Bacaan: Mazmur 67:1–8
Tema: “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap kali kita melihat tanah yang menghasilkan panen, kebun yang memberi buah, sawah yang menguning, laut yang memberi ikan, pekerjaan yang menghasilkan nafkah, keluarga yang masih dipelihara, dan hidup yang masih diberi kesempatan, sesungguhnya kita sedang melihat tanda pemeliharaan Tuhan. Berkat Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk hal-hal yang besar dan luar biasa.
Kadang berkat Tuhan hadir dalam hal yang sangat sederhana: makanan di meja, kesehatan untuk bekerja, hujan yang turun pada waktunya, matahari yang menyinari tanah, kekuatan untuk menjalani hari, dan kesempatan untuk tetap hidup dalam kasih-Nya.
Namun manusia sering lupa bahwa semua hasil kehidupan berasal dari Tuhan. Ketika panen berhasil, manusia mudah berkata, “Ini karena kerja keras saya.” Ketika usaha berkembang, manusia mudah berkata, “Ini karena kemampuan saya.” Ketika keluarga diberkati, manusia mudah merasa bahwa semua itu terjadi karena kepintaran, relasi, strategi, atau kekuatan sendiri.
Padahal firman Tuhan mengingatkan bahwa tanah memberi hasilnya karena Allah memberkati. Hasil tanah, hasil kerja, hasil pelayanan, hasil usaha, dan hasil kehidupan bukan hanya buah dari kerja manusia, tetapi tanda kemurahan dan pemeliharaan Tuhan.
Baca Juga: Materi Khotbah Mazmur 67:1–8, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita
Mazmur 67 membawa kita kepada kesadaran yang sangat indah: berkat Tuhan tidak berhenti pada diri kita sendiri. Ketika Tuhan memberkati umat-Nya, tujuan akhirnya bukan supaya umat Tuhan menjadi sombong, egois, dan hanya menikmati berkat itu sendiri. Tuhan memberkati umat-Nya supaya jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa.
Dengan kata lain, berkat selalu mengandung misi. Kita diberkati supaya menjadi berkat. Kita menerima supaya dapat bersaksi. Kita menikmati hasil tanah supaya dunia melihat bahwa Tuhan adalah Allah yang baik, adil, dan layak dipuji.
Tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” mengajak kita melihat hubungan antara berkat, syukur, keadilan, dan kesaksian. Tanah yang memberi hasil bukan hanya alasan untuk bersukacita, tetapi juga alasan untuk mengakui Tuhan.
Berkat yang kita terima bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga untuk dipakai dalam kehendak Tuhan. Panen bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal iman. Kelimpahan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal tanggung jawab.
Dalam kondisi masa kini, tema ini sangat relevan. Banyak orang hidup dalam kecemasan ekonomi, perubahan iklim, harga kebutuhan yang tidak stabil, gagal panen, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Ada orang yang bekerja keras tetapi hasilnya tidak sebanding dengan kebutuhan. Ada petani yang bergumul dengan cuaca. Ada nelayan yang menghadapi laut yang tidak menentu.
Ada pekerja yang takut kehilangan pekerjaan. Ada keluarga yang hidup pas-pasan. Di tengah kenyataan seperti itu, Mazmur 67 mengajak kita untuk tetap melihat Tuhan sebagai sumber berkat, sekaligus mengingatkan bahwa berkat Tuhan harus dikelola dengan syukur, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kitab Mazmur adalah kumpulan doa, pujian, ratapan, ucapan syukur, pengakuan iman, dan nyanyian umat Allah. Di dalam Kitab Mazmur, kita menemukan berbagai pengalaman hidup manusia di hadapan Tuhan.
Ada mazmur yang lahir dari sukacita, ada yang lahir dari penderitaan, ada yang lahir dari pertobatan, ada yang lahir dari kemenangan, dan ada juga yang lahir dari kesadaran bahwa Tuhan adalah Raja atas segala bangsa.
Mazmur 67 termasuk mazmur pujian dan doa berkat. Mazmur ini sangat kuat bernuansa misioner, karena umat Allah tidak hanya memohon berkat untuk diri sendiri, tetapi memohon agar melalui berkat itu jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan Tuhan dikenal di antara segala bangsa.
Mazmur ini menggemakan berkat imam dalam Bilangan 6:24–26, yaitu doa agar Tuhan memberkati, melindungi, menyinari dengan wajah-Nya, memberi kasih karunia, dan memberikan damai sejahtera.
Namun Mazmur 67 memperluas makna berkat itu. Berkat Tuhan atas Israel tidak dimaksudkan untuk dinikmati secara tertutup, tetapi menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa.
Dalam dunia Perjanjian Lama, tanah memiliki makna yang sangat penting. Tanah adalah tempat hidup, tempat menanam, tempat membangun keluarga, tempat umat mengalami pemeliharaan Allah. Tanah yang memberi hasil dipahami sebagai tanda berkat Tuhan.
Hujan, musim, kesuburan, panen, dan hasil bumi bukan hanya fenomena alam, tetapi juga bagian dari pemeliharaan Allah. Karena itu, ketika pemazmur berkata, “Tanah telah memberi hasilnya,” ia sedang mengakui bahwa Tuhan tidak hanya memberkati secara rohani, tetapi juga memelihara kehidupan nyata umat-Nya.
Namun Mazmur 67 tidak hanya berbicara tentang tanah Israel atau hasil panen satu bangsa. Mazmur ini berkali-kali menyebut “bangsa-bangsa” dan “suku-suku bangsa.” Ini menunjukkan bahwa berkat Allah memiliki arah yang luas.
Umat Tuhan diberkati supaya bangsa-bangsa mengenal Tuhan. Jika Tuhan memberkati tanah, hasil, hidup, dan pekerjaan umat-Nya, maka umat itu harus menjadi saksi bahwa Allah adalah sumber keselamatan dan keadilan bagi seluruh dunia.
Tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” memiliki tiga makna penting. Pertama, tema ini mengajak kita mengakui Tuhan sebagai sumber berkat. Tanah dapat diolah manusia, tetapi kesuburan dan kehidupan berasal dari Allah. Kedua, tema ini mengajak kita bersyukur atas hasil yang Tuhan berikan.
Syukur bukan hanya ucapan, tetapi sikap hidup yang rendah hati dan tidak serakah. Ketiga, tema ini mengajak kita memakai berkat untuk menjadi saksi bagi dunia. Berkat yang benar tidak membuat kita tertutup terhadap sesama, tetapi membuka hati untuk berbagi, menolong, dan menyatakan kasih Tuhan.
Bagi kehidupan gereja masa kini, tema ini mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi, hasil panen, pekerjaan, pendidikan, pelayanan, dan kesehatan bukan hanya untuk kebanggaan pribadi. Semua itu harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.
Jika Tuhan memberkati keluarga kita, keluarga kita harus menjadi kesaksian. Jika Tuhan memberkati jemaat, jemaat harus menjadi berkat bagi masyarakat. Jika Tuhan memberkati tanah dan alam, manusia harus mengelolanya dengan bertanggung jawab, bukan merusaknya.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 1, terdapat keterangan bahwa mazmur ini ditujukan untuk pemimpin biduan, dengan permainan kecapi, sebagai mazmur dan nyanyian. Keterangan ini menunjukkan bahwa Mazmur 67 bukan hanya doa pribadi, tetapi nyanyian umat dalam ibadah. Umat Allah menyanyikan doa ini bersama-sama.
Dengan demikian, permohonan berkat dalam mazmur ini bukan doa egois seorang individu, tetapi doa komunitas umat Tuhan yang menyadari panggilannya di hadapan bangsa-bangsa.
Keterangan “dengan permainan kecapi” juga mengingatkan bahwa pujian kepada Tuhan melibatkan kesungguhan dan keindahan. Musik dipakai untuk membawa umat mengarahkan hati kepada Allah.
Namun yang paling penting bukan sekadar alat musiknya, melainkan isi pujian dan hati umat yang menyembah. Mazmur ini sejak awal mengajak umat untuk menyanyikan iman bahwa Allah memberkati bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menyatakan jalan-Nya kepada dunia.
Dalam konteks sekarang, ibadah gereja juga harus membentuk kesadaran seperti ini. Ketika kita menyanyi, berdoa, dan mendengar firman, kita tidak hanya meminta Tuhan memberkati hidup kita sendiri. Kita juga memohon agar hidup kita menjadi alat kesaksian. Ibadah yang benar tidak membuat gereja hanya nyaman di dalam gedung, tetapi mengutus gereja menjadi berkat di luar gedung.
Pada ayat 2, pemazmur berdoa, “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya.” Doa ini sangat dekat dengan berkat imam dalam Bilangan 6.
Umat memohon belas kasihan Allah, berkat Allah, dan wajah Allah yang bersinar atas mereka. “Wajah Allah” menunjuk pada kehadiran, perkenanan, kasih, dan pemeliharaan Allah. Jika wajah Allah menyinari umat, itu berarti umat hidup dalam perhatian dan kemurahan Tuhan.
Doa ini dimulai dengan pengakuan bahwa manusia membutuhkan belas kasihan Allah. Berkat tidak dimulai dari kemampuan manusia, tetapi dari kemurahan Tuhan. Manusia dapat bekerja, menanam, merencanakan, dan berusaha, tetapi tanpa belas kasihan Tuhan, semua itu tidak cukup. Pemazmur tidak berkata, “Kiranya tanah kami memberi hasil karena kekuatan kami,” tetapi “Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita.”
Dalam kehidupan masa kini, ayat ini menegur kesombongan manusia. Kita perlu bekerja keras, tetapi jangan sombong atas hasil kerja. Kita perlu merencanakan, tetapi jangan lupa bahwa hidup tetap bergantung pada Tuhan.
Kita perlu memakai ilmu dan teknologi, tetapi jangan menganggap manusia dapat mengendalikan semuanya. Pandemi, bencana, sakit, gagal panen, dan krisis ekonomi mengingatkan bahwa manusia terbatas. Karena itu, doa untuk belas kasihan Allah tetap relevan setiap hari.
Pada ayat 3, pemazmur menyatakan tujuan dari berkat itu: “Supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.” Inilah ayat yang sangat penting.
Umat memohon berkat bukan hanya supaya hidup mereka nyaman, tetapi supaya jalan Tuhan dikenal. Berkat memiliki tujuan misi. Tuhan memberkati umat-Nya supaya melalui umat itu dunia melihat siapa Tuhan.
“Jalan-Mu” berarti cara Tuhan bertindak, kehendak Tuhan, kebenaran Tuhan, dan karya Tuhan dalam sejarah. “Keselamatan-Mu” berarti pertolongan, pembebasan, dan pemulihan yang berasal dari Allah.
Pemazmur berdoa agar semua itu dikenal di antara segala bangsa. Dengan kata lain, umat Tuhan tidak boleh menjadi penampung berkat yang tertutup. Umat Tuhan harus menjadi jendela melalui mana bangsa-bangsa melihat kemurahan Allah.
Ini menjadi pertanyaan bagi kita: apakah berkat yang Tuhan berikan kepada kita membuat orang lain mengenal Tuhan? Ketika keluarga kita diberkati, apakah keluarga itu menjadi kesaksian kasih dan kejujuran?
Ketika usaha kita berhasil, apakah orang melihat integritas dan kemurahan hati? Ketika gereja bertumbuh, apakah masyarakat sekitar merasakan dampak kebaikan? Jika berkat hanya membuat kita semakin sombong, tertutup, dan tidak peduli, maka kita belum memahami tujuan berkat.
Pada ayat 4, pemazmur berkata, “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” Ayat ini memperlihatkan kerinduan universal.
Pemazmur tidak hanya ingin Israel bersyukur, tetapi semua bangsa bersyukur kepada Allah. Pujian kepada Tuhan tidak boleh berhenti pada satu kelompok. Allah layak dipuji oleh semua bangsa karena Dia adalah Tuhan atas seluruh bumi.
Pengulangan kata “bangsa-bangsa” menunjukkan bahwa misi Allah luas. Dari awal, Allah memilih umat-Nya bukan untuk menutup keselamatan bagi bangsa lain, tetapi untuk menjadi saluran berkat.
Ketika Allah memanggil Abraham, Ia berkata bahwa melalui keturunannya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Mazmur 67 menggemakan janji itu. Berkat Allah kepada umat-Nya harus membawa bangsa-bangsa kepada pujian.
Dalam konteks gereja sekarang, ayat ini mengingatkan agar kita tidak eksklusif. Gereja tidak boleh hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Gereja dipanggil menjadi saksi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
Kita harus berdoa bukan hanya untuk jemaat kita, tetapi untuk semua bangsa. Kita harus peduli bukan hanya pada orang yang seiman dan sekelompok dengan kita, tetapi pada seluruh manusia yang dikasihi Allah.
Pada ayat 5, pemazmur berkata, “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.”
Di sini alasan bangsa-bangsa bersukacita adalah pemerintahan Allah yang adil. Allah bukan hanya sumber berkat alam, tetapi juga Raja yang memerintah dengan keadilan. Ia menuntun bangsa-bangsa. Ia tidak memerintah dengan sewenang-wenang, tetapi dengan kebenaran.
Ini sangat penting. Berkat tanah dan hasil bumi tidak boleh dipisahkan dari keadilan. Tanah memberi hasil, tetapi siapa yang menikmati hasil itu? Apakah hanya orang kuat? Apakah petani mendapatkan keadilan?
Apakah pekerja menerima upah yang layak? Apakah alam dirusak demi keuntungan sebagian orang? Mazmur 67 menghubungkan berkat dengan pemerintahan Allah yang adil. Jika kita memohon berkat Tuhan, kita juga harus hidup dalam keadilan Tuhan.
Dalam kondisi saat ini, banyak ketimpangan terjadi. Ada orang yang memiliki banyak, sementara yang lain kekurangan. Ada tanah yang menghasilkan, tetapi hasilnya tidak dinikmati secara adil. Ada pekerja yang bekerja keras, tetapi tetap hidup dalam kesulitan.
Ada sumber daya alam yang diambil, tetapi masyarakat lokal menanggung kerusakan. Firman Tuhan menegur kita bahwa berkat yang sejati harus berjalan bersama keadilan. Allah yang memberkati tanah adalah Allah yang memerintah dengan adil.
Pada ayat 6, pemazmur mengulang, “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.”
Pengulangan ini memperkuat kerinduan pemazmur agar seluruh dunia memuji Tuhan. Dalam struktur mazmur, pengulangan ini seperti refrein. Ini menunjukkan bahwa tujuan akhir dari berkat, keadilan, dan keselamatan adalah pujian kepada Allah.
Manusia sering menjadikan dirinya pusat. Ketika diberkati, manusia ingin dipuji. Ketika berhasil, manusia ingin dikenal. Tetapi Mazmur 67 menempatkan Allah sebagai pusat. Semua bangsa bersyukur kepada Allah, bukan kepada manusia.
Tanah memberi hasil, tetapi pujian diberikan kepada Tuhan. Usaha berhasil, tetapi kemuliaan dikembalikan kepada Tuhan. Gereja bertumbuh, tetapi nama Tuhan yang ditinggikan.
Ayat ini menegur kita agar tidak mencuri kemuliaan Allah. Jangan memakai berkat Tuhan untuk membesarkan ego. Jangan memakai hasil kerja untuk menyombongkan diri. Jangan memakai keberhasilan pelayanan untuk mencari nama. Semua berkat harus kembali menjadi pujian kepada Tuhan.
Pada ayat 7, pemazmur berkata, “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Inilah pusat tema renungan. Tanah memberi hasilnya. Ini adalah pengakuan bahwa bumi bekerja dalam pemeliharaan Allah.
Tanah yang menghasilkan panen bukan sekadar proses alam, tetapi tanda berkat Allah. Hujan, matahari, benih, tanah, musim, dan kerja manusia semuanya berada dalam pemeliharaan Tuhan.
Pemazmur tidak berhenti pada hasil tanah. Ia langsung berkata, “Allah, Allah kita, memberkati kita.” Artinya, hasil tanah dilihat sebagai tanda relasi dengan Allah. Tanah yang memberi hasil membawa umat kepada syukur.
