Bacaan I Hosea 2:3.14b-15.18-19
Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku," demikianlah firman TUHAN.
"Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.
Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya dari sana, dan membuat lembah Akhor menjadi pintu pengharapan. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir.
Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; Aku akan meniadakan busur panah, pedang dan alat perang dari negeri, dan akan membuat engkau berbaring dengan tenteram.
Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Tuhan
Mazmur 145:2-3.4-5.6-7.8-9
Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga.
Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.
Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.
Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.
Peringatan kepada besarnya kebajikan-Mu akan dimasyhurkan mereka, dan tentang keadilan-Mu mereka akan bersorak-sorai.
TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
Bacaan Injil Matius 9:18-26
Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."
Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.
Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,
berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.
Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.
Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Saudara/i ada kalanya hidup membawa kita begitu jauh dari Tuhan. Kesibukan, ambisi, luka, kekecewaan, atau godaan dunia perlahan membuat hati menjadi dingin.
Kita mungkin masih berdoa, masih datang ke gereja, tetapi relasi dengan Tuhan terasa hambar. Anehnya, justru ketika kita menjauh, Tuhan tidak pernah berhenti mendekat.
Bacaan hari ini memperlihatkan wajah Allah yang luar biasa penuh kasih. Meskipun umat-Nya berkali-kali berpaling, Dia tidak memilih untuk meninggalkan mereka.
Sebaliknya, Dia mengundang mereka kembali dengan kelembutan, menyembuhkan hati yang terluka, memulihkan harapan yang telah hilang, dan memperbarui ikatan kasih yang sempat rusak.
Inilah kasih Allah yang tidak bergantung pada kesempurnaan manusia. Kasih-Nya selalu mencari jalan untuk memulihkan.
Kasih yang sama kita lihat dalam diri Yesus pada Injil hari ini. Di tengah keramaian, di tengah banyak orang yang membutuhkan-Nya, Yesus tetap memberi perhatian penuh kepada setiap pribadi yang datang kepada-Nya.
Seorang ayah datang membawa harapan terakhir bagi anaknya. Seorang perempuan yang telah bertahun-tahun menderita datang dengan keyakinan sederhana bahwa menyentuh Yesus saja sudah cukup.
Keduanya memiliki situasi yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: mereka percaya bahwa bersama Yesus selalu ada harapan.
Yang menarik, Yesus tidak pernah memandang seseorang berdasarkan masa lalunya, statusnya, atau seberapa berat masalahnya. Bagi-Nya, tidak ada luka yang terlalu dalam, tidak ada hidup yang terlalu rusak, dan tidak ada keadaan yang sudah terlambat untuk dipulihkan.
Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan hanya hadir ketika hidup berjalan baik. Padahal justru saat kita berada di "padang gurun" kehidupan ketika doa terasa hampa, usaha terasa sia-sia, atau hati dipenuhi kecemasan Tuhan sedang bekerja membentuk kita.
Tempat yang tampaknya gersang bisa menjadi ruang perjumpaan yang paling mendalam dengan-Nya. Di sanalah kita belajar kembali untuk berharap, percaya, dan mengandalkan kasih-Nya, bukan kekuatan diri sendiri.
Perempuan yang sakit tidak memiliki jaminan bahwa ia akan sembuh. Kepala rumah ibadat itu juga tidak memiliki bukti bahwa anaknya akan hidup kembali. Namun mereka melangkah dengan iman. Mereka tidak membiarkan rasa takut lebih besar daripada kepercayaan kepada Tuhan.
Begitu pula dalam hidup kita. Mungkin ada keluarga yang sedang mengalami konflik, pekerjaan yang penuh ketidakpastian, kesehatan yang menurun, atau doa yang terasa belum dijawab.
Injil hari ini mengajak kita untuk tetap datang kepada Yesus. Iman bukan berarti kita memahami semua rencana Tuhan, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.
Allah tidak pernah lelah memanggil kita kembali kepada-Nya. Dia ingin memperbarui hati yang mulai dingin, menghidupkan kembali harapan yang hampir padam, dan mengikat kita dalam kasih yang tidak akan pernah berakhir.
Pertanyaannya bukan apakah Tuhan masih mengasihi kita, tetapi apakah kita bersedia membuka hati dan datang kepada-Nya dengan penuh iman.
Semoga hari ini kita memiliki keberanian untuk mendekat kepada Tuhan, membawa seluruh luka, kegagalan, dan harapan kita.
Sebab di tangan-Nya, yang putus asa dapat memperoleh harapan, yang terluka dapat dipulihkan, dan yang merasa kehilangan arah dapat menemukan kembali jalan menuju kehidupan yang penuh damai. (*)
Editor : Fandy Gerungan