Bacaan: Efesus 6:1–9
Tema: “Didiklah Mereka di Dalam Ajaran dan Nasihat Tuhan”
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi dan diberkati Tuhan, keluarga adalah tempat pertama seorang manusia belajar tentang kehidupan. Sebelum seorang anak mengenal sekolah, masyarakat, pekerjaan, dan pelayanan gereja, ia lebih dahulu mengenal rumah.
Di dalam rumah seorang anak belajar berbicara, mengasihi, menghormati, meminta maaf, mengampuni, bekerja, berbagi, berdoa, serta memahami siapa dirinya di hadapan Tuhan. Karena itu, rumah bukan hanya tempat untuk makan, tidur, dan berlindung, melainkan ruang pertama bagi pembentukan iman, karakter, cara berpikir, dan masa depan seorang anak.
Dalam proses pembentukan itu, perempuan memiliki peranan yang sangat penting. Sebagai ibu, oma, istri, anak perempuan, pekerja, pendidik, pelayan gereja, atau pemimpin dalam masyarakat, banyak perempuan hadir sangat dekat dengan kehidupan anak-anak dan keluarga.
Baca Juga: Renungan Efesus 6:1–9, Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan
Baca Juga: Materi Khotbah Efesus 6:1–9, Didiklah Mereka Di Dalam Ajaran Dan Nasihat Tuhan
Firman Tuhan hari ini tidak bermaksud meletakkan seluruh beban pendidikan anak kepada perempuan. Efesus 6:4 secara khusus berbicara kepada para bapa, yang menunjukkan bahwa pendidikan iman bukan hanya tugas ibu. Ayah, ibu, keluarga besar, dan seluruh jemaat harus mengambil bagian. W/KI dipanggil bukan untuk memikul semuanya sendiri, tetapi untuk ikut membangun keluarga yang hidup di bawah pemerintahan Kristus serta mendorong para suami, ayah, opa, dan seluruh jemaat menjalankan tanggung jawab pendidikan iman bersama-sama.
Tantangan pendidikan anak pada masa kini semakin besar. Anak-anak tidak hanya belajar dari orang tua dan guru, tetapi juga dari telepon genggam, media sosial, permainan daring, tontonan, pergaulan, iklan, dan berbagai suara yang masuk ke rumah setiap hari.
Banyak anak mendapatkan informasi dengan sangat cepat, tetapi belum tentu memiliki hikmat untuk menilai apakah informasi itu benar atau salah. Mereka dapat terpapar kekerasan, pornografi, perjudian daring, perundungan digital, budaya konsumtif, dan pandangan hidup yang bertentangan dengan firman Tuhan.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya menyediakan makanan, pakaian, sekolah, dan perangkat teknologi. Anak-anak membutuhkan pendampingan iman. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mendengar pergumulannya, menjelaskan kebenaran, menetapkan batas yang sehat, mengajar mereka mengambil keputusan, serta menunjukkan melalui kehidupan nyata bahwa Tuhan sungguh penting.
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus kepada orang-orang percaya di Efesus dan kemungkinan juga untuk dibacakan kepada jemaat-jemaat lain di wilayah Asia Kecil.
Efesus adalah kota besar yang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan keagamaan. Kota itu terkenal dengan kuil Artemis dan berbagai praktik keagamaan yang bertentangan dengan iman kepada Allah. Jemaat Kristen hidup di tengah masyarakat yang nilai-nilainya tidak selalu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Secara garis besar, Surat Efesus dapat dibagi menjadi dua bagian. Pasal 1–3 menjelaskan apa yang telah Allah kerjakan di dalam Kristus. Orang percaya telah dipilih, ditebus, diampuni, diperdamaikan dengan Allah, dipersatukan sebagai tubuh Kristus, dan dimeteraikan oleh Roh Kudus. Pasal 4–6 kemudian menjelaskan bagaimana orang yang sudah menerima keselamatan harus hidup.
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Tema “Didiklah Mereka di Dalam Ajaran dan Nasihat Tuhan” berpusat pada Efesus 6:4. Dalam teks aslinya, kata yang diterjemahkan “didiklah” mengandung arti memelihara, membesarkan, melatih, dan membentuk seseorang sampai dewasa. Pendidikan Kristen bukan hanya memberikan informasi atau menyampaikan sejumlah aturan, melainkan merawat seluruh kehidupan anak: tubuh, pikiran, perasaan, karakter, relasi, dan imannya.
Kata “ajaran” berkaitan dengan latihan dan disiplin yang membentuk seseorang. Disiplin tidak sama dengan kekerasan. Disiplin adalah proses membantu anak memahami batas, belajar bertanggung jawab, menerima akibat dari pilihannya, dan bertumbuh dalam penguasaan diri. Tujuannya bukan membuat anak takut kepada orang tua, tetapi menolongnya belajar takut akan Tuhan dan hidup dalam hikmat.
Kata “nasihat” menunjuk pada arahan, peringatan, teguran, dan bimbingan yang diberikan dengan benar. Nasihat Tuhan tidak lahir dari kemarahan orang tua, rasa malu karena anak tidak sesuai harapan, atau keinginan menjaga nama baik keluarga. Nasihat Tuhan lahir dari kasih dan kebenaran. Anak tidak hanya diberi tahu bahwa suatu tindakan salah, tetapi juga dibimbing memahami mengapa tindakan itu bertentangan dengan kehendak Tuhan dan bagaimana ia dapat memilih jalan yang benar.
Tema ini juga mengingatkan bahwa orang tua bukan penyelamat anak. Hanya Yesus Kristus yang menyelamatkan, dan hanya Roh Kudus yang dapat memperbarui hati. Orang tua dipanggil menanam firman, memberi teladan, berdoa, menegur, dan menyediakan lingkungan yang menolong pertumbuhan iman. Hasil akhirnya tetap berada dalam tangan Tuhan.
Kesadaran ini membebaskan orang tua dari dua kesalahan. Pertama, merasa bahwa mereka dapat mengendalikan seluruh hidup anak. Kedua, merasa bahwa seluruh kegagalan anak selalu berarti orang tua gagal total. Orang tua bertanggung jawab untuk setia mendidik, tetapi anak juga adalah pribadi yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Ayat 1:
Paulus berkata, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.”
Paulus berbicara langsung kepada anak-anak. Ini menunjukkan bahwa anak bukan hanya objek yang dibicarakan oleh orang dewasa, tetapi bagian dari jemaat yang dapat mendengar dan menanggapi firman Tuhan. Anak mempunyai martabat, identitas, dan tanggung jawab rohani.
Ketaatan anak kepada orang tua dilakukan “di dalam Tuhan.” Ini berarti ketaatan tersebut bukan hanya karena takut dihukum, bukan karena orang tua lebih kuat, dan bukan hanya karena tuntutan budaya. Anak dipanggil taat karena Tuhan menempatkan orang tua sebagai pihak yang membimbing dan melindunginya.
Namun frasa “di dalam Tuhan” juga memberi batas pada kuasa orang tua. Ketaatan kepada orang tua bukan ketaatan buta. Jika orang tua menyuruh anak melakukan dosa, berbohong, mencuri, menyembunyikan kekerasan, atau meninggalkan iman, maka anak harus lebih taat kepada Tuhan. Semua otoritas manusia berada di bawah otoritas Kristus.
Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan agar kita tidak hanya menuntut anak taat, tetapi memeriksa apakah arahan kita sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan. Kadang orang tua memakai kata “taat” untuk memaksakan ambisi pribadi.
Anak harus memilih jurusan tertentu, pekerjaan tertentu, atau pasangan tertentu hanya demi menjaga kebanggaan keluarga. Padahal tugas orang tua bukan membentuk anak menjadi salinan dirinya, tetapi menolong anak menemukan panggilan Tuhan.
Ketaatan juga lebih mudah bertumbuh dalam hubungan yang memiliki kepercayaan. Anak membutuhkan orang tua yang dapat didatangi tanpa rasa takut. Jika setiap kali anak berkata jujur ia langsung dimarahi atau dipermalukan, ia akan belajar menyembunyikan masalah. Karena itu, orang tua perlu menjadi tempat aman untuk mendengar, sekaligus tetap menjadi pembimbing yang menyatakan kebenaran.
Ayat 2:
Paulus berkata, “Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini.”
Menghormati lebih luas daripada menaati. Ketaatan terutama berlaku ketika anak masih berada di bawah asuhan orang tua. Penghormatan berlangsung sepanjang hidup. Ketika anak sudah dewasa, bekerja, menikah, dan membangun rumah tangga sendiri, ia tidak lagi berada di bawah setiap keputusan orang tuanya, tetapi tetap dipanggil menghormati mereka.
Menghormati berarti menghargai, tidak mempermalukan, tidak merendahkan, mendengar nasihat yang benar, serta memperhatikan kebutuhan orang tua ketika usia mereka bertambah.
Banyak orang tua berkorban selama bertahun-tahun untuk membesarkan anak, tetapi kemudian menjalani masa tua dalam kesepian. Firman Tuhan mengingatkan bahwa merawat orang tua merupakan bagian dari kehidupan iman.
Penghormatan tidak selalu berarti menyetujui semua hal yang dilakukan orang tua. Ada orang tua yang pernah melakukan kesalahan, bersikap keras, atau meninggalkan luka. Anak tetap dipanggil menghindari kebencian dan penghinaan, tetapi ia juga dapat menetapkan batas yang sehat, terutama ketika ada kekerasan atau manipulasi. Mengampuni tidak selalu berarti membiarkan perilaku yang merusak terus berlangsung.
Bagi W/KI, ayat ini juga mengajak kita memeriksa hubungan dengan orang tua atau mertua. Jangan membangun keluarga dengan persaingan, kepahitan, dan gosip. Upayakan penghormatan, komunikasi yang baik, dan batas yang sehat. Anak-anak mengamati bagaimana kita memperlakukan opa dan oma. Melalui teladan tersebut, mereka belajar bagaimana kelak memperlakukan kita.
Ayat 3:
Paulus melanjutkan, “Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”
Janji ini berasal dari hukum kelima dalam Perjanjian Lama. Dalam konteks bangsa Israel, perintah itu berkaitan dengan kehidupan yang baik di tanah yang Tuhan berikan. Paulus mengutipnya untuk menunjukkan bahwa penghormatan dalam keluarga mendukung tatanan kehidupan yang sehat dan diberkati.
Janji ini tidak boleh dipahami secara mekanis, seolah-olah setiap anak yang menghormati orang tua pasti tidak pernah sakit atau selalu berumur panjang. Alkitab tidak memberi jaminan seperti rumus matematika. Namun prinsipnya tetap benar: orang yang belajar menghormati, mendengar hikmat, dan hidup bertanggung jawab biasanya dibentuk untuk menjalani kehidupan yang lebih tertata.
Keluarga yang kehilangan budaya hormat akan mudah mengalami kekacauan. Anak berbicara kasar, orang tua menggunakan kekerasan, dan rumah menjadi tempat pertarungan kuasa. Sebaliknya, keluarga yang saling menghargai menjadi tempat setiap anggota dapat bertumbuh dengan aman.
Orang tua harus membedakan antara hormat dan takut. Rasa takut dapat membuat anak diam ketika orang tua hadir, tetapi tidak membentuk hati. Hormat membuat anak memilih yang benar sekalipun orang tua tidak melihat. Karena itu, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang patuh di depan orang tua, tetapi memiliki hati yang takut akan Tuhan.
Ayat 4:
Paulus berkata, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.”
Paulus secara khusus berbicara kepada para bapa karena dalam budaya Romawi ayah memegang kuasa terbesar dalam keluarga. Namun prinsipnya berlaku bagi ayah dan ibu: orang tua tidak boleh memakai otoritas dengan cara yang melukai, merendahkan, dan membuat anak hidup dalam kepahitan.
Membangkitkan amarah bukan berarti setiap kali anak tidak senang terhadap teguran, orang tua pasti salah. Teguran yang benar kadang memang membuat anak tidak nyaman. Yang dilarang Paulus adalah pola pendidikan yang terus-menerus menyakiti, tidak adil, tidak konsisten, dan tidak menunjukkan kasih.
Anak dapat menjadi pahit ketika selalu dibandingkan dengan saudara atau teman. Ia dapat kehilangan kepercayaan diri ketika setiap kesalahan dipermalukan di depan orang lain. Ia dapat menjadi marah ketika orang tua menuntut kesempurnaan, tetapi tidak pernah menghargai usaha. Ia dapat kehilangan keberanian bercerita ketika setiap ungkapan perasaan dianggap sebagai perlawanan.
Orang tua juga dapat membangkitkan amarah melalui kata-kata seperti, “Kamu memang tidak berguna,” “Kenapa tidak bisa seperti kakakmu?” atau “Mama malu punya anak seperti kamu.” Kalimat seperti ini mungkin diucapkan ketika emosi, tetapi dapat tinggal lama dalam hati anak. Tegurlah tindakan yang salah tanpa menghancurkan identitas anak. Katakan bahwa tindakannya salah, tetapi ia tetap dikasihi dan dapat berubah.
Kemarahaan anak juga dapat timbul karena ketidakhadiran orang tua. Ada ibu yang tinggal serumah, tetapi seluruh perhatiannya terserap oleh pekerjaan, pelayanan, atau gawai. Ada anak yang mendapatkan semua kebutuhan materi, tetapi tidak memiliki ruang untuk didengar. Kehadiran bukan hanya berada dalam ruangan yang sama, tetapi memberi perhatian sungguh-sungguh.
Ayat 4:
Paulus melanjutkan, “Tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Inilah pusat tema renungan kita. Pendidikan Kristen tidak hanya bertujuan membuat anak bersikap baik di depan orang lain. Pendidikan Kristen menolong anak mengenal Tuhan dan hidup sebagai murid Kristus. Perubahan perilaku penting, tetapi perubahan hati jauh lebih dalam.
Mendidik dalam ajaran Tuhan berarti menjadikan firman sebagai dasar nilai keluarga. Anak belajar bahwa kejujuran lebih penting daripada keuntungan, kasih lebih baik daripada kebencian, kesetiaan lebih bernilai daripada kesenangan sesaat, tubuh harus dijaga sebagai pemberian Tuhan, dan keberhasilan harus dipakai untuk melayani.
Mendidik dalam nasihat Tuhan berarti menolong anak memahami kebenaran, bukan sekadar memberi larangan. Jangan hanya berkata, “Jangan berbohong karena Mama akan marah.”
Ajarkan bahwa Tuhan adalah benar dan kebohongan merusak kepercayaan. Jangan hanya berkata, “Jangan bergaul dengan sembarang orang karena nanti keluarga malu.” Ajarkan anak memilih pergaulan yang menolongnya bertumbuh dalam hikmat dan kekudusan.
Pendidikan iman harus disesuaikan dengan usia anak. Anak kecil membutuhkan cerita, kebiasaan, dan contoh sederhana. Remaja membutuhkan percakapan terbuka, penjelasan, serta ruang untuk bertanya. Anak dewasa membutuhkan penghormatan, kepercayaan, dan nasihat tanpa kontrol berlebihan. Cara mendidik harus berkembang, tetapi dasar firman tetap sama.
Dalam dunia digital, orang tua harus hadir sebagai pendamping, bukan hanya pengawas. Kenali apa yang ditonton anak, permainan yang digunakan, teman daringnya, dan persoalan yang dihadapi.
Bicarakan risiko pornografi, perjudian daring, penipuan, perundungan, informasi palsu, dan kecanduan gawai. Buat aturan yang jelas, tetapi jelaskan alasannya dan terapkan juga kepada orang dewasa. Sulit meminta anak meletakkan gawai ketika orang tua sendiri terus memegangnya saat makan dan berbicara.
Pendidikan iman juga harus nyata dalam rutinitas keluarga. Doa bersama, membaca satu bagian firman, mengucap syukur sebelum makan, meminta maaf setelah konflik, menolong sesama, dan beribadah dengan setia adalah kebiasaan sederhana yang membentuk jiwa anak. Tidak harus selalu panjang dan sempurna; yang paling penting ialah ketekunan dan ketulusan.
Ayat 5:
Paulus berkata, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus.”
Bagian ini ditulis dalam konteks dunia kuno yang mengenal sistem perhambaan. Firman ini tidak boleh dipakai untuk membenarkan perbudakan, perdagangan manusia, kekerasan, atau eksploitasi pekerja. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan harus dihormati martabatnya.
Paulus berbicara kepada orang percaya yang hidup dalam struktur sosial pada waktu itu dan mengajar mereka tetap menjalani hidup sebagai murid Kristus. Prinsip yang dapat diterapkan pada masa kini adalah ketulusan, integritas, dan tanggung jawab dalam pekerjaan.
Banyak W/KI bekerja dalam berbagai bidang: mengurus rumah, berdagang, mengajar, bertani, menjadi pegawai, tenaga kesehatan, pengusaha, pekerja harian, atau pelayan gereja. Semua pekerjaan yang benar dapat menjadi ruang kesaksian.
Jangan bekerja dengan dua wajah: rajin saat diawasi, tetapi lalai ketika tidak dilihat. Jangan memakai waktu kerja untuk kepentingan pribadi secara tidak jujur. Jangan memanipulasi laporan atau merugikan orang lain.
Cara orang tua bekerja juga mendidik anak. Anak memperhatikan apakah ibunya jujur dalam berdagang, bertanggung jawab dalam tugas, dan menghormati rekan kerja. Pendidikan iman tidak hanya berlangsung melalui nasihat, tetapi melalui etos kerja yang mereka lihat setiap hari.
Ayat 6:
Paulus menasihati agar mereka tidak bekerja hanya di depan mata untuk menyenangkan manusia, tetapi sebagai hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah dengan segenap hati.
Ayat ini berbicara tentang motivasi. Ada orang yang melakukan kebaikan hanya untuk dipuji. Ada pelayan yang rajin ketika namanya disebut, tetapi kecewa ketika tidak diperhatikan. Ada orang yang ingin terlihat sebagai ibu sempurna di depan masyarakat, sementara rumahnya dipenuhi tekanan dan kepalsuan.
Kristus memanggil kita hidup dengan integritas, yaitu kesatuan antara kehidupan yang terlihat dan yang tersembunyi. Kita melakukan yang benar bukan hanya karena ada yang melihat, tetapi karena Tuhan melihat. Kita melayani bukan untuk membangun citra, tetapi untuk melakukan kehendak Allah.
Hal ini juga penting dalam penggunaan media sosial. Jangan sampai keluarga hanya terlihat bahagia dalam foto, tetapi sebenarnya tidak memiliki ruang komunikasi yang sehat. Jangan mengejar pengakuan orang lain sampai anak merasa harus selalu tampak sempurna. Kehidupan keluarga tidak perlu dipamerkan untuk menjadi berharga. Yang terutama adalah kebenaran di hadapan Tuhan.
Ayat 7:
Paulus berkata, “Layanilah dengan rela seperti melayani Tuhan dan bukan manusia.”
Ayat ini memberi makna rohani kepada pekerjaan sehari-hari. Pelayanan kepada Tuhan tidak hanya terjadi di mimbar, dalam paduan suara, atau kegiatan gereja. Mengasuh anak, merawat orang sakit, memasak, bekerja, mengajar, mendampingi lansia, dan mengelola rumah dengan kasih dapat menjadi pelayanan kepada Tuhan.
Banyak pekerjaan perempuan berlangsung tanpa pujian dan tidak dihitung sebagai pekerjaan bernilai. Ada ibu yang terus merawat keluarganya, tetapi pengorbanannya dianggap biasa. Firman ini mengingatkan bahwa Tuhan melihat kesetiaan yang tidak dilihat manusia.
Namun ayat ini juga tidak boleh dipakai untuk membenarkan eksploitasi, seolah-olah perempuan harus selalu melayani tanpa istirahat dan tidak boleh meminta bantuan. Pelayanan yang sehat juga membutuhkan pembagian tanggung jawab, penghormatan, dan waktu untuk memulihkan diri.
Melayani dengan rela bukan berarti harus selalu berkata “ya” kepada setiap permintaan. Ada saat seseorang perlu menetapkan batas, beristirahat, dan meminta orang lain ikut bertanggung jawab. Bahkan Yesus mengambil waktu untuk berdoa dan beristirahat. Kerelaan Kristen bukan penghapusan diri, tetapi penyerahan yang bijaksana kepada Tuhan.
Ayat 8:
Paulus berkata bahwa setiap orang, baik hamba maupun orang merdeka, akan menerima kembali dari Tuhan setiap kebaikan yang dilakukannya.
Tuhan melihat kesetiaan yang tersembunyi. Ia melihat ibu yang bangun malam merawat anak sakit. Ia mendengar doa oma bagi cucu-cucunya. Ia mengetahui pekerja yang menolak ketidakjujuran sekalipun harus kehilangan keuntungan. Tidak ada kebaikan yang dilakukan di dalam Tuhan yang sia-sia.
Ayat ini tidak mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui perbuatan baik. Keselamatan adalah anugerah di dalam Kristus. Perbuatan baik adalah buah iman dan tanda bahwa hidup sedang dibentuk oleh Roh Kudus. Tuhan berkenan menghargai kesetiaan umat-Nya.
Karena itu, jangan berhenti berbuat baik hanya karena belum melihat hasilnya. Pendidikan anak membutuhkan waktu. Nasihat yang hari ini ditolak mungkin baru dipahami bertahun-tahun kemudian. Doa yang belum terlihat jawabannya tetap dapat dipakai Tuhan. Tugas kita adalah setia menabur.
Ayat 9:
Paulus berkata kepada para tuan, “Perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.”
Paulus tidak hanya menasihati pihak yang berada di bawah kuasa. Ia juga menegur mereka yang memiliki kuasa. Tuan dan hamba sama-sama memiliki Tuhan di surga. Jabatan, kekayaan, status, dan pengaruh tidak membuat seseorang lebih tinggi di hadapan Allah.
Prinsip ini berlaku bagi orang tua, atasan, pemimpin gereja, pemilik usaha, guru, dan siapa pun yang memiliki pengaruh. Kuasa tidak boleh dipakai untuk mengancam, merendahkan, atau memanfaatkan orang lain. Otoritas Kristen meneladani Kristus yang melayani.
Bagi W/KI yang memiliki pekerja di rumah, toko, kebun, usaha, atau kantor, perlakukan mereka dengan adil. Berikan upah yang layak, waktu istirahat, dan penghormatan. Jangan berbicara kasar hanya karena merasa mempunyai kedudukan lebih tinggi. Anak-anak yang melihat kita memperlakukan pekerja dengan baik sedang belajar tentang keadilan Tuhan.
Ayat ini juga berlaku dalam pelayanan gereja. Jangan menggunakan jabatan untuk mengendalikan orang lain, membentuk kelompok, atau mengancam. Pemimpin harus membuka ruang bagi orang lain bertumbuh. Di hadapan Tuhan, semua adalah hamba yang menerima tanggung jawab.
Penutup
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Efesus 6:1–9, kita melihat bahwa tema “Didiklah Mereka di Dalam Ajaran dan Nasihat Tuhan” bukan hanya berbicara tentang teknik mengasuh anak. Tema ini memanggil seluruh keluarga dan jemaat menempatkan hubungan, pekerjaan, dan penggunaan kuasa di bawah pemerintahan Kristus.
Anak-anak dipanggil taat kepada orang tua di dalam Tuhan dan menghormati ayah serta ibu. Namun firman tidak berhenti pada tuntutan kepada anak. Firman juga menegur orang tua supaya tidak membangkitkan amarah dalam hati mereka. Orang tua tidak dipanggil hanya memberi perintah, tetapi memelihara, mendengar, membimbing, mendisiplin, dan memberi teladan.
Tema ini mengingatkan bahwa mendidik dalam Tuhan berbeda dari sekadar mengendalikan. Anak bukan proyek untuk memenuhi ambisi keluarga. Anak adalah pribadi milik Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua untuk dibimbing.
'Ia memiliki keunikan, talenta, pergumulan, dan panggilan. Tugas orang tua bukan memaksanya menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi menolongnya menemukan kehendak Tuhan.
Mendidik dalam ajaran Tuhan juga berarti orang tua terlebih dahulu bersedia dididik oleh Tuhan. Kita tidak dapat mengajar anak mengampuni jika kita sendiri menyimpan kepahitan. Kita sulit mengajar kejujuran jika kehidupan kita penuh kepalsuan. Kita sulit menuntut anak menghormati orang lain jika ia melihat kita senang bergosip dan merendahkan orang.
Karena itu, pendidikan iman dimulai dari pertobatan orang dewasa. Orang tua perlu berani berkata, “Mama salah,” “Maafkan Mama,” atau “Mari kita berdoa supaya Tuhan menolong kita berubah.” Permintaan maaf tidak mengurangi wibawa orang tua. Justru melalui kerendahan hati, anak melihat bahwa orang percaya hidup dalam anugerah dan pertobatan.
Saudari-saudari, mungkin ada di antara kita yang merasa bersalah karena selama ini terlalu keras, terlalu sibuk, kurang hadir, atau pernah mengucapkan kata-kata yang melukai anak. Firman Tuhan tidak datang hanya untuk menuduh, tetapi untuk memanggil kita bertobat dan memulai kembali. Anugerah Tuhan lebih besar daripada kegagalan kita.
Mulailah dengan langkah yang nyata. Mintalah maaf kepada anak jika ada luka yang kita sebabkan. Bicaralah dengan suami tentang pembagian tanggung jawab pendidikan iman. Jadwalkan waktu keluarga. Mulailah membaca firman dan berdoa bersama. Jangan menunggu keluarga sempurna atau jadwal menjadi longgar. Mulailah dari yang sederhana.
Bagi W/KI yang anaknya sudah dewasa dan jauh dari Tuhan, jangan menyerah. Kita tidak dapat memaksa hati seseorang, tetapi dapat terus berdoa, mengasihi, berkata benar, dan menjadi teladan. Jangan membenarkan dosa, tetapi jangan menutup pintu pemulihan. Tuhan dapat bekerja melalui proses yang panjang.
Bagi W/KI yang belum menikah, tidak memiliki anak, atau hidup sendiri, panggilan ini tetap terbuka. Jadilah ibu rohani bagi generasi muda. Dengarkan mereka, doakan mereka, berikan teladan, dan bantu mereka mengenal Tuhan. Gereja membutuhkan perempuan-perempuan dewasa yang mau berjalan bersama generasi berikutnya.
Ajakan firman Tuhan hari ini jelas: didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Didiklah bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan. Didiklah bukan hanya supaya mereka berhasil di dunia, tetapi supaya mereka setia kepada Kristus. Didiklah bukan dengan ancaman dan rasa takut, tetapi dengan kasih, disiplin, kebenaran, doa, serta pengharapan.
Kiranya Tuhan menolong W/KI menjadi perempuan-perempuan yang lembut tanpa kehilangan ketegasan, tegas tanpa menjadi kasar, penuh kasih tanpa membiarkan dosa, kuat tanpa harus memikul semuanya sendiri, dan setia mendidik generasi di dalam Tuhan. Kiranya melalui kehidupan kita, anak-anak dan cucu-cucu bukan hanya mendengar tentang Kristus, tetapi melihat kasih, pengampunan, kebenaran, dan kesetiaan-Nya hadir di dalam keluarga.
Amin.
Editor : Clavel Lukas