja dari orang tua. Jika mereka melihat orang tua bekerja asal-asalan, suka mengeluh, tidak jujur, atau hanya mencari keuntungan, mereka akan menyerap pola itu. Tetapi jika mereka melihat orang tua bekerja dengan tulus, disiplin, dan takut akan Tuhan, mereka belajar bahwa iman Kristen menyentuh seluruh kehidupan.
Pada ayat 7, Paulus berkata, “Layanilah dengan rela seperti melayani Tuhan dan bukan manusia.” Ini adalah perubahan besar dalam cara melihat pekerjaan. Pekerjaan bukan hanya tugas duniawi. Pelayanan bukan hanya kegiatan gereja. Semua pekerjaan yang dilakukan dengan benar, tulus, dan untuk kemuliaan Tuhan dapat menjadi pelayanan kepada Tuhan.
Ini memberi makna baru bagi pekerjaan sehari-hari. Ibu yang mengurus rumah dengan kasih, ayah yang bekerja dengan jujur, guru yang mengajar dengan sabar, petani yang mengolah tanah dengan tanggung jawab, pegawai yang melayani masyarakat dengan adil, pedagang yang tidak menipu, pelayan gereja yang bekerja tanpa mencari pujian—semuanya dapat menjadi bentuk pelayanan kepada Tuhan.
Ayat ini juga menolong kita ketika pekerjaan terasa tidak dihargai manusia. Kadang usaha kita tidak dilihat. Pelayanan kita tidak dipuji. Pengorbanan kita dianggap biasa. Namun jika kita melakukannya untuk Tuhan, tidak ada yang sia-sia. Tuhan melihat hati dan kesetiaan kita.
Pada ayat 8, Paulus berkata bahwa setiap orang, baik hamba maupun orang merdeka, jika ia berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan adalah Hakim dan Pemberi upah yang adil. Manusia mungkin tidak melihat, tetapi Tuhan melihat. Manusia mungkin tidak menghargai, tetapi Tuhan tidak melupakan.
Ini memberi penghiburan bagi mereka yang bekerja dan melayani dengan setia tetapi merasa tidak diperhatikan. Seorang ibu yang setiap hari berkorban untuk keluarga, seorang ayah yang bekerja jujur meski tidak kaya, seorang anak yang merawat orang tua, seorang pekerja yang tetap benar di tengah lingkungan yang curang, seorang pelayan yang melayani diam-diam—semua itu diperhatikan Tuhan.
Namun ayat ini juga menjadi peringatan. Jika Tuhan melihat kebaikan, Tuhan juga melihat ketidakjujuran, kemalasan, dan kepalsuan. Karena itu, hidup di hadapan Tuhan harus dijalani dengan integritas. Jangan hanya mencari pujian manusia. Carilah perkenanan Tuhan.
Pada ayat 9, Paulus berkata kepada para tuan, “Perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.” Ini adalah ayat yang sangat kuat.
Paulus menegur pihak yang berkuasa. Para tuan harus memperlakukan hamba-hamba dengan benar, tidak mengancam, dan mengingat bahwa mereka juga memiliki Tuhan di surga. Di hadapan Tuhan, tuan dan hamba sama-sama bertanggung jawab.
Prinsip ini sangat penting untuk masa kini. Siapa pun yang memiliki kuasa—orang tua, atasan, pemimpin gereja, majikan, pejabat, guru, pengusaha—tidak boleh memakai kuasa untuk menindas. Tuhan tidak memandang muka. Jabatan manusia tidak membuat seseorang lebih tinggi di hadapan Allah. Semua orang akan bertanggung jawab kepada Tuhan.
Dalam keluarga, orang tua harus mengingat bahwa anak-anak bukan milik mutlak mereka. Anak adalah titipan Tuhan. Dalam pekerjaan, atasan harus memperlakukan pekerja dengan adil.
Dalam pelayanan gereja, pemimpin harus melayani dengan rendah hati. Dalam masyarakat, orang yang memiliki kuasa harus melindungi yang lemah. Tuhan tidak berpihak pada penindasan. Tuhan melihat hati dan tindakan setiap orang.
Ayat ini menutup bagian Efesus 6:1–9 dengan prinsip besar: semua relasi harus dijalani di hadapan Tuhan. Anak kepada orang tua, orang tua kepada anak, pekerja kepada atasan, atasan kepada pekerja—semuanya berada di bawah Kristus. Karena itu, kehidupan Kristen tidak dapat dipisahkan antara ibadah dan kehidupan sehari-hari. Iman harus tampak dalam rumah dan pekerjaan.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Efesus 6:1–9, kita melihat bahwa tema “Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan” bukan hanya berbicara tentang cara orang tua mendidik anak, tetapi tentang seluruh kehidupan keluarga dan relasi sosial yang harus ditata di bawah pemerintahan Kristus.
Anak-anak dipanggil untuk taat dan menghormati orang tua di dalam Tuhan. Orang tua, khususnya para bapa, dipanggil untuk tidak membangkitkan amarah anak-anak, tetapi mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Para pekerja dipanggil bekerja dengan tulus seperti melayani Tuhan. Para pemimpin, majikan, dan orang yang memiliki kuasa dipanggil memperlakukan orang lain dengan adil, tanpa ancaman, karena Tuhan tidak memandang muka.
Firman ini menegaskan bahwa iman Kristen tidak hanya hidup dalam ibadah, tetapi harus nyata dalam rumah dan pekerjaan. Tidak cukup seseorang terlihat rohani di gereja, tetapi kasar di rumah. Tidak cukup seseorang pandai berbicara tentang kasih, tetapi tidak sabar kepada anak.
Tidak cukup seseorang aktif melayani, tetapi tidak jujur dalam pekerjaan. Tidak cukup seseorang menuntut hormat dari anak, tetapi tidak memberi teladan yang layak dihormati. Tuhan menghendaki iman yang utuh, iman yang tampak dalam relasi sehari-hari.
Tema ini juga menegaskan bahwa pendidikan anak adalah tugas rohani yang sangat serius. Anak-anak bukan hanya membutuhkan makanan, pakaian, sekolah, dan masa depan ekonomi. Mereka membutuhkan ajaran Tuhan.
Mereka membutuhkan nasihat Tuhan. Mereka membutuhkan orang tua yang mendoakan, mendengar, menegur dengan kasih, dan memberi teladan. Anak-anak perlu melihat bahwa iman bukan hanya urusan hari Minggu, tetapi cara hidup setiap hari.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang. Pertama, anak-anak dipanggil untuk taat dan menghormati orang tua di dalam Tuhan. Ini berarti keluarga Kristen harus membangun budaya hormat, bukan budaya perlawanan dan kata-kata kasar.
Kedua, orang tua dipanggil mendidik, bukan melukai. Teguran harus membentuk, bukan menghancurkan. Disiplin harus lahir dari kasih, bukan emosi.
Ketiga, pendidikan iman harus dimulai dari rumah. Gereja membantu, tetapi keluarga adalah tempat pertama anak mengenal Tuhan.
Keempat, pekerjaan adalah tempat pelayanan kepada Tuhan. Apa pun pekerjaan kita, lakukanlah dengan tulus dan jujur seperti untuk Tuhan.
Kelima, kuasa harus dipakai untuk melayani, bukan mengancam. Tuhan tidak memandang muka, dan semua orang bertanggung jawab kepada-Nya.
Implikasi firman ini sangat nyata. Bagi anak-anak, belajarlah menghormati orang tua. Jangan cepat membantah. Jangan merendahkan mereka karena mereka tidak mengikuti perkembangan zaman. Dengarkan nasihat yang benar.
Rawat mereka ketika mereka tua. Bagi orang tua, jangan hanya menuntut anak taat, tetapi jadilah teladan. Jangan mendidik dengan kemarahan yang berlebihan. Jangan membanding-bandingkan anak. Jangan hanya memberi fasilitas, tetapi berikan waktu, kasih, doa, dan firman.
Bagi para ayah, firman ini sangat menegur. Paulus secara khusus menyebut bapa-bapa. Ini berarti ayah tidak boleh menyerahkan seluruh pendidikan iman kepada ibu.
Ayah harus hadir. Ayah harus mendoakan anak. Ayah harus menjadi teladan. Ayah harus belajar meminta maaf ketika salah. Ayah harus mengajar anak mengenal Tuhan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan.
Bagi para ibu, firman ini menguatkan bahwa setiap pengajaran iman di rumah tidak sia-sia. Doa ibu, air mata ibu, nasihat ibu, dan teladan ibu dapat menjadi benih besar seperti dalam kehidupan Timotius. Namun ibu juga tidak boleh memikul semua beban sendirian. Pendidikan anak adalah panggilan bersama dalam keluarga dan jemaat.
Bagi para pekerja, bekerjalah dengan tulus. Jangan hanya rajin ketika diawasi. Jangan bekerja asal-asalan. Jangan curang. Jangan mengeluh terus-menerus. Lakukan pekerjaan sebagai pelayanan kepada Tuhan.
Bagi para pemimpin dan majikan, perlakukan orang lain dengan adil. Jangan mengancam, menindas, atau merendahkan. Ingat bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kita sama, dan Ia tidak memandang muka.
Saudara-saudara, marilah kita membangun kembali rumah sebagai tempat pendidikan iman. Mulailah dari hal sederhana. Berdoalah bersama keluarga. Bacalah firman Tuhan. Biasakan meminta maaf. Biasakan mengucapkan terima kasih. Dengarkan pergumulan anak.
Jangan hanya menegur kesalahan, tetapi juga hargai usaha mereka. Jangan hanya marah ketika anak gagal, tetapi dampingi mereka bangkit. Jangan hanya menyuruh anak ke gereja, tetapi jadilah orang tua yang juga mencintai ibadah dan firman.
Marilah kita juga memeriksa cara kita memakai otoritas. Apakah sebagai orang tua kita memimpin dengan kasih atau dengan amarah? Apakah sebagai atasan kita memperlakukan pekerja dengan adil atau dengan tekanan?
Apakah sebagai pelayan gereja kita melayani dengan rendah hati atau dengan kuasa yang menyakiti? Firman Tuhan mengingatkan bahwa semua otoritas berada di bawah Kristus.
Ajakan firman Tuhan hari ini jelas: didiklah generasi dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Jangan biarkan dunia menjadi guru utama bagi anak-anak kita. Jangan biarkan gawai, media sosial, pergaulan, dan budaya populer membentuk mereka tanpa pendampingan iman.
Jangan hanya mempersiapkan anak untuk sukses di dunia, tetapi persiapkan mereka untuk hidup benar di hadapan Tuhan. Sukses tanpa takut akan Tuhan dapat menjadi kehancuran. Tetapi hidup yang berakar dalam Tuhan akan menjadi berkat, apa pun pekerjaan dan panggilannya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kita dapat melihat kisah Timotius. Dalam 2 Timotius 1:5, Paulus mengingat iman yang tulus dalam diri Timotius, yang lebih dahulu hidup dalam neneknya Lois dan ibunya Eunike. Dalam 2 Timotius 3:15, Paulus juga mengatakan bahwa sejak kecil Timotius sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Timotius menjadi contoh bahwa pendidikan iman dalam keluarga sangat penting. Ia tidak tiba-tiba menjadi pelayan Tuhan yang setia. Sejak kecil ia dibentuk oleh firman. Nenek dan ibunya memberi warisan iman. Mereka mungkin tidak terkenal seperti rasul besar, tetapi melalui kehidupan dan pengajaran mereka, Timotius bertumbuh menjadi rekan pelayanan Paulus dan pemimpin jemaat.
Kisah Timotius mengajarkan bahwa pendidikan iman bukan hanya tugas mimbar gereja. Pendidikan iman dimulai dari rumah. Seorang ibu yang mengajarkan doa kepada anak, seorang ayah yang memberi teladan kejujuran, seorang opa atau oma yang mendoakan cucu, dan keluarga yang membiasakan membaca firman sedang menanam benih besar dalam hidup generasi berikutnya.
Namun kisah Timotius juga mengingatkan bahwa hasil pendidikan iman mungkin tidak langsung terlihat. Benih firman perlu waktu untuk bertumbuh. Orang tua harus sabar. Jangan putus asa ketika anak belum menunjukkan perubahan. Teruslah berdoa, teruslah mengajar, teruslah memberi teladan, karena Tuhan dapat memakai benih kecil yang ditanam dalam keluarga untuk menghasilkan buah besar bagi gereja dan dunia.
Kiranya Tuhan menolong setiap keluarga menjadi tempat kasih dan kebenaran bertumbuh. Kiranya anak-anak belajar taat dan hormat. Kiranya orang tua belajar mendidik dengan kasih.
Kiranya para pekerja bekerja dengan tulus. Kiranya para pemimpin memakai kuasa dengan adil. Dan kiranya melalui keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari, nama Tuhan dimuliakan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas