Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 5 Juli 2026, Hari Minggu Biasa XIV

Fandy Gerungan • Rabu, 1 Juli 2026 | 15:08 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa XIV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Zefanya 9:9-10

Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.

Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14

Puji-pujian dari Daud. Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.

TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.

Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu,

Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.

TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.

Bacaan II Roma 8:9,11-13

Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 11:25-30 

Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.

Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Saudara/i dalam kehidupan modern, kita sering mengagungkan kekuatan, prestasi, dan kemampuan untuk mengendalikan segala sesuatu. 

Banyak orang percaya bahwa semakin tinggi jabatan, semakin besar pengaruh, atau semakin banyak harta yang dimiliki, maka semakin bahagialah hidupnya. 

Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang tampak berhasil justru menyimpan kelelahan, kecemasan, dan beban yang tidak terlihat.

Liturgi hari ini memperkenalkan kepada kita sosok Raja yang sangat berbeda. Ia tidak datang dengan kemegahan yang menakutkan atau kekuatan yang menindas. 

Ia hadir dengan kelembutan, membawa damai, dan menghapus permusuhan. Kehadiran-Nya bukan untuk menguasai manusia, melainkan untuk memulihkan hati yang terluka. 

Inilah cara Allah bekerja: bukan melalui paksaan, tetapi melalui kasih yang mengubah hidup.

Rasul Paulus kemudian mengajak kita untuk melihat bahwa perubahan hidup sejati tidak dimulai dari usaha manusia semata, melainkan dari Roh Allah yang tinggal di dalam diri kita. 

Ketika seseorang membiarkan Roh Kudus membimbing langkahnya, ia perlahan meninggalkan cara hidup lama yang dikuasai oleh ego, amarah, keserakahan, dan berbagai keinginan yang menjauhkan dirinya dari Allah. 

Hidup baru bukan berarti menjadi manusia yang tanpa kelemahan, melainkan menjadi pribadi yang setiap hari semakin terbuka terhadap karya rahmat Tuhan.

Injil hari ini melanjutkan pesan itu dengan sebuah undangan yang sangat menghibur. Yesus mengarahkan perhatian-Nya kepada mereka yang merasa lelah, letih, dan memikul beban hidup. 

Menariknya, Ia tidak mengatakan bahwa semua persoalan akan langsung lenyap. Sebaliknya, Ia mengajak setiap orang datang kepada-Nya dan belajar dari hati-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. 

Artinya, Tuhan tidak selalu mengubah keadaan kita seketika, tetapi Ia selalu mampu mengubah cara kita menjalani keadaan itu.

Ada kalanya beban hidup terasa begitu berat karena kita mencoba memikulnya sendirian. Kita ingin menyelesaikan semuanya dengan kekuatan sendiri. Kita enggan meminta bantuan, bahkan kepada Tuhan. 

Akibatnya, hati menjadi penuh kecemasan dan kehilangan damai. Padahal damai sejati lahir ketika kita percaya bahwa Tuhan berjalan bersama kita, memikul beban itu bersama kita, dan memberi kekuatan yang kita perlukan setiap hari.

Kerendahan hati menjadi kunci penting dalam bacaan hari ini. Orang yang rendah hati sadar bahwa ia membutuhkan Tuhan. Ia tidak malu mengakui kelemahannya. 

Justru di situlah Allah bekerja dengan sangat indah. Hati yang sederhana lebih mudah disentuh oleh rahmat daripada hati yang merasa sudah mampu melakukan segala sesuatu sendiri.

Renungan ini juga menjadi pengingat bahwa menjadi murid Kristus bukan berarti hidup tanpa salib. Menjadi murid Kristus berarti memikul salib bersama Dia. 

Ketika Yesus berjalan bersama kita, beban yang sebelumnya terasa mustahil dijalani menjadi lebih ringan karena kita tidak lagi memikulnya seorang diri.

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Beban apa yang selama ini terus saya pikul sendirian?. Apakah saya sungguh telah menyerahkannya kepada Tuhan?. 

Apakah saya membiarkan Roh Kudus membimbing keputusan-keputusan saya, atau saya masih lebih sering mengikuti keinginan diri sendiri?.

Semoga kita semakin mengenal Kristus sebagai Raja yang membawa damai, membuka hati terhadap karya Roh Kudus, dan menemukan ketenangan sejati dalam kedekatan dengan-Nya. 

Sebab hanya hati yang bersandar kepada Tuhan yang mampu tetap damai, bahkan ketika badai kehidupan belum juga berlalu. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan