Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 2 Juli 2026, Bacaan I Amsal 7:10-17, Bacaan Injil Matius 9:1-8

Fandy Gerungan • Selasa, 30 Juni 2026 | 09:49 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Amsal 7:10-17

Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.

Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!

Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan."

Jawab Amos kepada Amazia: "Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan.

Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.

Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak.

Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 19:8.9.10.11

Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.

Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,

lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.

Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.

Bacaan Injil Matius 9:1-8

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."

Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah."

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?

Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?

Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" ?lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"

Dan orang itupun bangun lalu pulang.

Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada kalanya kebenaran terasa tidak nyaman. Ketika seseorang mengingatkan kita untuk berubah, reaksi pertama yang muncul sering kali bukanlah menerima, melainkan menolak. 

Kita lebih mudah mencari alasan untuk membenarkan diri daripada dengan rendah hati mengakui bahwa kita memang perlu dibenahi. Inilah yang tampak dalam bacaan hari ini.

Amos hanyalah seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Ia bukan tokoh agama, bukan orang yang memiliki kedudukan tinggi, bahkan bukan seseorang yang dipandang layak untuk berbicara di hadapan para pemimpin bangsa. 

Namun justru orang sederhana inilah yang dipanggil Allah untuk menyampaikan kebenaran. Yang menarik, penolakan terhadap Amos bukan karena pesannya salah, tetapi karena pesannya mengganggu kenyamanan. 

Imam Amazia lebih memilih menjaga kepentingan kerajaan daripada mendengarkan suara Allah. Baginya, lebih mudah membungkam pembawa pesan daripada memperbaiki keadaan yang sedang rusak.

Bukankah sikap seperti ini juga sering muncul dalam hidup kita?. Kita senang mendengar kata-kata yang menghibur, tetapi mulai gelisah ketika Tuhan menegur melalui nasihat orang tua, pasangan, sahabat, pemimpin Gereja, atau bahkan melalui suara hati kita sendiri. 

Kadang kita menolak bukan karena teguran itu tidak benar, tetapi karena kita belum siap berubah. Di sisi lain, Injil hari ini memperlihatkan wajah Allah yang penuh belas kasih. 

Seorang lumpuh dibawa kepada Yesus oleh orang-orang yang percaya bahwa hanya Dia yang sanggup menolong. Menariknya, Yesus lebih dahulu menyembuhkan luka yang tidak terlihat, yaitu dosa, sebelum memulihkan tubuhnya yang lumpuh. 

Dengan demikian, Yesus menunjukkan bahwa pemulihan sejati dimulai dari hati yang diperdamaikan dengan Allah. Sering kali kita datang kepada Tuhan hanya membawa daftar kebutuhan: kesehatan, pekerjaan, rezeki, atau keberhasilan. Semua itu memang penting. 

Namun Tuhan melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan. Ia mengetahui luka batin, rasa bersalah, kepahitan, kesombongan, atau dosa yang diam-diam melumpuhkan hidup kita. Kadang justru itulah yang paling membutuhkan penyembuhan.

Dalam Injil juga tampak bahwa iman tidak hanya dimiliki oleh orang lumpuh itu sendiri, tetapi juga oleh mereka yang membawanya kepada Yesus. Ini menjadi pengingat bahwa perjalanan iman bukanlah perjuangan sendirian. 

Ada kalanya kita menjadi orang yang membutuhkan pertolongan. Ada kalanya kita dipanggil menjadi sahabat yang mengantar orang lain kembali kepada Tuhan melalui doa, perhatian, dan kasih.

Bacaan pertama dan Injil hari ini saling melengkapi. Amos mengajak umat untuk berani menghadapi kebenaran, sementara Yesus menunjukkan bahwa tujuan dari kebenaran itu bukan untuk menghukum, melainkan memulihkan. 

Tuhan menegur bukan karena Ia ingin menjauhkan kita, tetapi karena Ia ingin membawa kita kembali kepada kehidupan yang utuh. Pertanyaannya bagi kita adalah: apakah kita masih memiliki hati yang mau diajar?. 

Apakah kita bersedia menerima teguran Tuhan, meskipun terasa tidak menyenangkan?. Ataukah kita justru lebih suka menolak siapa pun yang mengingatkan kita?.

Marilah kita belajar dari Amos yang setia pada panggilannya meskipun ditolak. Marilah kita juga meneladani orang-orang yang membawa sahabatnya kepada Yesus dengan penuh iman. 

Dan yang terpenting, marilah kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, membiarkan-Nya menyembuhkan bukan hanya persoalan yang terlihat oleh manusia, tetapi juga luka terdalam yang hanya diketahui oleh-Nya.

Semoga hari ini kita semakin berani membuka hati terhadap suara Tuhan. Sebab ketika kita mengizinkan Tuhan memulihkan hati, kita akan menemukan kekuatan baru untuk bangkit, berjalan, dan menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan