Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 3 Juli 2026, Bacaan I Efesus 2:19-22, Bacaan Injil Yohanes 20:24-29

Fandy Gerungan • Selasa, 30 Juni 2026 | 10:32 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pesta St. Thomas Rasul (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I Efesus 2:19-22

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 117:1,2

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!

Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!

Bacaan Injil Yohanes 20:24-29

Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Demikianlah Injil Tuhan 

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i pernahkah kita merasa seperti Tomas?. Kita berdoa, tetapi jawaban terasa begitu jauh. Kita berharap, tetapi kenyataan justru mengecewakan. 

Kita percaya kepada Tuhan, namun ketika badai kehidupan datang, muncul pertanyaan dalam hati, "Benarkah Tuhan masih menyertaiku?".

Keraguan ternyata bukan hanya milik Tomas. Hampir setiap orang beriman pernah mengalaminya. Keraguan muncul ketika harapan tidak sesuai kenyataan, ketika doa belum dikabulkan, atau ketika hidup dipenuhi luka yang sulit dipahami.

Namun, Injil hari ini menunjukkan sesuatu yang sangat menghibur. Yesus tidak menjauhi Tomas karena keraguannya. Sebaliknya, Ia datang menghampiri murid yang sedang bergumul itu. 

Ia memahami hati Tomas dan mengajaknya untuk kembali percaya. Tuhan tidak mempermalukan orang yang sedang mencari kebenaran. Ia justru hadir untuk meneguhkan mereka yang mau membuka hati.

Sikap Tomas akhirnya berubah secara luar biasa. Dari seseorang yang penuh keraguan, ia menjadi pribadi yang memiliki pengakuan iman yang begitu mendalam. Pertemuan dengan Kristus mengubah keraguannya menjadi keyakinan yang kokoh. 

Hal ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah keadaan tanpa pertanyaan, melainkan keberanian untuk tetap datang kepada Tuhan di tengah berbagai pertanyaan.

Bacaan pertama melengkapi pesan Injil dengan mengingatkan bahwa kita bukan lagi orang asing di hadapan Allah. Kita adalah bagian dari keluarga-Nya. 

Kehidupan iman kita dibangun di atas dasar yang kokoh, yaitu kesaksian para rasul, dengan Kristus sendiri sebagai batu penjuru yang menopang seluruh bangunan.

Bayangkan sebuah rumah yang dibangun tanpa pondasi yang kuat. Rumah itu mungkin tampak indah dari luar, tetapi akan mudah retak ketika diterpa hujan dan angin. 

Demikian pula hidup kita. Jika kita membangun hidup hanya di atas keberhasilan, kekayaan, jabatan, atau pengakuan orang lain, semuanya dapat runtuh sewaktu-waktu. Tetapi bila Kristus menjadi pusat hidup, kita memiliki dasar yang tidak akan mudah digoyahkan.

Lebih indah lagi, Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang percaya dipanggil menjadi tempat kediaman Allah. Artinya, Tuhan tidak hanya ingin kita datang kepada-Nya pada hari Minggu atau saat mengalami kesulitan. 

Ia ingin tinggal dalam seluruh kehidupan kita dalam keluarga, pekerjaan, pergaulan, keputusan-keputusan yang kita ambil, bahkan dalam setiap pergumulan yang kita alami.

Sering kali kita merasa iman harus selalu kuat tanpa cela. Padahal iman bertumbuh seperti sebuah bangunan yang terus disusun sedikit demi sedikit. Ada saatnya kita kokoh, ada saatnya kita goyah. 

Yang terpenting adalah kita tetap membiarkan Kristus menjadi batu penjuru yang menyangga seluruh hidup kita.

Perayaan hari ini juga mengajak kita meneladani Rasul Tomas. Setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, ia tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Tradisi Gereja mengenang Tomas sebagai rasul yang mewartakan Injil hingga ke tempat-tempat yang sangat jauh. 

Orang yang dahulu dikenal karena keraguannya justru menjadi saksi iman yang berani. Ini membuktikan bahwa Tuhan mampu mengubah kelemahan seseorang menjadi kekuatan yang membawa banyak orang kepada keselamatan.

Karena itu, jika hari ini kita sedang bergumul dengan keraguan, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya. Bukalah hati dalam doa, dalam Ekaristi, dalam Sabda-Nya, dan dalam kehidupan Gereja. Di sanalah Kristus terus hadir untuk menguatkan iman kita.

Semoga kita tidak hanya mengenal Tuhan ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga tetap mempercayai-Nya ketika jalan hidup terasa gelap. 

Sebab iman sejati bukanlah melihat terlebih dahulu baru percaya, melainkan tetap melangkah bersama Tuhan karena yakin bahwa Dia selalu menyertai. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan