Syalom,
Dalam 2 Korintus, Rasul Paulus menggambarkan bagaimana penderitaannya “begitu besar dan begitu berat, sehingga [ia] telah putus asa juga akan hidup[nya]” (1:8). Namun, ia mendapati bahwa keputusasaan itu mengajarkannya untuk berharap hanya kepada “Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (ay. 9).
Paulus juga belajar bahwa ketika kita membawa pengharapan Injil dalam “bejana tanah liat,” yaitu tubuh kita yang rapuh, kehidupan dan harapan akan kebangkitan Kristus terpancar melalui kita, sehingga nyata terlihat “bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (4:7).
Pengharapan di dalam Tuhan itu sungguh nyata, bahkan ketika kita tidak dapat merasakannya.
Amin.