Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 1 Juli 2026, Bacaan I Amsal 5:14-15.21-24, Bacaan Injil Matius 8:28-34

Fandy Gerungan • Senin, 29 Juni 2026 | 10:47 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Amsal 5:14-15.21-24

Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan.

Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.

"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.

Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.

Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.

Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Demikianlah Sabda Tuhan 

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 50:7.8-9.10-11.12-13.16bc-17

"Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu!

Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?

Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,

sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.

Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.

Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.

Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?

Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,

padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

Bacaan Injil Matius 8:28-34

Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu.

Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan.

Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu."

Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.

Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu.

Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam bacaan pertama, Tuhan menyampaikan pesan yang sangat tegas kepada umat-Nya. Mereka tetap rajin menjalankan ibadah, mempersembahkan kurban, mengadakan perayaan, dan menyanyikan pujian. 

Dari luar semuanya tampak begitu religius. Namun Tuhan melihat sesuatu yang berbeda. Di balik semua kegiatan itu, masih ada ketidakadilan, ketidakjujuran, dan sikap yang tidak mencerminkan kasih kepada sesama.

Bagi Tuhan, ibadah bukan hanya soal apa yang terjadi di rumah ibadah, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani hidup setelah keluar dari sana. Doa yang indah akan kehilangan maknanya jika tidak diikuti dengan hati yang mau mengampuni. 

Nyanyian pujian menjadi hampa jika masih ada kebencian, keserakahan, atau sikap yang melukai orang lain. Tuhan lebih menghendaki hidup yang dipenuhi keadilan dan kebaikan daripada sekadar ritual yang tampak mengesankan.

Injil hari ini memperlihatkan sisi lain dari pesan tersebut. Yesus datang ke daerah yang selama ini dihindari banyak orang. Di sana ada dua orang yang hidup dalam penderitaan dan dijauhi masyarakat. 

Tidak ada seorang pun yang mampu membebaskan mereka. Namun kehadiran Yesus mengubah keadaan. Kuasa kegelapan tidak mampu bertahan di hadapan-Nya.

Yang menarik, setelah kedua orang itu dibebaskan, bukan sukacita yang muncul dari masyarakat. Mereka justru meminta Yesus pergi dari daerah mereka.

Mengapa?. Kemungkinan besar mereka lebih sibuk memikirkan kerugian yang mereka alami daripada bersyukur atas dua orang yang telah dipulihkan hidupnya. 

Mereka melihat hilangnya kawanan babi, tetapi gagal melihat hadirnya belas kasih Allah. Mereka lebih mementingkan kenyamanan dan keuntungan daripada keselamatan manusia.

Bukankah hal seperti ini juga bisa terjadi dalam hidup kita?. Kadang-kadang kita meminta Tuhan memberkati hidup kita, tetapi ketika Tuhan mulai menegur kebiasaan buruk kita, kita merasa tidak nyaman. 

Kita ingin Tuhan memberi damai, tetapi tidak ingin melepaskan dendam. Kita ingin doa dikabulkan, tetapi tidak mau mengubah cara hidup. Kita ingin Yesus hadir, selama kehadiran-Nya tidak mengganggu zona nyaman kita.

Padahal mengikuti Kristus selalu membawa perubahan. Ia datang bukan sekadar menghibur, tetapi juga memurnikan. Ia membebaskan kita dari belenggu dosa, egoisme, dan segala sesuatu yang membuat kita tidak sungguh-sungguh hidup sebagai anak-anak Allah.

Renungan hari ini mengajak kita untuk memeriksa hati. Apakah iman kita hanya berhenti pada doa, misa, dan berbagai kegiatan rohani?. Ataukah iman itu sungguh terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama, bersikap jujur, membela yang benar, dan menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari?

Yesus tidak pernah memaksa masuk ke dalam hati manusia. Ia mengetuk dan menunggu jawaban. Semoga kita tidak menjadi seperti penduduk Gadara yang memilih mengusir Sang Penyelamat karena takut kehilangan kenyamanan. 

Sebaliknya, marilah kita membuka hati, meskipun kehadiran-Nya menuntut kita berubah. Sebab perubahan yang dikerjakan Kristus mungkin terasa berat pada awalnya, tetapi pada akhirnya selalu membawa kebebasan, damai, dan kehidupan yang sejati. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan