Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Jumat 26 Juni 2026, Bacaan I 2 Raja-Raja 25:1-12, Bacaan Injil Matius 8:1-4

Fandy Gerungan • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:41 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Raja-Raja 25:1-12

Maka pada tahun kesembilan dari pemerintahannya, dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal sepuluh bulan itu, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, dengan segala tentaranya menyerang Yerusalem. Ia berkemah mengepungnya dan mendirikan tembok pengepungan sekelilingnya.

Demikianlah kota itu terkepung sampai tahun yang kesebelas zaman raja Zedekia.

Pada tanggal sembilan bulan yang keempat, ketika kelaparan sudah merajalela di kota itu dan tidak ada lagi makanan pada rakyat negeri itu,

maka dibelah oranglah tembok kota itu dan semua tentara melarikan diri malam-malam melalui pintu gerbang antara kedua tembok yang ada di dekat taman raja, sekalipun orang Kasdim mengepung kota itu sekeliling. Mereka lari menuju ke Araba-Yordan.

Tetapi tentara Kasdim mengejar raja dari belakang dan mencapai dia di dataran Yerikho; segala tentaranya telah berserak-serak meninggalkan dia.

Mereka menangkap raja dan membawa dia kepada raja Babel di Ribla, yang menjatuhkan hukuman atas dia.

Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa ke Babel.

Dalam bulan yang kelima pada tanggal tujuh bulan itu?itulah tahun kesembilan belas zaman raja Nebukadnezar, raja Babel?datanglah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, pegawai raja Babel, ke Yerusalem.

Ia membakar rumah TUHAN, rumah raja dan semua rumah di Yerusalem; semua rumah orang-orang besar dibakarnya dengan api.

Tembok sekeliling kota Yerusalem dirobohkan oleh semua tentara Kasdim yang ada bersama-sama dengan kepala pasukan pengawal itu.

Sisa-sisa rakyat yang masih tinggal di kota itu dan para pembelot yang menyeberang ke pihak raja Babel dan sisa-sisa khalayak ramai diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal itu.

Hanya beberapa orang miskin dari negeri itu ditinggalkan oleh kepala pasukan pengawal itu untuk menjadi tukang-tukang kebun anggur dan peladang-peladang.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mazmur 137:1-2.3.4-5.6

Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.

Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita.

Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!"

Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing?

Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!

Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!

Bacaan Injil Matius 8:1-4

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.

Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve Sahabat Muda Katolik!, pernahkah kalian merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana?. Sudah belajar keras tetapi nilai tidak sesuai harapan. Sudah berusaha menjaga hubungan dengan teman atau pacar. 

Tetapi malah berakhir dengan konflik. Sudah membuat banyak rencana masa depan, tetapi keadaan justru berubah dan membuat semuanya terasa berantakan.

Perasaan seperti itu mungkin mirip dengan apa yang dialami bangsa Israel dalam bacaan pertama. Mereka mengalami masa yang sangat sulit. 

Kota yang mereka banggakan hancur, tempat ibadah mereka dirusak, dan kehidupan yang mereka kenal berubah total. Semua yang selama ini mereka andalkan runtuh di depan mata.

Kita mungkin tidak mengalami perang atau pembuangan seperti mereka. Namun, sebagai orang muda, kita juga punya "kehancuran" versi kita sendiri. 

Kegagalan masuk kampus impian, kehilangan orang yang dicintai, tekanan keluarga, masalah pertemanan, kecanduan media sosial, rasa minder, atau ketakutan menghadapi masa depan.

Saat semuanya terasa kacau, banyak orang memilih menjauh dari Tuhan. Mereka berpikir bahwa Tuhan sudah meninggalkan mereka. Padahal justru pada saat-saat seperti itulah kita paling membutuhkan-Nya.

Injil hari ini memberikan gambaran yang indah. Seorang penderita kusta datang kepada Yesus. Pada zamannya, orang kusta sering dijauhi dan dianggap tidak layak berada di tengah masyarakat. 

Namun orang itu berani datang kepada Yesus. Ia tidak membiarkan luka dan penderitaannya membuat dirinya menjauh dari Tuhan.

Dan apa yang dilakukan Yesus? Ia tidak menghindar. Ia mendekat. Ia menyentuh. Ia memulihkan.

Inilah kabar baik bagi kita. Yesus tidak takut dengan luka-luka kita. Ia tidak jijik melihat kegagalan kita. Ia tidak menjauh ketika kita jatuh dalam dosa. Justru saat kita merasa paling hancur, Yesus ingin semakin dekat.

Kadang-kadang orang muda merasa harus menjadi sempurna dulu sebelum datang kepada Tuhan. Harus rajin doa dulu, harus bebas dari dosa dulu, harus hidup baik dulu. 

Padahal Tuhan mengundang kita untuk datang apa adanya. Luka kita bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan, melainkan alasan untuk semakin mendekat kepada-Nya.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk jujur melihat hidup kita. Bagian mana yang sedang "runtuh"?. Apa yang sedang membuat kita kehilangan semangat? Apa yang selama ini kita sembunyikan dari Tuhan?.

Jangan takut membawa semua itu kepada Yesus. Karena Dia adalah Tuhan yang tidak hanya mampu membangun kembali tembok yang runtuh, tetapi juga memulihkan hati yang terluka.

Sebagai orang muda Katolik, kita dipanggil untuk tetap memiliki harapan. Dunia mungkin berubah. Rencana bisa gagal. Orang lain bisa mengecewakan kita. Tetapi Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita.

Jangan menyerah hanya karena satu kegagalan. Jangan berhenti berdoa hanya karena doa belum terjawab. Jangan menjauh dari Gereja hanya karena pernah terluka. 

Tetaplah datang kepada Yesus. Sebab sering kali, pemulihan terbesar dimulai ketika kita berani mendekat kepada-Nya dengan segala keterbatasan kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #omk #Renungan