Berkat Tuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua berkat berbentuk mujizat spektakuler. Kadang berkat Tuhan hadir dalam panen yang cukup, makanan yang tersedia, pekerjaan yang memberi nafkah, dan kehidupan yang terus berjalan.
Namun ayat ini juga menuntut tanggung jawab. Jika tanah memberi hasil, manusia harus menjaga tanah. Jika Allah memberkati melalui bumi, manusia tidak boleh merusak bumi.
Kerusakan tanah, pencemaran air, hutan yang gundul, dan perubahan iklim adalah peringatan bahwa manusia sering gagal menjadi pengelola yang setia. Kita tidak dapat terus berkata “Tuhan memberkati” sambil merusak sumber berkat yang Tuhan percayakan.
Dalam kehidupan sekarang, ayat ini mengajak petani, nelayan, pekerja, pengusaha, pemerintah, gereja, dan seluruh masyarakat untuk mengelola berkat dengan bijaksana.
Syukur atas hasil tanah harus disertai komitmen menjaga tanah. Syukur atas makanan harus disertai kepedulian terhadap mereka yang lapar. Syukur atas berkat ekonomi harus disertai keadilan bagi pekerja dan kepedulian terhadap alam.
Pada ayat 8, pemazmur berkata, “Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!” Ayat ini menutup mazmur dengan pengharapan universal.
Allah memberkati umat-Nya, tetapi tujuan akhirnya adalah supaya segala ujung bumi takut akan Dia. “Takut akan Tuhan” bukan ketakutan yang membuat manusia lari dari Allah, tetapi hormat, kagum, tunduk, dan mengakui kedaulatan-Nya.
Berkat seharusnya membawa manusia kepada takut akan Tuhan, bukan kepada kesombongan. Jika semakin diberkati seseorang semakin sombong, maka ia belum memahami berkat. Jika semakin berhasil seseorang semakin lupa Tuhan, maka hasil tanah justru menjadi jerat.
Tetapi jika berkat membuat manusia semakin rendah hati, semakin bersyukur, semakin adil, semakin berbagi, dan semakin memuliakan Tuhan, maka berkat itu mencapai tujuannya.
Ayat ini juga mengingatkan bahwa kesaksian umat Tuhan harus menjangkau “segala ujung bumi.” Kita mungkin hidup dalam satu keluarga, satu jemaat, satu desa, atau satu kota, tetapi hidup kita tetap dapat menjadi bagian dari kesaksian Allah bagi dunia.
Doa, pelayanan, keadilan, kepedulian lingkungan, pemberian, pendidikan, dan hidup yang benar semuanya dapat menjadi cara agar orang lain melihat Tuhan dan menghormati-Nya.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Mazmur 67:1–8, kita melihat bahwa tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” bukan hanya berbicara tentang panen, hasil bumi, atau kelimpahan jasmani.
Tema ini berbicara tentang iman yang melihat semua hasil kehidupan sebagai berkat Tuhan, dan melihat semua berkat Tuhan sebagai panggilan untuk bersyukur, hidup adil, menjadi saksi, dan membawa bangsa-bangsa mengenal Allah.
Mazmur ini dimulai dengan doa agar Allah mengasihani dan memberkati umat-Nya. Tetapi doa itu tidak berhenti pada kepentingan umat sendiri.
Pemazmur segera berkata bahwa tujuan berkat adalah supaya jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa.
Ini berarti berkat tidak boleh dipahami secara sempit. Kita diberkati bukan hanya supaya hidup lebih nyaman, tetapi supaya hidup kita menyatakan siapa Tuhan.
Keluarga diberkati supaya menjadi kesaksian. Jemaat diberkati supaya menjadi terang. Tanah memberi hasil supaya manusia bersyukur dan hidup bertanggung jawab.
Tema ini juga menegur cara kita memandang tanah dan alam. Jika tanah telah memberi hasilnya dan Allah memberkati kita melalui tanah, maka tanah tidak boleh diperlakukan sembarangan. Alam bukan hanya gudang kebutuhan manusia. Alam adalah ciptaan Tuhan yang menjadi sarana pemeliharaan-Nya.
Karena itu, syukur atas hasil tanah harus diwujudkan dalam tanggung jawab menjaga tanah. Kita tidak dapat menyanyikan syukur atas panen sambil membiarkan tanah rusak, air tercemar, hutan habis, dan sampah menumpuk. Syukur yang benar harus menghasilkan gaya hidup yang menjaga ciptaan.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, Allah adalah sumber berkat. Manusia bekerja, tetapi Tuhan yang memberi hidup dan hasil.
Kedua, berkat Tuhan memiliki tujuan misi. Kita diberkati supaya jalan Tuhan dikenal dan keselamatan-Nya disaksikan.
Ketiga, berkat harus berjalan bersama keadilan. Allah memerintah bangsa-bangsa dengan adil, maka umat-Nya juga harus mengelola hasil dengan adil.
Keempat, hasil tanah harus membawa kita kepada syukur, bukan kesombongan.
Kelima, berkat harus mengalir kepada sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan.
Keenam, tanah yang memberi hasil harus dijaga sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Ketujuh, tujuan akhir dari semua berkat adalah supaya segala ujung bumi takut akan Tuhan.
Implikasi firman ini sangat nyata dalam kehidupan kita. Dalam keluarga, biasakan mengucap syukur atas makanan dan pekerjaan. Jangan biarkan anak-anak berpikir bahwa semua yang tersedia di meja terjadi begitu saja. Ajarkan bahwa makanan adalah berkat Tuhan melalui tanah, hujan, petani, nelayan, pekerja, dan banyak tangan
. Dalam pekerjaan, kelolalah hasil dengan jujur. Jangan mencari keuntungan dengan menindas orang lain. Dalam gereja, gunakan berkat untuk pelayanan dan kesaksian. Jangan hanya membangun kenyamanan internal, tetapi jadilah berkat bagi masyarakat.
Dalam kehidupan sosial, perhatikan orang miskin, janda, anak yatim, orang asing, dan mereka yang membutuhkan. Dalam lingkungan, jagalah tanah, air, dan alam sebagai wujud syukur kepada Tuhan.
Saudara-saudara, marilah kita memeriksa hati. Ketika Tuhan memberkati, apakah kita semakin bersyukur atau semakin sombong? Ketika tanah memberi hasil, apakah kita semakin peduli atau semakin serakah?
Ketika pekerjaan berhasil, apakah kita semakin dekat kepada Tuhan atau semakin merasa tidak membutuhkan Tuhan? Ketika hidup diberkati, apakah orang lain ikut merasakan berkat itu atau hanya kita nikmati sendiri?
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk hidup sebagai umat yang diberkati dan menjadi berkat. Jika Tuhan memberi hasil, bagikanlah. Jika Tuhan memberi kekuatan, pakailah untuk melayani. Jika Tuhan memberi pengetahuan, gunakan untuk membangun.
Jika Tuhan memberi tanah dan pekerjaan, kelolalah dengan jujur dan bertanggung jawab. Jika Tuhan memberi rezeki, jangan lupa mereka yang berkekurangan. Jika Tuhan memberi keberhasilan, kembalikan kemuliaan kepada-Nya.
Marilah kita belajar seperti Boas, yang tidak hanya menikmati hasil ladangnya, tetapi membuka ruang bagi Rut dan Naomi untuk mengalami pemeliharaan Tuhan. Jadilah orang yang ketika diberkati, orang lain juga merasakan kebaikan Tuhan.
Jadilah keluarga yang ketika diberkati, menjadi kesaksian bagi lingkungan. Jadilah gereja yang ketika diberkati, menjadi saluran keselamatan, keadilan, dan kasih bagi banyak orang.
Akhirnya, kiranya pengakuan pemazmur menjadi pengakuan kita juga: “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Kiranya kita tidak lupa bahwa semua berasal dari Tuhan. Kiranya hasil tanah, hasil kerja, hasil pelayanan, dan hasil kehidupan membawa kita kepada syukur.
Kiranya berkat Tuhan membuat kita semakin takut akan Dia, semakin mengasihi sesama, semakin menjaga ciptaan, dan semakin bersaksi kepada dunia bahwa Tuhan adalah Allah yang baik, adil, dan setia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas